23 Februari 2017

Sebahagian umat Muslim sering salah sangka terhadap mazhab fiqh. Mereka menyebut mazhab sebagai penyebab perpecahan, sebagaimana pecahnya umat lain dalam sekte-sekte. Sehingga ada dari sebagian umat Islam yang menjauhkan diri dari bermazhab, bahkan ada yang sampai anti-mazhab.

Penggambaran yang salah dan tidak masuk akal tentang mazhab ini terjadi kerana keawaman dan kurangnya informasi yang benar tentang hakikat mahzab fiqh. Kenyataannya sebenarnya tidak demikian. Mazhab-mazhab fiqh itu bukan hasil dari perpecahan atau pereseteruan, apalagi peperangan di dalam tubuh umat Islam.

Secara bahasa erti mazhab adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba – yazhabu – zihaaban . Mahzab adalah isim makan dan isim zaman dari akar kata tersebut.

Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah. Tentu, mazhab di sini mengenai mazhab Fiqh.

Adanya mazhab memang merupakan keperluan asasi untuk mampu kembali kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Misal ada seorang bernama Faiz, Rahman dan Sulaiman yang bersikap anti mazhab, dan mereka mengatakan hanya akan menggunakan al-Quran dan As-Sunnah saja, sebenarnya mereka masing-masing sudah menciptakan sebuah mazhab baru, yaitu mazhab al-Faiziah, al-Rahmaniah dan, a-Sulaimiah .

Sebab yang namanya mazhab itu adalah sebuah sikap dan cara seseorang dalam memahami teks al-Quran dan as-Sunnah. Setiap orang yang berupaya untuk memahami kedua sumber ajaran Islam itu, pada hakikatnya sedang bermazhab.

Kalau tidak mengacu kepada mazhab orang lain yang sudah ada, maka minimal dia mengacu kepada mazhab dirinya sendiri. Kesimpulannya, tak ada orang di dunia ini yang tidak bermazhab. Semua orang bermazhab, baik disedari atau tak disedari.

Lalu bolehkah seseorang mendirikan mazhab sendiri?

Jawabnya tentu saja boleh, asalkan dia mampu meng-istimbath (menyimpulkan) sendiri setiap detail ayat al-Quran dan as-sunnah. Tentu hal ini bukan hal yang mudah bagi setiap orang, apalagi yang masih tergolong awam. Jika dibuat perumpamaan dengan dunia komputer, maka adanya mazhab-mazhab itu ibarat seseorang menggunakan komputer. Sudah pasti setiap orang memerlukan sistem operasi.

Tidak mungkin seseorang menggunakan komputer tanpa sistem operasi, baik Windows, Linux, Mac OS atau yang lainnya. Adanya beragam sistem operasi di dunia komputer menjadi hal yang mutlak bagi setiap user, sebab tanpa sistem operasi, manusia hanya bicara dengan mesin.

Kalau ada orang yang agak eksentrik dan bertekad tidak mau pakai Windows, Linux, Mac Os atau sistem operasi lain yang telah tersedia, tentu saja dia berhak sepenuhnya untuk bersikap demikian. Namun dia tentu perlu membuat sendiri sistem operasi itu, yang tentunya bukan pekerjaan mudah.

Orang pada umumnya, rasanya terlalu mengada-ada jika ia harus membuat sistem operasi baru oleh dirinya sendiri. Bahkan seorang programer tingkat tinggi sekalipun, belum tentu mau bersusah payah melakukannya. Untuk apa merepotkan diri membuat sistem operasi? Lalu apa salahnya menggunakan sistem operasi yang sudah tersedia di pasaran? Yang memang telah teruji.

Tentu masing-masingnya punya kelebihan dan kekurangan. Tapi yang jelas, akan menjadi sangat lebih praktis kalau kita memanfaaatkan yang sudah ada saja.

Sebab di belakang masing-masing sistem operasi itu, pasti berkumpul para maniak dan tim yang siap bekerja 24 jam untuk menyempurnakan sistem operasinya.

Demikian juga dengan keempat mazhab yang ada. Di dalamnya telah berkumpul ratusan, bahkan ribuan ulama ahli level tertinggi yang pernah dimiliki umat Islam. Mereka bekerja siang malam untuk menghasilkan sistem fiqh Islami yang siap pakai serta sederhana. Meninggalkan mazhab-mazhab itu sama saja buat kerjaan baru, yang hasilnya belum tentu lebih baik.

Bahkan, orang yang tingkat keilmuwannya sudah mendalam sekaliber al-Imam al-Ghazali rahimahullah sekalipun, tetap mengacu kepada salah satu mazhab yang ada, yaitu mazhab As-Syafi’iyah. Beliau tetap bermazhab meski sudah pandai mengistimbath hukum sendiri. Demikian juga dengan beragam ulama besar lainnya seperti Al-Mawardi, An-Nawawi, Al-‘Izz bin Abdissalam dan lainnya.

Sumber: rumahfiqih

22 Februari 2017

KITA tahu  bahawa Firaun dan Iblis adalah makhluk-makhluk yang durhaka pada Allah SWt. Tidak terbayangkan, bagaimana mengerikannya jika seorang manusia dianggap lebih buruk dibanding keduanya.

Pasalnya baik Firaun maupun Iblis saja sudah demikian jahatnya, bagaimana jika lebih buruk dari mereka. Pasti hal-hal yang dilakukan oleh manusia yang lebih buruk ini akan lebih buruk pula dibanding keduanya.

Ternyata tidak demikian adanya, kerana cirinya sangat sering sekali terlihat dan dialami oleh manusia. Bahkan diantara kita juga sering melakukannya. Ciri manusia yang dianggap lebih buruk dari firaun dan iblis adalah tidak mau memaafkan kesalahan orang lain....

19 Februari 2017

Video yang memilukan

17 Februari 2017

TERDAPAT banyak dalil yang menyebut Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang ummi (tidak membaca dan tidak menulis). Kita akan sebutkan beberapa diantaranya,

Pertama, firman Allah, ketika menyebutkan ciri-ciri Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,


الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ

Yaitu orang-orang yang mengikuti rasul, sang nabi yang ummi, yang mereka jumpai keterangan tertulis dalam kitab taurat dan injil yang ada di tengah mereka. (QS. al-A’raf: 157)

Kedua, firman Allah, yang memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti nabi,

14 Februari 2017

Sebuah penelitian yang dilakukan lembaga kesihatan public Inggris “NHS” berkerjasama dengan University of Leeds mengungkapkan bahawa mendalami agama menjadi ubat yang sangat efektif dalam mengubati gangguan mental.

Terapi psikologi sering menjauhkan agama dan perananya dalam menangani gangguan mental, dan bahkan diantara mereka kadang-kadang menyebut agama sebagai sebahagian dari masalah. Akan tetapi metod terbaru menunjukan bahawa mengubati gangguan mental bagi umat Islam sengat bergantung pada peningkatan komitmen mereka dengan ajaran agama dan praktiknya.

Para peneliti mengungkapkan bahawa banyak dari umat Islam sebenarnya mengalami ganguan mental, akan tetapi mereka tidak mau mengungkapkannya kerana merasa malu dan dianggap sebagai aib ketika dinyatakan positif mengalami ini.

Ketua kumpulan peneliti di NHS mengatakan bahawa hasil penelitian menunjukan umat Islam dapat meraih hasil yang positif dan lebih cepat tergantung pada pendalaman iman mereka, “Kami mendapati ini menurut hasil eksperimen yang tersebar di seluruh dunia” ujar ketua peneliti dari NHS.

Dengan bertambahnya iman para penderita gangguan mental dapat sembuh lebih cepat dari mereka yang mengalami penyakit yang sama akan tetapi menganut agama lain. (Sumber SINI)

11 Februari 2017

Petua untuk jadi PANDAI

Untuk menjadi seorang pelajar yg cemerlang,apa yang perlu anda lakukan? ikutilah petua-petua dibawah ini..

a) kita ingat 10% apayang dibaca
b) kita ingat 20% apa yang didengar
c) kita ingat 50% apa yang didengar & dilihat
d) kita ingat 70% apa yang dicakapkan
e) kita ingat 90% setelah dipraktikkan

1. Belajar secara aktif dengan pen/ pensil ditangan
2. Belajar 3 jam sehari  atau 20 jam seminggu (tidak termasuk kerja rumah)

3. Belajar dalam persekitaran kondusif, baik, sesuai
a) pastikan cahaya adalah terang
b) kurangkan gangguan bunyi
c) tampal poster yang mengandungi slogan yang menaikkan semangat belajar
d) tampal gambar-gambar yang menenangkan fikiran
e) kerusi dan meja menghadap kiblat
f) jangan lupa untuk senyum.....LAGI

09 Februari 2017



Lihat tangan kirinya ...tak bergerak
Lihat mukanya...penat dan keletihan ....lagi

;;