13 Januari 2010

Cerita 11 isteri tentang suami mereka



Cerita ini telah diceritakan oleh Aisyah r.a
Sebelas perempuan sedang duduk bersama dan saling bercerita. Mereka sepakat untuk tidak menyembunyikan apa pun tentang suami mereka.

Perempuan pertama:
Suami saya seperti daging unta yang  kurus yang berada dipuncak gunung(angkuh). Sulit untuk dijangkau (Tidak suka berbuat baik). Tidak ada jalan datar untuk sampai ke sana( berperangai buruk). Tidak ada pula lemak yang boleh diambil darinya( Tidak ada kebaikan yang boleh dimanfaatkan darinya)



Perempuan kedua:
Saya tidak boleh bercerita tentang suami saya. Terlalu banyak hal yang harus saya sebutkan. Jika saya menyebutnya, maka hanya kekurangan dan keburukan yang boleh saya sebutkan.(Cerita tentang suaminya terlalu panjang dan dia juga khuatir akan diceraikan oleh suaminya jika dia menceritakannya)

Perempuan ketiga:
Cerita tentang suami saya sangat panjang dan menceritakaayannya tidak berguna. Jika saya mengungkapkankeburukanya, maka saya akan dicerai, dan jika saya diam saja, maka akan diabaikan saya, seola-olah saya bukan isterinya.

Perempuan keempat:
Suami saya seperti suasana malam di Tihamah(dataran antara pantai dan gunung), tidak panas dan tidak dingin, tidak menakutkan dan tidak membosankan.

Perempuan kelima:
Di dalam rumah suami saya tidur dan lalai seperti cheetah. Di luar rumah ketika bersama orang ramai atau di dalam peperangan suami saya seperti singa, ia tidak pernah bertanya tentang apa yang telah ia berikan untuk keluarganya.

Perempuan keenam:
Suami saya selalu menghabiskan makanan dan minuman tanpa sisa, ia tidur dengan bajunya( menyendiri dan tidak menggauli isterinya). Ia tidak pernah memberikan perhatian untuk mengentahui keadaan atau kesedihan isterinya.

Perempuan ketujuh:
Suami saya impoten dan idiot. Setiap penyakit manusia ada dalam dirinya. Ia dapat melukai kepalamu, dan mematahkan tulangmu, atau bahkan kedua-duanya.

Perempuan kelapan:
Sentuhan suami saya selembut sentuhan seekor arnab. Aroma tubuhnya seharum Zarnab( sejenis wangian)

Perempuan kesembilan:
Suami saya seperti tiang yang tinggi(mulia). Banyak abu sisa memasak di rumahnya( selalu melayan tetamu). Ia memiliki tali pedang yang panjang(tubuhnya yang tinggi). Rumahnya berdekatan dengan tempat orang-orang berkumpul( selalu dikunjungi)

Perempuan kesepuluh:
Suami saya adalah penguasa. penguasa seperti apa? Penguasa yang lebih baik daripada apa yang boleh diceritakan. Ia memiliki unta-unta yang banyak di tempat-tempat binatang mendekam. Hanya sedikit unta-untanya yang dilepas untuk merumput. Jika unta-untanya mendengar alat muzik berbunyi, maka mereka tahu bahawa sebentar lagi mereka akan disembelih(untuk dihidangkan kepada tetamu)

Perempuan kesebelas berkata:
Suami saya adalah Abu Zar'in. Dia adalah orang yang memberi perhiasan kepada kedua telinga saya, menjadikan saya gemuk, dan membuat saya gembira. Dari keluarga pengembala kambing di sudut gunung ( keluarga yang miskin). Dia mengangkat saya menjadi sebahagian dari keluarga pemilik kuda dan unta, keluarga pemilik tanah yang tinggal menikmati hasil tuaian. Setiap ahli keluarga berbicara kepadanya, ia tidak pernah mengejek saya. Tidur saya pun tidak pernah terganggu( Kerana dia memiliki pembantu yang mencukupi keperluannya). Saya boleh minum hingga puas dan kenyang.
     Kemudian ibu mertua saya. Dia memiliki peralatan rumah tangga yang banyak dan rumah yang lapang. lalu anak-anak laki-laki kami. Dia adalah anak lelaki yang ramping seperti tangkai kurma terjulur dan akan merasa kenyang hanya dengan memakan sepotong kaki kambing (gaya makannya yang sedikit). Kemidian anak perempuan kami. Dia adalah anak perempuan yang selalu mematuhi orang tuanya, tubuhnya padat berisi, selalu menimbulkan iri hati teman-temannya ( kerana keelokan wajahnya dan keluhuran budi pekertinya). Lalu pelayang rumah kami. Dia adalah pelayan yang pandai menyimpan rahsia, yang pandai menjaga amanah, yang tidak pernah membiarkan rumah kami kotor dan tidak terurus.
       Satu hari Abu Zar'in , suamiku keluar rumah. Waktu itu adalah masa susu dipruduksi menjadi mentega. Dia bertemu dengan seorang perempuan yang memiliki bokong yang montok, dan ia ditemani oleh dua orang anaknya yang lincah seperti dua ekor anak Chetah. Maka suamiku menceraikanku dan menikahi perempuan itu. Setelah itu aku menikah lagi dengan seorang lelaki yang mulia dan dermawan. Binatang tunggangannya adalah seekor kuda yang kuat dan tak kenal lelah. Ia memiliki tombak yang dibuat di Kahnnth( Sebuah daerah di pesisir antara Oman dan Bahrain). Saya diajak olehnya untuk melihat binatang ternaknya yang banyak. Lalu ia memberi saya sepasang dari setiap binatang itu. Ia berkata kepada saya, Makanlah wahai Ummu Zar;in, dan berikanlah sebagai hadiah untuk keluargamu. Jika saya gabungkan segala sesuatu yang pernah dia berikan, maka semua itu tidak akan bererti apa-apa dibandingkan dengan bejana paling kecil yang dimiliki oleh Abu Zar'in.
lalu Aisyah berkata:
Kemudia Rasulullah saw berkata kepadaku: " Aku bagimu sama seperti Abu Zar'in bagi ummu Zar'in"
( Riwayat Tarmizi-Bukhari dan Muslim) 
.....tunggu sambungannya

0 Comments:

Post a Comment