21 April 2018

“Memisahkan agama dari politik sama dengan memisahkan agama dari jual-beli, pernikahan. Itu bahagian dari kehidupan dan agama datang mengatur kehidupan. Jadi kalau agama hanya cerita tentang mati, tentang kubur, untuk apa fungsi agama,” tegas Ustaz Abdul Samad

20 April 2018

HD: Pastinya parti-parti politik yang ingin bertanding di dalam Pilihan raya Umum ke-14 (PRU14) perlu membuat pemilihan calon yang baik dan sesuai.

“Dalam hal ini, Persatuan Ulama Malaysia (PUM) menyarankan calon-calon yang dipilih untuk bertanding perlu dilihat dari sudut adab dan akhlaknya juga,” ujar Yang Dipertua PUM, Dato' al-Syeikh Abdul Halim Abdul Kadir dalam kenyataan media kepada Harakahdaily, hari ini .

Katanya, ramai yang berasa geli untuk memilih calon-calon yang tidak sesuai dan tidak mempunyai adab dan akhlak yang baik.

“Parti-parti politik dinasihat supaya tidak meletakkan calon yang rendah akhlak, calon yang suka duduk di kelab malam, terlibat dengan aktiviti tidak bermoral, terlibat dengan rasuah, tidak mendekati masjid, atau mereka yang hanya mementingkan hiburan semata-mata,” ujarnya lagi.

Tambahnya, PUM percaya dalam pendekatan politik masa kini, rakyat pasti menolak mana-mana calon yang sedemikian.

“Kita mahu pastikan Malaysia terus maju dengan rakyat dan pemimpin yang baik agar rahmat serta pengampunan Allah SWT sentiasa bersama kita,” katanya. – 20/4/2018

17 April 2018

06 April 2018

EM( Ustaz Ihsan Tanjung)
 Ada sebuah gejala baru yang selama ini tidak pernah dikenal dalam tradisi dan sejarah Islam. Yaitu munculnya sosok Muslim yang sibuk mencari keridhaan non-Muslim alias kaum kuffar. Selama ini Islam mengarahkan seorang beriman untuk hidup dengan landasan niat mengejar keridhaan Allah semata. Seorang Muslim hamba Allah ialah seorang yang dalam segenap kiprahnya hanya mengharapkan keridhaan Penciptanya. Setiap kali beramal, berfikir, berbicara, bersikap bahkan berperasaan, seorang Muslim  selalu bertanya bagaimanakah Allah akan menilai amal, fikiran, ucapan, sikap dan perasaannya. Demikianlah cara pandang seorang Muslim sejati. Sedangkan bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar berkiprah, maka ia sibuk bertanya bagaimanakah kaum kuffar akan menilai kiprahnya.
Dewasa ini kita berada dalam era paling kelam dalam sejarah Islam. Dunia menyaksikan munculnya fenomena abnormal dimana seorang Muslim sibuk mencari keridhaan kaum kuffar. Dalam babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan atau Para Penguasa Diktator dewasa ini, sebagian umat Islam menjadi terpengaruh oleh fihak penguasa dunia. Padahal Allah  menyerahkan giliran kepemimpinan dunia kepada kaum kuffar –seperti yang kita saksikan dewasa ini- hanyalah dalam rangka menguji keimanan dan ke-istiqomahan kaum muslimin.
Bagi orang beriman yang tetap meyakini bahwa hanya Allah sajalah Penguasa Sejati langit dan bumi, maka ia akan tetap hidup dan berkiprah berlandaskan niat mencari keridhaan Allah. Namun bagi Muslim yang tertipu dan menyangka bahwa kaum kuffar telah menjadi penguasa yang sungguh berkuasa di dunia, maka mereka mulai mengalihkan hidup dan kiprahnya berlandaskan niat mencari keridhaan para penguasa diktator tersebut.
Bila seorang Muslim sejati berbicara, ia berbicara untuk mencari ridha Allah. Bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tinggal diam, maka ia tidak berani berbicara karena ingin menyenangkan kaum kuffar. Bila seorang Muslim berjuang, maka ia berjuang untuk mentaati perintah Allah dan dalam rangka mengejar ridha Allah. Sedangkan seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tidak berjuang –padahal ia sangat berhak untuk itu- karena tidak ingin membuat kaum kuffar menjadi benci kepadanya. Sudah barang tentu ini semua tidak diutarakan secara blak-blakan, melainkan dibungkus dengan dalih misalnya ”langkah ini tidak baik untuk da’wah Islam” atau ”langkah ini akan menjauhkan orang dari Islam”.
Muslim jenis baru ini sangat terobsesi dengan upaya menjaga image atau citranya di hadapan orang kafir. Sedemikian rupa sehingga tolok ukur wala dan bara-nya (loyalitas dan berlepas diri-nya) berlandaskan penilaian si kafir terhadap image si Muslim. Muslim macam ini sangat menyukai sesama Muslim yang berpenampilan ”anak baik” di hadapan kaum kafir. Dan ia sangat mencela Muslim yang menurutnya mencoreng ”nama baik orang Islam”.
Jika identitas Islam yang ia tampilkan akan menggusarkan kaum kafir, maka ia rela menyesuaikan identitasnya dengan apa saja asal kaum kuffar menjadi mau menerimanya. Bila kaum kuffar mensyaratkan agar identitas Islam yang dikedepankan hendaknya tanpa embel-embel ideologi , maka ia akan tampil penuh rasa percaya-diri dengan  menerjemahkan kalimat Basmalah sebagai: ”Dengan nama Allah Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama.” Ia akan siap membangun negara dengan meleburkan perbedaan ideologi ke dalam faham Nasionalisme. Dalam rangka mencari ridha kaum kuffar ia akan menjamin bahwa kemenangannya dalam pertarungan politik tidak akan diikuti dengan penerapan hukum Syariah Islam. Ia akan menafsirkan kewajiban jihad di dalam Al-Qur’an sebagai apa saja yang menyenangkan kaum kuffar asal bukan berarti mengangkat senjata di jalan Allah dalam rangka ’isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Bahkan secara perlahan namun pasti mereka sudah meninggalkan kosa kata jihad dalam kesehariannya…!!

28 Mac 2018

Pesan Ibnu Khaldun dalam Mukadimah-nya menyebutkan tujuan dari praktik As-Siyasah As-Syar’iyah(Contoh- mengundi dalam PRU) adalah: Iqomatud din wa siyasatud dunya bihi (menegakkan agama Islam, dan mengatur urusan dunia ini dengannya)

20 Mac 2018

16 Mac 2018

 Al-Quran memuat banyak peristiwa dan kejadian yang akan berlangsung di akhirat. Di luar gambaran nikmat syurga atau azab neraka, Al-Quran juga memuat percakapan manusia di sana, baik ketika masih berada di padang mahsyar, maupun ketika mereka sudah berada di syurga atau di neraka.

Jika percakapan penduduk syurga berisi kalimat thayyibah, ucapan keselamatan dan kenangan kenangan indah, maka percakapan penduduk neraka lebih banyak berisi umpatan, celaan, caci maki dan penyesalan. Al-Quran sendiri menggambarkan bahwa gaya bahasa penduduk neraka dengan ungkapan yashtharihun (يصطرخون), yang bermakna teriakan keras, lengkingan suara yang menggambarkan rasa sakit yang tiada terkira dan butuh segera bantuan agar ia terbebas dari siksaan.

Hal itu sebagaimana yang termuat dalam salah satu ayat:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Duhai Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu“.. ( Al-Fathir [35]: 37)

لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ

Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak boleh mendengar. (QS. Al-Anbiya [21]: 100)

Makna zafir dalam ayat di atas adalah rintihan suara yang keluar dari mulut penduduk neraka akibat nafas yang keluar seperti dalam kondisi tercekik. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahawa penduduk neraka itu terus merintih dan mereka tidak boleh mendengar suara lantaran gemuruh suara api neraka yang memekakkan telinga mereka.

Yang menarik adalah bahawa dialog penduduk neraka itu kebanyakan terjadi antara pimpinan dan anak buahnya, antara penguasa dan rakyatnya, antara orang-orang kuat dengan orang-orang lemahnya.

Di antaranya adalah sebagaimana yang termuat dalam beberapa ayat berikut:

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS Ibrahim [14]:21).

Juga dalam ayat lainnya:

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ ﴿٤٧﴾ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”
Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allâh telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”. [Ghafir/40:47-48].

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴿٦٧﴾رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Dan mereka berkata:”Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. [al-Ahzâb/33:64-68].

Pelajaran penting dari gambaran percakapan di atas

Tidak boleh dipungkiri bahawa hubungan terbanyak dalam hubungan sosial manusia di dunia adalah hubungan antara atasan dan bawahan. Tidak satupun manusia di dunia ini melainkan mereka pernah menjadi atasan atau bawahan, menjadi pemimpin atau yang dipimpin, atau setidaknya menjadi mitra orang lain. Ini adalah konsekwensi hidup manusia sebagai makhluk sosial; makhluk yang tidak bisa hidup kecuali dengan berinteraksi dan menjalin hubungan dengan manusia lain.

Allah mengingatkan bahwa semua bentuk hubungan manusia di akhirat kelak akan berubah menjadi penyesalan dan kerugian, permusuhan dan pertikaian, kecuali mereka yang membangun hubungan tadi dengan ikatan iman dan ketakwaan. Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Az-zukhruf [43]; 67)

Hari ini, di zaman fitnah yang meliputi seluruh dimensi kehidupan, kita akan menyaksikan banyaknya manusia yang bekerja bukan lagi dengan hati nurani dan akal fikirannya. Mereka bekerja seperti robot yang tidak memiliki hati dan perasaan.

Setiap kejahatan dan pelanggaran terhadap syari’at yang mereka lakukan, maka dengan mudah mereka berkilah; “Maaf, kami hanya melaksanakan tugas”, Kami bekerja sesuai tuntutan profesionalisme”.

Mereka sama sekali tidak mempertimbangan bahwa ikatan ketaatan mereka kepada sang majikan atau kepada system dimana mereka bekerja, akan berbuah penyesalan manakala Allah menghisab amal mereka.

Di sinilah sebagian besar manusia terjerumus dalam bentuk kesetiaan yang membabi buta kepada pemimpin, atasan atau mitra kerja mereka.

Dan pada akhirnya, hubungan, ikatan, dan kesetiaan yang dibangun antar mereka, kelak akan berbuah penyesalan dan kerugian yang berujung pada saling kutuk dan saling cela di antara mereka.

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, hanya untuk menciptakan perasaan senang di antara kamu dalam kehidupan di dunia (saja), kemudian pada hari kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk, dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (Al-Ankabut [29]: 25)

(arrahmah.com)

;;