10 April 2019

Karakter Jahiliyah Modern

Penulis Fakhruddin
Saat mendengar kata jahiliyah, gambaran yang sering muncul di benak kita adalah era kebodohan yang jauh dari nilai peradaban, tidak bermoral dan penuh dengan praktek paganisme atau lebih simpelnya adalah zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Anggapan seperti ini memang tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat jika definisi jahiliyah hanya dibatasi pada masa pra-islam yang terjadi di Jazirah Arab saja tanpa peduli mengapa mereka dijuluki jahiliyah.

Bila dilihat dari definisi syar’i, kata jahiliyah lebih tepatnya dipahami dengan makna segala sesuatu yang menyelisihi norma-norma Islam. Dalam hal apapun itu, bila menyimpang dari petunjuk Islam maka disebut jahiliyah. Mengapa demikian? Iya, kerana bila kata jahiliyah itu difahami hanya sebagai bentuk kebodohan dalam erti buta huruf atau kerana tidak punya aturan hidup sangat bertentangan dengan realiti yang ada saat itu. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab justru dikenal sebagai bangsa yang suka bersyair, pintar berdagang dan lihai dalam taktik perang.

Kerana itu, kata jahiliyah tidak cukup jika hanya dipahami sebagai kebodohan semata. Namun ada faktor yang lebih krusial mengapa julukan jahiliyah itu disematkan kepada bangsa arab pra-Islam. Secara umum, sebutan tersebut muncul karena prilaku atau cara pandang yang menyimpang dari  Islam. Meskipun hakikatnya pintar dalam urusan dunia, namun ketika prilaku atau cara pandangnya menyimpang dari Islam, maka esensi jahiliyah itu ada dalam dirinya. Bahkan terhadap umat Islam sekalipun, ketika perilakunya menyimpang dari Islam maka sejatinya dia sedang berperilaku jahiliyah.

Perhatikan bagaimana ketika Abu Dzar tidak sengaja menghina ibu dari sahabat Bilal bin Rabah, Rasulullah bersabda kepadanya:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Rupanya masih ada dalam dirimu karakter jahiliyah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikian juga dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat perkara jahiliyah yang sulit ditinggalkan umatku; berbangga dengan darah keturunan, mencela keturunan orang lain, meminta hujan dengan perantara bintang-bintang, dan meratapi mayat.” (HR Muslim)

Dengan demikian makna jahiliyah tidak hanya untuk menyebut suatu masa, era atau fase tertentu saja. Namun sebutan jahiliyah merupakan sifat yang dapat melekat pada setiap individu atau kelompok manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Setiap perkara yang menyimpang dari petunjuk Nabi SAW maka dia disebut perkara jahiliyah. (Fathul Majid, hal: 261)

Abul A’la Al-Maududi berkata, “Jahiliyah adalah setiap cara pandang yang tidak sesuai dengan cara pandang Islam, yang dari cara pandang yang tidak islami tersebut lahirlah perbuatan-perbuatan jahiliah.” (Abu A’la Al-Maududui, Islam dan Jahiliyah, hal. 22-23)

Jahiliyah Modern, Menjauhkan Masyarakat dari Hukum Allah

Ibarat sejarah yang terus berulang, ia pasti akan kembali menampakkan wajahnya dalam bentuk yang berbeda, dengan sosok dan setting yang berbeda, namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Demikian juga dengan perkara jahiliyah itu sendiri. Hakikat atau perilaku jahiliyah yang pernah membudaya di kalangan Masyarakat Arab pra-Islam, juga terjadi kembali di era modern ini. Ada banyak karakter jahiliyah yang tercatat dalam lintasan sejarah. Di antaranya selain hobi minum khamer, mereka juga memiliki undang-undang yang menyimpang dari syariat Islam.

Karena itu, ketika risalah Islam itu datang mereka sepakat menolaknya. Dengan segala upaya mereka menghadang dan melumpuhkan dakwah Nabi SAW. Tidak berhenti disitu, mereka juga menjauhkan masyarakat dari seruan tauhid. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkriminalisasi dan menyiksa siapa pun yang menyambut seruan tersebut. Hari ini tabiat-tabiat jahiliyah itu kembali terulang. Dengan settingan dan aktor yang berbeda, upaya pemisahan Islam dari aturan hidup masyarakat terjadi dalam pelbagai bidang; politik, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan sebagainya.

Bagi mereka, agama dipandang hanya sebagai urusan privat semata. Tidak perlu dibawa-bawa untuk mengatur kebijakan publik. Kehidupan sosial biarlah diatur hukum positif berdasarkan kemanusiaan dan toleransi dari akal budi manusia. Tidak perlu ada campur tangan tuhan di dalamnya. Efeknya, ajaran Islam hanya dipakai jika sesuai dengan selera akal mereka. Kondisi seperti ini melambangkan karakter bangsa jahiliyah zaman dahulu.

Muhammad Quthb dalam bukunya Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin, menjelaskan secara rinci bagaimana perilaku jahiliyah yang masih membudaya di zaman modern ini. Menurutnya, Jahiliyah modern merupakan miniatur dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan asesoris di sana-sini sesuai dengan perkembangan zaman. Sikap jahiliyah modern tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang.

Bahkan kalau kita melihat pola pikir bangsa jahiliyah masa lalu, sejatinya mereka masih meyakini akan adanya Allah. Mereka juga paham jika Allah adalah tuhan Sang Pencipta alam semesta beserta isinya. Namun yang menjadikan mereka jahiliyah adalah ketika mereka tidak lagi memahami Allah secara hakiki, tidak beriman secara benar kepada-Nya, dan tidak mau berhukum kepada-Nya dalam semua aspek kehidupan mereka.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Lukman: 25)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah Ta’ala menceritakan keadaan orang-orang yang musyrik bahwa mereka dalam hatinya mengakui bahwa Allah-lah Yang menciptakan langit dan bumi. Dia semata yang melakukannya, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, selain dari itu mereka pun menyembah sekutu-sekutu lain beserta Dia, dan mereka pun tahu bahwa sekutu-sekutu itu adalah makhluk-Nya dan milik-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/348)

Mereka mengakui Allah tetapi tidak diikuti dengan konsekuensi dari pengakuan tersebut, tidak mau menjalankan syariatnya, tidak pula berhukum kepada Allah. Keadaan mereka yang seperti ini, Allah sebutkan dalam firman-Nya, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya,” (QS. Al-An’am: 91)

Dari sinilah inti karakter jahiliyah itu, yaitu tiadanya keimanan yang benar kepada Allah, tidak menjadikan Islam sebagai solusi hidupnya. Tidak mau berhukum kepada-Nya serta lebih memperturutkan hawa nafsunya. Allah ‘azza wajalla berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 60)

Segala putusan hukum yang berlawanan dengan Islam atau tidak mau menjadikannya sebagai pedoman disebut hukum jahiliyah. Yaitu hukum yang berdiri atas dasar hawa nafsu (kemauan) sekelompok orang yang menguasai urusan masyarakat. Hukum yang penuh intrik penguasa, hukum yang tidak lepas dari kepentingan konglomerat yang menguasai ekonomi rakyat. Karena itu Allah ta’ala perintahkan kepada orang-orang beriman: “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah : 48)

Iman yang benar akan melahirkan sikap ketundukan kepada Allah dan selalu mengembalikan hukum kepada apa yang telah diturunkan-Nya. Sedangkan jahiliyah selalunya memperturutkan hawa nafsu. Karena itu, Muhammad Qutb menekankan bahwa Jahiliyah adalah menolak untuk menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup, dan membuat suatu aturan, adat, tradisi dan undang-undang yang menolak hukum Allah. (Muhammad Qutb, Jahiliyyah al-Qarn al-‘Isyrin, hal. 42-46)

Sayyid Qutb menegaskan bahwa Jahiliah adalah segala sesuatu yang merenggut dan mengambil hak prerogatif Allah Ta’ala dalam membuat dan menetapkan suatu hukum, aturan, dan undang-undang. Dalam pandangannya, masyarakat Islam bukanlah sebuah perkumpulan atau kelompok manusia yang menamakan diri mereka ‘Muslim’ sedangkan syariat Islam tidak dijadikan undang-undang masyarakat tersebut, walaupun mereka patuh melaksanakan shalat, mengerjakan puasa, dan menunaikan haji ke Mekah. (Sayyid Qutb, Ma’alim fi al-Tariq, Hal. 149-150)

Totalitas menerima Islam sebagai solusi dalam setiap persoalan hidup merupakan konsekuensi dari Iman itu sendiri. Ketika kita mengakui Islam sebagai ajaran yang benar maka kita harus rela melepaskan seluruh tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan syariat. Totalitas menanggalkan tradisi jahiliyah semacam inilah yang menjadi kunci kemuliaan umat Islam terdahulu. Wallahu a’lam bis shawab!(kiblat.net)


31 Mac 2019

Ihsan Tanjung – Ada sebuah gejala baru yang selama ini tidak pernah dikenal dalam tradisi dan sejarah Islam. Yaitu munculnya sosok Muslim yang sibuk mencari keridhaan non-Muslim alias kaum kuffar. Selama ini Islam mengarahkan seorang beriman untuk hidup dengan landasan niat mengejar keridhaan Allah semata. Seorang Muslim hamba Allah ialah seorang yang dalam segenap kiprahnya hanya mengharapkan keridhaan Penciptanya. Setiap kali beramal, berfikir, berbicara, bersikap bahkan berperasaan, seorang Muslim  selalu bertanya bagaimanakah Allah akan menilai amal, fikiran, ucapan, sikap dan perasaannya. Demikianlah cara pandang seorang Muslim sejati. Sedangkan bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar berkiprah, maka ia sibuk bertanya bagaimanakah kaum kuffar akan menilai kiprahnya.

Dewasa ini kita berada dalam era paling kelam dalam sejarah Islam. Dunia menyaksikan munculnya fenomena abnormal dimana seorang Muslim sibuk mencari keridhaan kaum kuffar. Dalam babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan atau Para Penguasa Diktator dewasa ini, sebagian umat Islam menjadi terpengaruh oleh pihak penguasa dunia. Padahal Allah  menyerahkan giliran kepemimpinan dunia kepada kaum kuffar –seperti yang kita saksikan dewasa ini- hanyalah dalam rangka menguji keimanan dan ke-istiqomahan kaum muslimin.

Bagi orang beriman yang tetap meyakini bahawa hanya Allah sajalah Penguasa Sejati langit dan bumi, maka ia akan tetap hidup dan berkiprah berlandaskan niat mencari keridhaan Allah. Namun bagi Muslim yang tertipu dan menyangka bahawa kaum kuffar telah menjadi penguasa yang sungguh berkuasa di dunia, maka mereka mulai mengalihkan hidup dan kiprahnya berlandaskan niat mencari keridhaan para penguasa diktator tersebut.Bila seorang Muslim sejati berbicara, ia berbicara untuk mencari ridha Allah. Bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tinggal diam, maka ia tidak berani berbicara kerana ingin menyenangkan kaum kuffar. Bila seorang Muslim berjuang, maka ia berjuang untuk mentaati perintah Allah dan dalam rangka mengejar ridha Allah. Sedangkan seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tidak berjuang –padahal ia sangat berhak untuk itu- kerana tidak ingin membuat kaum kuffar menjadi benci kepadanya. Sudah barang tentu ini semua tidak diutarakan secara blak-blakan, melainkan dibungkus dengan dalih misalnya ”langkah ini tidak baik untuk da’wah Islam” atau ”langkah ini akan menjauhkan orang dari Islam”.

Muslim jenis baru ini sangat terobsesi dengan upaya menjaga image atau citranya di hadapan orang kafir. Sedemikian rupa sehingga tolok ukur wala dan bara-nya (loyaliti dan berlepas diri-nya) berlandaskan penilaian si kafir terhadap image si Muslim. Muslim macam ini sangat menyukai sesama Muslim yang berpenampilan ”anak baik” di hadapan kaum kafir. Dan ia sangat mencela Muslim yang menurutnya mencoreng ”nama baik orang Islam”.

Jika identiti Islam yang ia tampilkan akan menggusarkan kaum kafir, maka ia rela menyesuaikan identitinya dengan apa saja asal kaum kuffar menjadi mahu menerimanya. Bila kaum kuffar mensyaratkan agar identiti Islam yang dikedepankan hendaknya tanpa embel-embel ideologi , maka ia akan tampil penuh rasa percaya-diri dengan  menerjemahkan kalimat Basmalah sebagai: ”Dengan nama Allah Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama.” Ia akan siap membangun negara dengan meleburkan perbedaan ideologi ke dalam faham Nasionalisme. Dalam rangka mencari ridha kaum kuffar ia akan menjamin bahawa kemenangannya dalam pertarungan politik tidak akan diikuti dengan penerapan hukum Syariah Islam. Ia akan menafsirkan kewajiban jihad di dalam Al-Qur’an sebagai apa saja yang menyenangkan kaum kuffar asal bukan berarti mengangkat senjata di jalan Allah dalam rangka ’isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Bahkan secara perlahan namun pasti mereka sudah meninggalkan kosa kata jihad dalam kesehariannya…!!

28 Mac 2019

Hidup menyanyi,matipun menyanyi

Rasulullah ﷺ bersabda bahawa setiap hamba akan dibangkitkan nanti sebagaimana ia meninggal dulu. Barangsiapa meninggal dalam keadaan membaca talbiah, ia akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiah. Barangsiapa mati dalam keadaan mabuk, ia akan dibangkitkan dalam keadaan mabuk. Bagaimana kalau ada orang meninggal dalam keadaan bernyanyi? Baca lagi jika rajin

24 Mac 2019

Renungan pendek
Diriwayatkan bahawa ada seorang sahabat rasulullah saw sedang membangunkan tembok. Pada waktu tersebut ,ada seorang sahabat melalui kawasan lelaki tersebut sedang membangunkan tembok . Sahabat yang sedang membina tembok itu bertanya kepada sahabat yang lalu berdekatannya, "Apakah ayat al-Quran yang turun pada hari ini?"
"Hari ini turun ayat
ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 
Maksudnya : Telah hampir datangnya kepada manusia hari perhitungan amalnya,sedang mereka dalam kelalaian,tidak hiraukan persediaannya(al-Anbiya' ayat 21)
Mendengar jawapan tersebut,sahabat yang membina tembok itu memberhentikan pekerjaannya lantas berkata, " Sesungguhnya aku tidak akan membangunkan apa-apa lagi kerana hisab makin dekat"

20 Mac 2019

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda," Sesiapa yang meninggalkan dan tidak berjuang untuk membela agama Allah,atau tidak memotivasikan dirinya untuk berjuang membela agama Allah, maka pada kematiannya itu terdapat sifat kemunafikan dalam dirinya".
  (Hadis riwayat Muslim)

15 Februari 2019

Strategi Politik Firaun

KIBLAT.NET – Abul Hakam, sebuah panggilan yang biasa dipakai masyarakat Arab Jahiliah untuk menyebut sosok Amru bin Hisyam. Panggilan yang memiliki makna orang yang bijaksana itu dipakai bukan tanpa sebab, tapi sosok Amru bin Hisyam memang tokoh yang dihormati dan dinilai bijaksana dalam mengambil kebijakan waktu itu. Namun ketika risalah Islam datang, akibat kesombongannya, dia pun menjadi tokoh utama penentang dakwah Nabi SAW. Sejak saat itu, orang-orang pun menyebutnya dengan Abu Jahal yang berarti bapak kejahilan.

Abu Jahal merupakan Tokoh Quraisy yang paling gigih menentang Islam. Segala cara ia lakukan, termasuk merayu Nabi SAW supaya menghentikan dakwahnya dengan strategi politik menawarkan pangkat, jabatan, kekuasaan dan wanita. Akan tetapi kesemuanya itu ditolak oleh baginda SAW dengan sabda, “Walaupun Mentari engkau letakkan di tangan kananku dan Rembulan di tangan kiriku, sekalipun tak kan kulepaskan perjuangan membela agama ini,” Singkat cerita, Abu Jahal mati saat Perang Badar. Melihat jasadnya yang terkapar di atas tanah, Nabi SAW berujar di hadapan para sahabatnya, “Inilah Firaunnya umat ini.”

Secara historis Firaun memang gelar Raja Mesir pada zaman Nabi Musa as. Namun dalam perspektif Islam, sebutan Firaun tidak lagi sekadar gelar para raja di era Mesir kuno. Ia perlahan berubah mejadi seperti simbol kebiadaban dan kesombongan. Bagi umat Islam, Firaun lebih dimaknai sebagai pemimpin zalim dan sombong. Kerana itu, akibat kesombongan dan kezalimannya terhadap umat Islam, Abu jahal pun dijuluki oleh Nabi SAW sebagai Firaunnya umat ini.

Kelihaian Firaun Dalam Berpolitik

10 Februari 2019

Penyebab malapetaka

Dari Tsauban ra Rasulullah SAW bersabda," Sesungguhnya seorang hamba diharamkan baginya razeki kerana dosa yang ia lakukan, dan qadha' tak akan tertolak kecuali dengan doa,dan umur tak akan bertambah kecuali dengan kebaikan.(hadis riwayat Ahmad)

;;