30 Julai 2020

1-Sedekah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo).” (Riwayat Imam Thabrani)

Bencana selamanya takkan mampu mendahului sedekah, Rasulullah ﷺ bersabda : “Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah mampu mendahului sedekah.” (Riwayat Imam Baihaqi).

Sedekah bukan hanya menolak bencana, bahkan ia boleh menjadi benteng dari panasnya Neraka, sebagaimana sabdanya; “Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma.” (Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Bahkan sedekah itu dapat meredakan kemarahan Allah, dan mengurangi kesakitan saat sakaratul maut.  Sebagaimana disebutkan Dalam buku Fiqh as-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, dimana Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Sedekah meredakan kemarahan Allah dan mengurangi kepedihan saat sakratul maut.”

Sedekah bukan hanya menaungi dari penyakit, sedekah bahkan menaungi di hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda; “Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya.” (Riwayat Imam Ahmad).

2-Tenang
Untuk menghadapi wabah corona harusnya bukan panik, tapi tetaplah bersikap tenang kerana sikap tenang dan itu sifat orang mukmin sejati. “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentera langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Fath [48]: 4)

Ketenangan membuat keimanan semakin bertumbuh dan semakin menyempurnakan keteguhan dalam iman .” (Taisir al Karim: 791)

ثُمَّ أَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Taubah [9]: 26)

Ketenangan selalu melahirkan kemenangan, atas segala musibah dan cobaan.

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (QS. Al Fath [48]: 18)

Bersikap tenanglah menghadapi musibah wabah ini, dengan banyak berzikir kepada Allah.

Bukankah Allah telah mengatakan dalam Al-Quran,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Al Ra’du [13]: 28)

3-Bersabar
Bersabar selamanya berat, sebagaimana ungkapan seorang penyair Arab,

الصبر مثل اسمه مر مذاقته لكن عواقبه أحلى من العسل

Sabar itu memang seperti namanya (sebuah nama tumbuhan), yang rasanya pahit, Namun hasil dari kesabaran akan lebih manis dari madu.

Tapi seberat apapun sabar ia harus diupayakan sebab ia bukti dari kebenaran iman. Yang paling bersabarlah, yang paling benar imannya.

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 177)

Kerana sabar itu kata As syaikh ibnul Qayyim rahimahullah; “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Bersabarlah dengan wabah ini, untuk meraih cinta Allah tanpa batas.

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan, Allah mencintai orang-orang yang sabar.“ (QS. Ali Imran : 146)

Apa bukti kecintaan Allah bagi orang yang senantiasa bersabar? Buktinya adalah anugrah pahala tiada batas.

4-Solat
Saat wabak menimpa, harusnya semakin rajin melaksanakan solat, bukan justru meninggalkannya. Sabar senantiasa disandingkan dengan solat. kerana keduanya adalah bekal untuk menangani segala urusan.

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

“Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al Baqarah [2]: 45).

Yaitu mintalah pertolongan kepada Allah dengan bekal sabar dan solat dalam menangani semua urusan kalian. Begitu pula sabar menjadi sebab hamba mampu meraih kenikmatan abadi yaitu syurga. Allah ta’ala berfirman kepada penduduk Syurga. “Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.” (QS. Ar Ra’d [13] : 24).

Hanya Allah satu-satunya yang dapat memberi manfaat dan mengangkat bencana ini, maka sembahlah Allah.

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (107)

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus: 106-107).

Kerana pada hakikatnya, setiap bencana dan musibah yang menghilangkan adalah Allah semata. Jika ada suatu perkara boleh dihilangkan oleh makhluk dalam perkara yang ia mampu, maka itu hanyalah sebab. Namun hakikatnya Allah  yang menakdirkan itu semua dengan izin-Nya.

5-Doa

Doa adalah senjata terbaik bagi seorang mukmin dalam menghadapi kondisi sulit, kerana itu Rasulullah ﷺ memerintahkan dalam hadisnya.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( تَعَوَّذُوا بِاللهِ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء )) متفق عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ سُفْيَانُ : أَشُكُّ أَنِّي زِدْتُ وَاحِدَةً مِنْهَا.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas kekalahan.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Al-Bukhari, no. 6347 dan Muslim, no. 2707]

Mohonlah pada Allah, karena hanya Allah tempat bergantung dan hanya pada-Nyalah kita memohon pertolongan:

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا ذَكَّرُونَ

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An Naml: 62).

Akhirnya, mari berdoa.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ البَلاَءِ ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ ، وَسُوءِ القَضَاءِ ، وَشَمَاتَةِ الأَعْدَاء


“Ya Allah aku meminta perlindugan kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang hebat, takdir yang jelek, dan kegembiraan musuh atas kekalahan).”

 hidcom Naser Muhammad

12 Mei 2020

Bolehkah I'tikaf di rumah?

Sumber: Hidcom(Muhammad Karim)

Menurut pandangan sebahagian ulama Mazhab Syafi’i memperbolehkan i’tikaf  di dalam rumah, dengan mengikuti nalar “jika shalat sunnah saja yang paling utama dilakukan di rumah, maka i’tikaf  di rumah semestinya boleh dilakukan”.


I’TIKAF  merupakan ibadah sekaligus gerbang masuk untuk melaksanakan berbagai macam ibadah lainnya yang dilakukan di dalam Masjid, seperti. Membaca al-Qur’an, berzikir, sholawat atau maulid, menutut ilmu, sholat fardhu ataupun sholat sunnah, dan lain sebagainya. Artinya, ketika seseorang yang melaksanakan ibadah di Masjid dan sekaligus meniatkan untuk i’tikaf , maka ia akan mendapatkan nilai lebih di sisi Allah SWT dibandingkan dengan orang yang hanya membaca al-Qur’an di Masjid tanpa berniat i’tikaf .

Dalam hal i’tikaf  ini, al-Qur’an telah menjelaskan secara umum di dalam surat al-Baqarah ayat 187 :

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf  dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa”.

Kemudian Nabi Muhammad ﷺ mencontohkan ibadah i’tikaf  ini melalui perkataan dan perbuatannya secara jelas. Salah satunya adalah Nabi Muhammad ﷺ melaksanakan ibadah i’tikaf  di 10 hari terakhir bulan Ramadhan dan ia tidak keluar dari masjid kecuali karena hajat. Lihat : Syarah al-Yaqut al-Nafis ditulis oleh al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, hlm.310.

Namun sangat disayangkan sekali, karena ada sebagian orang atau dibeberapa tempat yang tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah i’tikaf  di Masjid pada saat musim wabah corona atau covid-19. Lalu apakah i’tikaf  di rumah selama wabah covid-19 ini diperbolehkan. Maka inilah di antara tujuan penulis, yaitu untuk menjelaskan perkara-perkara penting terkait Fiqih I’tikaf .

Definisi I’tikaf

I’tikaf  secara bahasa adalah menetap di suatu tempat dan berdiam diri tanpa meninggalkan tempat tersebut, untuk melakukan amal kebaikan. Dan secara istilahnya adalah Berdiam diri secara tertentu, bagi orang tertentu di tempat tertentu dengan niat yang khusus. Lihat: al-Taqrirat al-Sadidah ditulis oleh al-Habib Hasan bin Ahmad al-Kaf, hlm.460. Artinya i’tikaf  adalah menetapnya seorang Muslim yang memenuhi syarat unruk beri’tikaf  dengan beberapa ketentuannya di Masjid dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.

Keutamaan I’tikaf

Nabi ﷺ bersabda :

مَنْ مَشَى فِى حَاجَةٍ أَخِيْهِ كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنْ اِعْتِكَافِ عَشْرِ سِنِيْنَ وَمَنْ اِعْتِكَفَ يَوْمًا اِبْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ ثَلَاثَ خَنَادِقٍ كُلُّ خَنْدَقٍ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الخَافِقَيْنِ. (رواه الطبراني, المعجم الاوسط: 7322)

“Barangsiapa yang berjalan di dalam membantu keperluan saudaranya, maka itu lebih baik baginya dari pada  i’tikaf  sepuluh tahun lamanya. Dan barangsiapa yang beri’tikaf  satu hari karena mengharap ridho Allah SWT, maka Allah menjadikan di antara dia dan api neaka jarak sejauh tiga khondaq / parit. Setiap khondaq dari khondak lainnya jaraknya sejauh langit dan bumi”.(HR. Thabrani, Mu’jam Al-Awsath: 7322)

Oleh sebab itu, di samping memperhatikan ibadah i’tikaf . Hendaknya bagi yang memiliki kesanggupan dan kelapangan harta agar membantu saudara atau tetangga bahkan gurunya sekalipun, karena membantu keperluan mereka juga merupakan ibadah istimewa yang sangat kurang diperhatikan pada saat wabah corona ini.

Syarat I’tikaf  :

Adapun syarat i’tikaf  ada enam perkara, yaitu.

Pertama, niat. Hal ini senada dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ“ innama al-a’mal bi an-niyat”. Lihat: al-Taqrirat al-Sadidah ditulis oleh al-Habib Hasan bin Ahmad al-Kaf, hlm.460.

Jadi hal yang terpenting adalah perencanaan dan keinginan yang kuat untuk melaksanakan ibadah ‘itikaf pada Ramadhan tahun ini yang kebetulan sulit dilakukan karena wabah corona yang masih melanda.

Perlu diperhatikan, andaikan azzam i’tikaf  tersebut tidak terlaksanakan karena kondisi corona saat ini, maka ketahuilah bahwa Allah SWT tidak akan rugi kalau hanya sekedar memberikan pahala i’tikaf  kepada hamba-hambaNya yang memiliki keinginan kuat untuk beribadah di Masjid. Nabi Muhammad ﷺ bersabda :

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ

“Sesungguhnya Allah mencatat berbagai kejelekan dan kebaikan lalu Dia menjelaskannya. Barangsiapa yang bertekad untuk melakukan kebaikan lantas tidak bisa terlaksana, maka Allah catat baginya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia bertekad lantas bisa ia penuhi dengan melakukannya, maka Allah mencatat baginya 10 kebaikan hingga 700 kali lipatnya sampai lipatan yang banyak.” (HR. Bukhari no. 6491).

Namun tekad yang kuat tersebut tentu dibuktikan dengan melaksanakan ibadah di rumah pada siang maupun pada malamnya.

Kedua, i’tikaf nya harus dilaksanakan dalam masjid. Lihat: Umdah al-Salik wa Uddah al-Nasik ditulis oleh Syihabuddin Abi al-Abbas Ahmad bin Naqib, hlm.170.

Dalam hal memenuhi syarat yang kedua ini tentu umat Islam mendapatkan berbagai kesulitan saat pandemi ini. Namun perlu diketahui bahwa menjaga kesehatan dan jiwa merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim. Lalu apakah boleh melaksanakan ibadah i’tikaf  di rumah pada saat kondisi wabah ini. Adapun bagi perempuan melaksanakan i’tikaf  di dalam rumahnya tentu saja diperbolehkan menurut mazhab Imam  Abu Hanifah  dan ini mu’tamad dalam madzhabnya. Apalagi di saat situasi wabah sekarang ini atau terjadi fitnah apabila ia keluar untuk melaksanakan i’tikaf  di Masjid :

يجوز الِاعْتِكَاف فِي الْمَسْجِد وَالْأَفْضَل هُوَ فِي مَسْجِد بَيتهَا

“Bagi perempuan boleh melaksanakan i’tikaf  di dalam Masjid, namun jika ia i’tikaf  di masjid baitiha (tempat yang dikhusukan untuk sholat di dalam rumah) maka itu lebih utama”. (Lihat: Tuhfah al-Fuqaha’ ditulis oleh Abu Bakar ‘Alauddin al-Samarqandi, hlm.373)

Lalu apakah diperbolehkan juga bagi laki-laki untuk i’tikaf  di tempat yang dikhususkan untuk sholat di dalam rumahnya. Maka di saat kondisi saat ini tentu harus mempertimbangkan pendapat ulama yang memperbolehkan hal tersebut. Menurut pandangan sebagian ulama Mazhab Syafi’i memperbolehkan i’tikaf  di dalam rumah, dengan mengikuti nalar “jika shalat sunnah saja yang paling utama dilakukan di rumah, maka i’tikaf  di rumah semestinya bisa dilakukan”.

Hal demikian seperti yang disampaikan oleh Imam Ar-Rafi’i:

ولو اعتكفت المرأة في مسجد بيتها وهو المعتزل المهيأ للصلاة هل يصح فيه قولان (الجديد) وبه قال مالك وأحمد لا لان ذلك الموضع ليس بمسجد في الحقيقة فأشبه سائر المواضع ويدل عليه ان نساء النبي صلى الله عليه وسلم كن يعتكفن في المسجد ولو جاز اعتكافهن في البيوت لاشبه ان يلازمنها (والقديم) وبه قال ابو حنيفة نعم لانه مكان صلاتها كما ان المسجد مكان صلاة الرجل وعلي هذا ففى جواز الاعتكاف فيه للرجل وجهان وهو اولي بالمنع ووجه الجواز ان نفل الرجل في البيت افضل والاعتكاف ملحق بالنوافل

“Wanita melaksanakan i’tikaf  di masjid rumahnya, maksudnya adalah ruangan tempat menyendiri (di rumah) yang dikhususkan untuk shalat, apakah hal tersebut sah? Dalam pembahasan ini terdapat dua pendapat .( Qaul jadid, yaitu pendapat baru Imam Syafi’i), Imam Malik dan Imam Ahmad berpandangan tidak sah, sebab tempat tersebut bukanlah masjid secara hakiki, karena tak ubahnya seperti tempat-tempat lainnya. Pendapat ini juga didasari dalil bahwa para istri Rasulullah melaksanakan i’tikaf  di masjid. Kalau saja boleh beri’tikaf  di rumah, niscaya mereka menetapkannya atau melazimkannya. (Qaul qadim, yaitu pendapat yang lama) dan Abu Hanifah berpendapat boleh i’tikaf  di rumah (ruangan yang dikhususkan untuk shalat), sebab tempat tersebut merupakan tempat sholat bagi wanita, seperti halnya masjid merupakan tempat sholat bagi kaum laki-laki. Berdasarkan pendapat  ini, maka dalam permasalahan bolehnya i’tikaf  di rumah bagi laki-laki juga terdapat dua pendapat, meskipun lebih utama bagi laki-laki untuk tidak i’tikaf  di tempat tersebut. Dalil bolehnya i’tikaf  di rumah bagi laki-laki adalah pemahaman bahwa shalat sunnah bagi laki-laki yang paling utama adalah dilaksanakan di rumah, maka ibadah i’tikaf  mestinya sama dengan ibadah shalat sunnah” . (lihat: Fath al-‘Aziz bi Syarh al-Wajiz= al-Syarah al-Kabir li Rafi’i, Syekh Abdul Karim bin Muhammad ar-Rafi’i, juz 6, hlm. 502-503).

Ketiga, syarat i’tikaf  selanjutnya adalah suci dari hadats besar.  (Lihat: Muqoddimah al-Hadramiyah, ditulis oleh al-Allamah Abdullah bin Abdurrahman Ba Fadhol, hlm. 140). Artinya setelah mandi junub , maka ibadah i’tikaf  kembali diperbolehkan.


Keempat, Berakal. (Lihat: al-Anwar al-Masalik ditulis oleh Syekh Muhammad al-Zuhri al-Ghumrowi, hlm.170). Jika di tengah menjalani i’tikaf  seseorang menjadi gila, maka i’tikaf nya dihukumi batal.

Kelima, berdiam diri minimal seukuran tuma’ninah sholat lebih sedikit ( Sekitar 5 detik). (Lihat: Fath al-Mui’in ditulis oleh Syekh Zainuddin Ahmad al-Malibari, hlm.277).

Keenam, Islam, (lihat: Mandzumah al-Zubad, ditulis oleh Ibnu Ruslan al-Syafi’i, hlm.162). maksudnya tidak sah i’tikaf nya orang non Muslim.

Hukum I’tikaf  di dalam rumah

Dari beberapa pandangan ulama di atas dapat ditarik kesimpulan. Bahwa jika memang tidak memungkinkan untuk melaksanakan i’tikaf  di dalam masjid sebagaimana biasanya. Maka pendapat imam Abu Hanifah dan pendapat imam Rafi’i merupakan hal yang sangat tepat untuk diikuti pada saat wabah corona ini.

Disamping itu hendaknya juga berazam yang kuat di dalam hati untuk beri’tikaf  di masjid, hal ini tentu dibuktikan dengan memperbanyak amal ibadah di dalam rumah (tempat yang dikhususkan untuk ibadah) seperti, membaca al-Qur’an, berzikir, sholawat atau maulid, sholat sunnah tarawih,dll. Kemudian hendaknya juga memperhatikan orang-orang disekitar yang kekurangan ekonomi dengan membantu hajat atau keperluan mereka saudara seiman. Allahu a’lam.*

Tim Asatidz Tafaqquh Study Club.  Twitter: M­_Karim26

28 April 2020




05 Mac 2020


15 Februari 2020

03 Februari 2020

Arrahmah.com – Doktor spesialis penyakit dalam di Kota Makassar, Dr. dr Luthfi Parewangi, SpPD mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu terlalu khawatir dengan wabah virus corona.

Ia menjelaskan, wilayah Indonesia salah satu negara yang kaya akan air. Virus corona akan hancur dengan air. Salah satu yang bisa dilakukan khususnya untuk umat Muslim adalah dengan menjaga air wudhu.

“Mengenai virus corona, kita di Indonesia tidak perlu terlalu was-was, pertama kita kaya dengan air. Virus-virus itu akan cepat hancur dengan air apalagi kaum muslimin berwudhu 5 kali sehari semalam membersihkan mulut hidung itu adalah rahmat tersendiri di luar dari nilai ibadah yang ada di dalam Islam. Virus-virus itu akan mati ketika kita berwudhu, jagalah wudhu anda,” terangnya, sebagaimana dilansir gosulsel.com, Senin (27/1/2020).

Selain air, ujar dr Luthfi, paparan sinar matahari yang di wilayah Indonesia membuat virus-virus cepat mati. Walaupun demikian, ada juga beberapa yang perlu diperhatikan agar terhindar dari Virus Corona, seperti menjaga makanan.

“Nah adapun mengenai persiapan diri kita, adalah yang pertama cuci tangan, makan makanan yang dimasak dan banyak protein karena sumber imunitas tubuh dalam melawan virus itu adalah protein. Perbanyak protein mulai dari telur, ikan dan daging itu adalah modalitas kita untuk mempersiapkan ketika kita terpapar oleh virus,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, efek yang paling buruk dari virus Corona tersebut adalah radang paru yang mengakibatkan perfusi dari pada oksigen ke dalam tubuh menjadi menurun.

“Radang paru ini akan memudahkan infeksi lain atau meluasnya infeksi yang sudah ada. Jadi, orang tua yang punya penyakit-penyakit penyerta, perokok itu adalah orang-orang yang potensial memberat ketika terinveksi oleh virus corona,” jelasnya.

Diketahui, kemunculan virus dengan nama Coronavirus (2019-nCoV) atau virus corona menyita perhatian dunia termasuk di Indonesia.

Virus ini pertama kali menyebar di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, Cina sejak Desember 2019 lalu. Virus corona masih merupakan satu rumpun dengan virus penyebab SARS dan MERS.

(ameera/arrahmah.com)

12 Januari 2020

Jom Buka Pintu Langit

1-Kenapa kita mesti membuka pintu langit
Al-Quran surah Az-Zaariyat ayat 22
Dan di langit terdapat (sebab-sebab) razekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.

Al-Quran surah Yunus ayat 31
Katakanlah: “Siapakah yang memberi razeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?“ Maka mereka akan menjawab: “Allah“. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?“

Al-Quran surah Saba' ayat 24
Katakanlah: “Siapakan yang memberi razeki kepadamu dari langit dan dari bumi?“ Katakanlah: “Allah“, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.

2-Cara membuka pintu langit
Dari Abu Ayyub ,Rasulullah SAW bersabda:"Empat rakaat sebelum Zohor tanpa diselangi salam,maka akan dibukakan pintu-pintu lagi bagi empat rakaat tersebut"(Hadis riwayat : Abu Daud.Tirmizi dan Ibnu Khuzaimah)

03 Januari 2020

;;