16 Ogos 2019

Hadis riwayat Thabrani: 

Dari Husain bin Ali ra,Rasulullah saw bersabda," Umatku selamatt dari tenggelam bila mereka naik kapal dan berdoa :
۞ بِسۡمِ ٱللَّهِ مَجۡرٜىٰهَا وَمُرۡسَىٰهَآۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ

Surah Hud ayat 41
 Dan Nuh berkata: "Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya". Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

10 Ogos 2019

Menyembelih haiwan korban merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Tentunya, dalam ibadah tidak boleh sembarangan menentukan sendiri tata caranya. Semua amal ibadah, khususnya Korban, harus sesuai panduan yang telah dibuat Syariat. Oleh kerana itu, supaya ibadah korban kita diterima, ada beberapa hal penting harus diketahui. Berikut poin-poinnya secara ringkas:

Pertama: Berkorban termasuk salah satu Syariat Allah dan hukumnya Sunnah Muakkad, menurut jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah dan lainnya, dan wajib menurut pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan jika korban itu sudah dinazarkan maka seluruh ulama sepakat hukumnya wajib.

Kedua: Jika sudah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, para pengkorban dimakruhkan mencukur rambut dan memotong kuku. Namun jika kedua hal itu terlanjur dilakukan, tidak ada denda menurut kesepakatan ulama. Hikmah larangan cukur rambut dan potong kuku bagi pengkorban adalah untuk meniru orang yang sedang melaksanakan haji.

Catatan: Larangan ini khusus bagi orang yang berkurban. Wakil pengkurban dan keluarganya tidak masuk dalam hukum ini.

Ketiga: Saat menyembelih wajib membaca: “Bismillah Wallahu Akbar”. Dianjurkan menambah bacaan: “Allahumma Haza Minka wa Laka”. Atau ditambah lagi: “Anni Wa Anman Lam Yadih min Ahli (dengan meniatkan untuk keluarga yang masih hidup dan sudah meninggal)”.

Keempat: Hewan kurban harus dari hewan ternak, yaitu: unta, sapi, domba dan kambing.

Kelima: Unta yang diboleh jadi hewan kurban harus minimal berumur lima tahun genap, sapi berumur dua tahun, kambing berumur satu tahun dan domba berumur enam bulan genap.

Keenam: Ulama fiqih sepakat hewan kurban sah jika terhindar dari empat cacat, yaitu: buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, sakit dan tampak jelas sakitnya, pincang dan tampak jelas pincangnya, sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.

Catatan: Tidak mengapa jika cacatnya itu ringan, menurut pendapat jumhur ulama. Cacat ringan itu seperti tanduknya seperempat atau sepertiga tanduknya pecah, sobek sepertiga atau seperempat telinganya. Namun berkurban dengan hewan dengan cacat ringan ini hukumnya makruh. Adapun hewan cacat karena dikebiri boleh tanpa makruh.

Ketujuh: Jika pengurban mengetahui ada kecacatan di hewan kurbannya dengan mata sendiri maka wajib menggantinya. Namun, jika kecacatan itu diketahui oleh orang lain (dia tidak mengetahuinya berdasarkan pemeriksaannya) maka kurbannya sah.

Kedelapan: Waktu penyembelihan kurban dimulai selesai Salat Ied, meskipun di tempat itu tidak ada Salat Ied.

Kesembilan: Waktu terakhir penyembelihan hewan kurban, menurut pendapat Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabilah, adalah terbenamnya Matahari di hari ketiga setelah Idul Adha. Sementara pendapat Syafi’iyah dan sebagian Hanabilah berpendapat waktu terakhir penyembelihan saat tenggelamnya Matahari di hari keempat. Hukumnya makruh menyembelih hewan kurban pada malam hari.

Kesepuluh: Barang siapa yang terlewatkan waktu penyembelihan, jika kurbannya itu nadzar maka wajibnya baginya mengqadha’. Jika kurbannya sebagai amalan sunnah, boleh memilih antara menyembelih dengan cara qadha atau tidak.

Kesebelas: Daging kurban tidak boleh ditukar, baik dengan lebih sedikit atau sepadan dengannya. Adapun jika ditukar dengan yang lebih banyak maka dibolehkan.

Keduabelas: Sunnah Nabi menunjukkan pembagian daging kurban dibagi tiga: sepertiga untuk dimakan sendiri, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga sisanya untuk dishadaqahkan kepada orang-orang miskin.

Ketigabelas: Tidak boleh menjual apapun dari hewan kurban, walaupun hanya kulitnya. Namun boleh dimanfaatkan dan dihadiahkan kepada yang lain. Orang kafir dibolehkan diberi daging kurban.

Keempatbelas: Penjagal tidak boleh diberi upah dari daging kurban, meskipun hanya kulit atau lainnya. Namun, setelah dia dibayar dengan uang, sementara ia termasuk golongan fakir miskin, maka ia boleh diberi daging kurban.

Kelimabelas: Boleh meniatkan kurban satu kambing atau domba untuk keluarga. Tidak ada kurban kolektif dalam kambing dan domba. Kurban kelektif hanya pada unta dan sapi dengan jumlah maksimal tujuh pengkurban dalam satu hewan.

Keenambelas: Paling afdhal hewan kurban disembelih sendiri. Namun boleh diwakilkan kepada muslim lainnya. Tidak sah jika penyembelihan diwakilan kepada Ahli Kitab karena ini bentuk ketaatan.

Ketujuhbelas: Meniatkan kurban untuk mayit hukumnya terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ulama Hanabilah berpendapat hukumnya sunnah, Hanafiyah membolehkan, Malikiyah memakruhkan namun boleh dan Syafi’iyah membolehkan jika itu sudah nadzar atau wasiat. Namun jika hanya sebagai ibadah Sunnah maka tidak boleh.

Sumber: Fatwa Syaikh Abdurrazaq Al-Mahdi(kiblat.net)

04 Ogos 2019

Soalan: (voa-islam)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ada larangan menjual kulit qurban. Bagaimana caranya agar kulit itu bernilai ekonomi? Terima kasih.




Jawab:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah dan keluarganya.

Bagi orang yang berkurban dilarang membisneskan (menjual) bahagian dari haiwan qurban yang disembelihnya.  Baik itu daging, hati, jantung, paru, usus, kulit, bahkan kukunya.

Menyembelih haiwan qurban itu sebagai qurban (pendekatan diri) kepada Allah. Sedangkan amal-amal qurubaat tidak menerima penukaran dengan harga, maka tidak boleh dijual sebagaimana harta wakaf. (Dinukil dari Kitab Ahkam al-Udhiyah fi al-Fiqh al-Islami, DR. Walid Khalid al-Rabi')

Siapa yang menjual bahagian dari haiwan qurbannya maka tertolak ibadah udhiyah (qurban)-nya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ

"Siapa yang menjual kulit haiwan qurbannya, maka tidak ada qurban untuknya (tidak diterima)." (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi, dihassankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-jami', no. 6118)

Pihak yang terkena hukum qurban ini adalah pengorban dan wakilnya. Panitia pelaksana penyembelihan haiwan qurban adalah wakil dari orang yang berqurban. Ia tak boleh bisneskan / jual belikan bahagian dari haiwan qurban yang diurusnya; baik itu daging, kulit, bulu, dan anggota haiwan qurban lainnya. Kalau diserahkan kepada pihak lain sebagai sedekah atau hadiah lalu dimanfaatkan maka itu boleh.

Solusinya: berikan kulit ke jamaah atau orang miskin, lalu terserah mereka, mahu diolah, dibuat kerajiban, atau dijual olehnya. Orang yang menerima daging haiwan qurban atau kulitnya boleh menjualnya. Tidak haram baginya dan juga tidak pengaruhi sahnya sebagai haiwan qurban. Wallahu a'lam.

20 Julai 2019

Salah satu pemahaman yang massif di kalangan umat Islam akhir zaman ini adalah tentang doa secara terperinci, terang-terangan, dan tertarget. Sampai-sampai disebutkan dengan jelas warna kereta, harganya, waktunya, dan sebagainya.

Menjadi kontroversi sebab ternyata doa-doa jenis ini tidak bersesuaian dengan doa-doa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada para Nabi-Nya sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an.

Nabi Adam ‘Alaihis salam yang terpisah dari isterinya setelah diturunkan ke bumi hanya diajarkan kalimat penyesalan diri, permintaan, dan pengakuan kelemahan.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Dan jika Engkau tak mengampuni kami, sungguh kami termasuk orang yang merugi.”

Doa yang termaktub dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 23 tersebut hanya berupa kalimat pengakuan kekeliruan.Bukankah jika berdoa secara terperinci dan detail maka redaksinya, “Ya Allah, ampuni kami. Dosa kami banyak. Pertemukan hamba dengan isteri hamba. Di tempat ini. Seminggu lagi. Hamba sudah rindu.”

Senada dengan Nabi Adam ‘Alaihis salam, Nabi Yunus ‘Alaihis salam pun mengalami ujian yang berat. Beliau berada di dalam tiga kegelapan sekaligus; perut ikan, dasar lautan, dan malam pekat.

Bagaimana Allah Ta’ala mengajarkan doa kepada Nabi yang marah hingga meninggalkan medan dakwah sebelum mendapatkan perintah ini?

“Tiada Tuhan yang hak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang zalim.”

Doa Nabi Yunus ‘Alaihis salam yang terkabulkan ini terdapat di dalam Surat Al-Anbiya’ [21] ayat 87 hanya menyebutkan tiga muatan; tauhid, tasbih, dan pengakuan penyesalan atas kesalahan yang diperbuat.

Jika memang berdoa dengan terperinci, terang-terangan, dan detail dianjurkan, bukankah redaksinya, “Ya Allah, hamba lelah. Gelap dan bau di perut ikan. Tolong keluarkan segera. Tapi jangan di laut. Keluarkan di darat. Jangan juga dijatuhkan, sakit. Tapi seperti diantarkan, lalu ada makanan dan orang yang boleh menolongku di sana.”

Masih banyak doa-doa para Nabi ‘Alaihimus salam yang terdapat di Al-Qur’an, dan di dalamnya tidak terperinci sebagaimana pemahaman sebagian oknum yang akhir-akhir ini semakin massif.

Memang, kita harus meminta kepada Allah Ta’ala sebagai wujud kebutuhan hamba kepada Penciptanya. Bahkan kita harus senantiasa menyampaikan permintaan, meski hanya untuk sebutir garam.

Akan tetapi, jangan sampai pemahaman itu menjadi keliru dengan mendetail-detail secara berlebihan hingga diri tergolong memaksa Allah Ta’ala.

Dan ajaibnya, kepada doa para Nabi di dalam Al-Qur’an tersebut, Allah Ta’ala mengabulkannya dengan memberikan karunia yang benar-benar tak ternilai dan amat berlimpah. [Kisahikmah]

06 Julai 2019

Tatkala para pemuda yang terdesak dan harus mengungsi di suatu tempat asing demi mempertahankan aqidah mereka, tibalah mereka di sebuah gua. Tentu untuk tinggal beberapa saat lamanya disana mereka memerlukan banyak perkara seperti makanan, selimut,tilam, toilet dan lain sebagainya. Rasanya mustahil mendapatkan keperluan semua itu di sebuah gua yang terpencil di tengah hutan belantara.

Tapi para pemuda tidak memaksakan permintaan tersebut kepada Allah. Mereka mencukupkan hanya dengan satu permintaan yang khusyu’ dan penuh keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan mereka dengan sebaik-baiknya.

(إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا)
[Surat Al-Kahf 10]

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Allah SWT langsung merespon doa mereka dengan memberikan penyelesaian yang sangat indah, yakni menidurkan dan menjaga mereka selama 309 tahun lamanya. Masya Allah..

Baca semuanya di SINI

15 Jun 2019

KIBLAT.NET– Jawatan sebagai hakim (qadhi) termasuk jawatan mulia dalam sejarah Islam. Kerana tugas hakim adalah memutuskan hukuman sesuai dengan landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Dahulu para khalifah di masa-masa awal sangat memperhatikan hal ini dengan memilih seorang hakim yang paling soleh, paling berilmu dan paling bertakwa, kerana melihat pentingnya posisi tersebut dan bahaya yang mungkin terjadi ketika jawatan tersebut dipegang orang yang tidak tepat.

Dahulu, orang yang dipilih menjadi hakim merasa takut dan lari dari amanah besar ini kerana melihat sensitiviti dan dengan standart zalim dan adil dan hak-hak manusia menjadi tanggung jawab seorang hakim. Namun berjalannya waktu, ramai manusia memperdagangkan jawatan ini. Mereka jauh dari hukum Allah, sembarangan dalam memilih hakim. Hakim terpilih juga memanfaatkannya untuk meraih kedudukan dan akses-akses material dan maknawi yang besar.

Mereka lupa atau dilupakan dengan hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ: قَاضِيَانِ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ فِي الجَنَّةِ، رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ الحَقِّ فَعَلِمَ ذَاكَ فَذَاكَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ لاَ يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ قَضَى بِالحَقِّ فَذَلِكَ فِي الجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di syurga. Seorang hakim yang memutuskan hukum tidak berdasarkan kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka di neraka. Seorang hakim yang memutuskan hukum tanpa ilmu sehingga hilanglah hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang memutuskan berdasarkan kebenaran, maka ia di syurga.” (HR. Tirmidzi no. 1322)..

09 Jun 2019

Dari Jabir bin Abdullah ra,Rasulullah SAW bersabda," Jangan kalian mendoakan(celaka) untuk diri-diri kalian,anak-anak kalian,dan harta-harta kalian.Dikhuatiri ketika itu bertepatan dengan waktu Allah mengkabulkan doa kalian.(Riwayat Muslim)

;;