29 Julai 2018

Rasulullah menjelaskan dalam banyak hadits tentang rumah-rumah tertentu yang tidak akan dimasuki Malaikat Rahmat.

Bagaimanakah rumah-rumah yang tidak akan dimasuki malaikat rahmat?

Di antaranya adalah hadis-hadis berikut ini:

Aku (Abu Thalhah) mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat (rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan (atau) gambar patung, (HR. Bukhari).

Dari Abu Thalhah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar,”(HR. Muslim).

Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Malaikat (rahmat) tidak masuk rumah yang padanya terdapat gambar dan anjing serta orang yang junub,” (HR. An Nasa’i, dishahihkan Al Albani).

Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar,” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani).

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, ada sejumlah rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat yaitu:

Rumah yang di dalamnya ada gambar/lukisan makhluk bernyawa
Rumah yang di dalamnya ada anjing.
Rumah yang penghuninya junub alias biasa tidak mandi/bersuci dari junub.
Rumah yang di dalamnya ada patung.

Selain 4 rumah tersebut, dalam buku Rumah yang Tidak Dimasuki oleh Malaikat, Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad menambahkan rumah-rumah lainnya yang tidak dimasuki oleh Malaikat Rahmat yaitu:

Rumah orang yang memutuskan silaturahim
Rumah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya
Rumah orang yang memakan harta anak yatim
Rumah orang yang memakan riba
Rumah yang di dalamnya tidak disebutkan Asma Allah
Rumah yang tidak ada shalawat di dalamnya dan lebih mementingkan hawa nafsu
Rumah yang di dalamnya banyak caci maki dan laknat
Rumah yang di dalamnya banyak alunan lagu selain dzikir
Rumah yang di dalamnya ada lonceng
Rumah yang digunakan minum khamr
Rumah yang ditempati perjudian dan sajian berhala
Rumah yang di dalamnya ada syirik dan mantra-mantra
Rumah yang di dalamnya ada bau tidak sedap atau penghuni laki-lakinya melumuri tubuh dengan kunyit
Rumah yang penghuninya hidup boros
Rumah yang penghuninya terus menerus melakukan kedurhakaan
Rumah yang digunakan untuk kekejian, atau dosa besar
Wallahu a’lam bish shawab. [Tarbiyah/ Ipos]

26 Julai 2018

Siapa yang suka dan mahu berteman dengan orang yang zalim, tentu diantara kita pasti akan menjawab tidak atau bahkan menghindari teman yang demikian.

Apalagi andaikata yang zalim itu adalah seorang pemimpin, tentu bukan satu dua orang yang akan dizaliminya, namun rakyat juga negara terkena imbas atas perbuatannya.

Kezaliman bukan saja terhadap urusan ekonomi sosial budaya saja namun boleh lebih parah yaitu melakukan kezaliman yang paling besar, yaitu membawa seluruh komponen pemerintahannya kepada kesyirikan yang mengundang berbagai bencana.

Begitulah kedasyatan seorang pemimpin jika melakukan kezaliman, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam tidak mengakui umatnya jika berteman berkawan bahkan mendukung pemimpin yang zalim sebagaimana hadis dibawah ini,

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ

"Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahawa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kezaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga." (HR Tirmidzi, Nasai dan Al Hakim).

Di antara ciri pemimpin zalim adalah jika berjanji dia selalu ingkar, demi ambisi kekuasaan biasanya diawal sebelum terpilih dengan sombongnya mengobral seribu janji janji yang mampu menyihir rakyatnya untuk mendukungnya, namun pada akhirnya diingkarinya setelah kepemimpinan dikuasainya.

Kerana niatnya sudah tidak benar makan hasil kerjanyapun akan buruk dan tidak memiliki prestasi yang baik, belum lagi terhitung prestasi akhiratnya, dunianya saja penuh dengan keburukan.

Dari Abu Hisyam as-Silmi berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أَئِمَّةٌ يَمْلِكُوْنَ رِقَابَكُمْ وَيُحَدِّثُوْنَكُمْ فَيَكْذِبُونَ، وَيَعْمَلُوْنَ فَيُسِيؤُونَ، لا يَرْضَوْنَ مِنْكُمْ حَتَّى تُحَسِّنُوا قَبِيْحَهُمْ وَتُصَدِّقُوْا كَذِبَهُمْ، اعْطُوْهُمُ الحَقَّ مَا رَضُوا بِه

“Kalian akan dipimpin oleh para pemimpin yang mengancam kehidupan kalian. Mereka berbicara (benjanji) kepada kalian, kemudian mereka mengingkari (janjinya). Mereka melakukan pekerjaan, lalu pekerjaan mereka itu sangat buruk. Mereka tidak senang dengan kalian hingga kalian menilai baik (memuji) keburukan mereka, dan kalian membenarkan kebohongan mereka, serta kalian memberi pada mereka hak yang mereka senangi.” (HR. Thabrani)

Seorang pelaku kezaliman tentu yang akan menjadi teman dan koleganya adalah mereka mereka yang mendukung kezaliman pula.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ الظّٰلِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 129)

Sa'id meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan takwil ayat ini, bahawa sesungguhnya Allah mempertemankan manusia berdasarkan amal perbuatan mereka. Dengan kata lain, orang mukmin adalah teman orang mukmin lainnya pada bila-bila masa pun dan di mana saja. Orang kafir adalah teman orang kafir, di mana saja dan bila-bila masa pun berada. Iman bukanlah hanya sekadar angan-angan, bukan pula sebagai perhiasan (melainkan harus disertai dengan amal perbuatan). Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Al-Hafiz ibnu Asakir telah meriwayatkan hadis berikut ini dalam biografi Abdul Baqi ibnu Ahmad melalui jalur Sa'id ibnu Abdul Jabbar Al-Karabisi, dari Hammad ibnu Salamah, dari Asim, dari Zar, dari Ibnu Mas'ud secara marfu’ yaitu:

مَنْ اَعَانَ ظَالِمًا سَلَّطَهُ اللّٰهُ عَلَيْهِ

“Barang siapa yang menolong orang yang zalim, maka Allah akan menjadikan orang zalim itu berkuasa atas dirinya.”

Boleh jadi adanya pemimpin zalim yang hadir ditengah-tengah kehidupan kita kerana kezaliman kita juga, untuk itu masih banyak kesempatan bagi kita memperbanyak istighfar dan kembali beramal shalih dengan benar agar Allah Ta'ala berikan kepada kita pemimpin yang sesuai dengan cita cita dan harapan kita, yaitu pemimpin yang sholih yang mampu berbuat adil kepada seluruh rakyat dan bangsa. Wallahu a'lam. [VOA-I.C]

20 Julai 2018

SMK Ade Putra Masjid Tanah Melaka: Dalam program tazkirah setiap pagi Jumaat ustazcyber selalu melatih dan menunjuk ajar beberapa orang rakan sekerja daripada kalangan bukan ustaz untuk bertazkirah secara bergilir-gilir. Alhamdulillah beberapa orang anak didik ustazcyber ini cukup senang diajar, malahan tazkirah mereka itu cukup memukau dan adakalanya lebih baik daripada apa yang disampaikan oleh kami barisan ustaz.(gambar Cikgu Norazi Kamarudin guru Matematik sedang menyampakan tazkirah jumaat 20 Ogos 2018)

14 Julai 2018

Hadis 1
Dari Urs bin Amirah ra, Rasulullah SAW bersabda," Jika maksiat dilakukan di bumi maka siapa yang melihatnya,lalu mengingkarinya dan membencinya,maka di dihukumi seperti orang yang tidak mengetahui kemaksiatan tersebut dan siapa yang ridha dengan kemaksiatan meski ia tidak sedang berada di tempat, maka dihukumi seperti orang yang menyaksikannya".( Hadis Hasan, riwayat Abu Daud)

Hadis 2
Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra,suatu hari Rasulullah SAW berkhutbah, Salah satu sebda beliau adalah, " Jangan kewibawaan manusia menghalagi kalian untuk mengatakan kebenaran,"(Hadis Sahih,riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

Hadis3
Dari Anas bin Malik ra, ditanyakan kepada Rasulullah saw, "Bilakah amar ma'ruf nahi munkar itu ditinggalkan?, lalu beliau menjawab, "Manakala pemimpin diambil dari kalangan orang muda dan bodoh, ramai orang tua berbuat maksiat,dan manakala ilmu tidak diamalkan kecuali untuk tujuan duniawi (Hadis Hasan Riwayat Ibnu Majah)

12 Julai 2018

Arrahmah.com Membaca sirah kehidupan para salaf, maka kita akan dapati kisah mereka bertabur dengan semangat amar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka sadar bila hidup mereka bagai satu kaum
yang berada dalam satu bahtera; semua harus kompak menjaga kapal tersebut agar tidak rosak. Satu orang yang melubangi bahagian bawah kapal kerana ingin mengambil air dengan cara praktis lalu dibiarkan, maka yang tenggelam bukan hanya si pelobang kapal. Namun seluruh penumpang juga akan tenggelam bersama. Kisah Umar bin Khattab di saat menjelang sakaratul maut yang menegur pemuda berpakaian isbal dan kisah anak kecil yang menegur Imam Abu Hanifah supaya berhati-hati agar tidak tergelincir, adalah sedikit contoh bagaimana semangat mereka untuk selalu menjadikan amar ma’ruf dan nahi munkar sebagai bagian penting kehidupan mereka.

Anas bin Malik ra berkata:

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى نَدَعُ الِائْتِمَارَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ قَالَ إِذَا ظَهَرَ فِيكُمْ مَا ظَهَرَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذَا كَانَتْ الْفَاحِشَةُ فِي كِبَارِكُمْ وَالْمُلْكُ فِي صِغَارِكُمْ وَالْعِلْمُ فِي رُذَالِكُمْ

Ditanyakanlah kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, Bilakah kami akan meninggalkan amar makruf dan nahi munkar?” Beliau menjawab, “Jika muncul di tengah kalian suatu perkara yang pernah muncul pada zaman Bani Israil, yaitu perbuatan keji dilakukan oleh para pembesar, pemerintahan dipegang oleh anak-anak kecil, dan ilmu berada di tangan orang-orang yang (bermental) rendah.”[1]...

02 Julai 2018

Jom Sokong KMMB

ustazcyber [2 dari kiri ]menghadiri mesyuarat perwakilan KMMB di Regency Hotel Kuala Lumpur.

Jom sokong Koperasi Muslimn Malaysia Berhad dengan menjadi ahli dan memilih pelbagai produk yang kami sediakan..sila ke
untuk melihat pelbagai produk dan aktiviti yang KMMB adakan

;;