25 November 2020

Awasi 4 Pintu Syaitan

 Syaitan adalah musuh yang sangat nyata bagi umat manusia. Mereka tidak akan pernah menyerah untuk menyesatkan anak Adam hingga hari kiamat kelak. Dalam menyesatkan manusia, syaitan mempunyai empat langkah.

Hal ini adalah pendapat dari Ibnul Qayyim rahimahullah. Dalam Badaa-i’ Al-Fawaid (2:816), Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

إِمْسَاكُ فُضُوْلِ النَّظَرِ وَالكَلاَمِ وَالطَّعَامِ وَمُخَالَطَةِ النَّاسِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ إِنَّمَا يَتَسَلَّطُ عَلَى اِبْنِ آدَمَوَيَنَالُ مِنْهُ غَرَضَهُ مِنْ هَذِهِ الأَبْوَابِ الأَرْبَعَةِ فَإِنَّ فُضُوْلَ النَّظَرِ يَدْعُو إِلَى الإِسْتِحْسَانِ وَوُقُوْعِ صُوْرَةِالمَنْظُوْرِ إِلَيْهِ فِي القَلْبِ وَالإِشْتِغَالِ بِهِ وَالفِكْرَةِ فِي الظَفْرِ بِهِ

“Hendaknya menahan diri dari pandangan yang tak mampu terjaga, banyak bicara, banyak makan, dan banyak bergaul. Hal-hal ini merupakan empat pintu syaitan dalam menguasai manusia dan jalan syaitan mencapai tujuannya. Enggan menundukkan pandangan akan mengantarkan pada menganggap baik (istihsan), yang dilihat akan menancap dalam hati, pikiran pun akan sibuk membayangkannya, hingga berfikiran agar tercapai tujuan.”

Empat hal ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam poin kesepuluh setelah menyebutkan sembilan kaidah bermanfaat untuk melindungi hamba dari syaitan dan menyelamatkan dari gangguannya. Lihat Badaa-i’ Al-Fawaid, 2:809-816.

1 Banyak memandang

Contohnya adalah banyak memandang lawan jenis. Kerana hal ini nantinya hanya akan menjerumuskan.

Dalam surah An-Nuur sendiri diperintahkan untuk menundukkan pandangan,

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُم

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30)

Wanita juga diperintahkan untuk menundukkan pandangan,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31)

Dalam hadits disebutkan,

فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ


 “Zina kedua mata adalah dengan melihat.” (HR. Muslim, no. 6925)

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai pandangan yang tidak disengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim, no. 2159)

2 Banyak bicara

23 November 2020

ISLAM adalah satu-satunya agama yang diredhai Allah SWT. Islam mengatur pemeluknya untuk beradab dalam segala hal. Termasuk dalam melakukan transaksi jual beli atau berniaga. Tujuannya tak lain agar semua aktiviti seorang muslim diredhai Allah SWT.

Berniaga atau jual beli, adalah salah satu bentuk muamalah yang disyariatkan oleh Islam. Melalui jalan berniaga, pintu-pintu rezeki akan dapat dibuka sehingga kurnia Allah terpancar .

Dalam perniagaan, ada yang dinamakan keuntungan dari harga jual suatu barang. Pertanyaannya, apakah boleh seorang muslim mengambil untung dalam jual-beli dengan nominal yang besar?

Islam membolehkan seseorang penjual mengambil keuntungan sekalipun mencapai 100% dari modal atau bahkan lebih dengan syarat tidak ada ghisyy (penipuan harga maupun barang).

Dalam jual beli yang penting saling ridha. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.” (QS. An-Nisaa’: 29)

Pada dasarnya kaedah-kaedah agama tidak mengikat para pedagang dalam perkara jual-beli harta mereka selagi sesuai dengan ketentuan-ketentuan umum dalam syariat.

 Nabi SAW bersabda:

عَنْ عُرْوَةَ – يَعْنِى ابْنَ أَبِى الْجَعْدِ الْبَارِقِىِّ – قَالَ أَعْطَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- دِينَارًا يَشْتَرِى بِهِ أُضْحِيَةً أَوْ شَاةً فَاشْتَرَى شَاتَيْنِ فَبَاعَ إِحْدَاهُمَا بِدِينَارٍ فَأَتَاهُ بِشَاةٍ وَدِينَارٍ فَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ فِى بَيْعِهِ فَكَانَ لَوِ اشْتَرَى تُرَابًا لَرَبِحَ فِيهِ


Dari ‘Urwah, yaitu Ibnu Abil Ja’di Al-Bariqiy, ia berkata bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberinya satu dinar untuk membeli seekor haiwan qurban (udhiyah) atau membeli seekor kambing. Lantas ia pun membeli dua ekor kambing. Di antara keduanya, ia jual lagi dan mendapatkan satu dinar. Kemudian ia pun mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa seekor kambing dan satu dinar. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakannya dengan keberkatan dalam jualannya, yaitu seandainya ia membeli debu (yang asalnya tidak berharga sekali pun, -pen), maka ia pun mampu mendapatkan keuntungan di dalamnya. (HR. Abu Daud, no. 3384 dan Tirmidzi, no. 1258. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari bahwa Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu semasa hidupnya membeli sebidang tanah di pinggiran kota Madinah seharga 170.000 keping wang emas. Setelah ia wafat, tanah itu dijual oleh anaknya, yaitu Abdullah seharga 1.600.000 dinar. Keuntungan yang diambil oleh Abdullah dalam penjualan ini hampir mencapai 1000%.

Maka kesimpulannya adalah, tidak ada batasan batas keuntungan yang harus ditaati oleh para pedagang. Persentase laba diserahkan kepada kondisi perniagaan, pedagang, dan barang dengan tidak melupakan adab Islami, seperti: qanaah (merasa cukup), belas kasihan, dan tidak tamak.

Namun yang wajib diingat oleh para pedagang adalah transaksi yang terbebas dari ghisysy (penipuan), rekayasa barang, rekayasa harga, dan rekayasa laba, serta terbebas dari menimbun barang yang menzalimi kepentingan umum maupun khusus. [SUMBER]


20 November 2020


1. DOA SELEPAS DOA IFTITAH 


أَنْتَ الْمَلِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ. أَنْتَ رَبِّيْ وَأَنَاعَبْدُكَ

ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ

جَمِيْعًا إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. وَاهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ اْلأَخْلاَقِ

لاَ يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَا

لاَيَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ. لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ كُلُّهُ

بِيَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ. أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَاركْتَ وَتَعَالَيْتَ

أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ


“Ya Allah, Engkau adalah Raja, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Engkau Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku menganiaya diriku dan aku mengakui dosaku (yang telah ku lakukan). Oleh karena itu ampunilah segala dosa-dosaku. Sesungguhnya tidak akan ada yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau. Dan tunjukkan aku pada akhlak yang terbaik, tidak ada yang akan menunjukkan sebaik-baik akhlak kepadaku melainkan Engkau. Hindarkan dariku akhlak yang jahat, tidak akan ada yang boleh menjauhkan aku daripadanya, melainkan Engkau. Aku penuhi panggilanMu dengan kegembiraan, dan aku mohon pertolonganMu, segala kebaikan ditanganMu, sedang segala keburukan tidak datang dariMu. Hanya yang terpimpin adalah orang yang Engkau beri petunjuk. Aku berada dalam kekuasaanMu dan kepadaMu (aku kembali). Engkau Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi, aku mohon ampun kepadaMu dan aku bertaubat kepadaMu.” [H/R Muslim dan Abu Daud]

Dalam pada itu kebanyakan Ahli Hadis memilih untuk membaca tasbih iftitah (sebelum membaca doa iftitah diatas) yang diriwayatkan dari Aishah (r.a.) seperti berikut:-

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagiMu, dan Maha Mulia (Berkat) nama-Mu, serta Maha Tinggi kekayaan dan kebesaranMu, dan (aku mengaku) tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” [H/R. Empat penyusun kitab Sunan, juga Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.]


2. TASBIH TAMBAHAN KETIKA RUKUK

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Maha Suci Engkau, ya Allah! ya Tuhan kami, dan segala pujian bagiMu. Ya Allah! Ampunilah dosaku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ، رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Engkau, Tuhan Yang Maha Suci, Yang Maha Agung, Tuhan semua malaikat dan roh.” [HR. Muslim dan Abu Dawud]


3.DOA TAMBAHAN KETIKA BANGUN DARI RUKUK

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَالاَرْضِ وَمِلْءُ مَاشِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ

“Ya Allah! Ya Tuhan kami, bagi Engkaulah segala pujian yang sepenuh langit, dan sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu”.


4. DOA KETIKA SUJUD

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ

“Maha Suci Engkau. Ya Allah, Tuhan kami, dan aku memujiMu. Ya Allah, ampunilah dosaku.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْحِ

“Engkau Tuhan Yang Maha Suci, Maha Agung, Tuhan para malaikat dan roh.” [HR. Muslim dan Abu Daud]


5. DOA SETELAH TASYAHUD AKHIR SEBELUM SALAM

Setelah selesai bersalawat, mohonlah perlindungan atau membaca Ta’awwuz 

( أَعوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الْرَّجِيْمِ ). 

Sebahagian Ahli Hadis mewajibkan kita membaca do’a selepas Tasyahud Akhir sebelum Salam (sebagaimana yang diperintah oleh Rasulullah) iaitu memohonkan perlindungan dari empat perkara, yakni dari azab kubur, azab neraka, fitnah (ujian) hidup dan mati, dan dari fitnah (ujian) Dajjal, seperti berikut:-

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal (perosak yang merosakkan segala kebajikan).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Setelah selesai memohon perlindungan dari empat perkara itu, kita dibolehkan membaca sesuatu doa yang kita hajati sendiri kerana doa dalam solat lebih diperkenankan oleh Allah daripada diluar solat.

Maka diantara doa-doa yang diucapkan oleh Rasulullah diakhir Tasyahud sebelum salam ialah:-

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku terdahulu dan yang aku kemudiankan, apa yang aku rahasiakan dan yang zahirkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau yang mendahulukan dan mengkemudiankan, tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Engkau.” [HR. Muslim]

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, dan syukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu.” [HR. Abu Dawud dan An-Nasai]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku bermohon kepadaMu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung denganMu dari Neraka.” [HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah]


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


“Ya Allah! Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan penganiayaan yang banyak, dan sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Oleh itu, ampunilah dosa-dosaku dengan keampunan dari sisiMu, dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah (Tuhan) Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

BACA SEMUANYA

17 November 2020

MUFTI....Di dalam al-Quran terdapat ayat-ayatnya menceritakan tentang rahmat Allah SWT dan juga yang menceritakan tentang azab-Nya. Apabila seseorang membaca ayat al-Quran berkaitan rahmat dan azab, maka disunatkan untuk dia membaca doa memohon rahmat kepada Allah SWT dan meminta perlindungan daripada Allah SWT daripada azab yang dibacanya tersebut.

Bahkan, begitu juga ayat-ayat yang lain, seperti jika sekiranya ayat tersebut menyuruhnya untuk bertasbih dan beristighfar, hendaklah dia bertasbih dan beristighfar. Manakala, jika ayat yang berkaitan misalan atau perumpamaan, maka hendaklah dia mentadabburnya. (Rujuk Fatwa Syar’iyyah Mua’sarah: 161)

Rasulullah SAW juga jika sekiranya membaca ayat berkaitan tasbih, doa dan ta’awwuz (memohon perlindungan), maka Rasulullah SAW sendiri menyebutkan tasbih, berdoa dan juga bertaa’wwuz. Dalam satu hadith yang diriwayatkan oleh Huzaifah RA, beliau menceritakan bahawa beliau mendirikan solat sunat bersama Nabi SAW pada suatu malam, dan beliau menyifatkan:

يَقْرَأْ مُتَرَسِّلًا – أَيْ مُتَأَنِّيًا - إِذَا مَضَي بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ وَ إِذَا مَرَّ بِآيَةِ سُؤَالِ سَأَلَ وَ إِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ

Maksudnya: Sesungguhnya Nabi SAW membaca al-Quran secara perlahan-lahan memperhatikan maknanya. Jika sekiranya Baginda SAW membaca ayat al-Quran yang berkaitan tasbih, maka Baginda SAW pun bertasbih. Jika sekiranya Baginda SAW membaca ayat al-Quran yang memohon sesuatu, maka Baginda SAW pun berdoa memohon doa tersebut. Dan jika sekiranya Baginda SAW membaca satu ayat al-Quran yang memohon perlindungan daripada Allah SWT, maka Baginda SAW pun meminta perlindungan daripada Allah SWT.

Hadith riwayat Muslim: (772)


Begitu juga, dalam hadith yang diriwayatkan oleh ‘Auf Ibn Malik RA, bahawa beliau berkata:


قُمْتُ مَعَ النَبِيِّ صلّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّام لَيْلَةً فَقَامَ فَقَرَأَ سُورَةَ البَقَرَةِ وَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةِ إِلَّا وَقَفَ وَ سَأَلَ وَ لَا يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابِ إِلَّا وَقَفَ وَ تَعَوَّذَ


Maksudnya: Aku telah mendirikan solat bersama dengan Nabi SAW pada suatu malam. Rasulullah SAW telah mendirikan solat dengan membaca surah al-Baqarah, dan Baginda SAW tidak membaca satu ayat yang berkaitan rahmat Allah SWT kecuali Baginda SAW berhenti dan berdoa. Begitu juga, Baginda SAW tidak membaca satu ayat yang berkaitan azab kecuali Baginda SAW berhenti dan memohon perlindungan daripada Allah SWT.

Hadith riwayat Abu Daud: (1/381) dan al-Nasaie: (2/223)


Di dalam kitab 'Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud menjelaskan bahawa ketika  Rasulullah SAW mendirikan sembahyang bersama para sahabat, Baginda SAW berhenti dan berdoa memohon kerahmatan kepada Allah SWT apabila membaca ayat rahmat dan berta’awuz ketika membaca ayat berkaitan azab dan buruknya pembalasan kejahatan di akhirat, samada menyebutnya dengan lisan atau di dalam hati. (Rujuk ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 2:106)

Selain itu, Imam al-Nawawi juga menyebutkan bahawa:

Jika sekiranya seseorang itu membaca ayat berkaitan azab dan keburukan, maka hendaklah dia berdoa kepada Allah SWT dengan doa: (اللهم إني أسألك العافية).

Jika seseorang itu membaca ayat berkaitan menyucikan dan mengagungkan Allah SWT, maka hendaklah dia berdoa: ( سبحانه وتعالى ) atau ( تبارك الله رب العالمين ) atau ( جلت عظمة ربنا ) dan lain-lain. (Rujuk al-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran Li al-Nawawi: 78)

Selain itu, dalam beberapa ayat yang khusus Rasulullah SAW ada menyebutkan lafaz yang khusus juga apabila membacakan ayat tersebut dan menggalakkan untuk umatnya juga menyebutkannya  seperti dalam surah al-Tin ayat 8,  surah al-Qiyamah ayat 40 dan surah al-Mursalaat ayat 50.

Dalam satu hadith yang diriwayatkan, bahawa Rasulullah SAW bersabda:


مَنْ قَرَأَ مِنكُم بـِ وَالتِّينِ وَالزَيْتُون ، فَانْتَهَى إِلَى : أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الحَاكِمِينَ فَلْيَقُلْ : بَلَى ، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ ، وَمَنْ قَرَأَ : ( لَا أُقْسِمُ بِيَومِ القِيَامَةِ فَانتَهَى إِلَى : أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِيَ المَوْتَى ، فَلْيَقُلْ : بَلَى ، وَمَن قَرَأَ ( وَالمُرْسَلَات ) ، فَبَلَغَ : فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ فَلْيَقُل : " آمَنَّا بِاللهِ "


Maksudnya: Barangsiapa yang membaca surah al-Tin sehinggalah kepada ayat, ( أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الحَاكِمِينَ ), maka hendaklah dia menyebut, ( بَلَى ، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ ). Barangsiapa yang membaca surah al-Qiyamah sehinggalah kepada ayat ( أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِيَ المَوْتَ ), maka hendaklah dia menyebut (بَلَى ). Barangsiapa yang membaca  al-Mursalat sehinggalah sampai kepada ayat ( فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُون ), maka hendaklah dia menyebut ( آمَنَّا بِاللهِ ).

Hadith riwayat Abu Daud: (887)

Manakala hukum mengucapkan doa, istia’zah dan tasbih di dalam ataupun di luar solat adalah sunat mengikut pandangan jumhur ulama’, sepertimana yang disebutkan oleh Imam al-Nawawi di dalam kitabnya, al-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran:


وَ يُسْتَحَبُّ هَذّا السُؤَال وَ الإِسْتِعَاذَةُ وَ التَسْبِيحِ لِكُلِّ قَارِئٍ سَوَاءٌ كَانَ فِي الصَّلَاةِ أَوْ خَارِجًا مِنْهَا. قَالُوا: وَ يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ فِي صَلَاة الإِمَامِ وَ المُنْفَرِد وَ المَاْمُوم لِأَنَّهُ دُعَاءٌ فَاسْتَوَوا فِيهِ كَالتَاْمِينَ عَقِبَ الفَتِحَةِ.


Maksudnya: Disunatkan doa, isti’azah dan juga tasbih ini bagi setiap pembacanya tidak kira di dalam solat ataupun di luar solat. Ada golongan berpendapat dengan mengatakan bahawa: sunat hukumnya doa tersebut di dalam solat sebagai imam atau solat secara bersendirian atau juga solat sebagai makmum, kerana doa tersebut merupakan doa, maka disamakannya seperti ucapan “aminn” selepas daripada membaca surah al-Fatihah. (Rujuk al-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran: 78)


Kesimpulan

Berdasarkan perbincangan dan perbahasan di atas, kami menyatakan bahawa terdapat doa-doa khusus yang disebut apabila membaca beberapa ayat tertentu seperti yang berkaitan rahmat, azab, menyucikan dan mengagungkan Allah SWT, membenarkan pernyataan di dalam ayat al-Quran dan lain-lain.

Kami senaraikannya doa-doa tersebut bagi ayat-ayat al-Quran yang tertentu seperti berikut, antaranya:

Ayat-ayat berkaitan rahmat, doanya ialah meminta seperti apa yang disebutkan di dalam ayat tersebut.

Ayat-ayat berkaitan azab, doanya ialah ( اللهم إني أسألك العافية ).

Ayat-ayat yang berkaitan menyucikan dan mengagungkan Allah SWT

doanya ialah: ( سبحانه وتعالى) atau ( تبارك الله رب العالمين ) atau ( جلت عظمة ربنا )

Ayat terakhir, ayat 8 surah al-Tin, hendaklah menyebut ( بَلَى ، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ )

Ayat terakhir, ayat 40 surah al-Qiyamah, hendaklah menyebut ( بَلَى ، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِينَ )

Ayat terakhir, ayat 50 surah al-Mursalaat, hendaklah menyebut ( آمَنَّا بِاللهِ )

Semoga Allah SWT memberikan kita kefahaman yang betul terhadap agama Islam dan memberi taufiq untuk mengamalkan syariat-Nya dengan sebaiknya. Amin.


WaAllahu a’lam.(MUFTIWP)

14 November 2020

Ubat Mata Dari Surah Yusuf

Prof Dr Abdul Basith Muhammad Sayyid, peneliti di National Research Center, Mesir, memperoleh dua paten internasional dari ubat titis mata untuk menangani katarak yang inspirasinya berasal dari Surah Yusuf

“Pergilah kamu dengan membawa bajuku ini, lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti dia akan melihat kembali; dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.” (Yusuf [12]: 93).

Dikisahkan dalam Surah Yusuf: 84, setelah Nabi Ya’kub AS kehilangan anaknya, Yusuf AS, beliau terus-menerus menangis akibat menahan amarah terhadap anak-anaknya yang lain. Sampai-sampai hal itu menyebabkan matanya buta. Hal ajaib kemudian terjadi, yakni Nabi Ya’kub dapat melihat kembali setelah diusap dengan baju Nabi Yusuf.

Para pakar berusaha mendataburi kisah di atas sebagai inspirasi penemuan ubat mata. Salah seorangnya dilakukan oleh Prof Dr Abdul Basith Muhammad Sayyid, peneliti di National Research Center, Mesir. Basith memperoleh dua paten internasional dari ubat tetes mata untuk menangani katarak yang inspirasinya berasal dari Surat Yusuf.

Basith menerangkan bagaimana katarak boleh terjadi. Di lensa mata ada kapsul lensa yang berisi protein bernama alfa kristalin, beta kristalin, gamma kristalin, dan albumin. Denaturasi protein akan mengubah opasitas (kegelapan pandangan). Jika meningkat secara berkelanjutan, maka akan membuat cahaya tak dapat menembus lensa.

Senyawa albumin adalah bahan berwarna putih transparan dan dapat ditembus cahaya. Ketika albumin dipanaskan, maka akan terdenaturasi dan membuatnya berubah menjadi opaque (buram).

Menurut Basith, ada banyak penyebab katarak. Misalnya pukulan atau benturan langsung yang mengenai lensa di belakang kornea, paparan temperatur panas yang terus-menerus seperti pada tukang pembuat roti dan tukang besi, juga kerana faktor usia dan diabetes.

Mengapa kesedihan yang berlarut-larut dapat menyebabkan katarak? Menurut Basith, kesedihan itu meningkatkan jumlah adrenalin, lalu akan berimbas pada peningkatan kadar gula darah.

Penanganan katarak saat ini umumnya dengan operasi, baik dengan membuang bahagian opaque pada lensa ataupun menyisipkan lensa dari luar. Juga dengan ubat tetes untuk menunda opasitas.

Namun Basith memikirkan mengenai zat yang terdapat pada baju Nabi Yusuf AS. Setelah melalui serangkaian penelitian, akhirnya disimpulkan bahawa keringat yang melekat pada baju-lah yang menjadi wasilah kesembuhan Nabi Ya’kub AS.

Hasil penelitian menunjukkan adanya 52 komponen pada keringat. Salah satu komponen itu mengandung senyawa urea yang boleh merenaturasi lensa mata sehingga opasitas berkurang. Artinya, itu dapat mengubati katarak.

Dilakukanlah percobaan pada arnab, ternyata hasilnya positif. Kemudian Basith melakukan perawatan pada 250 pasien dengan memberi mereka ubat tersebut selama dua minggu dua kali sehari, tingkat keberhasilannya mencapai 99%. Penemuan ubat mata dari komponen keringat ini kemudian mendapat paten di Amerika Syarikat....baca SEMUANYA

13 November 2020

Jom Kita Amalkan Ruqyah Jibril

Malaikat Jibril pernah meruqyah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika sakit dengan membacakan doa berikut ke dalam air

 بِسْمِ اللهِ أَرْقِيْكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيْكَ، مِنْ كُلِّ شَرِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللهُ يَشْفِيْكَ، بِسْمِ اللهِ

 أَرْقِيْكَ

“Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu, dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari segala kejahatan jiwa dan mata (ain) orang yang dengki, mudah-mudahan Allah menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Doa ini dibaca sebanyak tiga kali. Inilah cara meruqyah yang disyariatkan dan juga bermanfaat.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membacakan doa itu ke dalam air untuk Tsabit bin Qais Radhiyallahu Anhu dan memerintahkannya untuk mandi menggunakan air tersebut.

Keterangan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Ath-Thibb (pengobatan) dengan sanad yang hasan.

Sementara itu, ada riwayat lainnya yang menerangkan macam-macam ruqyah yang dicontohkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Di antaranya adalah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah meruqyah sebagian shahabat yang sakit dengan membaca,


اَللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ، اِشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِي، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Tuhan Yang Memelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah dia, Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit sedikit pun.” (HR. Al-Bukhari).

sumber EM

09 November 2020

Khasiat Daun Salam 

Khasiat dan manfaat daun salam meliputi pengobatan untuk penyakit organ dalam dan masalah kesihatan umum. Manfaat daun salam juga boleh digunakan untuk kecantikan.

Sebagai obat antijamur. Daun salam memiliki kandungan etanol yang berfungsi sebagai antibakteria dan antijamur.

Sebagai obat anticacing. Metanol yang terdapat pada daun salam berkhasiat sebagai anticacing.

Mengatasi masalah pencernaan. Daun salam baik digunakan untuk menyembuhkan masalah pencernaan dan mual. Kombinasikan dengan lemon dan gula, kemudian rebus dan minum airnya.

Menyihatkan mata. Menambahkan salam pada masakan juga bisa memberikan efek menyihatkan bagi mata.

Membantu mengobati infeksi ginjal & mencegah batu ginjal. Rebus beberapa lembar daun salam hingga mendidih, kemudian minum selagi hangat 2 kali sehari.

Meringankan nyeri. Daun salam dapat digunakan untuk meringankan rasa nyeri pada sendi, keseleo, rheumatik, dan arthritis, karena memiliki sifat antiinflamasi.

Mengatasi migrain. Salam mengandung partenolida yang baik untuk migrain. Rebus beberapa lembar daun salam lalu minumlah air rebusan tersebut secara teratur.

Untuk kesihatan rambut. Panaskan daun salam yang dicampur minyak zaitun atau kemiri selama beberapa minit. Gunakan hot oil tersebut untuk memicit kulit kepala setiap dua hari sekali.

Menunda munculnya uban. Resep hot oil di atas juga efektif untuk menjaga rambut tetap hitam sampai usia senja. LAGI

 


06 November 2020

Orang Yang Mati Kerana Al-Quran

Manshur bin Ammar melihat seorang pemuda sedang melaksanakan shalat seperti shalatnya orang-orang yang takut, lalu ia memanggil pemuda tersebut, “Hai anak muda! Apakah engkau pernah membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Tatkala ia mendengar ayat ini, maka ia langsung jatuh pingsan. Ketika telah siuman ia berkata, “Berilah aku tambahan lagi.” Lantas Manshur berkata, “Bukankah engkau tahu bahwa di Neraka Jahannam terdapat jurang yang disebut api yang bergejolak yang mengelupaskan kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakangi dan yang berpaling (dari agama).” Maka, ia pun tidak mampu memikul nasihat ini, lalu ia jatuh dan meninggal dunia.

Selanjutnya dadanya dibuka. Ternyata ditemukan dadanya bertuliskan, “Sesungguhnya dia berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat.”

Manshur melanjutkan ceritanya, “Lalu saya tidur sambil memikirkan kondisi pemuda tersebut. Di dalam tidur, saya melihatnya sedang berjalan dengan lagak yang bagus di dalam surga. Di atas kepalanya terdapat mahkota kehormatan. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Dengan apa engkau dapat memperoleh derajat seperti ini?” lalu ia berkata kepadaku, “Bukankah engkau pernah membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55)

Wahai Ibnu Ammar! Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepadaku pahala pasukan Badr, bahkan lebih banyak lagi. Lalu saya bertanya kepadanya, “Mengapa bisa seperti itu?” Ia menjawab, “Karena pasukan Badr gugur dengan pedang orang-orang kafir. Sedangkan saya meninggal dunia dengan pedang Dzat Yang Maha Merajai dan Maha Perkasa, yaitu Alquran Al-Karim.”

Dihikayatkan dari Masruq radhiyallahu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar seseorang sedang membaca ayat berikut:

“(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Pengasih sebagai perutusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam: 85-86)

Lantas ia bergetar, menangis, dan berkata kepada orang yang membaca ayat tersebut, “Ulangi lagi untukku!” Maka, ia pun terus-menerus mengulangi ayat tersebut, sementara Marsuq menangis sehingga ia jatuh dan meninggal dunia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya. Ia termasuk orang-orang yang meninggal dunia lantara Alquran.

Manshur bin Ammar berkata, “Saya memasuki kota Kufah. Pada saat saya sedang berjalan di kegelapan malam, tiba-tiba saya mendengar tangisan seseorang dengan suara yang penuh gelisah dari dalam rumah. Orang tersebut berkata, “Wahai Rabbku! Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, saya tidak bermaksud menentang-Mu dengan berbuat maksiat kepada-Mu. Akan tetapi, saya berbuat maksiat karena kebodohanku. Lantas sekarang siapa lagi yang dapat menyelamatkanku dari siksa-Mu? Dengan tali siapa saya berpegang teguh jika Engkau memutus tali-Mu dari diriku. Aduh alangkah banyak dosaku.. Aduh tolonglah… Ya Allah!” Manshur bin Ammar berkata,

“Ucapan orang tersebut membuatku menangis, lalu saya berhenti dan membaca ayat berikut:

‘Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.’ (QS. At-Tahrim: 6)

Tiba-tiba saya mendengar teriakan keras dan gemetar lelaki tersebut. Saya pun berhenti hingga suara lelaki itu pun terputus dan saya pun berlalu. Di pagi harinya saya mendatangi rumah lelaki tersebut, ternyata saya mendapatinya telah meninggal dunia dan orang-orang sedang merawat jenazahnya. Di sana terlihat seorang nenek yang sedang menangis, lalu saya menanyakan tentang siapakah perempuan tua tersebut. Ternyata ia adalah ibunya, kemudian saya menghampirinya dan saya bertanya mengenai tingkah laku anaknya, lalu perempuan tua tersebut menjawab, “Dia berpuasa di siang hari, beribadah di malam hari, dan bekerja mencari rezeki yang halal. Lalu ia membagi tiga hasil dari kerjanya. Sepertiga untuk dirinya sendiri, sepertiga lagi untuk membiayaiku, dan sepertiga lainnya ia sedekahkan. Tadi malam ada seseorang melewatinya sambil membaca suatu ayat, ia pun mendengar ayat tersebut lalu meninggal dunia.”

Diriwayatkan bahwa Mudhar ia adalah seorang qari sedang membaca ayat ini:

(Allah berfirman): “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepadamu dengan sebenar-benarnya.” (QS. Al-Jatsiyah: 29)

Lantas Abdul Wahid bin Zaid menangis ketika mendengar ayat tersebut sampai pingsan. Ketika telah siuman, ia berkata, “Demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu saya tidak akan berbuat maksiat kepada-Mu dengan segenap kemampuanku untuk selamanya. Oleh karena itu, berilah saya pertolongan untuk melakukan ketaatan kepada-Mu dengan pertolongan-Mu.”

Kemudian ia mendengar seseorang membaca ayat berikut:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27-28)

Lalu ia meminta agar si pembaca ayat tersebut mengulangi kembali dan bertanya, “Berapa kali saya mengucapkan irji’i.” Ia pun pingsan lantaran takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan siksa-Nya. Ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memperbaiki diri setelah itu. Maha benar Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berfirman:

“Sekiranya Kami turunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.” (QS. Al-Hayr: 21)

Zirarah bin Auf menjadi iman bagi orang banyak saat shalat Subuh. Tatkala ia membaca ayat:

“Maka apabila sangkakala ditiup, maka itulah hari yang serba sulit.” (QS. Al-Muddatstsir: 8)

Maka, ia terjatuh dalam keadaan telah meninggal dunia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya.

Dan ketika firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini telah diturunkan:

“Dan sungguh, Jahannam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka (pengikut setan) semuanya.” (QS. Al-Hijr: 43)

Maka, Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu menjerit satu jeritan, lalu ia meletakkan tangan di atas kepalanya dan pergi tak tentu arah selama tiga hari.

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Tulis ulang oleh tim www.KisahMuslim.com


03 November 2020

Tasbih Dosa

Begitu ramai orang yang merasa begitu puas menghitung biji tasbih setiap kali menyebut nama Allah, tetepi mereka tak punya tasbih untuk menghitung ucapan sia-sia yang tak terbilang banyaknya.

Imam Ghazali Rahimahullah

01 November 2020

1-Membaca Shahih Al Bukhari saat Kekeringan

Jika para ulama menggunakan wasilah pembacaan Hadits secara umum dalam menghadapi cobaan. Para ulama secara khusus membaca Shahih Al Bukhari untuk hal yang sama. Al Hafidz Ibnu Katsir berkata mengenai Imam Al Bukhari dan kitabnya Ash Shahih,”Dan kitabnya Ash Shahih, dengan membacanya diharapkan turunnya hujan dari mendung.” (Al Bidayah wa An Nihayah, 6/290)

Ketika Aljazair dilanda kekeringan dan rakyatnya pun mulai khawatir, Hasan Al Basya (1251 H) selaku pemimpin Muslim memerintahkan para ulama untuk membaca Shahih Al Bukhari di masjid Zaituna. Saat itu, mereka berhasil mengkhatamkan Shahih dalam satu hari. Hasan Al Basya orang pertama yang mengawalai kebiasaan baik ini di Aljazair, yakni mengadakan pembacaan Shahih Al Bukhari ketika terjadi bencana. (Syajarah An Nur Az Zakiyah, 2/191)

2-Membaca Shahih Al Bukhari saat Peperangan

Pada saat pasukan Mongol menyerang, Malik Al Manshur bersama pasukannya keluar untuk menghadapi mereka, serta mengirim perintah ke Kairo, agar para ulama berkumpul membaca Shahih Al Bukhari. Saat itu, Al Hafidz Ibnu Daqiq Al `Ied bertanya kepada para ulama,”Apa yang kalian lakukan dengan Bukhari kalian?” Para ulama pun menjawab,”Masih tersisa waktu kita akhirkan, agar kita mengkhatamkan pada hari ini.” Ibnu Daqiq Al `Ied pun menyampaikan bahawasannya pasukan Muslim sudah memperoleh kemenangan. (Thabaqat Asy Syafi’iyyah Al Kubra, 9/211)

Hal yang sama dilakukan di masa Utsmaniyah, di mana ketika pasukan Utsmaniyah bertempur mengadapi Russia, pihak Utsmaniyah mengirim perintah ke Kairo, agar dibaca di masjid Al Azhar Shahih Al Bukhari. Akhirnya, para ulama, termasuk di dalamnya Syeikh Ahmad Al Arusyi selaku Syeikh Al Azhar membaca Shahih Al Bukhari di masjid itu. (Aja`ib Al Atsar, 2/275)

Di saat Inggris dan Perancis bersatu berencana menyerang Istanbul, Sultan Abdul Hamid II meski saat itu berada di pengasingan juga ikut berdoa untuk kemenangan pasukan Utsmaniyah dengan membaca Shahih Al Bukhari. Sultan Abdul Hamid II menyampaikan,”Pada suatu hari saat aku membaca Shahih Al Bukhari, aku mendapati di salah satu halamannya bab mengenai sifat-sifat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dari sifat-sifat itu, bahawa dari jasad mulianya keluar bau harum. Saat aku membacanya, aku mencium bau harum, yang aku tidak tahu datang dari mana.” Setelah peristiwa itu, terdengar khabar bahawasannya pasukan Utsmaniyah berhasil mengalahkan pasukan Inggris dan Perancis, pasukan musuh gagal memasuki selat Janaq Qal’ah. (Dzikrayat Ash Shulthan Abdul Hamid Ats Tsani, hal. 285)

3 Membaca Shahih Al Bukhari Saat Wabak Menyebar

Pada tahun 790 H terjadi wabah tha`un di Mesir. Qadhi Nashiruddin Muhammad mengajak sekelompok dari umat Islam untuk membaca Shahih Al Bukhari di masjid Al Azhar untuk berdoa agar Allah mengangkat tha`un. (Nail Al Amal fi Dzail Ad Duwal, 2/258)

Pada tahun 881 H kembali terjadi wabah tha`un di Kairo. Pembacaan Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim din Kitab Asy Syifa diadakan di masjid Al Azhar, yang dihadiri oleh para ulama dan para penuntut ilmu, atas perintah sultan. Setelah itu mereka berdoa agar Allah mencegah balak atas mereka, yakni tha`un. (Nail Al Amal fi Dzail Ad Duwal, 7/174)

Pada tahu 1202 H, tha`un terjadi di Kairo. Pembacaan beberapa bahagian dari Shahih Al Bukhari juga dilakukan. (Aja’ib Al Atsar, 2/53)

Pada tahun 1228 H tha`un kembali terjadi di beberapa kota, terutama Al Iskandariyah. Sultan segera melalkukan kurantin, baik di pelabuan seperti di Dimyath serta mencegah perjalanan darat. Sultan juga memerintahkan agar pembacaan Shahih Al Bukhari dilakukan di masjid Al Azhar. Namun pembacaan itu hanya berlangsung tiga hari, di mana mereka mulai bosan, hingga aktivit itu terhenti. (Aja’ib Al Atsar, 3/395) BACA SEMUANYA

;;