15 April 2021

 


14 April 2021

Jom berguru dengan yang tahu

 


11 April 2021

92 Q & A tentang puasa


 1.Macam mana kalau suka gigit kuku di bulan puasa?

Batal jika ditelan kuku itu selepas digigit.

2.Apa hukumnya masih makan waktu azan Subuh berkumandang.

Batal puasa.

3.Solat terawih di surau atau masjid, mana lagi afdhal?

Masjid.

4.Terjeluak makanan dari dalam perut ketika gosok gigi. Adakah dikira muntah dengan sengaja?

Tak batal. Yang batal usaha supaya terjeluak bukan dengan gosok gigi tapi dengan cara kebiasaan yang dibuat orang supaya muntah.

5.Kenapa kita sambut nuzul Quran pada 17 Ramadhan? Bukankah al-Quran diturunkan pada malam Lailatul Qadar dan malam Lailatul Qadar itu ada dalam 10 malam terakhir Ramadhan?

Lailatul Qadar turun pada mana-mana malam dalam bulan Ramadhan. 10 malam terakhir bukan syarat tetapi adat kebiasaan sahaja. Boleh berlaku juga pada malam yang lain.

6.Tak apa ke kalau kita asyik teringat perempuan yang kita sukai di bulan Ramadhan?

06 April 2021

3 Jenis kegembiraan


i.Kegembiraaan yang berpunca daripada dunia adalah kegembiraan anak kecil.

ii.Kegembiraan yang berpunca daripada pujian yang baik adalah kegembiraan orang-orang besar.

iii.Kegembiraan yang berpunca daripada apa yang ada di sisi Allah SWT adalah kegembiraan para Wali dan orang-orang pilihan Allah SWT

03 April 2021

Hukum Jual Beli online

 


28 Mac 2021

(Ular sekadar gambar hiasan sahaja)
1. Biasakan berdoa sebelum masuk rumah.

2. Ucapakan salam kepada keluarga (penghuni rumah).

3. Berdo’a sebelum makan dan minum.

4. Banyak-banyak membaca Al-Qur’an di dalam rumah.

5. Menghindari rumah dari suara gemuruh Iblis (suara nyanyian).

6. Jauhkan rumah dari lonceng. Dari Abu Hurairah R.A bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Lonceng adalah seruling syaitan.”

7. Hindarkan rumah dari gambar dan patung.

8. Hindari rumah dari anjing.

9. Perbanyak solat sunnah di dalam rumah. 


27 Mac 2021


 Maka kita berdoa, memohon pada Allah, agar membuat hati ini cinta pada Al Qur’an.

اللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِى كِتَابِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِى عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِيْ وَنُورَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya aku ini adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (laki-laki), anak dari hamba-Mu (perempuan). Ubun-ubunku berada di tangan-Mu, takdir-Mu berlaku atasku, dan ketetapan-Mu adalah adli. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, Nama yang Engkau lekatkan sendiri untuk diri-mu, atau yang Engkau sebutkan dalam Kitab-mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang diantara hamba-Mu (Nabi), atau yang Engkau sembunyikan di alam keghaiban-Mu; hendaknya Engkau menjadikan Al-Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya dalam dadaku, penghilang kesedihanku, dan penolak rasa gundahku.” (Ibnu Hibban.)

Bacalah doa ini banyak-banyak, berkali-kali setiap hari, agar Allah membuat hati kita cinta Al Qur’an.

Jika hati kita tidak cinta Al Qur’an, maka lawan kata dari cinta adalah benci. Jika hati kita tidak cinta Al Qur’an, maka hati kita benci pada Al Qur’an. Apa jadinya jika hati kita benci pada Al Qur’an?

Pahala untuk MU

20 Mac 2021

Di manakah malaun ni tidur?


IMAM Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam Ash-Shahihain sebuah hadis riwayat Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu terbangun dari mimpinya, hendaknya dia melakukan istintsar tiga kali, kerana syaitan bermalam pada hidungnya.

14 Mac 2021

17 Kesan buruk makan Riba


Berikut ini diantara kesan buruk riba yang kami sarikan dari " Ar Riba Adlraruhu wa Atsaruhu fii Dlauil Kitabi was Sunnahkarya" Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani.

(1) Riba memberikan dampak negatif bagi akhlak dan jiwa pelakunya. Jika diperhatikan, maka kita akan menemukan bahawa mereka yang berinteraksi dengan riba adalah individu yang secara alami memiliki sifat kikir, dada yang sempit, berhati keras, menyembah harta, tamak akan kemewahan dunia dan sifat-sifat hina lainnya.

(2) Riba merupakan akhlaq dan perbuatan musuh Allah, Yahudi. Allah ta’ala berfirman:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan kerana mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS. An Nisaa’: 161)


(3) Riba merupakan akhlak kaum jahiliyah. Barang siapa yang melakukannya, maka sungguh dia telah menyamakan dirinya dengan mereka.

11 Mac 2021



 

07 Mac 2021

 


06 Mac 2021


ISRA’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa besar dalam kehidupan Nabi ﷺ. Itu terjadi selama fasa sulit dalam kehidupan Nabi di Mekkah. Jadi, itu adalah pengalaman yang luar biasa dan menggembirakan bagi Nabi, penuh berkah dan peristiwa besar.

Di bawah ini, adalah jawaban atas 3 pertanyaan penting tentang peristiwa bersejarah ini:

1 Bila terjadinya Isra’ mi’raj?

Tanggal pasti tentang ini masih jadi kontroversi. Masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama.

Beberapa ulama, termasuk Imam At-Tabari, berpendapat bahawa Perjalanan Malam terjadi di tahun yang sama ketika Nabi (saw) menerima wahyu pertama.

Imam An-Nawawi dan Al-Qurtubi lebih menyukai pendapat bahawa hal itu terjadi lima tahun setelah dakwah Nabi.

Pendapat lain menetapkan 27 Rajab, 10 tahun setelah Nabi memulai misi besarnya sebagai tanggal pasti dari peristiwa tersebut.

Namun, ulama lain mendukung tanggal mulai dari 12 hingga 16 bulan sebelum hijrah Nabi ke Madinah.

Tiga pendapat pertama ditolak oleh sebagian ulama dengan alasan bahawa Solat Wajib ditetapkan pada malam Al-Israa’ dan bahawa prasyarat tersebut tidak pernah terjadi selama masa hidup Khadijah, isteri Nabi, hingga wafatnya di bulan Ramadhan, 10 tahun setelah Nabi memulai misi mulianya.

Adapun pendapat lainnya, Syekh Mubarakpuri tidak menemukan bukti yang menguatkan hal itu. Namun, konteks Surat Al-Israa ‘menyiratkan bahawa hal itu diturunkan di akhir fasa penyebaran Islam di Makkah.

2 Apa yang terjadi selama Isra’ mi’raj?

Para ulama hadits melaporkan rincian Malam Al-Isra’. Berikut adalah ringkasannya:

Nabi ﷺ dibawa dari Masjid Suci di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem dengan Buraq. Di sana, Nabi Muhammad ﷺ memimpin semua nabi lainnya dalam solat.

Setelah itu, Jibril membawanya ke syurga. Ketika mereka mencapai syurga pertama, Jibril meminta malaikat penjaga untuk membuka pintu syurga pertama. Nabi Muhammad ﷺ melihat Adam, nenek moyang umat manusia. Nabi memberi hormat padanya.

Adam menyambut Nabi dan mengungkapkan keyakinannya pada kenabian Muhammad. Nabi ﷺ melihat di sisi kanan Adam jiwa orang-orang yang akan bahagia di akhirat dan melihat jiwa orang-orang terkutuk di sebelah kirinya.

Jibril kemudian naik dengan Nabi ﷺ ke langit kedua dan meminta untuk membuka pintu gerbang. Di sana, Nabi melihat dan memberi hormat kepada Nabi Yahya dan `Isa. Mereka membalas salam, menyambutnya, dan mengungkapkan iman mereka pada kenabiannya.

Hal yang sama terjadi di setiap lapis langit yang dilalui.

Di langit ketiga, Nabi ﷺ melihat Nabi Yusuf.  Beliau ﷺ melihat Nabi Idris di langit keempat, nabi Harun di langit kelima, nabi Musa di langit keenam dan nabi Ibrahim di langit ketujuh.

Ketika Nabi Muhammad meninggalkan Nabi Musa di langit keenam, Nabi Musa mulai menangis. Ditanya tentang alasannya, ia menjawab bahawa meskipun Muhammad diutus sebagai utusan, mereka yang akan masuk syurga dari bangsa Muhammad lebih banyak daripada mereka yang berasal dari bangsa Musa.

Nabi kemudian dibawa ke Sidrat Al-Muntaha. Dia juga ditunjukkan Al-Bait Al-Ma`mur (bahasa Arab untuk “rumah yang paling sering dikunjungi”) yang dihadiri oleh 70.000 malaikat setiap hari; para malaikat yang hadir tidak pernah meninggalkannya sampai Hari Kebangkitan.

Dia kemudian dihadapkan pada Hadirat Ilahi. Di sana, Allah SWT menetapkan 50 waktu solat harian untuknya.

Dalam perjalanan pulang, dia memberi tahu Nabi Musa bahawa para pengikutnya telah diperintahkan untuk solat 50 kali sehari. Nabi Musa menasihati dia untuk meminta kepada Allah untuk mengurangi jumlahnya kerana Umat Muslim tidak akan tahan melakukan solat sebanyak itu.

Nabi berpaling kepada Jibril seolah-olah meminta nasihatnya. Jibril mengangguk, “Ya, jika engkau menginginkan,” dan naik bersamanya ke Hadirat Allah Yang Maha Kuasa.

Kemudian Allah SWT membuat pengurangan 10 waktu solat. Nabi kemudian turun dan melaporkan hal itu kepada Musa, yang sekali lagi mendesaknya untuk meminta pengurangan lebih lanjut.

Nabi sekali lagi memohon kepada Allah untuk mengurangi jumlah tersebut lebih lanjut. Dia pergi lagi dan lagi kepada Allah SWT atas saranan Musa sampai solat dikurangi menjadi lima saja. Sekali lagi, Musa memintanya untuk memohon pengurangan lebih banyak.

Tetapi Nabi berkata, “Saya merasa malu (berulang kali meminta kepada Tuhan saya untuk mengurangi jumlah doa harian). Saya menerima dan pasrah pada Kehendak-Nya.”

Ketika Nabi melangkah lebih jauh, seorang penelepon terdengar berkata, “Aku telah memberlakukan peraturan-Ku (Allah) dan meringankan beban hamba-Ku.“

3 Bagaimana reaksi orang-orang terhadap khabar tersebut?

Isra’ mi’raj menimbulkan banyak kehebohan di antara orang-orang, dan penonton yang skeptis menghujani Muhammad dengan segala macam pertanyaan. Orang-orang kafir menemukan kesempatan yang cocok untuk mengejek kaum Muslim dan keyakinan mereka.

Mereka melecehkan Nabi dengan pertanyaan-pertanyaan tentang gambaran Masjid di Yerusalem, tempat yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya, dan yang mengejutkan mereka, jawaban Nabi memberikan informasi yang paling akurat tentangnya.

Namun, mereka tidak menerima apa-apa dan tetap tidak percaya.

Bagi Muslim sejati, bagaimanapun, tidak ada yang aneh dengan Isra’ mi’raj. Allah Yang Mahakuasa, Yang cukup kuat untuk menciptakan langit dan bumi, pasti cukup kuat untuk membawa Rasul-Nya melampaui langit dan menunjukkan kepadanya secara langsung tanda-tanda-Nya yang tidak dapat diakses oleh orang lain.

Sikap beriman ini dicontohkan oleh Abu Bakar yang ditantang oleh orang-orang kafir kerana peristiwa ini untuk mempercayai apa yang dikatakan Nabi. Dia langsung menjawab, “Ya, saya percaya itu.”

Dikhabarkan bahawa jawaban inilah yang membuatnya mendapatkan gelar As-Siddiq (bahasa Arab untuk “pemverifikasi kebenaran”).  ABOUT ISLAM

04 Mac 2021

Berdehem dalam solat

 



20 Februari 2021

9 Khasiat Ginseng Jawa

Pokok Ginseng Jawa yang saya tanam di sekitar rumah saya




1. Mengenal Ginseng Jawa 

Ginseng jawa pun dikenal dengan nama lain yakni Flameflower, Jewels of Opar, tu ren shen dan som jawa. Sumber: worldofsucculents.com

Kolesom jawa, som jawa atau ginseng jawa (Talinum paniculatum) adalah spesis tanaman berbunga dari genus Talinum. Ginseng jawa berasal dari bahagian selatan Amerika Syarikat, Amerika Latin (seperti Paraguay dan Uruguay) dan Kepulauan Karibia. Tumbuhan ini juga telah ditemukan di Afrika dan Asia.

Ginseng jawa pun dikenal dengan nama lain yakni Flameflower, Jewels of Opar, tu ren shen dan di Jawa dikenal dengan nama som jawa. Tanaman ginseng jawa boleh dijadikan tanaman hiasan dan tanaman ubat, sekalipun seringkali juga merupakan tanaman liar. Dilihat dari khasiat utamanya, ginseng jawa diolah sebagai ubat penambah stamina.

Manfaat saponin dalam Ginseng Jawa antara lain sebagai berikut:

    Menghambat pertumbuhan sel kanser

    Mengikat kolesterol dan bersifat antibiotik

    Memiliki daya anti inflamasi yang kuat

    Memperbaiki fungsi hati

    Memiliki aktiviti antifungi dan pertahanan terhadap serangan mikroba patogen

2. Kandungan Ginseng Jawa

Secara umum, tanaman ginseng jawa memiliki kandungan zat kimia antara lain adalah saponin, flavonoid, dan tannin. Berdasarkan farmakologis akar tanaman ginseng jawa juga mengandung senyawa-senyawa kimia yang bersifat androgenik. Senyawa androgenik yang berhasil diidentifikasi dari akar tanaman ginseng jawa adalah stigmast 5-en3-ol atau disebut juga senyawa B-sitosterol yang termasuk dalam golongan sterol tumbuhan.

Mengutip Herbpathy.com, Saponin sendiri berguna untuk menghambat pertumbuhan sel kanser, mengikat kolesterol, dan bersifat antibiotik. Sementara senyawa Flavonoid mempunyai fungsi sebagai antibakteria, antiinflamasi, antialergi, antimutagenik, antivirus, antineoplastik, antitrombosis, antioksidan, dan aktiviti vasodilatasi. Sedangkan Tannin mempunyai aktiviti biologi sebagai pengkelat ion logam, agen penggumpal protein dan antioksidan.

3.  9 Manfaat Ginseng Jawa

Sebagai salah satu tanaman herbal, ginseng jawa diolah baik untuk campuran ubat kimia maupun herbal. Ada sekian banyak manfaat ginseng jawa yang berguna bagi kesihatan tubuh serta mengubati penyakit. Umumnya, bahagian tanaman ginseng jawa yang dapat digunakan sebagai ubat adalah akar dan daunnya. Berikut rangkuman manfaat ginseng jawa yang perlu Anda ketahui.

03 Februari 2021

Hukum Pakai Kopiah

 


SOALAN

Apakah anda boleh menginformasikan kepada saya, nama ulama atau mazhab yang menyatakan wajibnya memakai penutup kepala(Kopiah) bagi laki-laki?

JAWAB:

Alhamdulillah.

Kami tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat wajibnya memakai penutup kepala bagi laki-laki. Sekelompok ulama menganggap hal itu termasuk hal yang mustahab (dianjurkan).

Dan tak memakai penutup kepala di hadapan orang-orang, menurut mereka termasuk hal yang menghilangkan muruah (kehormatan/kewibawaan). Terutama bagi orang yang sudah berusia tua atau seorang ulama.

Keadaan mereka ini, jika tak memakai penutup kepala, dianggap lebih buruk, dibandingkan jika yang melakukannya selain mereka.

Menurut pendapat yang soheh, tak memakai penutup kepala bukanlah termasuk hal yang menghilangkan muruah untuk setiap masa dan tempat. Namun hukumnya berbeza-beza, mengikuti perbezaan adat dan kebiasaan yang berlaku.

Asy-Syathibi rahimahullah membagi hal yang menjadi adat dan kebiasaan manusia menjadi dua bagian:

Bagian pertama:

Yang baik dan buruknya ditunjukkan oleh dalil Syariat. Untuk bagian ini, yang menjadi rujukan adalah Syariat, dan adat atau kebiasaan yang berlaku tak diperhitungkan.

Misal, membuka aurat. Ia sesuatu yang buruk, dan dilarang oleh Syariat, meskipun banyak orang yang menjadikannya kebiasaan.

Misal lain, menghilangkan najis. Ia hal yang baik, diperintahkan oleh Syariat, meski ramai orang tak peduli terhadap keberadaan najis dan tidak menjaga diri darinya.

Bagian kedua:

Yang menjadi adat atau kebiasaan manusia, dan tidak ada dalil Syariat yang menafikan atau menetapkannya.

Bahagian kedua ini terbagi menjadi dua lagi:

Pertama, adat dan kebiasaan yang tetap dan tidak berubah, seperti keinginan untuk makan dan minum.

Kedua, adat dan kebiasaan yang boleh berubah. Sehingga baik dan buruknya suatu hal boleh berubah, mengikuti perbedaan yang ada di tiap masyarakat.

Asy-Syathibi mencontohkan bahagian ini dengan pernyataannya: Misalnya, tidak memakai penutup kepala, hukumnya berbeza tergantung tempatnya. Ia bagi orang-orang yang memiliki muruah, termasuk hal yang buruk, di negeri-negeri timur, namun tidak buruk di negeri-negeri barat.

Dan hukum Syariat atas hal ini berbeza-beza, mengikuti perbezaan tempat. Bagi penduduk timur, ia merusak sifat adil pada seseorang, sedangkan bagi penduduk barat, tidak merusak.(Al-Muwafaqat: 2/284)

Kesimpulannya, hukum memakai penutup kepala bagi laki-laki termasuk hal yang harus mengikuti adat dan kebiasaan yang berlaku.

Dan seseorang selayaknya menyesuaikan diri dengan adat dan kebiasaan masyarakat yang ia tinggal di dalamnya, selama itu tidak menyelisihi Syariat.

Hingga ia tak terjatuh pada syuhrah (berbeda dari orang kebanyakan, agar menjadi pusat perhatian) yang dilarang Syariat, kerana berbeza dari orang kebanyakan dalam hal pakaian atau selainnya.

Wallahu a’lam.  ISLAMQAISLAMPOS



23 Januari 2021


 Sebda Rasulullah SAW 

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

“Dikatakan kepada Shahibul Quran (orang yang membaca/menghafalkan Al Qur’an) nanti: ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau mentartilnya di dunia. Kerana kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud no. 1464 dan Tirmidzi no. 2914. Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah no. 2240 mengatakan bahwa hadis ini shohih)

Tentunya membaca dan menghafalkan, serta berulangkali mengulangi bacaan telah membuat kita dekat dengan al-Quran. Namun ada hal-hal lain lagi yang dapat membuat kita lebih dekat lagi dengan al-Quran. Mari kita ikuti bersama penjelasan di bawah ini.

1-Tafakkur dan tadabbur

Allah SWT berfirman:

(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) (محمد:24)

“Maka apakah mereka tidak men-tadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Tafakkur dan tadabbur adalah gerbang bagi kita untuk mengambil hikmah dan pelajaran yang tersimpan di dalam Al-Quran baik secara terang-terangan maupun secara tersembuyi. Dengan sering bertafakkur dan tadabbur, kita akan semakin terpesona akan betapa indahnya pesan-pesan yang Allah SWT sampaikan kepada kita. Keimanan dan Ilmu kita akan bertambah. Dan akhlak kita semakin sesuai dengan aklaq al-Quran.

2 Belajar Tafsir

Bagi seorang yang sedang menjalani proses tahfiz al-Quran, belajar tafsir akan menguatkan pemahaman terhadap al-Quran sehingga menambah kecintaan pada al-Quran. Belajar tafsir yang paling ideal adalah dengan berguru secara khusus kepada Ustaz ahli tafsir. Jika memang itu tidak memungkinkan, hadirilah kajian-kajian tafsir yang diadakan secara rutin di masjid ataupun lembaga pendidikan terbaik yang terdekat dari kediaman anda.

Jika itu masih belum memungkinkan, bacalah buku tafsir. Dengan memperbanyak membaca kitab tafsir akan membantu kita untuk memahami lebih dalam kandungan makna dalam tiap ayat yang kita hafalkan.

3 Mempelajari Bahasa Arab

Sungguh adalah sebuah kenikmatan jika kita berdiri untuk solat, lalu kita memahami tiap bacaan yang dibaca atau imam. Saat ayat al-Quran menegaskan tentang larangan riba, kita teringatkan untuk menjauhi riba. Ketika Allah berbicara tentang pedihnya azab di neraka, jiwa kita terhenyak dan tersadar. Saat kalam ilahi tersebut bertutur tentang keindahan dan kenikmatan syurga, hati kita serasa damai dan tenang.

Maka tidak hairan jika kita menyaksikan beberapa orang menangis saat membaca al-Quran, bahkan saat membaca al-Quran dalam solat. Hal tersebut kerana mereka memang memahami kandungan dari ayat yang dibaca.

Tentunya kunci untuk memahaminya adalah dengan mempelajari bahasa Arab.

Bahasa Arab adalah sebuah bahasa yang akan selalu ada hingga hari kiamat. Mengapa? Kerana Allah telah berjanji akan menjaga Al-Quran. Dan kerana Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, maka dengan demikian keberadaan bahasa Arab juga terjaga sebagaimana terjaganya Al-Quran.

Dalam surat Yusuf ayat 2, Allah SWT secara eksplisit menjelaskan bahawa Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab agar kita memahami dan mengerti.

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

Ertinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti.”

Kalimat ‘ta’qiluun’ dalam bahasa arab merupakan bentuk mudhari’ (present tense) dari ‘aqala (عقل) yang bererti “adraka haqaaiqu al-asyyaa’” (mengetahui hakekat sesuatu).

Dengan kata lain, diturunkannya al-Quran dengan bahasa Arab adalah agar kita benar-benar mengetahui dengan jelas dan terang hakekat dari apa yang Allah sampaikan kepada kita.

Belajar bahasa Arab juga memudahkan kita dalam mempelajari kitab tafsir langsung dari bahasa Arab. Tidak dapat dipungkiri, sebuah bahasa selalu memiliki keunikan dan kedalaman makna yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Terlebih lagi dalam bahasa Arab.


Pelajarilah bahasa Arab. Setidaknya pelajari dasar kata-katanya. Setelah pelajari dasarnya, tingkatkan hingga mempelajari nahu dan sharafnya. Setelah itu, tingkatkan lagi dengan mempelajari balaghah-nya. Kemudian, tingkatkan lagi dengan menajamkan zauq (sense) bahasa dengan melahap buku-buku berbahasa Arab.


4 Mendalami tahsin qiroah saat tahfidz Quran

Membaca, apalagi tahfiz Quran dengan bacaan yang benar (baik secara tajwid maupun makharijul huruf-nya) akan mencegah terjadinya kesalahan dalam memahami al-Quran. Kerana kesalahan dalam membaca satu huruf saja, akan dapat mengubah erti hingga 180 derajat.

Misal sederhana, kata لا secara tajwid harus dibaca dengan mad thabii, yaitu sepanjang 2 harakat. dalam bahasa Arab, kata ini berarti ‘tidak’. Namun jika dibaca pendek, kata لَ justru merupakan sebuah penekanan yang berarti ‘sungguh’

Contoh lainnya, huruf ‘ain (ع) harus dibaca dengan makharijul huruf yang tepat. Jika tidak tepat, maka ia akan terdengar sebagai huruf hamzah (ء). Kata ‘aliim (عليم)akan berbeda sangat jauh ertinya dengan aliim (أليم). Yang pertama berarti ‘Maha Mengetahui’, sementara yang kedua berarti ‘(azab) yang pedih’

5 Mengamalkan kandungan al-Quran

Tentunya akan menjadi sebuah kerugian jika seorang yang telah menghafal serta memahami al-Quran namun tidak mengalkan isinya. Jangan sampai kita termasuk dalam golongan yang diibaratkan sebagai keledai dalam ayat ini:

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS Al-Jumuah: 5)

Demikian 5 hal yang dapat kita lakukan agar saat kita menjalani tahfidz al-Quran kita dapat kian dekat dengan al-Quran dan semakin dicintai Allah SWT.

 Sampaikan PAHALA kepada mereka



18 Januari 2021


 1. Bahagia itu ibarat kupu-kupu. Jika kamu mengejarnya, ia lari darimu, tapi jika kamu duduk dengan tenang, ia akan turun ke tanganmu. Maka bersabarlah kerana sabar itu indah.

2. Hidup tidak akan berhenti. Allah senantiasa mengiringnya dengan kelembutan dan rencana-Nya dengan harapan baru dan tekad yang tidak pernah hilang.

3. Saat kamu sakit gigi, ingatlah Rasulullah yang giginya patah kerana perang. Saat kamu difitnah, ingatlah Rasulullah difitnah penyihir dan gila.

4. Jangan memberitahu sesiapa pun tentang maksiatmu kerana dua sebab. Pertama, kerana maksiat bukan untuk dibanggakan. Kedua, kerana manusia takkan melupakan keburukanmu walaupun kamu telah bertaubat.

5. Bila yang ditimpa musibah itu orang yang kita cinta, maka kita akan katakan itu penghapus dosa. Bila yang ditimpa musibah itu orang yang kita benci maka kita akan mengatakan itu hukuman dari Allah. Berhati-hatilah jangan menghukumi takdir Allah dengan hawa nafsu kita.

6. Jika seseorang hamba tahu bagaimana Allah mengatur seluruh hidupnya, maka dia akan menyadari bahawa Allah mencintainya lebih dari cinta kedua orang tuanya sehingga hatinya akan condong mencintai Allah.

7. Kaca yang pecah, suaranya akan hilang dan meninggalkan serpihan yang akan melukai siapa yang menyentuhnya. Begitu juga perkataan yang melukai hati, suaranya akan cepat hilang tapi lukanya akan kekal untuk waktu yang lama. Kerana itu, janganlah berkata sesuatu kecuali yang baik-baik saja.

8. Jika kamu merasa sangat nyaman, aman dan tanpa rasa takut di kediamanmu, apalagi yang kamu harapkan selain itu? Puji dan syukur kepada Allah atas kebahagiaan yang kamu miliki dan akuilah nikmat itu dengan pengakuan yang tulus.

9. Saya sering bilang, jangan pandangi wanita yang belum berhijab. Jangan pandangi dia dengan penilaian buruk. Barangkali dia punya dua rakaat Tahajjud di sisi Allah, sehingga segala dosanya terampuni. Kita tak tahu hati dan urusan manusia dengan Allah, masing-masing punya rahsia dengan Allah.

09 Januari 2021

 


KETIKA kita bersujud, itu adalah dimana ketika hampir tidak ada hijab dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Maka tidak hairan, kita dianjurkan untuk banyak berdoa setiap kali kita bersujud.

Nah, dari semua itu, ada tiga doa yang janganlah kita lupakan dalam sujud.

1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah

١. اللهم إني أسألك حسن الخاتمة


Ertinya : “Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah.”


2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan taubat sebelum wafat

٢. اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت

Ertinya: “Ya Allah berilah aku razeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat.”

3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas agamaNya.

٣. اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك


Ertinya: “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu.” [IP]



06 Januari 2021


Soalan
Bolehkah kita membina masjid kecil di dalam rumah dan kita beriktikaf di dalamnya?

Jawapan Ulama'

Asy-Syaikh Qalyubi (w. 1069 H) mengatakan:

إنْ بُنِيَ فِيهَا دَكَّةٌ وَوُقِفَتْ مَسْجِدًا صَحَّ فِيهَا. وَكَذَا مَنْقُولٌ أَثْبَتَهُ وَوَقَفَهُ مَسْجِدًا ثُمَّ نَزَعَهُ

“Jika seseorang membangun semacam panggung kecil kemudian mewakafkannya sebagai masjid, maka sah. Begitu pula jika ia membuat sebuah alas sebagai alas permanen di sebuah tempat kemudian ia wakafkan sebagai masjid, meskipun nantinya ia bongkar.” (Qalyubi, Hasyiyah ‘ala Kanz Ar-Raghibin (II/97). Beirut: Darul Fikr, 1995 M)

Poin ini lebih jelas lagi dalam fatwa Asy-Syaikh Ali Az-Ziyadi (w. 1024 H) sebagaimana disebutkan Asy-Syaikh ‘Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H):

إِذَا سَمَّرَ حَصِيرًا أَوْ فَرْوَةً فِي أَرْضٍ أَوْ مَسْطَبَةٍ وَوَقَفَهَا مَسْجِدًا صَحَّ ذَلِكَ وَجَرَى عَلَيْهِمَا أَحْكَامُ الْمَسَاجِدِ وَيَصِحُّ الِاعْتِكَافُ فِيهِمَا وَيَحْرُمُ 

عَلَى الْجُنُبِ الْمُكْثُ فِيهِمَا وَغَيْرُ ذَلِكَ

“Jika seseorang meletakkan permaidani, alas kulit, atau sajadah lalu memakunya di dalam rumah miliknya (yang telah ia beli atau sewa), atau ia membuat panggung kecil atau tempat semisalnya dari kayu, kemudian ia mewakafkannya sebagai masjid, maka sahlah yang demikian itu. Dengan demikian, berlaku padanya hukum-hukum masjid sehingga sah pula beritikaf di sana dan haram pula orang yang berhadas besar untuk menetap di situ.” (Asy-Syarqawi, Hasyiyah ‘ala Tuhfah Ath-Thullab (II/370-371). Beirut: Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 1997 M)


Fatwa ini juga dinukil dan disetujui oleh para ulama Syafi’iyyah setelahnya, semisal Asy-Syaikh ‘Abdulhamid Asy-Syarawani (w. 1301 H)[2] dan Asy-Syaikh ‘Ali Bashabrin (w. 1305 H)[3].

Hal yang menjadi catatan di sini adalah karpet atau panggung kecil yang ditaruh dirumah haruslah diwaqafkan sebagai masjid. Dengan mewaqafkannya sebagai masjid barulah hukumnya berubah menjadi masjid sehingga boleh i’tikaf di atasnya.

Nah, selama karpet atau panggung kecil tadi masing terpasang kukoh di sudut rumah kita, bahkan meski rumah sewa, maka hukumnya adalah masjid. Jika sudah dibongkar, maka pendapat yang terkuat di internal Mazhab Syafi’i, ialah sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam As-Suyuthi (w. 911 H) dalam salah satu fatwa beliau, bahawa sudah tidak lagi berlaku hukum masjid padanya[4]. Ini juga yang ditegaskan oleh Asy-Syaikh Sa’id Ba’asyin (w. 1270 H)[5].BACA SEMUANYA.

04 Januari 2021

Kita seumpama apa ya ???


DALAM hadis, Rasulullah Muhammad banyak memberikan perumpamaan. Semua Perumpamaan itu dimaksudkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berakal.

1. Bagaikan Pohon :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء

“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan. Sedangka perumpamaan orang munafik seperti pohon yang kuat tidak pernah digoyangkan angin sampai ia ditebang.” (al-Hadis)

2. Bagaikan Bangunan

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebahagian menguatkan sebahagian yang lain.” [Shahih Muslim No.4684]

3. Bagaikan Tubuh

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

4. Bagaikan Cermin

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” [sanadnya Hasan]

5. Bagaikan Lebah

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ

“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi]

6. Bagaikan Pohon Kurma

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ , مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.

Ertinya: ” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermampaat bagimu.” (HR: Thobrani)

7. Bagaikan Emas

مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.


Ertinya: “Perumpamaan seorang mukimin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang.” (HR. Baihaqi)

copyedit

;;