20 Julai 2019

Salah satu pemahaman yang massif di kalangan umat Islam akhir zaman ini adalah tentang doa secara terperinci, terang-terangan, dan tertarget. Sampai-sampai disebutkan dengan jelas warna kereta, harganya, waktunya, dan sebagainya.

Menjadi kontroversi sebab ternyata doa-doa jenis ini tidak bersesuaian dengan doa-doa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala kepada para Nabi-Nya sebagaimana termaktub di dalam Al-Qur’an.

Nabi Adam ‘Alaihis salam yang terpisah dari isterinya setelah diturunkan ke bumi hanya diajarkan kalimat penyesalan diri, permintaan, dan pengakuan kelemahan.

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Dan jika Engkau tak mengampuni kami, sungguh kami termasuk orang yang merugi.”

Doa yang termaktub dalam Surat Al-A’raf [7] ayat 23 tersebut hanya berupa kalimat pengakuan kekeliruan.Bukankah jika berdoa secara terperinci dan detail maka redaksinya, “Ya Allah, ampuni kami. Dosa kami banyak. Pertemukan hamba dengan isteri hamba. Di tempat ini. Seminggu lagi. Hamba sudah rindu.”

Senada dengan Nabi Adam ‘Alaihis salam, Nabi Yunus ‘Alaihis salam pun mengalami ujian yang berat. Beliau berada di dalam tiga kegelapan sekaligus; perut ikan, dasar lautan, dan malam pekat.

Bagaimana Allah Ta’ala mengajarkan doa kepada Nabi yang marah hingga meninggalkan medan dakwah sebelum mendapatkan perintah ini?

“Tiada Tuhan yang hak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh aku termasuk orang yang zalim.”

Doa Nabi Yunus ‘Alaihis salam yang terkabulkan ini terdapat di dalam Surat Al-Anbiya’ [21] ayat 87 hanya menyebutkan tiga muatan; tauhid, tasbih, dan pengakuan penyesalan atas kesalahan yang diperbuat.

Jika memang berdoa dengan terperinci, terang-terangan, dan detail dianjurkan, bukankah redaksinya, “Ya Allah, hamba lelah. Gelap dan bau di perut ikan. Tolong keluarkan segera. Tapi jangan di laut. Keluarkan di darat. Jangan juga dijatuhkan, sakit. Tapi seperti diantarkan, lalu ada makanan dan orang yang boleh menolongku di sana.”

Masih banyak doa-doa para Nabi ‘Alaihimus salam yang terdapat di Al-Qur’an, dan di dalamnya tidak terperinci sebagaimana pemahaman sebagian oknum yang akhir-akhir ini semakin massif.

Memang, kita harus meminta kepada Allah Ta’ala sebagai wujud kebutuhan hamba kepada Penciptanya. Bahkan kita harus senantiasa menyampaikan permintaan, meski hanya untuk sebutir garam.

Akan tetapi, jangan sampai pemahaman itu menjadi keliru dengan mendetail-detail secara berlebihan hingga diri tergolong memaksa Allah Ta’ala.

Dan ajaibnya, kepada doa para Nabi di dalam Al-Qur’an tersebut, Allah Ta’ala mengabulkannya dengan memberikan karunia yang benar-benar tak ternilai dan amat berlimpah. [Kisahikmah]

06 Julai 2019

Tatkala para pemuda yang terdesak dan harus mengungsi di suatu tempat asing demi mempertahankan aqidah mereka, tibalah mereka di sebuah gua. Tentu untuk tinggal beberapa saat lamanya disana mereka memerlukan banyak perkara seperti makanan, selimut,tilam, toilet dan lain sebagainya. Rasanya mustahil mendapatkan keperluan semua itu di sebuah gua yang terpencil di tengah hutan belantara.

Tapi para pemuda tidak memaksakan permintaan tersebut kepada Allah. Mereka mencukupkan hanya dengan satu permintaan yang khusyu’ dan penuh keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan mereka dengan sebaik-baiknya.

(إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا)
[Surat Al-Kahf 10]

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Allah SWT langsung merespon doa mereka dengan memberikan penyelesaian yang sangat indah, yakni menidurkan dan menjaga mereka selama 309 tahun lamanya. Masya Allah..

Baca semuanya di SINI

15 Jun 2019

KIBLAT.NET– Jawatan sebagai hakim (qadhi) termasuk jawatan mulia dalam sejarah Islam. Kerana tugas hakim adalah memutuskan hukuman sesuai dengan landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Dahulu para khalifah di masa-masa awal sangat memperhatikan hal ini dengan memilih seorang hakim yang paling soleh, paling berilmu dan paling bertakwa, kerana melihat pentingnya posisi tersebut dan bahaya yang mungkin terjadi ketika jawatan tersebut dipegang orang yang tidak tepat.

Dahulu, orang yang dipilih menjadi hakim merasa takut dan lari dari amanah besar ini kerana melihat sensitiviti dan dengan standart zalim dan adil dan hak-hak manusia menjadi tanggung jawab seorang hakim. Namun berjalannya waktu, ramai manusia memperdagangkan jawatan ini. Mereka jauh dari hukum Allah, sembarangan dalam memilih hakim. Hakim terpilih juga memanfaatkannya untuk meraih kedudukan dan akses-akses material dan maknawi yang besar.

Mereka lupa atau dilupakan dengan hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ: قَاضِيَانِ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ فِي الجَنَّةِ، رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ الحَقِّ فَعَلِمَ ذَاكَ فَذَاكَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ لاَ يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ قَضَى بِالحَقِّ فَذَلِكَ فِي الجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di syurga. Seorang hakim yang memutuskan hukum tidak berdasarkan kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka di neraka. Seorang hakim yang memutuskan hukum tanpa ilmu sehingga hilanglah hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang memutuskan berdasarkan kebenaran, maka ia di syurga.” (HR. Tirmidzi no. 1322)..

09 Jun 2019

Dari Jabir bin Abdullah ra,Rasulullah SAW bersabda," Jangan kalian mendoakan(celaka) untuk diri-diri kalian,anak-anak kalian,dan harta-harta kalian.Dikhuatiri ketika itu bertepatan dengan waktu Allah mengkabulkan doa kalian.(Riwayat Muslim)

29 Mei 2019

Di bulan suci Ramadan, sahur menjadi salah satu rutin wajib yang pastinya kita lakukan setiap subuh. Selain menjadi sebahagian dari ibadah, makan sahur juga berfungsi memberi energi bagi tubuh kita untuk beraktiviti seharian dan menahan keinginan untuk makan, hingga tibanya waktu berbuka puasa.

Nah, untuk membuat ibadah puasa lancar seharian, kamu perlu untuk memilih-milih makanan dan minuman apa yang boleh menjadikan kamu lebih tahan godaan makanan kerana tahan lapar seharian penuh.

Berikut rekomendasi makanan yang boleh kenyang saat puasa berikut ini!

Makanan Sahur yang Mengenyangkan
1. Oatmeal
Bukan hanya menyehatkan, makanan sehat yang satu ini juga memberi efek kenyang lebih lama. Oatmeal memang mengandung karbohidrat kompleks yang memberi energi bagi tubuh dan otak kita untuk beraktiviti seharian.
Bukan sahaja karbohidrat kompleks, oatmeal juga kaya akan serat yang memberi efek kenyang lebih lama, sehingga makanan dari gandum utuh ini sangat sesuai untuk kamu makan di waktu sahur. Oatmeal dengan tambahan susu, almond dan buah-buahan segar.
Pastinya akan membuat kamu bersemangat dan tidak kelaparan hingga menjelang waktu buka puasa.

2. Sup sayur

10 Mei 2019

Penulis: Zamroni 
 Islam sangat memperhatikan urusan kepemimpinan. Realiti membuktikan, baik buruknya suatu masyarakat ditentukan oleh para pemimpinnya. Jika pemimpinnya baik maka masyarakat pun akan baik, bila pemimpinnya rosak maka masyarakat pun akan rosak. Kerana itulah, seorang pemimpin selayaknya memiliki kesanggupan dan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk memimpin.

Namun sangat disayangkan, umat Islam harus mengalami nasib buruk kerana kedudukan yang sangat strategik itu dipegang oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan. Umat Islam dipimpin oleh mereka yang tidak mempunyai persiapan dan perbekalan, pendidikan akhlak dan agama sebagaimana Khulafaur Rasyidin. Kurangnya kecakapan dalam memimpin membuat mereka lemah dalam memperjuangkan kepentingan Islam. Minimanya kemampuan ijtihad membuat mereka kesulitan menanggulangi masalah-masalah duniawi dan ukhrawi umat.

Mewaspadai Pemimpin Lemah dan Bodoh

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kekhawatiran hal itu, beliau bersabda :

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ…

“Aku mengkhawatirkan enam perkara atas kalian yaitu : kepemimpinan orang-orang yang tidak mampu…” (HR. Ahmad no. 23970)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang makna as-Sufaha ini :

والسفهاء: جمع سفيه.. والسفيه: هو الجاهل الضعيف الرّأي القليل المعرفة بمواضع المصالح والمضار

“Sufaha’ adalah bentuk jama’ dari safih, sedangkan safih artinya: Orang yang jahil (bodoh), yang dha’if (lemah) akalnya, yang sedikit sekali pengetahuannya tentang mana yang maslahat dan mana yang mudharat.” (Umdatut Tafsir, 1/86)

Di dalam hadist di atas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir terhadap enam perkara yang akan terjadi pada umatnya. Beliau menyebutkan pertama kali kekhawatirannya terhadap kepemimpinan orang-orang yang kapabel, bisa jadi perkara itulah yang paling besar dan paling berbahaya.

Dalam redaksi yang lain, beliau menjelaskan siapa pemimpin as-Sufaha itu.

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ. قَالَ: َمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ :أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِى لاَ يَقْتَدُونَ بِهَدْيِى وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى…

“Semoga Allah melindungi kamu dari imarah as-sufaha`.” Kaab bertanya, “Apa itu imarah as-sufaha`, wahai  Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah para pemimpin sesudahku, yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku…” (HR Ahmad no. 14441)

Dampak Berkuasanya Pemimpin yang Tidak Mampu

Kepemimpinan as-Sufaha itu kemudian menyebar ke seantero masyarakat Islam. Sejak saat itulah terjadi pemisahan agama dari kehidupan politik. Mereka tidak cukup ilmu pengetahuan sehingga mereka menyerahkan urusan agama pada pribadi masing-masing dan para tokoh keagamaan. Dalam menjalankan politik, mereka bertindak semaunya. Bila ada kepentingan, barulah mereka meminta bantuan kepada tokoh agama yang telah mereka pilih sebagai penasehat. Akhirnya, para tokoh agama tersebut digunakan untuk melindungi kepentingan mereka, jika perlu diperas tenaga dan pikirannya.

Sikap yang semacam itu membuat politik menjadi bebas sebebas-bebasnya dan lepas dari kontrol agama. Kekuasaan yang berada di tangan mereka berubah menjadi seperti kekaisaran yang sewenang-wenang atau kerajaan yang kejam. Kekuasaan menjadi pusat kepentingan, tidak lagi sebagai pusat menuntut keadilan.

Para ulama dan tokoh agama berbeda-beda dalam menyikapi pemimpin semacam ini. Ada yang menentang pemerintahan dan beroposisi. Ada yang bersikap netral lalu mengasingkan diri dan sibuk dengan urusan pribadi sembari menutup mata rapat-rapat terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ada pula yang berputus asa dari kemungkinan adanya perbaikan. Ada yang mengkritik sekedarnya hanya untuk melegakan perasaan padahal ia tidak memahami duduk perkaranya. Ada pula yang bekerja sama dengan pemerintahan demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

Akibat dari semua itu, kejahiliyahan dapat kembali bernafas di negeri-negeri Islam. Mendorong semua orang untuk berperilaku hidup mewah dan serba enak, tenggelam dalam kesenangan syahwat dan kemaksiatan. Kaum muslimin tidak dapat menunaikan tugas risalah Islam, tidak mampu mengingatkan manusia kepada Allah, tidak mampu menganjurkan ketakwaan dan memberikan teladan yang baik.

Apa yang diperbuat oleh pemimpin-pemimpin itu semata-mata hanya mencerminkan pribadi dan politik mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak mencerminkan Islam dalam hal-hal politik sesuai syariat. Oleh karena itu, tidak aneh jika dakwah Islam hilang pengaruh dan kekuatannya di hati orang-orang non muslim. Keindahan Islam tertutup oleh tingkah laku dan polah umat Islam sendiri.

Sangat luas dampak keburukan yang terjadi akibat berkuasanya para pemimpin yang tidak mampu. Maka, selayaknya pemimpin adalah produk pendidikan yang panjang, sebagaimana nasehat Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu :

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

“Perdalamlah ilmu sebelum memimpin.” (HR. Bukhari no. 73).

Karena seorang pemimpin harus mampu menggali solusi dari berbagai persoalan yang ada. Hal itu tidak didapatkan secara instan, perlu waktu dan kesabaran. Wallahu ‘alam bish showab.

(kiblat.net)

06 Mei 2019

10 Rahsia dan Keajaiban Puasa

Hid.com Puasa mengandung banyak keajaiban. Hal ini bukan hanya diakui oleh ulama-ulama Islam; tapi juga ilmuan-ilmuan Barat. Berikut ini, akan dipaparkan sepuluh keajaiban syariat puasa.

Pertama, menurut Syeikh Ibnu Utsaimin dalam buku  “Min Fataawaa al-Ulamaa fi al-Shiyaam wa al-Qiyaam wa Iid Syahr Ramadhan” (Musa Yunus, 1999: 23) puasa boleh membuat orang merasa sebagai satu entiti; mempererat jalinan hubungan antar individu masyarakat; dan mampu melatih jiwa untuk naik tingkat menuju kesempurnaannya.

Kedua, menurut Syeikh Bin Baz dalam  “Majmuu’ Fataawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah-al-Shiyaam” (Ibnu Baz, 1420:XV/39-41), puasa boleh mensucikan, melatih dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela serta membiasakannya melakukan akhlak mulia. Di samping itu, puasa membuat orang mengakui akan kelemahan dan kekuarangannya di hadapan Allah sehingga melahirkan rasa syukur dan kepedulian sosial dengan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan.

;;