06 Disember 2013

CAIRO - Perwira Angkatan Udara Meir, Sami Hassan, mengatakan,  bahwa 25 pilot Mesir ikut  berperang mendukung Bashar al-Assad , ungkap seorang jeneral angkatan udara Mesir , melaporkan kepada  UmmaNews, Rabu, 4/12/2013.

" Pada tanggal 4 November 2013, Berdasarkan kesepakatan dengan Kementerian Pertahanan Mesir dan Kedutaan Suriah di Mesir, yang ditandatangani, pada 4 Nopember, 2013, Mesir mengirimkan 25 orang pilot seniornya ke Suriah, membantu Angkatan Udara Suriah, melakukan pemboman sejumlah posisi Mujahidin.

Sami Hassan menambahkan bahwa rezim militer dibawah Jendral Abdul Fatah al- Sisi , yang menjadi  pemimpin junta militer, memberikan lebih banyak dukungan kepada " Israel " dibandingkan dengan Hosni Mubarak. Ini benar-benar malapetaka bagi Dunia Arab.....lagi

Sementara itu, " Israel " mendapat manfaat yang sangat besar dari operasi ini militer Mesir di Sinai yang memerangi Mujahidin di wilayah itu. " Israel " mendapatkan banatuan yang sangat luar biasa di Jendral Abdul Fattah al-Sisi,  beberapa bulan ini, dan  jauh lebih besar dibandingkan sepanjang pemerintahan Hosni Mubarak ", kata perwira Mesir .

Dibagian lain,  rezim Arab Saudi  menyediakan bantuan  kepada junta militer di Kairo dengan paket bantuan baru, seperti dilaporkan oleh kementerian  keuangan  Mesir, tanggal 1 Desember lalu.

Raja Abdullah memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai sebesar  $ 5 miliar dollar. Pembicaraan antara Cairo dengan Riyadh telah berlangsung  berbulan-bulan . Bantuan akan diberikan dalam bentuk hibah , dan  deposito di Bank Sentral Mesir, dan pengiriman minyak . Semua ini bertujuan menghidupkan ekonomi Mesir yang hancur, pasca kudeta militer. Di mana kekacauan terus bekecemuk sampai hari.

Sebelumnya, Saudi telah berulang kali mendukung pembantaian Muslim Mesir dan mendesak junta militer yang msekuler " menetapkan hukum darurat militer ".  Raja Abdullah tidak peduli dengan kenyataan, begitu banyaknya korban Muslimah  dan anak-anak yang dibantai di Cairo , karena  di tuduh dengan tuduhan palsu, sebagai " teroris ".

"Kami ditakdirkan memiliki  tujuan yang sama. Kami dengan Mesir bertujuan yang sama memerangi teroris" , kata Raja Abdullah. Riyadh adalah satu-satunya negara  yang pertamaki  mendukung kudeta militer di Mesir bulan Juli lalu. Raja Abdullah menelpon langsung kepada Jendral al-Sisi,membantai para pendukung Presiden Mohammad Mursi.

Sementara itu, Press Saudi melaporkan, tanggal 1 Desember,  bahwa Menteri Luar Negeri dari junta militer, Nabil Fahmi, bertemu Pangeran Saud al – Faisal,  dan membahas isu-isu regional. Pers Mesir melaporkan , kedua menteri luar negeri itu, berhasil mencapai  sebuah konsensus tentang  pentingnya kerjas ama  yang menyeluruh  dalam politik internasional , ungkap media Mesir.

Dengan demikian , bantuan  militer Mesir yang  dikirim ke Assad dengan persetujuan dan restu dari Arab Saudi. Raja Abdullah dan pemerintah Arab Saudi, harus bertanggungjawab atas terjadinya pembantaian di Suriah.

Ingatlah ini bukan kasus pertama, sikap munafik yang sangat terang-terangan pemimpin Ryadh. Pada bulan Februari 2012, Rezim Saudi mengizinkan dua kapal perang Iran dengan helikopter melewati pelabuhan  Jeddah perjalanan ke kota Tartous, Suriah dalam rangka membantu dan melindungi rezim Bashar- al Assad.

Sementara itu, pada tanggal 26 November,  pers  Saudi  melaporkan bahwa putra mahkota Salman mengirim telegram kepada  apa yang disebut " Presiden Mesir ", di mana Salman menyatakan belasungkawa, sehubungan dengan tentara Mesir di Sinai oleh serangan Mujahidin.

Selain itu, rezim Saudi menyebut tentara Mesir yang memerangi Islam di Mesir se bagai "martir", dan jiwa mereka  "diberkati " sebagai syuhada . Telegram ini  sama dikirim oleh Rajpa Abdullah . Pesannya  secara khusus  mengatakan, :

"Kami diberitahu dengan kesedihan mendalam atass  berita di kesyahidan  sejumlah anggota militer akibat serangan  teroris. Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada Yang Mulia , keluarga para “syuhada”, dan rakyat  Mesir, kami berdoa kepada Allah SWT, memberkati jiwa mereka dan melindungi  anda dan rakyat  Mesir dari bahaya apapun ", ungkap Abdullah .

Mesir melipatkan gandakan kekuatan militernya, dan sekarang membeli peralatan militer besar-besaran dari Rusia, bersamaan datangnya bantuan Arab Saudi, dan Negara-Negara Dewan Teluk (GCC), yang jumlahnya mencapai miliaran dollar.

Ini semua hanya untuk memerangi Muslim, bukan memerangi musuh mereka, Syiah Alawiyyin yang dipimpin Bashar al-Assad. Raja Abdullah dan Jendral Abdul Fattah al-Sisi bertekad memerangi Mujahidin Suriah, dan menggunakan kelompok-kelompok bentukan Saudi menghadapi para Mujahidin yang sekarang membebaskan Suriah. *mashadi
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/intelligent/2013/12/05/27977/saudi-membantu-rezim-assad-melalui-junta-militer-mesir/#sthash.1UMawO5J.dpuf
CAIRO (voa-islam.com) - Perwira Angkatan Udara Meir, Sami Hassan, mengatakan,  bahwa 25 pilot Mesir ikut  berperang mendukung Bashar al-Assad , ungkap seorang jenderal angkatan udara Mesir , melaporkan kepada  UmmaNews, Rabu, 4/12/2013.
" Pada tanggal 4 November 2013, Berdasarkan kesepakatan dengan Kementerian Pertahanan Mesir dan Kedutaan Suriah di Mesirm, yang ditandatangani, pada 4 Nopember, 2013, Mesir mengirimkan 25 orang pilot seniornya ke Suriah, membantu Angkatan Udara Suriah, melakukan pemboman sejumlah posisi Mujahidin.
Sami Hassan menambahkan bahwa rezim militer dibawah Jendral Abdul Fatah al- Sisi , yang menjadi  pemimpin junta militer, memberikan lebih banyak dukungan kepada " Israel " dibandingkan dengan Hosni Mubarak. Ini benar-benar malapetaka bagi Dunia Arab.
Sementara itu, " Israel " mendapat manfaat yang sangat besar dari operasi ini militer Mesir di Sinai yang memerangi Mujahidin di wilayah itu. " Israel " mendapatkan banatuan yang sangat luar biasa di Jendral Abdul Fattah al-Sisi,  beberapa bulan ini, dan  jauh lebih besar dibandingkan sepanjang pemerintahan Hosni Mubarak ", kata perwira Mesir .
Dibagian lain,  rezim Arab Saudi  menyediakan bantuan  kepada junta militer di Kairo dengan paket bantuan baru, seperti dilaporkan oleh kementerian  keuangan  Mesir, tanggal 1 Desember lalu.
Raja Abdullah memberikan bantuan dalam bentuk uang tunai sebesar  $ 5 miliar dollar. Pembicaraan antara Cairo dengan Riyadh telah berlangsung  berbulan-bulan . Bantuan akan diberikan dalam bentuk hibah , dan  deposito di Bank Sentral Mesir, dan pengiriman minyak . Semua ini bertujuan menghidupkan ekonomi Mesir yang hancur, pasca kudeta militer. Di mana kekacauan terus bekecemuk sampai hari.
Sebelumnya, Saudi telah berulang kali mendukung pembantaian Muslim Mesir dan mendesak junta militer yang msekuler " menetapkan hukum darurat militer ".  Raja Abdullah tidak peduli dengan kenyataan, begitu banyaknya korban Muslimah  dan anak-anak yang dibantai di Cairo , karena  di tuduh dengan tuduhan palsu, sebagai " teroris ".
"Kami ditakdirkan memiliki  tujuan yang sama. Kami dengan Mesir bertujuan yang sama memerangi teroris" , kata Raja Abdullah. Riyadh adalah satu-satunya negara  yang pertamaki  mendukung kudeta militer di Mesir bulan Juli lalu. Raja Abdullah menelpon langsung kepada Jendral al-Sisi,membantai para pendukung Presiden Mohammad Mursi.
Sementara itu, Press Saudi melaporkan, tanggal 1 Desember,  bahwa Menteri Luar Negeri dari junta militer, Nabil Fahmi, bertemu Pangeran Saud al – Faisal,  dan membahas isu-isu regional. Pers Mesir melaporkan , kedua menteri luar negeri itu, berhasil mencapai  sebuah konsensus tentang  pentingnya kerjas ama  yang menyeluruh  dalam politik internasional , ungkap media Mesir.
Dengan demikian , bantuan  militer Mesir yang  dikirim ke Assad dengan persetujuan dan restu dari Arab Saudi. Raja Abdullah dan pemerintah Arab Saudi, harus bertanggungjawab atas terjadinya pembantaian di Suriah.
Ingatlah ini bukan kasus pertama, sikap munafik yang sangat terang-terangan pemimpin Ryadh. Pada bulan Februari 2012, Rezim Saudi mengizinkan dua kapal perang Iran dengan helikopter melewati pelabuhan  Jeddah perjalanan ke kota Tartous, Suriah dalam rangka membantu dan melindungi rezim Bashar- al Assad.
Sementara itu, pada tanggal 26 November,  pers  Saudi  melaporkan bahwa putra mahkota Salman mengirim telegram kepada  apa yang disebut " Presiden Mesir ", di mana Salman menyatakan belasungkawa, sehubungan dengan tentara Mesir di Sinai oleh serangan Mujahidin.
Selain itu, rezim Saudi menyebut tentara Mesir yang memerangi Islam di Mesir se bagai "martir", dan jiwa mereka  "diberkati " sebagai syuhada . Telegram ini  sama dikirim oleh Rajpa Abdullah . Pesannya  secara khusus  mengatakan, :
"Kami diberitahu dengan kesedihan mendalam atass  berita di kesyahidan  sejumlah anggota militer akibat serangan  teroris. Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada Yang Mulia , keluarga para “syuhada”, dan rakyat  Mesir, kami berdoa kepada Allah SWT, memberkati jiwa mereka dan melindungi  anda dan rakyat  Mesir dari bahaya apapun ", ungkap Abdullah .
Mesir melipatkan gandakan kekuatan militernya, dan sekarang membeli peralatan militer besar-besaran dari Rusia, bersamaan datangnya bantuan Arab Saudi, dan Negara-Negara Dewan Teluk (GCC), yang jumlahnya mencapai miliaran dollar.
Ini semua hanya untuk memerangi Muslim, bukan memerangi musuh mereka, Syiah Alawiyyin yang dipimpin Bashar al-Assad. Raja Abdullah dan Jendral Abdul Fattah al-Sisi bertekad memerangi Mujahidin Suriah, dan menggunakan kelompok-kelompok bentukan Saudi menghadapi para Mujahidin yang sekarang membebaskan Suriah. *mashadi
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/intelligent/2013/12/05/27977/saudi-membantu-rezim-assad-melalui-junta-militer-mesir/#sthash.1UMawO5J.dpuf

0 Comments:

Post a Comment