15 Jun 2019

KIBLAT.NET– Jawatan sebagai hakim (qadhi) termasuk jawatan mulia dalam sejarah Islam. Kerana tugas hakim adalah memutuskan hukuman sesuai dengan landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Dahulu para khalifah di masa-masa awal sangat memperhatikan hal ini dengan memilih seorang hakim yang paling soleh, paling berilmu dan paling bertakwa, kerana melihat pentingnya posisi tersebut dan bahaya yang mungkin terjadi ketika jawatan tersebut dipegang orang yang tidak tepat.

Dahulu, orang yang dipilih menjadi hakim merasa takut dan lari dari amanah besar ini kerana melihat sensitiviti dan dengan standart zalim dan adil dan hak-hak manusia menjadi tanggung jawab seorang hakim. Namun berjalannya waktu, ramai manusia memperdagangkan jawatan ini. Mereka jauh dari hukum Allah, sembarangan dalam memilih hakim. Hakim terpilih juga memanfaatkannya untuk meraih kedudukan dan akses-akses material dan maknawi yang besar.

Mereka lupa atau dilupakan dengan hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ: قَاضِيَانِ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ فِي الجَنَّةِ، رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ الحَقِّ فَعَلِمَ ذَاكَ فَذَاكَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ لاَ يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ قَضَى بِالحَقِّ فَذَلِكَ فِي الجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di syurga. Seorang hakim yang memutuskan hukum tidak berdasarkan kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka di neraka. Seorang hakim yang memutuskan hukum tanpa ilmu sehingga hilanglah hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang memutuskan berdasarkan kebenaran, maka ia di syurga.” (HR. Tirmidzi no. 1322)

Aneh, sesungguhnya kita memiliki kaedah agung ini sejak lebih dari 1400 tahun lalu, yang telah diletakkan oleh baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara ini yang  beliau jelaskan dengan terang bahawa hakim ada tiga macam, dua di neraka ini adalah ancaman keras dan hanya satu di syurga. Hal ini menambah kehormatan sekaligus rasa takut bagi orang yang dipilih menjadi hakim.

Dalam hadis tersebut ada peringatan keras terhadap hakim yang memutuskan perkara berdasarkan nafsu, yaitu memutuskan berdasarkan keinginan manusia, baik kerana syahwat atau kecenderungan nafsunya tanpa memperhatikan keadilan dan kebenaran.

Itulah perkara yang sangat membahayakan, kerana menyangkut nyawa manusia, harta dan kehormatan. Kerana itulah, para ulama mengingatkan supaya hakim memutuskan berdasarkan hukum Allah meskipun diimingi harta yang banyak dan akses-akses duniawi lainnya atau diintimidasi oleh orang-orang zalim.

Hakim kedua yang digambarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada di neraka adalah hakim yang tidak memiliki pengetahuan, bukan pengikut hawa nafsu sebagaimana yang pertama. Hakim ini terkadang tidak memiliki kecenderungan kepada pihak tertentu atau berharap material, namun ia hanya malas dan sembarangan dalam mempelajari hakikat perkara, tidak mengerahkan segala kemampuannya untuk memperoleh keterangan, ia terburu-buru memutuskan hukum tanpa pengetahuan yang terperinci, maka ia terjerumus dalam bencana, terkhusus pada persoalan yang menyangkut harta dan nyama manusia.

Tidak memiliki pengetahuan ertinya tidak memiliki ilmu tentang hukum yang terkait dengan perbuatan yang dipersangkakan bahawa terdakwa telah melakukannya. Maka dianjurkan bagi hakim untuk membaca, mempelajari, menegaskan, dan mengisyaratkan bahawa ia tidak sedang bersiasat atau menutup-nutupi. Sesungguhnya urusan ini tidak hanya tentang kehidupan yang dunia yang terbatas, namun tentang akhirat, darah dah hak-hak yang tidak pernah dibiarkan oleh Allah kecuali ada qishash (balasan). Dua macam hakim ini mendapatkan dosa sampai ia memutuskan perkara dengan berdasarkan kebenaran, kebenaran yang tidak diinginkan oleh kedua hakim tersebut. Keinginan hakim yang pertama adalah menuruti hawa nafsunya, dan hakim kedua adalah meninggalkan ilmu.

Hakim yang terakhir, yang digambarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hakim yang masuk syurga. Dia lah hakim yang memutuskan perkara berdasarkan kebenaran setelah mempelajarinya berdasarkan bukti-bukti dan tidak ada hasrat mengikuti hawa nafsu, netral pada terdakwa dan memberikan hak-haknya secara penuh, tidak berlebihan atau mengabaikan, atau takut pada penguasa, pemilik kedudukan, orang yang punya pengaruh atau orang kaya. Ini lah hakim yang sesungguhnya, sehingga tidak mengapa jika ia salah dalam menjatuhkan hukum, kerana ia telah mengerahkan seluruh kemampuannya dan meninggalkan hasrat nafsunya, ia tidak bermalas-malasan untuk mempelajari hukum dan mengetahui bukti-bukti terkait.

Jika ia takut pada sesuatu, hal itu terlepas dari keinginannya tanpa menutup-nutupi. Sesungguhnya menegakkan keadilan adalah gerbang yang benar dalam kebijakan sosial. Tanpa keadilan akan kacau, hilang keberkahan, kehidupan manusia rusak, padahal itu adalah kekuatan bagi negeri.

09 Jun 2019

Dari Jabir bin Abdullah ra,Rasulullah SAW bersabda," Jangan kalian mendoakan(celaka) untuk diri-diri kalian,anak-anak kalian,dan harta-harta kalian.Dikhuatiri ketika itu bertepatan dengan waktu Allah mengkabulkan doa kalian.(Riwayat Muslim)

29 Mei 2019

Di bulan suci Ramadan, sahur menjadi salah satu rutin wajib yang pastinya kita lakukan setiap subuh. Selain menjadi sebahagian dari ibadah, makan sahur juga berfungsi memberi energi bagi tubuh kita untuk beraktiviti seharian dan menahan keinginan untuk makan, hingga tibanya waktu berbuka puasa.

Nah, untuk membuat ibadah puasa lancar seharian, kamu perlu untuk memilih-milih makanan dan minuman apa yang boleh menjadikan kamu lebih tahan godaan makanan kerana tahan lapar seharian penuh.

Berikut rekomendasi makanan yang boleh kenyang saat puasa berikut ini!

Makanan Sahur yang Mengenyangkan
1. Oatmeal
Bukan hanya menyehatkan, makanan sehat yang satu ini juga memberi efek kenyang lebih lama. Oatmeal memang mengandung karbohidrat kompleks yang memberi energi bagi tubuh dan otak kita untuk beraktiviti seharian.
Bukan sahaja karbohidrat kompleks, oatmeal juga kaya akan serat yang memberi efek kenyang lebih lama, sehingga makanan dari gandum utuh ini sangat sesuai untuk kamu makan di waktu sahur. Oatmeal dengan tambahan susu, almond dan buah-buahan segar.
Pastinya akan membuat kamu bersemangat dan tidak kelaparan hingga menjelang waktu buka puasa.

2. Sup sayur

10 Mei 2019

Penulis: Zamroni 
 Islam sangat memperhatikan urusan kepemimpinan. Realiti membuktikan, baik buruknya suatu masyarakat ditentukan oleh para pemimpinnya. Jika pemimpinnya baik maka masyarakat pun akan baik, bila pemimpinnya rosak maka masyarakat pun akan rosak. Kerana itulah, seorang pemimpin selayaknya memiliki kesanggupan dan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk memimpin.

Namun sangat disayangkan, umat Islam harus mengalami nasib buruk kerana kedudukan yang sangat strategik itu dipegang oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan. Umat Islam dipimpin oleh mereka yang tidak mempunyai persiapan dan perbekalan, pendidikan akhlak dan agama sebagaimana Khulafaur Rasyidin. Kurangnya kecakapan dalam memimpin membuat mereka lemah dalam memperjuangkan kepentingan Islam. Minimanya kemampuan ijtihad membuat mereka kesulitan menanggulangi masalah-masalah duniawi dan ukhrawi umat.

Mewaspadai Pemimpin Lemah dan Bodoh

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kekhawatiran hal itu, beliau bersabda :

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ…

“Aku mengkhawatirkan enam perkara atas kalian yaitu : kepemimpinan orang-orang yang tidak mampu…” (HR. Ahmad no. 23970)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang makna as-Sufaha ini :

والسفهاء: جمع سفيه.. والسفيه: هو الجاهل الضعيف الرّأي القليل المعرفة بمواضع المصالح والمضار

“Sufaha’ adalah bentuk jama’ dari safih, sedangkan safih artinya: Orang yang jahil (bodoh), yang dha’if (lemah) akalnya, yang sedikit sekali pengetahuannya tentang mana yang maslahat dan mana yang mudharat.” (Umdatut Tafsir, 1/86)

Di dalam hadist di atas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir terhadap enam perkara yang akan terjadi pada umatnya. Beliau menyebutkan pertama kali kekhawatirannya terhadap kepemimpinan orang-orang yang kapabel, bisa jadi perkara itulah yang paling besar dan paling berbahaya.

Dalam redaksi yang lain, beliau menjelaskan siapa pemimpin as-Sufaha itu.

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ. قَالَ: َمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ :أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِى لاَ يَقْتَدُونَ بِهَدْيِى وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى…

“Semoga Allah melindungi kamu dari imarah as-sufaha`.” Kaab bertanya, “Apa itu imarah as-sufaha`, wahai  Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah para pemimpin sesudahku, yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku…” (HR Ahmad no. 14441)

Dampak Berkuasanya Pemimpin yang Tidak Mampu

Kepemimpinan as-Sufaha itu kemudian menyebar ke seantero masyarakat Islam. Sejak saat itulah terjadi pemisahan agama dari kehidupan politik. Mereka tidak cukup ilmu pengetahuan sehingga mereka menyerahkan urusan agama pada pribadi masing-masing dan para tokoh keagamaan. Dalam menjalankan politik, mereka bertindak semaunya. Bila ada kepentingan, barulah mereka meminta bantuan kepada tokoh agama yang telah mereka pilih sebagai penasehat. Akhirnya, para tokoh agama tersebut digunakan untuk melindungi kepentingan mereka, jika perlu diperas tenaga dan pikirannya.

Sikap yang semacam itu membuat politik menjadi bebas sebebas-bebasnya dan lepas dari kontrol agama. Kekuasaan yang berada di tangan mereka berubah menjadi seperti kekaisaran yang sewenang-wenang atau kerajaan yang kejam. Kekuasaan menjadi pusat kepentingan, tidak lagi sebagai pusat menuntut keadilan.

Para ulama dan tokoh agama berbeda-beda dalam menyikapi pemimpin semacam ini. Ada yang menentang pemerintahan dan beroposisi. Ada yang bersikap netral lalu mengasingkan diri dan sibuk dengan urusan pribadi sembari menutup mata rapat-rapat terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ada pula yang berputus asa dari kemungkinan adanya perbaikan. Ada yang mengkritik sekedarnya hanya untuk melegakan perasaan padahal ia tidak memahami duduk perkaranya. Ada pula yang bekerja sama dengan pemerintahan demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

Akibat dari semua itu, kejahiliyahan dapat kembali bernafas di negeri-negeri Islam. Mendorong semua orang untuk berperilaku hidup mewah dan serba enak, tenggelam dalam kesenangan syahwat dan kemaksiatan. Kaum muslimin tidak dapat menunaikan tugas risalah Islam, tidak mampu mengingatkan manusia kepada Allah, tidak mampu menganjurkan ketakwaan dan memberikan teladan yang baik.

Apa yang diperbuat oleh pemimpin-pemimpin itu semata-mata hanya mencerminkan pribadi dan politik mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak mencerminkan Islam dalam hal-hal politik sesuai syariat. Oleh karena itu, tidak aneh jika dakwah Islam hilang pengaruh dan kekuatannya di hati orang-orang non muslim. Keindahan Islam tertutup oleh tingkah laku dan polah umat Islam sendiri.

Sangat luas dampak keburukan yang terjadi akibat berkuasanya para pemimpin yang tidak mampu. Maka, selayaknya pemimpin adalah produk pendidikan yang panjang, sebagaimana nasehat Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu :

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

“Perdalamlah ilmu sebelum memimpin.” (HR. Bukhari no. 73).

Karena seorang pemimpin harus mampu menggali solusi dari berbagai persoalan yang ada. Hal itu tidak didapatkan secara instan, perlu waktu dan kesabaran. Wallahu ‘alam bish showab.

(kiblat.net)

06 Mei 2019

10 Rahsia dan Keajaiban Puasa

Hid.com Puasa mengandung banyak keajaiban. Hal ini bukan hanya diakui oleh ulama-ulama Islam; tapi juga ilmuan-ilmuan Barat. Berikut ini, akan dipaparkan sepuluh keajaiban syariat puasa.

Pertama, menurut Syeikh Ibnu Utsaimin dalam buku  “Min Fataawaa al-Ulamaa fi al-Shiyaam wa al-Qiyaam wa Iid Syahr Ramadhan” (Musa Yunus, 1999: 23) puasa boleh membuat orang merasa sebagai satu entiti; mempererat jalinan hubungan antar individu masyarakat; dan mampu melatih jiwa untuk naik tingkat menuju kesempurnaannya.

Kedua, menurut Syeikh Bin Baz dalam  “Majmuu’ Fataawa wa Maqalaat Mutanawwi’ah-al-Shiyaam” (Ibnu Baz, 1420:XV/39-41), puasa boleh mensucikan, melatih dan membersihkan jiwa dari akhlak tercela serta membiasakannya melakukan akhlak mulia. Di samping itu, puasa membuat orang mengakui akan kelemahan dan kekuarangannya di hadapan Allah sehingga melahirkan rasa syukur dan kepedulian sosial dengan membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan.

05 Mei 2019

Soalan ditanya kepada Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ( ketua Al Lajnah Ad Da-imah Lil Buhuts wal Ifta’Saudi Arabia) 
“Apakah ada amalan-amalan khusus yang disyariatkan untuk menyambut bulan Ramadhan?”

Syaikh –rahimahullah- menjawab:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling utama dalam setahun. Kerana pada bulan tersebut Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan amalan puasa sebagai suatu kewajipan dan menjadikannya sebagai salah satu rukun Islam yaitu rukun Islam yang keempat. Umat islam pada bulan tersebut disyariatkan untuk menghidupkannya dengan berbagai amalan.

Mengenai wajibnya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ ، وَحَجِّ البَيْتِ

“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahawa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, menegakkan solat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 8 dalam Al Iman, Bab “Islam dibangun atas lima perkara”, dan Muslim no. 16 dalam Al Imam, Bab “Rukun-rukun Islam”)

Nabi ‘alaihimush shalaatu was salaam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan puasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 2014 dalam Shalat Tarawih, Bab “Keutamaan Lailatul Qadr”, dan Muslim no. 760 dalam Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab “Motivasi Qiyam Ramadhan”)

Aku tidak mengetahui ada amalan tertentu untuk menyambut bulan Ramadhan selain seorang muslim menyambutnya dengan bergembira, senang dan penuh suka cita serta bersyukur kepada Allah kerana sudah berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan. Semoga Allah memberi taufik dan menjadikan kita termasuk orang yang menghidupkan Ramadhan dengan berlomba-lomba dalam melakukan amalan shalih.

Berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan sungguh merupakan nikmat besar dari Allah. OIeh kerana itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memberikan khabar gembira kepada para sahabat kerana datangnya bulan ini. Beliau menjelaskan keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan dan janji-janji indah berupa pahala yang melimpah bagi orang yang berpuasa dan menghidupkannya.

Disyariatkan bagi seorang muslim untuk menyambut bulan Ramadhan yang mulia dengan melakukan taubat nashuhah (taubat yang sesungguhnya), mempersiapkan diri dalam puasa dan menghidupkan bulan tersebut dengan niat yang tulus dan tekad yang murni.”

[Pertanyaan di Majalah Ad Da’wah, 1284, 5/11/1411 H. Sumber : Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 15/9-10]

Baca semuanya EM

27 April 2019

Surah At-Taubah. ayat 112 
a. Suka berjihad
b.Sering bertaubat
c.Terus beribadat
d.Senang memuja dan memuji Allah
e.Melaksanakan puasa
f.Suka rukuk kepada Allah
g.Suka sujud kepadaNya
h.Melaksanakan amar ma'ruf
i.Mencegah kemungkaran
j.Selalu menjaga hukum Allah

21 April 2019

10 April 2019

Karakter Jahiliyah Modern

Penulis Fakhruddin
Saat mendengar kata jahiliyah, gambaran yang sering muncul di benak kita adalah era kebodohan yang jauh dari nilai peradaban, tidak bermoral dan penuh dengan praktek paganisme atau lebih simpelnya adalah zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Anggapan seperti ini memang tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat jika definisi jahiliyah hanya dibatasi pada masa pra-islam yang terjadi di Jazirah Arab saja tanpa peduli mengapa mereka dijuluki jahiliyah.

Bila dilihat dari definisi syar’i, kata jahiliyah lebih tepatnya dipahami dengan makna segala sesuatu yang menyelisihi norma-norma Islam. Dalam hal apapun itu, bila menyimpang dari petunjuk Islam maka disebut jahiliyah. Mengapa demikian? Iya, kerana bila kata jahiliyah itu difahami hanya sebagai bentuk kebodohan dalam erti buta huruf atau kerana tidak punya aturan hidup sangat bertentangan dengan realiti yang ada saat itu. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab justru dikenal sebagai bangsa yang suka bersyair, pintar berdagang dan lihai dalam taktik perang.

Kerana itu, kata jahiliyah tidak cukup jika hanya dipahami sebagai kebodohan semata. Namun ada faktor yang lebih krusial mengapa julukan jahiliyah itu disematkan kepada bangsa arab pra-Islam. Secara umum, sebutan tersebut muncul karena prilaku atau cara pandang yang menyimpang dari  Islam. Meskipun hakikatnya pintar dalam urusan dunia, namun ketika prilaku atau cara pandangnya menyimpang dari Islam, maka esensi jahiliyah itu ada dalam dirinya. Bahkan terhadap umat Islam sekalipun, ketika perilakunya menyimpang dari Islam maka sejatinya dia sedang berperilaku jahiliyah.

Perhatikan bagaimana ketika Abu Dzar tidak sengaja menghina ibu dari sahabat Bilal bin Rabah, Rasulullah bersabda kepadanya:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Rupanya masih ada dalam dirimu karakter jahiliyah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikian juga dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat perkara jahiliyah yang sulit ditinggalkan umatku; berbangga dengan darah keturunan, mencela keturunan orang lain, meminta hujan dengan perantara bintang-bintang, dan meratapi mayat.” (HR Muslim)

Dengan demikian makna jahiliyah tidak hanya untuk menyebut suatu masa, era atau fase tertentu saja. Namun sebutan jahiliyah merupakan sifat yang dapat melekat pada setiap individu atau kelompok manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Setiap perkara yang menyimpang dari petunjuk Nabi SAW maka dia disebut perkara jahiliyah. (Fathul Majid, hal: 261)

Abul A’la Al-Maududi berkata, “Jahiliyah adalah setiap cara pandang yang tidak sesuai dengan cara pandang Islam, yang dari cara pandang yang tidak islami tersebut lahirlah perbuatan-perbuatan jahiliah.” (Abu A’la Al-Maududui, Islam dan Jahiliyah, hal. 22-23)

Jahiliyah Modern, Menjauhkan Masyarakat dari Hukum Allah

Ibarat sejarah yang terus berulang, ia pasti akan kembali menampakkan wajahnya dalam bentuk yang berbeda, dengan sosok dan setting yang berbeda, namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Demikian juga dengan perkara jahiliyah itu sendiri. Hakikat atau perilaku jahiliyah yang pernah membudaya di kalangan Masyarakat Arab pra-Islam, juga terjadi kembali di era modern ini. Ada banyak karakter jahiliyah yang tercatat dalam lintasan sejarah. Di antaranya selain hobi minum khamer, mereka juga memiliki undang-undang yang menyimpang dari syariat Islam.

Karena itu, ketika risalah Islam itu datang mereka sepakat menolaknya. Dengan segala upaya mereka menghadang dan melumpuhkan dakwah Nabi SAW. Tidak berhenti disitu, mereka juga menjauhkan masyarakat dari seruan tauhid. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkriminalisasi dan menyiksa siapa pun yang menyambut seruan tersebut. Hari ini tabiat-tabiat jahiliyah itu kembali terulang. Dengan settingan dan aktor yang berbeda, upaya pemisahan Islam dari aturan hidup masyarakat terjadi dalam pelbagai bidang; politik, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan sebagainya.

Bagi mereka, agama dipandang hanya sebagai urusan privat semata. Tidak perlu dibawa-bawa untuk mengatur kebijakan publik. Kehidupan sosial biarlah diatur hukum positif berdasarkan kemanusiaan dan toleransi dari akal budi manusia. Tidak perlu ada campur tangan tuhan di dalamnya. Efeknya, ajaran Islam hanya dipakai jika sesuai dengan selera akal mereka. Kondisi seperti ini melambangkan karakter bangsa jahiliyah zaman dahulu.

Muhammad Quthb dalam bukunya Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin, menjelaskan secara rinci bagaimana perilaku jahiliyah yang masih membudaya di zaman modern ini. Menurutnya, Jahiliyah modern merupakan miniatur dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan asesoris di sana-sini sesuai dengan perkembangan zaman. Sikap jahiliyah modern tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang.

Bahkan kalau kita melihat pola pikir bangsa jahiliyah masa lalu, sejatinya mereka masih meyakini akan adanya Allah. Mereka juga paham jika Allah adalah tuhan Sang Pencipta alam semesta beserta isinya. Namun yang menjadikan mereka jahiliyah adalah ketika mereka tidak lagi memahami Allah secara hakiki, tidak beriman secara benar kepada-Nya, dan tidak mau berhukum kepada-Nya dalam semua aspek kehidupan mereka.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Lukman: 25)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah Ta’ala menceritakan keadaan orang-orang yang musyrik bahwa mereka dalam hatinya mengakui bahwa Allah-lah Yang menciptakan langit dan bumi. Dia semata yang melakukannya, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, selain dari itu mereka pun menyembah sekutu-sekutu lain beserta Dia, dan mereka pun tahu bahwa sekutu-sekutu itu adalah makhluk-Nya dan milik-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/348)

Mereka mengakui Allah tetapi tidak diikuti dengan konsekuensi dari pengakuan tersebut, tidak mau menjalankan syariatnya, tidak pula berhukum kepada Allah. Keadaan mereka yang seperti ini, Allah sebutkan dalam firman-Nya, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya,” (QS. Al-An’am: 91)

Dari sinilah inti karakter jahiliyah itu, yaitu tiadanya keimanan yang benar kepada Allah, tidak menjadikan Islam sebagai solusi hidupnya. Tidak mau berhukum kepada-Nya serta lebih memperturutkan hawa nafsunya. Allah ‘azza wajalla berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 60)

Segala putusan hukum yang berlawanan dengan Islam atau tidak mau menjadikannya sebagai pedoman disebut hukum jahiliyah. Yaitu hukum yang berdiri atas dasar hawa nafsu (kemauan) sekelompok orang yang menguasai urusan masyarakat. Hukum yang penuh intrik penguasa, hukum yang tidak lepas dari kepentingan konglomerat yang menguasai ekonomi rakyat. Karena itu Allah ta’ala perintahkan kepada orang-orang beriman: “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah : 48)

Iman yang benar akan melahirkan sikap ketundukan kepada Allah dan selalu mengembalikan hukum kepada apa yang telah diturunkan-Nya. Sedangkan jahiliyah selalunya memperturutkan hawa nafsu. Karena itu, Muhammad Qutb menekankan bahwa Jahiliyah adalah menolak untuk menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup, dan membuat suatu aturan, adat, tradisi dan undang-undang yang menolak hukum Allah. (Muhammad Qutb, Jahiliyyah al-Qarn al-‘Isyrin, hal. 42-46)

Sayyid Qutb menegaskan bahwa Jahiliah adalah segala sesuatu yang merenggut dan mengambil hak prerogatif Allah Ta’ala dalam membuat dan menetapkan suatu hukum, aturan, dan undang-undang. Dalam pandangannya, masyarakat Islam bukanlah sebuah perkumpulan atau kelompok manusia yang menamakan diri mereka ‘Muslim’ sedangkan syariat Islam tidak dijadikan undang-undang masyarakat tersebut, walaupun mereka patuh melaksanakan shalat, mengerjakan puasa, dan menunaikan haji ke Mekah. (Sayyid Qutb, Ma’alim fi al-Tariq, Hal. 149-150)

Totalitas menerima Islam sebagai solusi dalam setiap persoalan hidup merupakan konsekuensi dari Iman itu sendiri. Ketika kita mengakui Islam sebagai ajaran yang benar maka kita harus rela melepaskan seluruh tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan syariat. Totalitas menanggalkan tradisi jahiliyah semacam inilah yang menjadi kunci kemuliaan umat Islam terdahulu. Wallahu a’lam bis shawab!(kiblat.net)


31 Mac 2019

Ihsan Tanjung – Ada sebuah gejala baru yang selama ini tidak pernah dikenal dalam tradisi dan sejarah Islam. Yaitu munculnya sosok Muslim yang sibuk mencari keridhaan non-Muslim alias kaum kuffar. Selama ini Islam mengarahkan seorang beriman untuk hidup dengan landasan niat mengejar keridhaan Allah semata. Seorang Muslim hamba Allah ialah seorang yang dalam segenap kiprahnya hanya mengharapkan keridhaan Penciptanya. Setiap kali beramal, berfikir, berbicara, bersikap bahkan berperasaan, seorang Muslim  selalu bertanya bagaimanakah Allah akan menilai amal, fikiran, ucapan, sikap dan perasaannya. Demikianlah cara pandang seorang Muslim sejati. Sedangkan bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar berkiprah, maka ia sibuk bertanya bagaimanakah kaum kuffar akan menilai kiprahnya.

Dewasa ini kita berada dalam era paling kelam dalam sejarah Islam. Dunia menyaksikan munculnya fenomena abnormal dimana seorang Muslim sibuk mencari keridhaan kaum kuffar. Dalam babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan atau Para Penguasa Diktator dewasa ini, sebagian umat Islam menjadi terpengaruh oleh pihak penguasa dunia. Padahal Allah  menyerahkan giliran kepemimpinan dunia kepada kaum kuffar –seperti yang kita saksikan dewasa ini- hanyalah dalam rangka menguji keimanan dan ke-istiqomahan kaum muslimin.

Bagi orang beriman yang tetap meyakini bahawa hanya Allah sajalah Penguasa Sejati langit dan bumi, maka ia akan tetap hidup dan berkiprah berlandaskan niat mencari keridhaan Allah. Namun bagi Muslim yang tertipu dan menyangka bahawa kaum kuffar telah menjadi penguasa yang sungguh berkuasa di dunia, maka mereka mulai mengalihkan hidup dan kiprahnya berlandaskan niat mencari keridhaan para penguasa diktator tersebut.Bila seorang Muslim sejati berbicara, ia berbicara untuk mencari ridha Allah. Bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tinggal diam, maka ia tidak berani berbicara kerana ingin menyenangkan kaum kuffar. Bila seorang Muslim berjuang, maka ia berjuang untuk mentaati perintah Allah dan dalam rangka mengejar ridha Allah. Sedangkan seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tidak berjuang –padahal ia sangat berhak untuk itu- kerana tidak ingin membuat kaum kuffar menjadi benci kepadanya. Sudah barang tentu ini semua tidak diutarakan secara blak-blakan, melainkan dibungkus dengan dalih misalnya ”langkah ini tidak baik untuk da’wah Islam” atau ”langkah ini akan menjauhkan orang dari Islam”.

Muslim jenis baru ini sangat terobsesi dengan upaya menjaga image atau citranya di hadapan orang kafir. Sedemikian rupa sehingga tolok ukur wala dan bara-nya (loyaliti dan berlepas diri-nya) berlandaskan penilaian si kafir terhadap image si Muslim. Muslim macam ini sangat menyukai sesama Muslim yang berpenampilan ”anak baik” di hadapan kaum kafir. Dan ia sangat mencela Muslim yang menurutnya mencoreng ”nama baik orang Islam”.

Jika identiti Islam yang ia tampilkan akan menggusarkan kaum kafir, maka ia rela menyesuaikan identitinya dengan apa saja asal kaum kuffar menjadi mahu menerimanya. Bila kaum kuffar mensyaratkan agar identiti Islam yang dikedepankan hendaknya tanpa embel-embel ideologi , maka ia akan tampil penuh rasa percaya-diri dengan  menerjemahkan kalimat Basmalah sebagai: ”Dengan nama Allah Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama.” Ia akan siap membangun negara dengan meleburkan perbedaan ideologi ke dalam faham Nasionalisme. Dalam rangka mencari ridha kaum kuffar ia akan menjamin bahawa kemenangannya dalam pertarungan politik tidak akan diikuti dengan penerapan hukum Syariah Islam. Ia akan menafsirkan kewajiban jihad di dalam Al-Qur’an sebagai apa saja yang menyenangkan kaum kuffar asal bukan berarti mengangkat senjata di jalan Allah dalam rangka ’isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Bahkan secara perlahan namun pasti mereka sudah meninggalkan kosa kata jihad dalam kesehariannya…!!

28 Mac 2019

Hidup menyanyi,matipun menyanyi

Rasulullah ﷺ bersabda bahawa setiap hamba akan dibangkitkan nanti sebagaimana ia meninggal dulu. Barangsiapa meninggal dalam keadaan membaca talbiah, ia akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiah. Barangsiapa mati dalam keadaan mabuk, ia akan dibangkitkan dalam keadaan mabuk. Bagaimana kalau ada orang meninggal dalam keadaan bernyanyi? Baca lagi jika rajin

24 Mac 2019

Renungan pendek
Diriwayatkan bahawa ada seorang sahabat rasulullah saw sedang membangunkan tembok. Pada waktu tersebut ,ada seorang sahabat melalui kawasan lelaki tersebut sedang membangunkan tembok . Sahabat yang sedang membina tembok itu bertanya kepada sahabat yang lalu berdekatannya, "Apakah ayat al-Quran yang turun pada hari ini?"
"Hari ini turun ayat
ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٖ مُّعۡرِضُونَ 
Maksudnya : Telah hampir datangnya kepada manusia hari perhitungan amalnya,sedang mereka dalam kelalaian,tidak hiraukan persediaannya(al-Anbiya' ayat 21)
Mendengar jawapan tersebut,sahabat yang membina tembok itu memberhentikan pekerjaannya lantas berkata, " Sesungguhnya aku tidak akan membangunkan apa-apa lagi kerana hisab makin dekat"

20 Mac 2019

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda," Sesiapa yang meninggalkan dan tidak berjuang untuk membela agama Allah,atau tidak memotivasikan dirinya untuk berjuang membela agama Allah, maka pada kematiannya itu terdapat sifat kemunafikan dalam dirinya".
  (Hadis riwayat Muslim)

15 Februari 2019

Strategi Politik Firaun

KIBLAT.NET – Abul Hakam, sebuah panggilan yang biasa dipakai masyarakat Arab Jahiliah untuk menyebut sosok Amru bin Hisyam. Panggilan yang memiliki makna orang yang bijaksana itu dipakai bukan tanpa sebab, tapi sosok Amru bin Hisyam memang tokoh yang dihormati dan dinilai bijaksana dalam mengambil kebijakan waktu itu. Namun ketika risalah Islam datang, akibat kesombongannya, dia pun menjadi tokoh utama penentang dakwah Nabi SAW. Sejak saat itu, orang-orang pun menyebutnya dengan Abu Jahal yang berarti bapak kejahilan.

Abu Jahal merupakan Tokoh Quraisy yang paling gigih menentang Islam. Segala cara ia lakukan, termasuk merayu Nabi SAW supaya menghentikan dakwahnya dengan strategi politik menawarkan pangkat, jabatan, kekuasaan dan wanita. Akan tetapi kesemuanya itu ditolak oleh baginda SAW dengan sabda, “Walaupun Mentari engkau letakkan di tangan kananku dan Rembulan di tangan kiriku, sekalipun tak kan kulepaskan perjuangan membela agama ini,” Singkat cerita, Abu Jahal mati saat Perang Badar. Melihat jasadnya yang terkapar di atas tanah, Nabi SAW berujar di hadapan para sahabatnya, “Inilah Firaunnya umat ini.”

Secara historis Firaun memang gelar Raja Mesir pada zaman Nabi Musa as. Namun dalam perspektif Islam, sebutan Firaun tidak lagi sekadar gelar para raja di era Mesir kuno. Ia perlahan berubah mejadi seperti simbol kebiadaban dan kesombongan. Bagi umat Islam, Firaun lebih dimaknai sebagai pemimpin zalim dan sombong. Kerana itu, akibat kesombongan dan kezalimannya terhadap umat Islam, Abu jahal pun dijuluki oleh Nabi SAW sebagai Firaunnya umat ini.

Kelihaian Firaun Dalam Berpolitik

10 Februari 2019

Penyebab malapetaka

Dari Tsauban ra Rasulullah SAW bersabda," Sesungguhnya seorang hamba diharamkan baginya razeki kerana dosa yang ia lakukan, dan qadha' tak akan tertolak kecuali dengan doa,dan umur tak akan bertambah kecuali dengan kebaikan.(hadis riwayat Ahmad)

01 Februari 2019

Buktikan keIslaman mu

Sesungguhnya umat Islam satu dengan umat Islam lainnya ibarat satu tubuh atau satu bangunan, kata Nabi. Sudah semestinya saling membantu dan saling melindungi. Kerana setiap Muslim hakikatnya adalah bersuadara.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al Hujurat [49]: 10).

Oleh kerana itu Allah sangat suka kepada Muslim yang mahu membina persahabatan, persaudaraan dan persatuan layaknya bangunan yang kukoh, lebih-lebih dalam upaya membela agama Allah (QS. 61: 4).

Apabila hal itu terwujud, maka jaminan Allah akan menyertai kehidupan umat Islam. Rasul bersabda, “Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.” (HR. Bukhari).

Dalam hadis Nabi lain disebutkan,  “Jika seorang Muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka malaikat akan mengucapkan: ‘Amin, dan bagimu sepertinya,” (HR. Muslim).

Rasulullah mengecam umat Islam yang tidak peduli nasib saudara seiman.

من لا يهتم بأمر المسلمين فليس منهم

Barangsiapa yang tidak peduli urusan kaum Muslimin, Maka Dia bukan golonganku.” (Al-Hadis).

“Barangsiapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barangsiapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi).

Untuk itu mari kita tata kembali hati dan hidup kita untuk bermanfaat dan bermakna bagi sesama. Sungguh tidak ada ertinya hidup ini, manakala hanya untuk kesenangan pribadi.*/Imam Nawawi

25 Januari 2019

1. Memotong kuku
Selain sebagai amalan sunat, memotong kuku juga dapat membersihkan tangan kerana kuku yang panjang boleh menyebabkan kekotoran terkumpul di celah-celah kuku.

Lagikan pula, makan menggunakan tangan antara amalan Sunnah dan menjadi keperluan untuk kita menjaga kebersihan tangan bagi mengelakkan tangan yang kotor memasuk makanan ke dalam mulut.

2. Mandi sunat
Sunat mengelokkan rupa paras dan membersihkan anggota tubuh badan sebelum keluar solat seperti memendekkan atau mencukur misai, bulu ketiak, bulu pada kemaluan, menggosok gigi dan sebagainya.

Dalam sebuah hadis pernah dinyatakan bahawa:-

“Tidak mandi seorang lelaki pada hari Jumaat dan membersihkan dirinya setakat yang termampu, seterusnya beliau meminyakkan rambut, mengenakan wangi-wangian harum yang dimilikinya di rumah, lantas dia keluar (ke masjid) dan dia tidak mencelah di antara dua orang (di dalam masjid), lalu dia bersolat apa yang diwajibkan ke atasnya. Dan sesudah itu duduk diam sewaktu imam sedang berkhutbah, melainkan diampunkan segala dosanya dari Jumaat tersebut hinggalah ke Jumaat yang akan datang.” (Hadis riwayat Imam al-Bukhari)

3. Membaca Surah al-Kahfi

;;