10 Mac 2019

Sekitar 95 tahun silam, Khalifah Utsmani (Ottoman) resmi dinyatakan runtuh. Kepemimpan Islam yang pernah jaya dan menguasai dua pertiga dunia dihapuskan dalam tata dunia pada 3 March 1924. Sejak itu, umat Islam tidak lagi di bawah naungan seorang pimimpin tunggal (khilafah) dan mereka tercerai berai menjadi lebih dari 60 negara. Kondisinya tak ubah seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Hari demi hari problematika yang dihadapi terus meluas menyentuh segala lini kehidupan. Pendidikan, ekonomi, sosial dan politik umat Islam kian tertinggal dengan umat lainnya

Hari ini wajah dunia Islam benar-benar berada dalam kendali musuh tanpa memiliki kemampuan untuk melawan. Gambaran Rasulullah saw bahawa musuh-musuh Islam akan memangsa kaum muslimin sebagaimana orang-orang menyerbu makanannya benar-benar menjadi kenyataan. Syria, Afghanistan, Palestina, Uighur, Rohingya dan negeri-negeri lainnya telah memberikan kesaksian akan nubuwat tersebut.

Tentunya ketika kondisi umat kian terpuruk, kita tidak boleh pesimis. Umat Islam dituntut terus untuk bangkit. Membangun optimisme agar kejayaan yang dijanjikan itu boleh tegak kembali.

Kerana itu, ketika umat berada dalam kondisi lemah seperti ini, Al-Qur’an hadir mengingatkan kita akan tiga hal yang mesti kita lakukan bersama. Ketiga hal itu, Allah Ta’ala firmankan dalam surah yang hampir setiap hari Jum’at kita baca, yaitu surah Al Kahfi.  Bunyi ayat tersebut adalah:


وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا*وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا*

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya*Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 27-28)

Ayat ini diturunkan kepada Nabi Saw ketika beliau sedang dalam kondisi lemah di kota makah. Kisah yang tercantum dalam surat Al Kahfi ini mengingatkan Nabi dan para sahabatnya tentang tiga wasiat penting yang boleh menenangkan hati mereka di saat ujian dan cobaan datang bertubi-tubi.

Wasiat Pertama
fiman AllahTa’ala:

وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya.”(QS: Al-Kahfi 27)

Ayat ini mengandung perintah untuk senantiasa tilawah Al-Qur’an. Tilawah disini mencakup dua makna: Pertama, membaca dengan cara mentadabburinya yang diiringi dengan khusyu’ dan mendalami kandungannya serta memperhatikan, mentadabburi akan wasiat Allah yang terdapat di dalamnya.

Makna kedua adalah mengamalkannya. Kedua makna inilah yang terangkum dalam wasiat untuk membaca Al-Qur’an.

Dengan senantiasa membaca dan mengamalkan petunjuk Al-Qur’an maka akan tumbuh rasa optimisme dalam hati walau kondisi dalam keadaan sempit.

Yang Kedua Allah Ta’ala mewasiatkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya agar senantiasa sabar bersama orang-orang yang menyeru Allah pada pagi dan petang.

Orang-orang yang senantiasa berzikir kepada Allah ketika masuk waktu pagi dan petang dan tujuan hidup mereka selalu dipertaruhkan untuk Allah, untuk agamaNya, syari’atNya, kitabNya. Bahkan seluruh hidupnya mereka tujukan untuk menegakkan agama Islam. Dan mereka selalu berfikir bagaimana cara untuk memenangkan agama Allah. Maka bersama orang-orang seperti inilah yang mestinya engkau bersabar untuk berada bersama mereka

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ

“…Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari…” (QS. Al Kahfi: 28)

Yaitu orang yang menjadikan tujuan hidupnya untuk meninggikan agama Islam. Senantiasa memikirkannya di waktu pagi dan petang. Atau bahkan dalam hidup mereka seluruhnya.


Wasiat yang ketiga adalah berlawanan dengan wasiat nombor dua yaitu firman Allah:

وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“…Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas…” (QS. Al Kahfi: 28)

Sebagaimana kamu harus berteman dengan orang mukmin, begitu juga kamu harus memusuhi orang kafir. Janganlah sekali-kali berteman dengan mereka atau menjalin kasih sayang. jangan pernah pula berada dalam barisan selain barisan orang mukmin akan tetapi tepatilah barisan orang-orang mukmin dan selisihilah orang-orang musyrik. Orang-orang yang obsesi hidupnya hanya untuk dunia. Hatinya lalai terhadap Allah, tidak memiliki kesadaran untuk menolong agama Islam. Tidak menghiraukan kondisi umat Islam yang lemah dan tidak peduli dengan penguasaan musuh terhadapnya. Maka terhadap orang yang seperti ini janganlah kamu menghabiskan waktu bersama mereka.Jangan berteman dengan mereka, dan jangan condong kepada mereka.

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami.”

Demikianlah tiga wasiat yang Allah pesankan kepada nabi-Nya. Marilah kita bersama untuk mentadabburinya dan mengamalkannya. Dan kita memohon kepada Allah agar kita selalu berada bersama kalimat yang haq, dunia dan akhirat. Kemudian boleh menggunakannya untuk menolong agama Allah dan dalam jihad melawan musuh-musuh Allah.(sumber SINI)


15 Februari 2019

Strategi Politik Firaun

KIBLAT.NET – Abul Hakam, sebuah panggilan yang biasa dipakai masyarakat Arab Jahiliah untuk menyebut sosok Amru bin Hisyam. Panggilan yang memiliki makna orang yang bijaksana itu dipakai bukan tanpa sebab, tapi sosok Amru bin Hisyam memang tokoh yang dihormati dan dinilai bijaksana dalam mengambil kebijakan waktu itu. Namun ketika risalah Islam datang, akibat kesombongannya, dia pun menjadi tokoh utama penentang dakwah Nabi SAW. Sejak saat itu, orang-orang pun menyebutnya dengan Abu Jahal yang berarti bapak kejahilan.

Abu Jahal merupakan Tokoh Quraisy yang paling gigih menentang Islam. Segala cara ia lakukan, termasuk merayu Nabi SAW supaya menghentikan dakwahnya dengan strategi politik menawarkan pangkat, jabatan, kekuasaan dan wanita. Akan tetapi kesemuanya itu ditolak oleh baginda SAW dengan sabda, “Walaupun Mentari engkau letakkan di tangan kananku dan Rembulan di tangan kiriku, sekalipun tak kan kulepaskan perjuangan membela agama ini,” Singkat cerita, Abu Jahal mati saat Perang Badar. Melihat jasadnya yang terkapar di atas tanah, Nabi SAW berujar di hadapan para sahabatnya, “Inilah Firaunnya umat ini.”

Secara historis Firaun memang gelar Raja Mesir pada zaman Nabi Musa as. Namun dalam perspektif Islam, sebutan Firaun tidak lagi sekadar gelar para raja di era Mesir kuno. Ia perlahan berubah mejadi seperti simbol kebiadaban dan kesombongan. Bagi umat Islam, Firaun lebih dimaknai sebagai pemimpin zalim dan sombong. Kerana itu, akibat kesombongan dan kezalimannya terhadap umat Islam, Abu jahal pun dijuluki oleh Nabi SAW sebagai Firaunnya umat ini.

Kelihaian Firaun Dalam Berpolitik

10 Februari 2019

Penyebab malapetaka

Dari Tsauban ra Rasulullah SAW bersabda," Sesungguhnya seorang hamba diharamkan baginya razeki kerana dosa yang ia lakukan, dan qadha' tak akan tertolak kecuali dengan doa,dan umur tak akan bertambah kecuali dengan kebaikan.(hadis riwayat Ahmad)

01 Februari 2019

Buktikan keIslaman mu

Sesungguhnya umat Islam satu dengan umat Islam lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan, kata Nabi. Sudah semestinya saling membantu dan saling melindungi. Kerana setiap Muslim hakikatnya adalah bersuadara.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10).

Oleh kerana itu Allah sangat suka kepada Muslim yang mahu membina persahabatan, persaudaraan dan persatuan layaknya bangunan yang kukoh, lebih-lebih dalam upaya membela agama Allah (QS. 61: 4).

Apabila hal itu terwujud, maka jaminan Allah akan menyertai kehidupan umat Islam. Rasul bersabda, “Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadis Nabi lain disebutkan,  “Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan: ‘Amin, dan bagimu sepertinya,” (HR. Muslim).

Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara seiman.

من لا يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadis).

“Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).

Untuk itu mari kita tata kembali hati dan hidup kita untuk bermanfaat dan bermakna bagi sesama. Sungguh tidak ada ertinya hidup ini, manakala hanya untuk kesenangan pribadi.*/Imam Nawawi

25 Januari 2019

1. Memotong kuku
Selain sebagai amalan sunat, memotong kuku juga dapat membersihkan tangan kerana kuku yang panjang boleh menyebabkan kekotoran terkumpul di celah-celah kuku.

Lagikan pula, makan menggunakan tangan antara amalan Sunnah dan menjadi keperluan untuk kita menjaga kebersihan tangan bagi mengelakkan tangan yang kotor memasuk makanan ke dalam mulut.

2. Mandi sunat
Sunat mengelokkan rupa paras dan membersihkan anggota tubuh badan sebelum keluar solat seperti memendekkan atau mencukur misai, bulu ketiak, bulu pada kemaluan, menggosok gigi dan sebagainya.

Dalam sebuah hadis pernah dinyatakan bahawa:-

“Tidak mandi seorang lelaki pada hari Jumaat dan membersihkan dirinya setakat yang termampu, seterusnya beliau meminyakkan rambut, mengenakan wangi-wangian harum yang dimilikinya di rumah, lantas dia keluar (ke masjid) dan dia tidak mencelah di antara dua orang (di dalam masjid), lalu dia bersolat apa yang diwajibkan ke atasnya. Dan sesudah itu duduk diam sewaktu imam sedang berkhutbah, melainkan diampunkan segala dosanya dari Jumaat tersebut hinggalah ke Jumaat yang akan datang.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

3. Membaca Surah al-Kahfi

31 Disember 2018

NABI SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kepadaku pada Hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku pada Hari Kiamat adalah orang yang tercela akhlaknya, iaitu orang yang suka berceloteh, orang yang suka berbicara panjang lebar, dan orang yang berbicara dengan dibuat-buat (difasih-fasihkan).”

Ada pelajaran yang boleh kita ambil dari hadis ini. Rasulullah SAW sangat tidak menyukai kebiasaan berceloteh. Lebih-lebih ketika sedang berada pada majlis ilmu. Sama halnya Rasulullah SAW tidak menyukai pembicaraan yang difasih-fasihkan agar kita tampak berilmu. Padahal, yang demikian ini justru menjauhkan kita dari kebaikan
Banyak perkara yang kerap luput dari diri kita. Tanpa kita sedari, mungkin kita menjadi sebahagian dari orang yang tercela akhlaknya.
Dewasa ini, banyak majlis-majlis ilmu yang diikuti masyarakat. Namun sayang, terkadang majlis ilmu itu tidak berjalan dengan semestinya. Bukan kerana acaranya yang tidak sesuai atau tidak menarik, seringkali kita banyak berceloteh dalam majlis ilmu. Padahal sudah sangat jelas, bahawa Rasulullah tidak menyukai orang yang banyak berceloteh terlebih dalam majlis ilmu.
Kita seringkali menganggap remeh apa yang disampaikan orang yang sedang berbicara dalam majlis ilmu sehingga kita tidak mendengarkannya. Padahal, setiap ucapan kebaikan itu pula merupakan sebuah ilmu berharga bagi kita. Maka tugas kita mensyukuri ilmu yang kita dapatkan dengan mendengarkan kebaikan yang tengah disampaikan oleh orang lain dalam majlis ilmu.
 [SUMBER ip]

22 Disember 2018

Ciri yang disebutkan mengenai Ya’juj dan Ma’juj mirip Bangsa China, namun apakah itu manusia sepet saat ini?

“Kiamat tidak akan terjadi,” kata Nabi dalam salah satu hadisnya, “sampai kalian memerangi sekolompok orang yang sendalnya terbuat dari bulu, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sepet, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, wajah mereka berbentuk perisai yang bundar.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain riwayat Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan, “Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu bangsa bermata sepet, bermuka lebar, bermata hitam, muka mereka seperti perisai, memakai sepatu bulu, membawa perisai dan mereka menambatkan kudanya di pohon kurma.”

Siapakah yang dimaksud dengan sekelompok orang yang bermata sepet, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek dan wajahnya seperti perisai bundar?

;;