18 Januari 2021


 1. Bahagia itu ibarat kupu-kupu. Jika kamu mengejarnya, ia lari darimu, tapi jika kamu duduk dengan tenang, ia akan turun ke tanganmu. Maka bersabarlah kerana sabar itu indah.

2. Hidup tidak akan berhenti. Allah senantiasa mengiringnya dengan kelembutan dan rencana-Nya dengan harapan baru dan tekad yang tidak pernah hilang.

3. Saat kamu sakit gigi, ingatlah Rasulullah yang giginya patah kerana perang. Saat kamu difitnah, ingatlah Rasulullah difitnah penyihir dan gila.

4. Jangan memberitahu sesiapa pun tentang maksiatmu kerana dua sebab. Pertama, kerana maksiat bukan untuk dibanggakan. Kedua, kerana manusia takkan melupakan keburukanmu walaupun kamu telah bertaubat.

5. Bila yang ditimpa musibah itu orang yang kita cinta, maka kita akan katakan itu penghapus dosa. Bila yang ditimpa musibah itu orang yang kita benci maka kita akan mengatakan itu hukuman dari Allah. Berhati-hatilah jangan menghukumi takdir Allah dengan hawa nafsu kita.

6. Jika seseorang hamba tahu bagaimana Allah mengatur seluruh hidupnya, maka dia akan menyadari bahawa Allah mencintainya lebih dari cinta kedua orang tuanya sehingga hatinya akan condong mencintai Allah.

7. Kaca yang pecah, suaranya akan hilang dan meninggalkan serpihan yang akan melukai siapa yang menyentuhnya. Begitu juga perkataan yang melukai hati, suaranya akan cepat hilang tapi lukanya akan kekal untuk waktu yang lama. Kerana itu, janganlah berkata sesuatu kecuali yang baik-baik saja.

8. Jika kamu merasa sangat nyaman, aman dan tanpa rasa takut di kediamanmu, apalagi yang kamu harapkan selain itu? Puji dan syukur kepada Allah atas kebahagiaan yang kamu miliki dan akuilah nikmat itu dengan pengakuan yang tulus.

9. Saya sering bilang, jangan pandangi wanita yang belum berhijab. Jangan pandangi dia dengan penilaian buruk. Barangkali dia punya dua rakaat Tahajjud di sisi Allah, sehingga segala dosanya terampuni. Kita tak tahu hati dan urusan manusia dengan Allah, masing-masing punya rahsia dengan Allah.

10. Hati akan mati tanpa Al-Qur’an. Hati akan keras jika tidak diobati dengan Al-Qur’an. Hati juga tidak akan bahagia kecuali dengan Al-Qur’an. Maka jadikanlah Al-Qur’an sahabat yang selalu menemanimu. Sunggu Al-Qur’an akan memberi petunjuk ke jalan yang lurus.

11. Setiap kebaikan yang kamu kerjakan, engkau akan dapatkan perlindungan Allah dan jalan keluar dari kesulitan. Mungkin kebaikanmu dilupakan orang lain, akan tetapi Allah tidak akan lupa!

12. Jika engkau merasa tidak hidup bahagia, Maka ketahuilah, engkau tidak mengerjakan sholat dengan baik.

13. Tiga hal yang harus selalu ada dalam memorimu. (1) Tak ada yang selamat dari kematian (2) Tak ada ketentraman di dunia (3) Tak seorang pun aman dari perkataan manusia.

14. Hidup kita susah tidak punya uang untuk mencukupi kebutuhan sehari hari? Sedangkan Rasulullah berbulan-bulan hanya makan kurma di rumahnya tidak ada sesuatu untuk dimasak.

15. Kamu lelah beribadah kepada Allah? Bayangkan Rasulullah shalat sampai tumitnya itu melepuh retak karena lama berdiri.

16. Sungguh indah jika anda memberi dan tahu bahwa yang akan membalas pemberian anda bukanlah manusia tetapi pencipta manusia.

17. Jika kamu tidak bisa menjadikan orang lain lebih baik akhlaknya sepertimu. Maka, jagalah akhlakmu jangan biarkan dia mempengaruhi akhlakmu.

18. Aku tidak punya waktu membenci orang-orang yang membenciku. Karena aku sangat sibuk mencintai orang-orang yang menyayangiku.

19. Hikmah Kehidupan. Tidak ada kebahagiaan yang sempurna. Tidak ada kesengsaraan yang abadi. Maka terus berusahalah, hiduplah dengan tenang.

20. Ubahlah duniamu dengan senyuman. Jangan biarkan dunia yang mengubah senyumanmu. [SUMBER]

09 Januari 2021

 


KETIKA kita bersujud, itu adalah dimana ketika hampir tidak ada hijab dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Maka tidak hairan, kita dianjurkan untuk banyak berdoa setiap kali kita bersujud.

Nah, dari semua itu, ada tiga doa yang janganlah kita lupakan dalam sujud.

1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah

١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة


Ertinya : “Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah.”


2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan taubat sebelum wafat

٢. اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت

Ertinya: “Ya Allah berilah aku razeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat.”

3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas agamaNya.

٣. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك


Ertinya: “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.” [IP]



06 Januari 2021


Soalan
Bolehkah kita membina masjid kecil di dalam rumah dan kita beriktikaf di dalamnya?

Jawapan Ulama'

Asy-Syaikh Qalyubi (w. 1069 H) mengatakan:

إنْ بُنِيَ فِيهَا دَكَّةٌ وَوُقِفَتْ مَسْجِدًا صَحَّ فِيهَا. وَكَذَا مَنْقُولٌ أَثْبَتَهُ وَوَقَفَهُ مَسْجِدًا ثُمَّ نَزَعَهُ

“Jika seseorang membangun semacam panggung kecil kemudian mewakafkannya sebagai masjid, maka sah. Begitu pula jika ia membuat sebuah alas sebagai alas permanen di sebuah tempat kemudian ia wakafkan sebagai masjid, meskipun nantinya ia bongkar.” (Qalyubi, Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin (II/97). Beirut: Darul Fikr, 1995 M)

Poin ini lebih jelas lagi dalam fatwa Asy-Syaikh Ali Az-Ziyadi (w. 1024 H) sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh ‘Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H):

إِذَا سَمَّرَ حَصِيرًا أَوْ فَرْوَةً فِي أَرْضٍ أَوْ مَسْطَبَةٍ وَوَقَفَهَا مَسْجِدًا صَحَّ ذَلِكَ وَجَرَى عَلَيْهِمَا أَحْكَامُ الْمَسَاجِدِ وَيَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِيهِمَا وَيَحْرُمُ 

عَلَى الْجُنُبِ الْمُكْثُ فِيهِمَا وَغَيْرُ ذَلِكَ

“Jika seseorang meletakkan permaidani, alas kulit, atau sajadah lalu memakunya di dalam rumah miliknya (yang telah ia beli atau sewa), atau ia membuat panggung kecil atau tempat semisalnya dari kayu, kemudian ia mewakafkannya sebagai masjid, maka sahlah yang demikian itu. Dengan demikian, berlaku padanya hukum-hukum masjid sehingga sah pula beritikaf di sana dan haram pula orang yang berhadas besar untuk menetap di situ.” (Asy-Syarqawi, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Ath-Thullab (II/370-371). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1997 M)


Fatwa ini juga dinukil dan disetujui oleh para ulama Syafi’iyyah setelahnya, semisal Asy-Syaikh ‘Abdulhamid Asy-Syarawani (w. 1301 H)[2] dan Asy-Syaikh ‘Ali Bashabrin (w. 1305 H)[3].

Hal yang menjadi catatan di sini adalah karpet atau panggung kecil yang ditaruh dirumah haruslah diwaqafkan sebagai masjid. Dengan mewaqafkannya sebagai masjid barulah hukumnya berubah menjadi masjid sehingga boleh i’tikaf di atasnya.

Nah, selama karpet atau panggung kecil tadi masing terpasang kukoh di sudut rumah kita, bahkan meski rumah sewa, maka hukumnya adalah masjid. Jika sudah dibongkar, maka pendapat yang terkuat di internal Mazhab Syafi’i, ialah sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam As-Suyuthi (w. 911 H) dalam salah satu fatwa beliau, bahawa sudah tidak lagi berlaku hukum masjid padanya[4]. Ini juga yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh Sa’id Ba’asyin (w. 1270 H)[5].BACA SEMUANYA.

04 Januari 2021

Kita seumpama apa ya ???


DALAM hadis, Rasulullah Muhammad banyak memberikan perumpamaan. Semua Perumpamaan itu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

1. Bagaikan Pohon :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء

“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan. Sedangka perumpamaan orang munafik seperti pohon yang kuat tidak pernah digoyangkan angin sampai ia ditebang.” (al-Hadis)

2. Bagaikan Bangunan

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebahagian menguatkan sebahagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]

3. Bagaikan Tubuh

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

4. Bagaikan Cermin

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” [sanadnya Hasan]

5. Bagaikan Lebah

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ

“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi]

6. Bagaikan Pohon Kurma

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.

Ertinya: ” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermampaat bagimu.” (HR: Thobrani)

7. Bagaikan Emas

مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.


Ertinya: “Perumpamaan seorang mukimin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang.” (HR. Baihaqi)

copyedit

29 Disember 2020

Berkat Mandi Hujan

Kisah Anas bin Malik ra

قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قَالَ: «لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى»


Anas berkata: Kami bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kehujanan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?

Beliau menjawab, “Kerana ia baru saja datang dari Tuhannya ta’ala.” (HR. Muslim)

An Nawawi menjelaskan hadis ini,

“Maknanya bahawa hujan adalah rahmat, ia baru saja diciptakan Allah ta’ala. Maka kita ambil keberkatannya. Hadis ini juga menjadi dalil bagi pernyataan sahabat-sahabat kami bahwa dianjurkan saat hujan pertama untuk menyingkap –yang bukan aurat-, agar terkena hujan.” (Al Minhaj)

Ibnu Rajab dalam Fathul Bari menyebutkan bahawa para sahabat Nabi pun sengaja hujan-hujanan seperti Usman bin Affan. Demikian juga Abdullah bin Abbas, jika hujan turun dia berkata: Wahai Ikrimah keluarkan pelana, keluarkan ini, keluarkan itu agar terkena hujan. Ibnu Rajab juga menyebutkan bahawa Ali bin Abi Thalib jika sedang hujan, keluar untuk hujan-hujanan. Jika hujan mengenai kepalanya yang gundul itu, dia mengusapkan ke seluruh kepala, wajah dan badan kemudian berkata: Keberkahan turun dari langit yang belum tersentuh tangan juga bejana.

Abul Abbas Al Qurthubi juga menjelaskan,

“Ini yang dilakukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mencari keberkahan dengan hujan dan mencari ubat. Kerana Allah ta’ala telah menamainya rahmat, diberkati, suci, sebab kehidupan dan menjauhkan dari hukuman. Diambil dari hadis: penghormatan terhadap hujan dan tidak boleh merendahkannya.” (Al Mufhim)

Bahkan para ulama; Al Bukhari dalam Shahihnya dan Al Adab Al Mufrod, Muslim dalam Shahihnya, Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubro. Semuanya menuliskan bab khusus dalam kitab-kitab hadits mereka tentang anjuran hujan-hujanan.

sumber

25 Disember 2020


Isu sensitif yang terus berulang dalam setiap tahunnya adalah perdebatan akan boleh dan tidaknya ucapkan Merry Christmas oleh ummat Islam. Masalah ini menjadi polemik yang tak mampu terelakan menjelang perayaan natal. Meskipun berbagai argumen telah jelas namun kegemaran untuk berdebat menjadi pemicunya.

Namun, ada satu pendekatan yang mungkin jarang dilakukan oleh kita adalah mendengar langsung pandangan masalah ini dari ummat kristiani itu sendiri. Kerana justru perdebatan itu terjadi antara ummat Islam sendiri.

Sebuah pernyataan yang diluar dugaan adalah ketika salah seorang sarjana Kristian berbicara isu ini. Ternyata, mereka juga menyatakan kehairanannya terhadap tingkah laku umat Islam yang mengucapkan natal kepada orang Kristian.

Hal ini diungkap oleh Dr James White, seorang sarjana Kristian yang kerap terlibat dalam diskusi Islam vs Kristian. Beliau yang antara lain pernah berdialog dengan Dr Yasir Qadhi, menyatakan bahawa ucapkan selamat natal hakikatnya bermasalah untuk diucapkan oleh Muslim.

“Satu pandangan mengenai Krismas; saya tak dapat memahami bagaimana seorang Muslim yang berakal boleh mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada nasrani. Saya tidaklah katakan bahawa kita tidak boleh bersikap toleran dan peramah sesama sendiri (kita malah sedang hidup dalam dunia sekular yang hendak menghapuskan semua hak beragama, lihat sajalah China!)“Mari kita berlaku jujur: Jika Kristian benar, maka Islam salah, dan begitu jugalah sebaliknya. Dalam ideologi kristian mengakui bukan saja inkarnasi Anak Tuhan, doktrin utama Kristian yang mustahil diterima oleh aqidah Islam, tapi ia juga menyatakan dirinya sebagai Raja segala Raja, penguasa sekalian manusia! Inilah antara sebabnya mengapa golongan sekularis membantah hal tersebut.

“Saya fikir tidak masuk akal bagi saya untuk mengharapkan seorang Muslim menggugurkan kepercayaan mereka untuk mengucapkan “Merry Christmas” kepada saya. Tidak langsung saya dapati ia melukai hati saya” – Dr James White

Maka ternyata pandangan sarjana Kristiani tersebut senada dengan sejumlah besar ulama yang tidak membenarkan ucapan selamat natal. Satu pelajaran yang boleh diambil oleh umat Islam adalah, ketika kita tidak mengucapkan selamat natal sama sekali tidak melukai hati penganut Kristian, kerana mereka faham akan terlarangnua perbuatan tersebut menurut islam.  [copyedit]

20 Disember 2020


ADA sebuah hikayat masyhur, yang menyebutkan bahawasannya suatu saat Atha` bin Sa`ib Al Kufi terlibat percakapan dengan Khalifah dari Bani Umayyah Hisyam bin Abdil Malik. Hisyam saat itu bertanya,”Wahai Atha’, apakah engkau memiliki pengetahuan menganai para ulama di seluruh negeri?” Atha’ pun menjawab,”Saya tahu, wahai Amirul Mukminin.”

Lantas Hisyam pun bertanya,”Siapa faqih penduduk Madinah?” Lantas Atha’ pun menjawab,”Nafi’, hamba Ibnu Umar.”

Hisyam pun bertanya kembali,”Kemudian, siapa faqih penduduk Makkah?” Atha’ pun menjawab,”Atha’ bin Rabah.” Hisyam pun bertanya kembali,”Ia hamba atau bangsa Arab?” Atha’ pun menjawab,”Ia hamba.”

Hisyam lalu bertanya,”Siapa faqih penduduk Yaman?” Atha’ pun menjawab,”Thawus bin Kaisan.” Lalu Hisyam bertanya,” Ia hamba atau dari bangsa Arab?” Atha’ pun menjawab,”Ia hamba.”

Lantas Hisyam bertanya,”Siapa faqih penduduk Syam?” Atha’ menjawab,”Makhul.” Hisyam kembali bertanya,”Ia hamba atau dari bangsa Arab?” Atha’ pun menjawab,”Ia hamba.”

Hisyam bertanya kembali,”Siapa faqih penduduk Jazirah?” Atha’ menjawab,”Maimun bin Mihran.” Hisyam pun bertanya,”Ia hamba atau dari bangsa Arab?” Atha’ pun menjawab,”Ia hamba.”

Hisyam lalu bertanya,”Lalu siapa faqih penduduk Khurasan?” Atha’ menjawab,”Dhahak bin Muzahim.” Hisyam bertanya,”Ia hamba atau bangsa Arab?” Atha’ menjawab,”Ia hamba.”

Hisyam masih bertanya,”Siapa faqih penduduk Bashrah?” Atha’ pun menjawab,”Al Hasan Al Bashri dan Ibnu Sirin.” Lantas Hisyam bertanya,” Keduanya hamba atau dari bangsa Arab?” Atha’ pun menjawab,”Keduanya hamba.”

Hisyam bertanya kembali,”Lalu siapa faqih dari penduduk Kufah?” Atha’ menjawab,”Ibrahim An Nakha’i” Hisyam lantas bertanya,”Ia hamba atau dari bangsa Arab?” Atha’ pun menjawab,”Ia dari bangsa Arab.” Hisyam pun berkata,”Hampir saja nyawaku melayang!” (Ath Thabaqat As Saniyah, hal. 43)

Walhasil, tidak ada dalam peradaban manapun di mana para hamba banyak yang menjadi  cendekiawan, yang melebihi orang-orang merdeka, kecuali dalam peradaban Islam!  copyedit

;;