21 April 2018

“Memisahkan agama dari politik sama dengan memisahkan agama dari jual-beli, pernikahan. Itu bahagian dari kehidupan dan agama datang mengatur kehidupan. Jadi kalau agama hanya cerita tentang mati, tentang kubur, untuk apa fungsi agama,” tegas Ustaz Abdul Samad

20 April 2018

HD: Pastinya parti-parti politik yang ingin bertanding di dalam Pilihan raya Umum ke-14 (PRU14) perlu membuat pemilihan calon yang baik dan sesuai.

“Dalam hal ini, Persatuan Ulama Malaysia (PUM) menyarankan calon-calon yang dipilih untuk bertanding perlu dilihat dari sudut adab dan akhlaknya juga,” ujar Yang Dipertua PUM, Dato' al-Syeikh Abdul Halim Abdul Kadir dalam kenyataan media kepada Harakahdaily, hari ini .

Katanya, ramai yang berasa geli untuk memilih calon-calon yang tidak sesuai dan tidak mempunyai adab dan akhlak yang baik.

“Parti-parti politik dinasihat supaya tidak meletakkan calon yang rendah akhlak, calon yang suka duduk di kelab malam, terlibat dengan aktiviti tidak bermoral, terlibat dengan rasuah, tidak mendekati masjid, atau mereka yang hanya mementingkan hiburan semata-mata,” ujarnya lagi.

Tambahnya, PUM percaya dalam pendekatan politik masa kini, rakyat pasti menolak mana-mana calon yang sedemikian.

“Kita mahu pastikan Malaysia terus maju dengan rakyat dan pemimpin yang baik agar rahmat serta pengampunan Allah SWT sentiasa bersama kita,” katanya. – 20/4/2018

17 April 2018

06 April 2018

EM( Ustaz Ihsan Tanjung)
 Ada sebuah gejala baru yang selama ini tidak pernah dikenal dalam tradisi dan sejarah Islam. Yaitu munculnya sosok Muslim yang sibuk mencari keridhaan non-Muslim alias kaum kuffar. Selama ini Islam mengarahkan seorang beriman untuk hidup dengan landasan niat mengejar keridhaan Allah semata. Seorang Muslim hamba Allah ialah seorang yang dalam segenap kiprahnya hanya mengharapkan keridhaan Penciptanya. Setiap kali beramal, berfikir, berbicara, bersikap bahkan berperasaan, seorang Muslim  selalu bertanya bagaimanakah Allah akan menilai amal, fikiran, ucapan, sikap dan perasaannya. Demikianlah cara pandang seorang Muslim sejati. Sedangkan bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar berkiprah, maka ia sibuk bertanya bagaimanakah kaum kuffar akan menilai kiprahnya.
Dewasa ini kita berada dalam era paling kelam dalam sejarah Islam. Dunia menyaksikan munculnya fenomena abnormal dimana seorang Muslim sibuk mencari keridhaan kaum kuffar. Dalam babak kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan atau Para Penguasa Diktator dewasa ini, sebagian umat Islam menjadi terpengaruh oleh fihak penguasa dunia. Padahal Allah  menyerahkan giliran kepemimpinan dunia kepada kaum kuffar –seperti yang kita saksikan dewasa ini- hanyalah dalam rangka menguji keimanan dan ke-istiqomahan kaum muslimin.
Bagi orang beriman yang tetap meyakini bahwa hanya Allah sajalah Penguasa Sejati langit dan bumi, maka ia akan tetap hidup dan berkiprah berlandaskan niat mencari keridhaan Allah. Namun bagi Muslim yang tertipu dan menyangka bahwa kaum kuffar telah menjadi penguasa yang sungguh berkuasa di dunia, maka mereka mulai mengalihkan hidup dan kiprahnya berlandaskan niat mencari keridhaan para penguasa diktator tersebut.
Bila seorang Muslim sejati berbicara, ia berbicara untuk mencari ridha Allah. Bila seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tinggal diam, maka ia tidak berani berbicara karena ingin menyenangkan kaum kuffar. Bila seorang Muslim berjuang, maka ia berjuang untuk mentaati perintah Allah dan dalam rangka mengejar ridha Allah. Sedangkan seorang Muslim pencari ridha kaum kuffar tidak berjuang –padahal ia sangat berhak untuk itu- karena tidak ingin membuat kaum kuffar menjadi benci kepadanya. Sudah barang tentu ini semua tidak diutarakan secara blak-blakan, melainkan dibungkus dengan dalih misalnya ”langkah ini tidak baik untuk da’wah Islam” atau ”langkah ini akan menjauhkan orang dari Islam”.
Muslim jenis baru ini sangat terobsesi dengan upaya menjaga image atau citranya di hadapan orang kafir. Sedemikian rupa sehingga tolok ukur wala dan bara-nya (loyalitas dan berlepas diri-nya) berlandaskan penilaian si kafir terhadap image si Muslim. Muslim macam ini sangat menyukai sesama Muslim yang berpenampilan ”anak baik” di hadapan kaum kafir. Dan ia sangat mencela Muslim yang menurutnya mencoreng ”nama baik orang Islam”.
Jika identitas Islam yang ia tampilkan akan menggusarkan kaum kafir, maka ia rela menyesuaikan identitasnya dengan apa saja asal kaum kuffar menjadi mau menerimanya. Bila kaum kuffar mensyaratkan agar identitas Islam yang dikedepankan hendaknya tanpa embel-embel ideologi , maka ia akan tampil penuh rasa percaya-diri dengan  menerjemahkan kalimat Basmalah sebagai: ”Dengan nama Allah Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan Segala Agama.” Ia akan siap membangun negara dengan meleburkan perbedaan ideologi ke dalam faham Nasionalisme. Dalam rangka mencari ridha kaum kuffar ia akan menjamin bahwa kemenangannya dalam pertarungan politik tidak akan diikuti dengan penerapan hukum Syariah Islam. Ia akan menafsirkan kewajiban jihad di dalam Al-Qur’an sebagai apa saja yang menyenangkan kaum kuffar asal bukan berarti mengangkat senjata di jalan Allah dalam rangka ’isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Bahkan secara perlahan namun pasti mereka sudah meninggalkan kosa kata jihad dalam kesehariannya…!!

28 Mac 2018

Pesan Ibnu Khaldun dalam Mukadimah-nya menyebutkan tujuan dari praktik As-Siyasah As-Syar’iyah(Contoh- mengundi dalam PRU) adalah: Iqomatud din wa siyasatud dunya bihi (menegakkan agama Islam, dan mengatur urusan dunia ini dengannya)

20 Mac 2018

16 Mac 2018

 Al-Quran memuat banyak peristiwa dan kejadian yang akan berlangsung di akhirat. Di luar gambaran nikmat syurga atau azab neraka, Al-Quran juga memuat percakapan manusia di sana, baik ketika masih berada di padang mahsyar, maupun ketika mereka sudah berada di syurga atau di neraka.

Jika percakapan penduduk syurga berisi kalimat thayyibah, ucapan keselamatan dan kenangan kenangan indah, maka percakapan penduduk neraka lebih banyak berisi umpatan, celaan, caci maki dan penyesalan. Al-Quran sendiri menggambarkan bahwa gaya bahasa penduduk neraka dengan ungkapan yashtharihun (يصطرخون), yang bermakna teriakan keras, lengkingan suara yang menggambarkan rasa sakit yang tiada terkira dan butuh segera bantuan agar ia terbebas dari siksaan.

Hal itu sebagaimana yang termuat dalam salah satu ayat:

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Duhai Rabb kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berbeda dengan yang telah kami kerjakan dahulu“.. ( Al-Fathir [35]: 37)

لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمْ فِيهَا لَا يَسْمَعُونَ

Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak boleh mendengar. (QS. Al-Anbiya [21]: 100)

Makna zafir dalam ayat di atas adalah rintihan suara yang keluar dari mulut penduduk neraka akibat nafas yang keluar seperti dalam kondisi tercekik. Dalam tafsir Jalalain disebutkan bahawa penduduk neraka itu terus merintih dan mereka tidak boleh mendengar suara lantaran gemuruh suara api neraka yang memekakkan telinga mereka.

Yang menarik adalah bahawa dialog penduduk neraka itu kebanyakan terjadi antara pimpinan dan anak buahnya, antara penguasa dan rakyatnya, antara orang-orang kuat dengan orang-orang lemahnya.

Di antaranya adalah sebagaimana yang termuat dalam beberapa ayat berikut:

Dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah, lalu berkatalah orang-orang yang lemah kepada orang-orang yang sombong: “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan daripada kami azab Allah (walaupun) sedikit saja? Mereka menjawab: “Seandainya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri”. (QS Ibrahim [14]:21).

Juga dalam ayat lainnya:

وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ ﴿٤٧﴾ قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ

Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”
Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka, karena sesungguhnya Allâh telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya)”. [Ghafir/40:47-48].

وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴿٦٧﴾رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

Dan mereka berkata:”Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar”. [al-Ahzâb/33:64-68].

Pelajaran penting dari gambaran percakapan di atas

Tidak boleh dipungkiri bahawa hubungan terbanyak dalam hubungan sosial manusia di dunia adalah hubungan antara atasan dan bawahan. Tidak satupun manusia di dunia ini melainkan mereka pernah menjadi atasan atau bawahan, menjadi pemimpin atau yang dipimpin, atau setidaknya menjadi mitra orang lain. Ini adalah konsekwensi hidup manusia sebagai makhluk sosial; makhluk yang tidak bisa hidup kecuali dengan berinteraksi dan menjalin hubungan dengan manusia lain.

Allah mengingatkan bahwa semua bentuk hubungan manusia di akhirat kelak akan berubah menjadi penyesalan dan kerugian, permusuhan dan pertikaian, kecuali mereka yang membangun hubungan tadi dengan ikatan iman dan ketakwaan. Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (Az-zukhruf [43]; 67)

Hari ini, di zaman fitnah yang meliputi seluruh dimensi kehidupan, kita akan menyaksikan banyaknya manusia yang bekerja bukan lagi dengan hati nurani dan akal fikirannya. Mereka bekerja seperti robot yang tidak memiliki hati dan perasaan.

Setiap kejahatan dan pelanggaran terhadap syari’at yang mereka lakukan, maka dengan mudah mereka berkilah; “Maaf, kami hanya melaksanakan tugas”, Kami bekerja sesuai tuntutan profesionalisme”.

Mereka sama sekali tidak mempertimbangan bahwa ikatan ketaatan mereka kepada sang majikan atau kepada system dimana mereka bekerja, akan berbuah penyesalan manakala Allah menghisab amal mereka.

Di sinilah sebagian besar manusia terjerumus dalam bentuk kesetiaan yang membabi buta kepada pemimpin, atasan atau mitra kerja mereka.

Dan pada akhirnya, hubungan, ikatan, dan kesetiaan yang dibangun antar mereka, kelak akan berbuah penyesalan dan kerugian yang berujung pada saling kutuk dan saling cela di antara mereka.

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, hanya untuk menciptakan perasaan senang di antara kamu dalam kehidupan di dunia (saja), kemudian pada hari kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk, dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (Al-Ankabut [29]: 25)

(arrahmah.com)

13 Mac 2018

19 Februari 2018


1 - Surah : Al-Imran . Ayat : 7-9  


2- Surah: Taahaa. Ayat: 25-28 
 

02 Februari 2018

1- Kami mengadakan bacaan surah Yasin pada setiap pagi  dengan dipimpin oleh guru atau pelajar terpilih dan terlatih.
2-Kami mengadakan bacaan surah Al-Kahfi pada setiap pagi Jumaat.
3-Kami mengerjakan solat sunat Dhuha dan solat sunat Hajat sekerap yang mungkin dan kami amalkan doa dalam sujud yang lama.
Foto 1( Muhammad Zikri sedang membaca surah Al-Kahfi dengan dipimpin oleh ustazcyber)
Foto2 (Nursyazana dan Norasyiqin antara pelajar cemerlang PT3 2017 yang masing2 mendapat 10A)

01 Februari 2018

UTTAR PRADESH, INDIA - Seorang ulama senior Darul Uloom telah mengeluarkan sebuah fatwa yang mengatakan bahawa wanita Muslimah seharusnya tidak melihat lelaki bermain bola sepak .

Mufti Athar Kasmi mengatakan bahawa menyaksikan para lelaki "bermain dengan lutut telanjang" melanggar ajaran Islam dan dilarang untuk wanita.

Kasmi adalah ulama di Darul Uloom, perguruan tinggi Sunni terbesar di Asia di kota utara Deoband.

Ulama tersebut juga mengecam para lelaki yang mengizinkan isteri mereka menonton bola sepak  bahkan di tv.

"Apakah Anda tidak malu? Apakah Anda tidak takut akan Tuhan? Anda membiarkan dia memperhatikan hal-hal semacam ini," katanya dalam khotbahnya pada hari Jumat.

Keputusan Kasmi muncul saat kerajaan Muslim Sunni di Arab Saudi mengizinkan wanita menonton pertandingan di stadium bola sepak awal bulan ini.

"Mengapa wanita perlu menonton pertandingan bola sepak ini? Apa yang akan mereka dapatkan dengan melihat paha pemain bola. Perhatian mereka hanya pada hal itu dan mereka bahkan akan kehilangan skor," kata Kasmi.

Darul Uloom, yang terletak di negara bahagian Uttar Pradesh, adalah perguruan yang telah berdiri lebih dari 150 tahun dan mengajarkan mazhab Hanafi.

Pada hari Selasa, seorang aktivis hak asasi perempuan Muslim di kota utara Lucknow mengecam keputusan tersebut. "Ini menyiratkan bahawa wanita Muslim seharusnya tidak menonton acara atletik, pertandingan tenis atau kejuaraan renang. Bagaimana boleh seorang wanita menjadi tidak bermoral kerana menonton lelaki bermain olahraga?" Sahira Nasih mengatakan.

Baru-baru ini seminari itu mengeluarkan fatwa yang meminta wanita Muslim untuk tidak mengunjungi salon kecantikan atau mengenakan pakaian ketat. (SUMBER)

28 Januari 2018

They are alive !

24 Januari 2018

Oleh: DR. Aiman Rusydi Suwaid

Demi Allah, sesungguhnya aku lebih perlu kepada nasihat ini berbanding saudara sekalian. Aku memohon kepada Allah agar menolong kita semua untuk mampu menerapkannya.

Demi Allah, aku malu kepada Allah untuk mengirimkannya, kerana sedar akan keadaan diriku. Akan tetapi, aku pecaya bahawa antum semua lebih baik dariku.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman:

يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ

“Dipalingkan dari padanya orang yang dipalingkan.” (Adz-Dzariyat: 9)

Maksudnya, akan dipalingkan dari Al-Qur'an orang yang dipalingkan oleh Allah sebagai hukuman terhadapnya disebabkan dosa-dosanya dan keberpalingannya dari Allah Subahanahu wa Ta'ala....

20 Januari 2018

Oleh : ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ

Pertama:
Diantara sepuluh hal yang membatalkan keislaman tersebut adalah mempersekutukan Allah SWT ( syirik ) dalam beribadah.
Allah SWT berfirman:
 إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء : سورة النساء، الآية : 116

Ertinya : “ Sesungguhnya Allah ًٍSWT tidak mengampuni dosa syirik(menyekutukan ) kepadaNya, tetapi mengampuni dosa selain itu, kepada orang – orang yang dikehendakinya “.( Annisa’ ayat : 116)

Allah SWT berfirman:

 إنه من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار:  سورة المائدة : 72.

Ertinya: “ sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, niscaya Allah akan mengharamkan syurga baginya, dan tempat tinggalnya (kelak) adalah neraka, dan tiada seorang penolong pun bagi orang – orang zhalim” .( Al- Maidah : 72).

Dan di antara perbuatan kemusyrikan tersebut adalah ; meminta doa dan pertolongan kepada orang- orang yang telah mati, bernazar dan menyembelih korban untuk mereka.

Kedua:
Menjadikan sesuatu sebagai perantara antara dirinya dengan Allah SWT, meminta doa dan syafaat serta bertawakkal ( berserah diri ) kepada perantara tersebut.
Orang yang melakukan hal itu, menurut ijma’ ulama ( kesepakatan) para ulama, adalah kafir.

Ketiga :
Tidak menganggap kafir orang- orang musyrik, atau ragu atas kekafiran mereka, atau membenarkan konsep mereka. Orang yang demikian ini adalah kafir.

Keempat:
Berkeyakinan bahawa tuntunan selain tuntunan Nabi Muhammad SAW lebih sempurna, atau berkeyakinan bahawa hukum selain dari beliau lebih baik, seperti ; mereka yang mengutamakan aturan - aturan thaghut (aturan – aturan manusia yang melampaui batas serta menyimpang dari hukum Allah ), dan mengesampingkan hukum Rasulullah SAW , maka orang yang berkeyakinan demikian adalah kafir.

Kelima :

18 Januari 2018

Hasil kajian yang diterbitkan The Journal for Scientific Study of Religion pada bulan Januari 2018 menyatakan bahawa semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bermain internet, semakin berkurang tingkat ketaatan seseorang terhadap agama.

Para sosiologi menganggap fenomena ini sebagai religious tinkering. Menurut Paul McClure, mahasiswa program doktor Sosiologi di Baylor University yang melakukan penelitian ini, maksud dari “tinkering adalah seseorang yang tidak lagi berpegang pada institusi atau dogma agama.”

“Saat ini, kerana kita semakin sering menghabiskan waktu bermain internet, kita berfikir lebih pluralis terhadap agama sebelum kita menjadikannya jalan hidup,” ujar Paul McClure....

15 Januari 2018


 اَللَّهُمَّ اكْفِنِيْ بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

 Doa Nabi 1: “Ya Allah! Cukupilah aku dengan rezekiMu yang halal (hingga aku terhindar) dari yang haram. Perkayalah aku dengan karuniaMu (hingga aku tidak minta) kepada selainMu.”(Hadis riwayat Tarmizi)


 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

Doa Nabi 2:  “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”(Hadis riwayat Bukhari)

11 Januari 2018

Kata-kata hikmah ini telah disampaikan kepada saya oleh ayah saya melalui mimpi pada malam Jumaat 25 Jan 2001 Jam 4.00 pagi yang lalu. katanya:
(Foto; Arwah ayah tercinta)

Hai anakku...Sesungguhnya ketika seseorang sedang marah, maka mereka akan menjadi salah seorang daripada tiga jenis manusia berikut:
i-Ada orang yang dengan marahnya itu dia jadi MABUK tetapi tidak GILA.

ii-Ada orang yang dengan marahnya itu dia jadi MABUK dan juga GILA.


iii-Ada manusia walaupun sedang marah tetapi dia TIDAK mabuk dan TIDAK gila.

02 Januari 2018

Soalan: Dia sering kehilangan wang. Kemungkinan dari makhluk ghaib. Adakah cara yang syar'i untuk menghalau gangguan makhluk ghaib seperti toyol dan semisalnya.

Jawab:(voa-i)

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah dan keluarganya.

Pertama, salah satu cara untuk melindungi seseorang dari gangguan makhluk ghaib (jin) yang merugikan dirinya adalah dengan membaca ayat kursi pada pagi dan petang serta ketika akan tidur. (Baca SINI)

Ini sesuai kisah tawanan Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu, saat Ubay menangkap seorang pencuri, maka ia bertanya kepadanya, “Kamu ini Jin atau manusia?”

Ia menjawab, “Aku ini Jin.”

Ubay bertanya kepadanya, “Apa yang boleh melindungi kami dari kalian?”

Ia menjawab, “Engkau baca Ayat Kursi dari surat Al-Baqarah

(ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُ).”

Ubay menjawab, “Ya.”

Ia melanjutkan,

إِذَا قَرَأْتَهَا غُدْوَةً أُجِرْتَ مِنَّا حَتَّى تُمْسِيَ ، وَإِذَا قَرَأْتَهَا حِينَ تُمْسِي أُجِرْتَ مِنَّا حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila engkau membacanya di waktu pagi, engkau terlindungi dari kami sampai waktu petang. Apabila engkau membacanya di wakut petang, engkau terlindungi dari kami sehingga tiba waktu pagi.”

Kemudian Ubay berkata, ”Aku segera pergi kepada Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam lalu aku kabarkan kejadian itu kepadanya.”

Beliau bersabda,

صَدَقَ الْخَبِيثُ

“Si buruk telah berkata jujur.” (HR. al-Nasai, Al-Thabrani, dan selainnya)

Juga hadis tentang tawanan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, -hadisnya sangat panjang-, tawanan itu berkata,

دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا

“Lepaskan aku, aku ajari kamu beberapa kalimat yang Allah memberikan manfaat kepadamu dengan kalimat-kalimat itu.”

Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia menjawab,

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Apabila engkau beranjak ke tempat tidurmua, bacalah ayat kursi, Allaahu Laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyul Qayyum, sampai selesai. Kerana sesungguhnya kamu akan berada di bawah perlindungan Allah dan Syaitan tidak boleh mendekatimu sampai besok pagi.” (HR. Al-Bukkhari)

Kata Abu Hurairah, “Aku biarkan ia pergi.”

Saat waktu pagi tiba, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya tentang perbuatan tawanan tadi.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu melaporkan, “Ia mengaku mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang Allah akan berikan manfaat untukku dengan kalimat-kalimat itu. Lalu aku biarkan ia pergi.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya, “Kalimat apa itu?”

Abu Hurairah menjawab, “Apabila engkau beranjak ke tempat tidurmu maka bacalah Ayat Kursi dari awal sampai akhir. Dan ia berkata kepadaku bahwa engkau senantiasa di jaga Allah dan syetan tak mampu mendekatimu sampai waktu pagi.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepadanya,

أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ

“Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?”

“Tidak”, jawab Abu Hurairah.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dia adalah syaitan.” (HR. Al-Bukhari, Al-Nasai, Al-Thbarani, dan selainnya. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Kedua, agar rumah tidak menjadi tempat nyaman bagi syaitan dari jenis jin, hendaknya diruqyah dengan surat Al-Baqarah.(baca SINI)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Jangan kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya syaitan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim, no. 780)

Ketiga, bacalah zikir perlindungan dari syaitan; di antaranya zikir di pagi dan petang hari. Silahkan baca tulisan kami sebelumnya, “Zikir Pagi dan petang ini Melindungi dari Bala' dan Musibah”.
Wallahu a'lam. [voa-islam]

;;