30 Mac 2015

TEHRAN  - Selama ini hubungan Barat dan Iran masih terkesan abu-abu atau sengaja disamarkan. Hubungan keduanya justru seolah bertentangan, yaitu dalam penggunaan dan pembangunan fasiliti nuklier. Namun dalam berbagai peristiwa, hal-hal yang samar tersebut menjadi tersingkap. Layaknya sebuah bayangan, semua akan terungkap jika munculnya cahaya.

Salah seorang pejuang Suriah yang tengah berada di pusaran konflik global Timur Tengah berusaha untuk menyingkap hal ini. Berikut Kiblat.net hadirkan sebuah tulisan yang aslinya berjudul: “Unmasking The Shadow Allies”.

Sudah tak terhitung. Berapa banyak orang-orang Kurdi dari Barat dan Timur yang bergerak ke Iraq dan Kobani. Mereka berjuang bersama Peshmerga, YPG, PKK dan kelompok lainnya untuk memerangi Daulah. Tidak hanya orang-orang Kurdi dari Barat dan Timur, tapi Kurdi di seluruh dunia juga ikut bergabung. Datang dari berbagai elemen; kelompok preman dan gank Amerika, tentara bayaran Israel, bahkan doktor hewan......lagi 


Pejuang Kurdi dari Barat yang ikut bergabung memerangi Daulah, bebas dari dakwaan apapun. Tak ada penangkapan di bandara-bandara, pasport mereka masih bebas digunakan, dan tidak ada larangan terbang atau bepergian. Ini berbeda dengan perlakuan terhadap pejuang-pejuang asing di Barat yang ingin berjihad di Suriah.

Barat hanya memainkan politiknya terhadap umat Islam yang ingin membela rakyat sipil Suriah atas tindakan kejam Bashar Assad. Kebijakan ini berlaku di seluruh dunia.

                                                                   
Kita juga melihat bahwa Barat menekan Turki dengan intervensi militer atas Kobani. Di saat yang sama, kenapa hal ini tidak dilakukan Barat saat Bashar Assad melakukan pembunuhan terhadap rakyatnya –sedangkan sama-sama dari daerah yang berbatasan?

Jika ingin lebih jauh, maka pertanyaannya; kenapa Barat tidak memaksa Mesir untuk melakukan intervensi militer ketika rakyat Muslim dibantai oleh Zionis di Gaza? Apakah negara Timur Tengah hanya wajib membantu saudaranya saat Barat punya kepentingan di dalamnya?

Ketika umat Islam pergi ke Suriah melalui Turki dalam rangka membantu saudaranya, Barat berteriak bahwa perbatasan Turki harus ditutup. Sementara itu ribuan Muslim ditangkap dan diusir. Tapi saat terkait darah Kurdi di Kobani, para pejuang Peshmerga yang menyeberang dari Irak ke Kobani, secara pribadi diterima dan dan disambut oleh Turki. Ini berdasarkan perintah Barat yang disaksikan oleh dunia.

Milisi PKK, Hizbullah atau sejenisnya –yang pernah masuk daftar teroris oleh Barat—justru mendapat dukungan secara terbuka ataupun tertutup, langsung maupun tidak langsung. Paling tidak, mereka dibukakan pintu seluas-luasnya, sedangkan menutup rapat-rapat pintu bagi para mujahidin yang ingin membela umat Islam.

Hal ini terlihat jelas di Lebanon dan negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Milisi Syiah Hizbullah dapat melenggang bebas ke Suriah untuk berrgabung dengan Bashar Assad. Di sisi lain, Muslim Sunni dari Lebanon atau negara lainnya dihalau untuk bergabung dengan mujahidin di Suriah. Milisi Syiah dari negara lain; Irak, Lebanon, Yaman, Afghanistan dan Iran juga dipersilahkan melakukan hal serupa.

Garda Revolusi Iran juga secara terbuka berperan langsung dalam tentara Suriah. Ini sudah menjadi konsumsi publik. Namun, apakah barat dan dunia internasional pernah mengajukan protes atas hal ini. Semua tuduhan hanya tertuju kepada Muslim Sunni yang ingin membantu dan melindungi warga sipil tak bersalah di Suriah.

Milisi Syiah Hautsi menyerang kota-kota di Yaman, mengambil alih ibukota Sana’a, mengepung istana presiden, mengusir mantan presiden Yaman Abdu Rabbi Mansur Hadi, dan menempatkannya di bawah tahanan rumah. Kudeta Hautsi ini hampir-hampir tidak pernah menghiasi media-media Barat. Lantas, bagaimana dengan para mujahidin yang selalu mendapat sorotan besar di Irak dan Suriah.

Padahal, pemberontak Syiah Hautsi dengan mudahnya berhasil mengakuisisi Yaman tanpa perlawanan. Mata dunia seolah buta dengan tindakan ini. Ketika milisi Syiah Hautsi di Yaman ditangkap, dunia Arab dan Barat hanya melakukan sebuah perundingan. Mengapa mereka bersikap acuh tak acuh saat milisi Syiah melakukan sebuah perlawanan? Di sisi lain dunia begitu waspada ketika mujahidin Sunni membebaskan sebuah kota di negara mereka sendiri.

Bandingkan dengan Al-Qaidah dan Anshar Syariah yang menguasai sebuah kota di Yaman, berapa banyak negara yang berkumpul membentuk koalisi menyerang mereka? Ketika Al-Qaidah dan Anshar Syariah mengambil alih kota-kota di Yaman; Adan dan Abyan pada tahun 2012 dengan sebuah pemerintahan syariah. Maka, militer Yaman langsung melawan mereka dengan dukungan dan bala bantuan internasional.

Tapi sekarang ini dunia betah menonton, manakala pemberontak Hautsi mengambil alih Yaman tanpa ada perlawanan, baik dari tentara Yaman ataupun dunia. Bahkan, serangan udara AS justru diarahkan kepada Al-Qaidah dan anggota Anshar Syariah serta suku-suku Sunni di Yaman. Padahal mereka sedang berjuang untuk memerangi Syiah Hautsi. Waktu serangan udara tampaknya dikoordinasikan dengan pemberontakan Hautsi, seperti di kota Radaa. Ini semakin memperjelas bahwa Syiah menjadi sekutu bayangan Barat di Timur Tengah.

Ketika AS menginvasi Afghanistan, Syiah Aliansi Utara mereka jadikan sekutu utama. Dalam invasi Irak, mereka juga menjadikan Syiah Irak dan Iran sebagai sekutu utama. Sekarang, Syiah di Irak menjadi sekutu penting dalam koalisi Barat melawan Daulah. Iran sudah mulai menampakkan jati dirinya, diberi peran langsung oleh Barat dalam jalinan koalisi.

AS sudah lupa tentang sengketa program nuklir dengan Iran. Di sisi lain, Israel tidak ada keluhan tentang hubungan AS-Iran ini. Semua sengketa yang menjurus ke Iran, tiba-tiba hilang tanpa sebuah pengungkitan.

Jadi, asumsi bahwa AS bekerja sama –secara diam-diam—dengan Syiah Alawit Suriah dan Syiah Zaidi Yaman di bawah payung Iran bukanlah sebuah paranoid. Sayangnya, banyak kalangan Muslim hanya tertuju pada ancaman Salafi Arab Saudi, sementara itu mereka ceroboh tentang ancaman Safawi Iran. Padahal, kedua negara tersebut terlibat dalam proyek korupsi yang sama. Kecerobohan ini adalah akar pemberontakan Safawi Syiah di negeri-negeri Sunni.

Umat Islam sering terlihat naïf dan bingung –terutama di Barat. Mereka sebagian besar terkena propaganda bahwa mujahidin dibiayai oleh negara-negara Teluk. Padahal permusuhan di antara mereka masih terjadi, di samping fakta bahwa negara-negara Teluk menjadi sekutu setia bagi Barat dalam perang melawan mujahidin.                                                                    
Ini menjadi sebuah pertanyaan, kenapa mereka masih dibingungkan dengan hal demikian. Mereka justru tidak dipusingkan dengan milisi Syiah Hautsi Yaman, Syiah Hizbullah di Suriah, atau tentara Syiah Irak yang semuanya –secara terbuka—didukung dan didanai oleh Iran.

Ini harus dipahami semua orang, bahwa rezim-rezim Arab di negara-negara Sunni adalah rezim boneka tirani yang berbahaya dan korup. Rezim ini tidak hanya melindungi kepentingan neo-kolonial Barat d wilayah tersebut. Tapi, mereka sebagai negara Teluk –yang mengaku bermusuhan dengan Syiah—ternyata membangun kolusi dengan Syiah terhadap Ahus Sunnah.

Arab Saudi dan negara Teluk lainnya secara terbuka membantu rezim Syiah di Irak dengan serangan udara terhadap Muslim Sunni. Secara langsung maupun tidak langsung, juga bekerja sama dengan Iran. Bagaimana mungkin mereka menyerang Muslim Sunni di Irak, sedangkan mereka mengaku sebagai penentang Syiah?

Tampaknya, pemberontak Syiah Hautsi Yaman secara tidak langsung didukung oleh Arab Saudi melalui mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh yang setelah jatuhnya mengungsi ke Arab Saudi.

Apakah perlakuan sama juga ditunjukkan kepada Zainal Abidin Ben Ali, mantan presiden Tunisia? Ali Abdullah Saleh mencoba menggunakan pengaruh politik dan tekanannya terhadap Yaman dengan mendukung pemberontak Hautsi. Dia melakukannya di bawah pengawasan dari Arab.

Mereka bisa merencanakan, sedangkan Allah juga mempunyai rencana. Setelah pemberontakan Hautsi, beberapa suku Sunni di Yaman telah bergabung dengan Al-Qaidah –di mana sebelumnya tidak mendukung. Pemberontakan Hautsi dan kekejaman rezim Assad mendorong umat Islam bergabung ke jajaran Mujahidin.

Al-Qaidah berhasil mempersenjatai suku-suku Sunni di Yaman dalam berjuang melawan Hautsi dan pemerintah boneka Yaman yang korup. Ini adalah masa depan jihad, jihad yang dipikul bersama oleh seluruh umat Islam melawan musuh berrsama.

Berbeda dengan jihad eksklusif Daulah yang melucuti suku-suku Sunni yang besar di Suriah dan Irak. Ini akan membuat umat Islam tak berdaya melawan musuh-musuhnya. Daulah seharusnya menarik diri dari daerah tersebut.

Di mana rezim-rezim Arab Sunni yang sekarang membantu Syiah Irak ketika umat Islam Gaza dibom dan dibunuh secara brutal oleh Zionis? Di mana mereka, ketika minoritas Muslim di Burma (Myanmar) dibantai dan dibakar oleh umat Budha? Di mana mereka ketika umat Islam Suriah dibantai oleh rezim Assad yang haus darah?

Ketika puluhan ribu Muslim Suriah dibantai, rezim-rezim tersebut hanya diam. Ini sudah menunjukkan kemunafikan. Ditambah, mereka memutuskan untuk menjalin koalisi dengan Barat di Mali Utara dengan alasan pembebasan dari kaum ekstrimis. Lantas, di mana mereka saat umat Islam di Republik Afrika Tengah menjadi korban pembersihan etnis? Ini juga terjadi di Afrika, sedangkan mereka hanya menuju ke Mali Utara.

Jika mereka menyerbu Mali Utara lantaran ekstrimis yang menindas penduduk lokal, kenapa mereka tidak menyerang Nigeria Utara yang nyata sebagai ekstrimis takfiri Boko Haram yang menewaskan ribuan warga sipil Muslim yang tidak bersalah?

Apakah kejahatan perang itu tidak dapat mereka lihat? Ataukah ekstrimisme, radikalisme, terorisme itu hanya sekedar pelabelan yang tertuju bagi mereka yang dikehendaki? Semua ini hanya pertanyaan retoris, di mana kita sudah tahu alasan sebenarnya.                                              
Pertempuran Kobani mendapat sorotan yang berlebih dari media. Sedangkan bagaimana dengan Suriah? Ratusan bahkan ribuan korban terjadi di Suriah, terkubur karena timpaan bom barel Bashar setiap harinya di kota-kota seperti Duma. Atau, apakah Kobani hanya digunakan untuk mengalihkan perhatian dunia untuk menutupi kejahatan perang ini?

Sehingga, penggunaan senjata kimia di Ghouta menjadi terlupakan, padahal telah menewaskan lebih dari 1.700 warga sipil Suriah hanya dalam satu serangan?
Sebuah garis merah ditarik oleh Obama. Sebulan sebelum Kobani diserang, PBB secara resmi memutuskan tidak lagi menghitung korban perang Suriah.

Di sini, kehidupan warga Muslim bahkan tidak layak mengisi daftar statistik mereka yang sederhana. Sedangkan di Kobani, Barat benar-benar khawatir terhadap warga sipil di sana? Siapakah yang sebenarnya mereka bodohi?

Di mana peran Barat ketika milisi Syiah Hizbullah menyerang Qusayr? Apakah ada yang ingat tentang Qusayr? Apakah ada yang mendengarnya? Amerika Serikat dan Iran telah melakukan kejahatan bersama dan bersekongkol ingn menghancurkan Muslim Sunni.


(ibass/abimontrono anwar/kiblat/voa-islam.com)

0 Comments:

Post a Comment