28 Jun 2018

Presiden Recep Tayyip Erdogan semakin mengukuhkan cengkramannya sebagai pemimpin di Turki setelah memenangkan pemilihan umum akhir minggu lepas.

Erdogan dan koalisi Aliansi Rakyat berhasil memperolah 53 persen suara, mengalahkan enam pesaingnya dalam pemilu.

Kemenangan ini memungkinkan Erdogan, yang telah lebih dari 15 tahun berkuasa, untuk memperpanjang masa jabatannya hingga 2028 mendatang.

Selain itu, masa jabatan diperoleh berikut kewenangan baru yang dicanangkan lewat perubahan konstitusi 2017 lalu. Didukung referendum, reformasi disahkan parlemen sekitar April 2017....

26 Jun 2018

Setelah menyelesaikan berbagai kegiatan di Istanbul pada hari pemilu 24 Jun 2018, Minggu malam Presiden Turki dan Ketua Umum Parti Keadilan dan Pembangunan (AK), Recep Tayyip Erdogan, mendatangi Ankara untuk berpidato di hadapan warga Turki dari balkoni bangunan pusat Parti AK.

Disiar Anadolu Isnin (25/6), warga yang telah memenuhi lapangan di hadapan bangunan Parti AK untuk merayakan kemenangan, semuanya serentak menyuarakan kepada Erdogan, “Berdirilah tegak, rakyat ini bersama Anda”.

Mendengar sambutan itu Erdogan mengatakan, “Kalian tak usah khawatir, kami belum membungkuk di hadapan kekuatan apapun di dunia ini, kami hanya tunduk di hadapan Allah dalam rukuk dan sujud.”.....

23 Jun 2018


Apa itu ayat kursi? ayat kursi atau ayatul kursi bahasa arab آية الكرسي adalah ayat yang paling agung. Sebab menceritakan mengenai keagungan Allah Swt dan mengenai Kekuasaan-Nya yang tidak akan terbatas. Ayat kursi adalah ayat ke 255 di dalam surat Al Baqarah. Ayat kursi diyakini di baca untuk memperoleh kerendahaan dan pelingdungan dari Allah Swt.

Ayat kursi mempunyai rahsia, kehebatan dan kedahsyatan yang luarbiasa sekali. untuk kajian saat ini akan lebih jauh untuk tahu mengenai rahsia-rahsia ayat kursi tentang kelebihan, keutamaan, manfaat serta manfaat membaca ayat kursi serta begitu lengkap. Sunggguh begitu mengagumkan untuk jadikan doa wirid serta amalan sehari hari. Adapun bacaan Ayat kursi seperti berikut.....

21 Jun 2018

Pahala kebaikan adalah kebaikan (yang dilakukan) setelahnya. Siapa beramal kebaikan diikuti kebaikan berikutnya, itu sebagai tanda diterimanya amal kebaikan pertama

SELEPAS Idul Fitri, salah satu yang dicemaskan generasi salaf adalah bukan seberapa banyak yang telah diamalkan di bulan Ramadhan, tapi seberapa diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala.  Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah berkata: “Para (generasi) salaf, enam bulan pasca Ramadhan mereka gunakan untuk memohon -berdoa dan beramal- pada Allah agar seluruh amalan di bulan Ramadhan diterima oleh-Nya”.

Umar bin Abdul Aziz, Sang Khalifah kenamaan dinasti Umawi suatu saat berpidato di hadapan rakyatnya sehabis shalat `Idul Fitri: “Wahai rakyat sekalian! Kalian telah berpuasa selama 30 hari, dan telah shalat malam selama 30 hari. Sekarang (tiba saatnya) kalian keluar dari bulan Ramadhan untuk memohon pada Allah agar semuanya diterima”.

Untuk mengetahui amalan diterima atau tidak di bulan Ramadhan, ada 5 tanda –yang disarikan dari kitab “Lathaa`ifu al-Ma’aarif” (1999: 221, 222 dan 224) karya Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah- yang menunjukkan bahawa amal atau ibadah mukmin diterima di bulan Ramadhan:

Pertama, Memiliki persepsi yang benar terkait amal yang dilakukan. Amal yang dilakukan di bulan

20 Jun 2018

ADA sebuah cerita mengenai Imam al-Ghazali bersama murid-muridnya, yang ketika itu mereka sedang berkumpul bersama. Dalam perkumpulan mereka, Imam al-Ghazali melontarkan beberapa teka teki kepada muridnya.

Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 : “Orangtua.”
Murid 2 : “Guru.”
Murid 3 : “Teman.”
Murid 4 : “Kaum kerabat.”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah ‘mati’. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati (Surah Ali-Imran: 185).

Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”....

14 Jun 2018

Fakhruddin ..Idul Fitri adalah hari raya bagi umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa. Agar nilai pahala di Idul Fitri berlipat ganda, berikut beberapa amalan sunnah Idul Fitri yang perlu kita amalkan:

1. Mandi dan berhias diri sebelum berangkat shalat Id.

Terdapat riwayat shahih dalam Kitab Al–Muwaththa dan lainnya bahawa Abdullah bin Umar mandi pada hari Id sebelum berangkat ke tempat shalat. (Al-Muwaththa, no. 428). An-Nawawi menyebutkan adanya kesepakatan ulama tentang disunnahkannya mandi untuk shalat Id.

Diriwayatkan dari Nafi’, ia berkata, “Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang.” (HR. Malik dalam Al-Muwatho’ 426)

Dari Jabir radhialahu anhu, dia berkata, Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki gamis yang biasa beliau pakai untuk shalat dua Hari Raya dan hari Jumat. (Shahih Ibnu Khuzaimah, no. 1765)

Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih bahawa Ibnu Umar memakai pakaian yang paling bagus pada Hari Id. Maka bagi laki-laki, hendaknya memakai pakaian yang paling bagus ketika berangkat untuk shalat Id.

Semantara bagi wanita, hendaknya dia menjauhi perhiasan apabila dia keluar, kerana dilarang baginya menampakkan perhiasan di hadapan laki-laki bukan mahram, demikian pula diharamkan bagi wanita yang hendak keluar untuk mengenakan wewangian atau mengundang fitnah bagi laki-laki, kerana dia keluar semata-mata untuk beribadah dan ketaatan.

2. Makan sebelum berangkat shalat Idul Fitri...

08 Jun 2018

Islampos.com
NABI Muhammad SAW pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang tanda-tanda malam lailatul qadar, yaitu:

1. Udara dan Suasana Pagi yang Tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Lailatul Qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah.”

2. Cahaya Mentari Redup

Ada juga hadis nabi yang menginformasikan ciri malam Qadar adalah bila ada cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya. Dasarnya dari hadis Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahawasanya Rasulullah SAW bersabda:

“Keesokan hari malam Qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan,” (HR. Muslim)

3. Terkadang Terbawa dalam Mimpi...

06 Jun 2018

https://muslim.or.id
Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadis Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.

Kerana pentingnya hal ini, tidak hairan apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:

الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء

“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)

Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya.

Oleh kerana itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilih hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan kerana memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan kerana tidak pernah diajarkan oleh beliau.

Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami sampaikan beberapa hadis lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadis, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadis yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadis, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.

Hadis 1

صوموا تصحوا

“Berpuasalah, kalian akan sehat.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).

Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).

Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Hadis 2

;;