24 Oktober 2020















18 Oktober 2020

Kekesalan Ibn Taimiyyah

 


Antara petikan dari kata-kata ulama yang cukup memberi kesan terhadap diri saya ialah ungkapan Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah pada akhir hayatnya:

“Aku sungguh kesal kerana telah membazirkan kebanyakan masaku pada selain dari makna al-Quran” [Dzayl Tabaqat al-Hanabilah].

Sedangkan kehidupan ilmuwan tersohor ini sentiasa dipenuhi ilmu, penulisan, nasihat, jihad dan amal.

Bagaimana pula dengan harian kita yang lebih sibuk dengan urusan atau perbahasan yang kurang memberi manfaat kepada kehidupan akhirat kita?

Sangat benar apa yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Syafi’i:

“Ilmu selain dari al-Quran sentiasa menyibukkan” [al-Diwan].

Ya, bila kita tidak penuhi masa kita dengan ilmu-ilmu al-Quran, kita akan disibukkan dengan pengetahuan atau urusan yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah, mahupun bermanfaat buat kita di hari akhirat kelak.

Dr. KJ

28 April 2020




10 Ogos 2019

Menyembelih haiwan korban merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Tentunya, dalam ibadah tidak boleh sembarangan menentukan sendiri tata caranya. Semua amal ibadah, khususnya Korban, harus sesuai panduan yang telah dibuat Syariat. Oleh kerana itu, supaya ibadah korban kita diterima, ada beberapa hal penting harus diketahui. Berikut poin-poinnya secara ringkas:

Pertama: Berkorban termasuk salah satu Syariat Allah dan hukumnya Sunnah Muakkad, menurut jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah dan lainnya, dan wajib menurut pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan jika korban itu sudah dinazarkan maka seluruh ulama sepakat hukumnya wajib.

Kedua: Jika sudah masuk sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, para pengkorban dimakruhkan mencukur rambut dan memotong kuku. Namun jika kedua hal itu terlanjur dilakukan, tidak ada denda menurut kesepakatan ulama. Hikmah larangan cukur rambut dan potong kuku bagi pengkorban adalah untuk meniru orang yang sedang melaksanakan haji.

Catatan: Larangan ini khusus bagi orang yang berkurban. Wakil pengkurban dan keluarganya tidak masuk dalam hukum ini.

Ketiga: Saat menyembelih wajib membaca: “Bismillah Wallahu Akbar”. Dianjurkan menambah

04 Ogos 2019

Soalan: (voa-islam)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ada larangan menjual kulit qurban. Bagaimana caranya agar kulit itu bernilai ekonomi? Terima kasih.



Jawab:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah dan keluarganya.

Bagi orang yang berkurban dilarang membisneskan (menjual) bahagian dari haiwan qurban yang disembelihnya.  Baik itu daging, hati, jantung, paru, usus, kulit, bahkan kukunya.

Menyembelih haiwan qurban itu sebagai qurban (pendekatan diri) kepada Allah. Sedangkan amal-amal qurubaat tidak menerima penukaran dengan harga, maka tidak boleh dijual sebagaimana harta wakaf. (Dinukil dari Kitab Ahkam al-Udhiyah fi al-Fiqh al-Islami, DR. Walid Khalid al-Rabi')

Siapa yang menjual bahagian dari haiwan qurbannya maka tertolak ibadah udhiyah (qurban)-nya.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ

"Siapa yang menjual kulit haiwan qurbannya, maka tidak ada qurban untuknya (tidak diterima)." (HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi, dihassankan oleh Al-Albani dalam Shahih al-jami', no. 6118)

Pihak yang terkena hukum qurban ini adalah pengorban dan wakilnya. Panitia pelaksana penyembelihan haiwan qurban adalah wakil dari orang yang berqurban. Ia tak boleh bisneskan / jual belikan bahagian dari haiwan qurban yang diurusnya; baik itu daging, kulit, bulu, dan anggota haiwan qurban lainnya. Kalau diserahkan kepada pihak lain sebagai sedekah atau hadiah lalu dimanfaatkan maka itu boleh.

Solusinya: berikan kulit ke jamaah atau orang miskin, lalu terserah mereka, mahu diolah, dibuat kerajiban, atau dijual olehnya. Orang yang menerima daging haiwan qurban atau kulitnya boleh menjualnya. Tidak haram baginya dan juga tidak pengaruhi sahnya sebagai haiwan qurban. Wallahu a'lam.

06 Julai 2019

Tatkala para pemuda yang terdesak dan harus mengungsi di suatu tempat asing demi mempertahankan aqidah mereka, tibalah mereka di sebuah gua. Tentu untuk tinggal beberapa saat lamanya disana mereka memerlukan banyak perkara seperti makanan, selimut,tilam, toilet dan lain sebagainya. Rasanya mustahil mendapatkan keperluan semua itu di sebuah gua yang terpencil di tengah hutan belantara.

Tapi para pemuda tidak memaksakan permintaan tersebut kepada Allah. Mereka mencukupkan hanya dengan satu permintaan yang khusyu’ dan penuh keyakinan kepada Allah yang Maha Kuasa untuk menyelesaikan masalah dan kesulitan mereka dengan sebaik-baiknya.

(إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا)
[Surat Al-Kahf 10]

(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Allah SWT langsung merespon doa mereka dengan memberikan penyelesaian yang sangat indah, yakni menidurkan dan menjaga mereka selama 309 tahun lamanya. Masya Allah..

Baca semuanya di SINI

10 April 2019

Karakter Jahiliyah Modern

Penulis Fakhruddin
Saat mendengar kata jahiliyah, gambaran yang sering muncul di benak kita adalah era kebodohan yang jauh dari nilai peradaban, tidak bermoral dan penuh dengan praktek paganisme atau lebih simpelnya adalah zaman sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Anggapan seperti ini memang tidak sepenuhnya salah, namun kurang tepat jika definisi jahiliyah hanya dibatasi pada masa pra-islam yang terjadi di Jazirah Arab saja tanpa peduli mengapa mereka dijuluki jahiliyah.

Bila dilihat dari definisi syar’i, kata jahiliyah lebih tepatnya dipahami dengan makna segala sesuatu yang menyelisihi norma-norma Islam. Dalam hal apapun itu, bila menyimpang dari petunjuk Islam maka disebut jahiliyah. Mengapa demikian? Iya, kerana bila kata jahiliyah itu difahami hanya sebagai bentuk kebodohan dalam erti buta huruf atau kerana tidak punya aturan hidup sangat bertentangan dengan realiti yang ada saat itu. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab justru dikenal sebagai bangsa yang suka bersyair, pintar berdagang dan lihai dalam taktik perang.

Kerana itu, kata jahiliyah tidak cukup jika hanya dipahami sebagai kebodohan semata. Namun ada faktor yang lebih krusial mengapa julukan jahiliyah itu disematkan kepada bangsa arab pra-Islam. Secara umum, sebutan tersebut muncul karena prilaku atau cara pandang yang menyimpang dari  Islam. Meskipun hakikatnya pintar dalam urusan dunia, namun ketika prilaku atau cara pandangnya menyimpang dari Islam, maka esensi jahiliyah itu ada dalam dirinya. Bahkan terhadap umat Islam sekalipun, ketika perilakunya menyimpang dari Islam maka sejatinya dia sedang berperilaku jahiliyah.

Perhatikan bagaimana ketika Abu Dzar tidak sengaja menghina ibu dari sahabat Bilal bin Rabah, Rasulullah bersabda kepadanya:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ

“Rupanya masih ada dalam dirimu karakter jahiliyah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Demikian juga dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ada empat perkara jahiliyah yang sulit ditinggalkan umatku; berbangga dengan darah keturunan, mencela keturunan orang lain, meminta hujan dengan perantara bintang-bintang, dan meratapi mayat.” (HR Muslim)

Dengan demikian makna jahiliyah tidak hanya untuk menyebut suatu masa, era atau fase tertentu saja. Namun sebutan jahiliyah merupakan sifat yang dapat melekat pada setiap individu atau kelompok manusia tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Setiap perkara yang menyimpang dari petunjuk Nabi SAW maka dia disebut perkara jahiliyah. (Fathul Majid, hal: 261)

Abul A’la Al-Maududi berkata, “Jahiliyah adalah setiap cara pandang yang tidak sesuai dengan cara pandang Islam, yang dari cara pandang yang tidak islami tersebut lahirlah perbuatan-perbuatan jahiliah.” (Abu A’la Al-Maududui, Islam dan Jahiliyah, hal. 22-23)

Jahiliyah Modern, Menjauhkan Masyarakat dari Hukum Allah

Ibarat sejarah yang terus berulang, ia pasti akan kembali menampakkan wajahnya dalam bentuk yang berbeda, dengan sosok dan setting yang berbeda, namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Demikian juga dengan perkara jahiliyah itu sendiri. Hakikat atau perilaku jahiliyah yang pernah membudaya di kalangan Masyarakat Arab pra-Islam, juga terjadi kembali di era modern ini. Ada banyak karakter jahiliyah yang tercatat dalam lintasan sejarah. Di antaranya selain hobi minum khamer, mereka juga memiliki undang-undang yang menyimpang dari syariat Islam.

Karena itu, ketika risalah Islam itu datang mereka sepakat menolaknya. Dengan segala upaya mereka menghadang dan melumpuhkan dakwah Nabi SAW. Tidak berhenti disitu, mereka juga menjauhkan masyarakat dari seruan tauhid. Bahkan mereka tidak segan-segan mengkriminalisasi dan menyiksa siapa pun yang menyambut seruan tersebut. Hari ini tabiat-tabiat jahiliyah itu kembali terulang. Dengan settingan dan aktor yang berbeda, upaya pemisahan Islam dari aturan hidup masyarakat terjadi dalam pelbagai bidang; politik, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hukum dan sebagainya.

Bagi mereka, agama dipandang hanya sebagai urusan privat semata. Tidak perlu dibawa-bawa untuk mengatur kebijakan publik. Kehidupan sosial biarlah diatur hukum positif berdasarkan kemanusiaan dan toleransi dari akal budi manusia. Tidak perlu ada campur tangan tuhan di dalamnya. Efeknya, ajaran Islam hanya dipakai jika sesuai dengan selera akal mereka. Kondisi seperti ini melambangkan karakter bangsa jahiliyah zaman dahulu.

Muhammad Quthb dalam bukunya Jahiliyatul Qarnil ‘Isyrin, menjelaskan secara rinci bagaimana perilaku jahiliyah yang masih membudaya di zaman modern ini. Menurutnya, Jahiliyah modern merupakan miniatur dari segala bentuk kejahiliyahan masa silam dengan tambahan asesoris di sana-sini sesuai dengan perkembangan zaman. Sikap jahiliyah modern tidak timbul secara mendadak melainkan telah melalui kurun waktu panjang.

Bahkan kalau kita melihat pola pikir bangsa jahiliyah masa lalu, sejatinya mereka masih meyakini akan adanya Allah. Mereka juga paham jika Allah adalah tuhan Sang Pencipta alam semesta beserta isinya. Namun yang menjadikan mereka jahiliyah adalah ketika mereka tidak lagi memahami Allah secara hakiki, tidak beriman secara benar kepada-Nya, dan tidak mau berhukum kepada-Nya dalam semua aspek kehidupan mereka.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۚ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”; tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Lukman: 25)

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menjelaskan, “Allah Ta’ala menceritakan keadaan orang-orang yang musyrik bahwa mereka dalam hatinya mengakui bahwa Allah-lah Yang menciptakan langit dan bumi. Dia semata yang melakukannya, tiada sekutu bagi-Nya. Akan tetapi, selain dari itu mereka pun menyembah sekutu-sekutu lain beserta Dia, dan mereka pun tahu bahwa sekutu-sekutu itu adalah makhluk-Nya dan milik-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/348)

Mereka mengakui Allah tetapi tidak diikuti dengan konsekuensi dari pengakuan tersebut, tidak mau menjalankan syariatnya, tidak pula berhukum kepada Allah. Keadaan mereka yang seperti ini, Allah sebutkan dalam firman-Nya, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya,” (QS. Al-An’am: 91)

Dari sinilah inti karakter jahiliyah itu, yaitu tiadanya keimanan yang benar kepada Allah, tidak menjadikan Islam sebagai solusi hidupnya. Tidak mau berhukum kepada-Nya serta lebih memperturutkan hawa nafsunya. Allah ‘azza wajalla berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 60)

Segala putusan hukum yang berlawanan dengan Islam atau tidak mau menjadikannya sebagai pedoman disebut hukum jahiliyah. Yaitu hukum yang berdiri atas dasar hawa nafsu (kemauan) sekelompok orang yang menguasai urusan masyarakat. Hukum yang penuh intrik penguasa, hukum yang tidak lepas dari kepentingan konglomerat yang menguasai ekonomi rakyat. Karena itu Allah ta’ala perintahkan kepada orang-orang beriman: “Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah : 48)

Iman yang benar akan melahirkan sikap ketundukan kepada Allah dan selalu mengembalikan hukum kepada apa yang telah diturunkan-Nya. Sedangkan jahiliyah selalunya memperturutkan hawa nafsu. Karena itu, Muhammad Qutb menekankan bahwa Jahiliyah adalah menolak untuk menjadikan syariat Allah sebagai pedoman hidup, dan membuat suatu aturan, adat, tradisi dan undang-undang yang menolak hukum Allah. (Muhammad Qutb, Jahiliyyah al-Qarn al-‘Isyrin, hal. 42-46)

Sayyid Qutb menegaskan bahwa Jahiliah adalah segala sesuatu yang merenggut dan mengambil hak prerogatif Allah Ta’ala dalam membuat dan menetapkan suatu hukum, aturan, dan undang-undang. Dalam pandangannya, masyarakat Islam bukanlah sebuah perkumpulan atau kelompok manusia yang menamakan diri mereka ‘Muslim’ sedangkan syariat Islam tidak dijadikan undang-undang masyarakat tersebut, walaupun mereka patuh melaksanakan shalat, mengerjakan puasa, dan menunaikan haji ke Mekah. (Sayyid Qutb, Ma’alim fi al-Tariq, Hal. 149-150)

Totalitas menerima Islam sebagai solusi dalam setiap persoalan hidup merupakan konsekuensi dari Iman itu sendiri. Ketika kita mengakui Islam sebagai ajaran yang benar maka kita harus rela melepaskan seluruh tradisi jahiliyah yang bertentangan dengan syariat. Totalitas menanggalkan tradisi jahiliyah semacam inilah yang menjadi kunci kemuliaan umat Islam terdahulu. Wallahu a’lam bis shawab!(kiblat.net)


10 Februari 2019

Penyebab malapetaka

Dari Tsauban ra Rasulullah SAW bersabda," Sesungguhnya seorang hamba diharamkan baginya razeki kerana dosa yang ia lakukan, dan qadha' tak akan tertolak kecuali dengan doa,dan umur tak akan bertambah kecuali dengan kebaikan.(hadis riwayat Ahmad)

22 Disember 2018

Ciri yang disebutkan mengenai Ya’juj dan Ma’juj mirip Bangsa China, namun apakah itu manusia sepet saat ini?

“Kiamat tidak akan terjadi,” kata Nabi dalam salah satu hadisnya, “sampai kalian memerangi sekolompok orang yang sendalnya terbuat dari bulu, dan memerangi bangsa Turk, yang mana mereka bermata sepet, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek, wajah mereka berbentuk perisai yang bundar.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain riwayat Ahmad dan Ibnu Majah disebutkan, “Kiamat tidak akan terjadi hingga kalian memerangi suatu bangsa bermata sepet, bermuka lebar, bermata hitam, muka mereka seperti perisai, memakai sepatu bulu, membawa perisai dan mereka menambatkan kudanya di pohon kurma.”

Siapakah yang dimaksud dengan sekelompok orang yang bermata sepet, berwajah kemerah-merahan, berhidung pesek dan wajahnya seperti perisai bundar?

19 Disember 2018

Jabir meriwayatkan secara marfu' bahawa iblis adalah yang pertama sekali bernyanyi.

(petikan daripada kitab Kasyfu Ghaibiat, ms 275 oleh Imam Jalaludin Al-Sayuti).

17 November 2018

Surah Al-Muzammil ayat 20

..Allah jualah Yang menentukan Dengan tepat kadar masa malam dan siang. ia mengetahui Bahawa kamu tidak sekali-kali akan dapat mengira Dengan tepat kadar masa itu, lalu ia menarik balik perintahNya Yang terdahulu (dengan memberi kemudahan) kepada kamu; oleh itu bacalah mana-mana Yang mudah kamu dapat membacanya dari Al-Quran . ia juga mengetahui Bahawa akan ada di antara kamu orang-orang Yang sakit; dan Yang lainnya orang-orang Yang musafir di muka bumi untuk mencari rezeki dari limpah kurnia Allah; dan Yang lainnya lagi orang-orang Yang berjuang pada jalan Allah (membela ugamanya). maka bacalah mana-mana Yang sudah kamu dapat membacanya dari Al-Quran; dan dirikanlah sembahyang serta berikanlah zakat; dan berilah pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman Yang baik (ikhlas). dan (ingatlah), apa jua kebaikan Yang kamu kerjakan sebagai bekalan untuk diri kamu, tentulah kamu akan mendapat balasannya pada sisi Allah, -sebagai balasan Yang sebaik-baiknya dan Yang amat besar pahalaNya. dan mintalah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.


09 November 2018

KIBLAT.NET – Islam merupakan agama yang mengatur segala sendi kehidupan manusia. Sehingga tidak ada hal di muka bumi ini kecuali Islam menjelaskan aturan dan hukumnya. Masalah-masalah yang kecil dan remeh-temeh sekalipun, Islam tak luput untuk mengaturnya. Terlebih masalah kepemimpinan dan kekuasaan yang menyangkut hajat hidup kemanusiaan.

Dengan gambaran yang sangat indah, Imam al-Ghazali memberikan keterangan hubungan antara Islam dan kekuasaan. Dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin, beliau mengatakan :

والملك والدين توأمان فالدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

“Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak boleh dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah pondasi sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang.” (Ihya’ ‘Ulumuddin, 1/17)

Kerana itulah, Islam menganjurkan untuk mengangkat seorang pemimpin yang mampu mewujudkan hal tersebut. Memiliki kemampuan dalam memimpin dan memiliki visi untuk menjaga agama. Tidak asal popular dan disenangi orang ramai.

Pemimpin yang Mempermainkan Urusan Agama

Sebagaimana yang Allah perintahkan dalam al-Qur’an bahawa Allah Ta’ala melarang hamba-Nya untuk memilih pemimpin yang tidak punya visi menjaga agama. Terlebih mereka yang mempermainkan agama dan menggunakannya sebagai alat untuk meraih kekuasaan. Allah jelaskan dalam firman-Nya :

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Maidah : 57)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan contoh dalam hal ini. Beliau mengangkat seorang yang dapat dipercaya dan mampu menjalankan tugas tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada penduduk Najran :

لَأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهَا أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ

“Sungguh aku akan mengirim kepada kalian orang kepercayaan yang betul-betul dapat dipercaya.” Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merasa mulia (berkeinginan) dengan hal itu. Lalu beliau mengutus Abu Ubaidah.” (HR. Bukhari no. 3745 dan Muslim no. 2420)

Kerana sifat dan karakter pemimpin itu mampu mempengaruhi umat, jika pemimpinnya baik maka akan membawa kebaikan pada umat. Hal ini lah yang nampaknya disadari oleh para ulama salaf, sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin Iyadh rahimahullah :

لو كان لي دعوة مستجابة; لصرفتها للسلطان، فإن بصلاحه صلاح الأمة.

“Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, kerana baiknya seorang penguasa berarti baiknya negeri dan rakyat.” (Faidhul Qadhir, 6/398)

Larangan Mengangkat Pemimpin Munafik dan Fasik

Sedangkan al-Qur’an melarang kita untuk mengangkat pemimpin yang munafik. Sebagaimana ayat berikut :

فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا (88) وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَخُذُوهُمْ وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا (89)

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan  dalam (menghadapi) orang-orang munafik, Padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka  sebagai waliy (pemimpin), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (QS. An Nisa: 88-89)

Maka jelaslah bahwa menjadikan orang munafik sebagai pemimpin dilarang dalam al-Qur’an. Karena mereka selain akan merusak Islam itu sendiri, pada hakikatnya mereka lebih condong kepada kekafiran. Sehingga terjaganya agama dan terwujudnya maslahat bagi umat tidak tercapai.

Selain kemunafikan, ada aspek lain yang juga diperhatikan yaitu kefasikan dan kemaksiatan. Semua bentuk kefasikan dan maksiat adalah penghalang seseorang diangkat menjadi pemimpin. Hal ini karena pemimpin orang beriman juga dari orang yang beriman secara utuh, dengan mereka shalat, zakat, dan tunduk kepada aturan-aturan Allah Ta’ala.  Sebagaimana yang Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya waliy kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” (QS. Al Maidah: 55)

Dengan lebih rinci, Imam Abul Hasan Al-Mawardi menjelaskan :

فأما الجرح في عدالته وهو الفسق فهو على ضربين : أحدهما ما تابع فيه الشهوة .

والثاني ما تعلق فيه بشبهة ، فأما الأول منهما فمتعلق بأفعال الجوارح وهو ارتكابه للمحظورات وإقدامه على المنكرات تحكيما للشهوة وانقيادا للهوى ، فهذا فسق يمنع من انعقاد الإمامة ومن استدامتها ، فإذا طرأ على من انعقدت إمامته خرج منها ، فلو عاد إلى العدالة لم يعد إلى الإمامة إلا بعقد جديد …..

“Ada pun cacat dalam ‘adalah (keadilan) yaitu kefasikan, ini pun ada dua macam ; Pertama, dia mengikuti syahwat; Kedua, terkait dengan syubhat.

Bagian pertama (fasik kerana syahwat) terkait dengan perbuatan anggota badan, yaitu dia menjalankan berbagai larangan dan kemungkaran, baik kerana menuruti hawa syahwat, dan tunduk kepada hawa nafsu. Kefasikan ini membuat seseorang tidak boleh diangkat menjadi imam (pemimpin), dan juga sebagai pemutus kelangsungan imamah (kepemimpinan) nya. Jika sifat tersebut terjadi pada seorang pemimpin, maka dia harus mengundurkan diri dari imamah-nya. Jika ia kembali adil (tidak fasik), maka imamah tidak otomatik kembali kepadanya, kecuali dengan pengangkatan baru. ……..” (Al-Ahkam ash-Shulthaniyyah, hlm 28)

Maka jelaslah bahawa hukum asalnya Islam hukum melarang mengangkat orang-orang munafik untuk menjadi pemimpin. Termasuk dalam hal ini adalah kefasikan, yang akan membuat karakter seorang pemimpin cacat dalam menegakkan keadilan. Mengingat posisi pemimpin yang sangat strategik dalam Islam, sehingga harus bersih pula dari kemunafikan dan kefasikan.
Wallahu a’lam bish showab.  (Zamroni)

05 Oktober 2018

Di antara kata yang sering dipakai sehari-hari oleh masyarakat sepanjang sejarah peradaban adalah kata sabun, terutama di masyarakat Arab dan tentu, bangsa Melayu pada umumnya. Asal-usul kata ini, memang tidak boleh dipastikan secara tepat dari mana berasal.

Dalam Mu’jam al-Wasith dijelaskan bahawa, kata sabun (Arab:shabun) yang digunakan untuk mandi atau mencuci pakaian merupakan kata asing dan bukan asli Arab. Meskipun, dia masih mencoba menarik kata ini seakan-akan berasal dari bahasa Arab.

Sejumlah cendekiawan juga memastikan kata sabun bukan berasal dari Arab. Di antaranya al-Juwaliqi, Ibnu Mandhur, dan Ibnu Duraid. Akan tetapi, al-Azhari meng atakan, kata sabun adalah kata serapan yang sudah dianggap sebagai bagian dari bahasa Arab.

Penggunaan kata sabun juga sudah kuat semasa Ibnu Qutaibah yang dalam kitabnya al-Ma’arifbahkan menegaskan orang pertama kali mengunakan sabun adalah Nabi Sulaiman, putra Nabi Dawud AS. Kata sabun ini juga konon digunakan pula oleh bangsa lain seperti bangsa Persia dan Turki. sumber SINI

23 September 2018

1– Doa memulakan ulangkaji

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ وَالْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ لِسَانِيْ عَامِرًا بِذِكْرِكَ وَقَلْبِيْ مَلِيْئًا بِخَشْيَتِكَ، إِنَّكَ عَلَى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ.


Maksudnya: “Ya Allah! Aku memohon daripadaMu kefahaman para nabi, ingatan para rasul dan malaikat terhampir. Ya Allah! Jadikanlah lidahku basah dengan zikir kepadaMu, hatiku dipenuhi dengan takut kepadaMu. Sesungguhnya Engkau maha berkuasa di atas segala apa yang Engkau kehendaki.”

2– Doa selepas mengulangkaji

اَ.للَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَوْدِعُكَ مَا قَرَأْتُ وَمَا فَهِمْتُ وَمَا حَفِظْتُ فَرُدَّهُ إِلَيَّ عِنْدَ حَاجَتِيْ إِلَيْهِ، إِنَّكَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Maksudnya: “Ya Allah! Sesungguhnya aku menitip apa yang aku baca, faham dan hafal kepadaMu. Maka kembalikanlah ia kepadaku ketika aku memerlukannya. Sesungguhnya Engkau maha berkuasa di atas segala sesuatu.”

Doa Pada Hari Peperiksaan

Dicadangkan agar doa-doa berikut diucapkan pada hari peperiksaan, iaitu sebelum dan semasa peperiksaan berlangsung:


3- Ketika memasuki dewan peperiksaan:

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا


Maksudnya: “Dan katakanlah: “Wahai Tuhanku! Masukkanlah daku dengan kemasukan yang benar lagi mulia, serta keluarkanlah daku daripadanya dengan cara keluar yang benar lagi mulia; dan berikanlah kepadaku daripada sisiMu hujah keterangan serta kekuasaan yang menolongku.”


4- Ketika menerima kertas soalan:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي.

Maksudnya: “Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku. Dan mudahkanlah bagiku tugasku. Dan lepaskanlah simpulan daripada lidahku, supaya mereka faham perkataanku.”


5- Ketika sukar menjawab:

ياَ حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ.

Maksudnya: “Wahai Tuhan yang maha hidup lagi maha berdiri dengan sendirinya. Dengan rahmatMu aku bermohon pertolongan.”

    Atau:

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزَنَ الصَّعْبَ إِنْ شِئْتَ سَهْلاً.

Maksudnya: “Ya Allah! Tidak ada kesenangan melainkan pada perkara yang engkau jadikan kesenangan padanya. Dan engkau menjadikan kedukacitaan dan kesukaran sebagai mudah dan senang jika Engkau kehendaki.”


 Jika anda terlupa jawapan:

اَللَّهُمَّ يَا جَامِعَ النَّاسِ لِيَوْمٍ لاَ رَيْبَ فِيْهِ اجْمَعْ عَلىَ ضَالَّتِيْ مَعْلُوْمَاتِيْ.


Maksudnya: “Ya Allah! Tuhan yang menghimpunkan manusia pada hari yang tiada keraguan padanya. Himpunkan barangan dan maklumat yang hilang daripadaku

22 September 2018

Dari Abu Hurairah ra.Bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa mengucapkan;

    لا اله الاّ الله وحده لا شريك له. له الملك وله الحمد وهو على كلّ شيىء قدير
sebanyak seratus kali setiap hari maka ia menjadi perisai dirinya daripada Syaitan
(Hadis Bukhari dan Muslim)Riyadhus Shalihin Bab Zikir 

09 September 2018

Alhamdulillah semasa balik ke kampung Darul Hidayah Dusun Tua Hulu Langat Selangor pada 8.9.2018 saya sempat berguru dengan seorang ustaz(besan ibu saya) tentang petua islami untuk menjaga kesihatan mata. Sungguh luar biasa ilmunya kerana ustaz tersebut telah berusia 87 tahun tetapi matanya tetap sihat, terang dan jelas serta tidak perlu memakai kaca mata. Allahu Akbar jom belajar 3 ilmunya:

1: Amalkan ketika berwuduk
Semasa sedang berwuduk ketika anda sedang membasuh muka,simbahkan air ke mata anda beberapa kali sambil berselawat dan mohonlah semoga Allah memberi kesihatan kepada mata anda.

2:Amalkan ketika Bulan Terang
Lihatlah bulan terang di waktu malam sambil berselawat kepada Rasulullah SAW dan mohonlah kepada Allah agar disihatkan mata anda.

3:Amalkan di waktu pagi ketika bangun tidur:
Bacakan Selawat dan ayat ini [surah Qaf ayat 22] di atas tapak tangan sambil menggosokkan kedua belah tapak tangan sehingga terasa panas dan kemudian sapukan ke mata.

video untuk tambahan ilmu.

03 September 2018

Badrul Tamam: Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Selawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Suami isteri boleh atau bebas menikmati fizikal pasangannya dengan pandangan atau sentuhan. Kecuali mendatangi menggauli isteri di duburnya, menggauli isteri saat haid dan nifas. Inilah yang dikecualikan syariat dari bebasnya hubungan suami isteri. Selain itu dibolehkan; seperti memegang alat kelamin pasangan dan semisalnya.

Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ  إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al-Mukminun: 5-6)

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

"Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahawa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman." (QS. Al-Baqarah: 223)

Adapun onani atau masturbasi yang dilarang adalah mengeluarkan mani tanpa sebab jima’; seperti menggunakan tangannya sendiri. Adapun memuaskan syahwat dengan tangan pasangannya maka itu mubah atau dibolehkan.

Ibnu Abidin al-Hanafi berkata dalam Radd al-Mukhtar:

سَأل أبو يوسف أبا حنيفة عن الرجل يمس فرْج امرأته، وهي تمس فرْجه ليَتَحَرَّك عليها، هل ترى بذلك بأسًا؟ قال: لا, وأرجو أن يعظم الأجْر

“Abu Yusuf pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang seorang laki-laki yang membelai faraj isterinya dan sang isteri membelai kemaluan suaminya untuk membangkitkan syahwatnya, apakah menurut Anda itu tidak boleh? Beliau menjawab, "Tidak, aku berharap itu pahalanya besar”."

Zakaria al-Anshari berkata dalam Asnaa al-Mathaalin : Dan ia boleh mangeluarkan mani (masturbasi) dengan tangan isterinya dan budak wanitanya sebagaimana ia boleh menikmati seluruh tubuh keduanya.”

Begitu pula bagi isteri, ia boleh memuaskan syahwatnya (masturbasi) dengan tangan suaminya. Ini bukan termasuk masturbasi yang diharamkan.

Ini boleh menjadi salusi bagi suami yang mengalami ejakulasi awal, klimak sebelum isterinya orgasme. Maka ia boleh memuaskan isterinya dengan jari tangannya sehingga isterinya mengalami klimaks seksual. Wallahu A’lam. [voi]

03 Ogos 2018

Ayat Untuk Yang Akan Mengundi

Surah Yasin ayat 65. 
Pada waktu itu Kami meteraikan mulut mereka (sejurus); dan (memberi peluang kepada) tangan-tangan mereka memberitahu Kami (perbuatan masing-masing), dan kaki mereka pula menjadi saksi tentang apa yang mereka telah lakukan.

BUATLAH PILIHAN YANG TERBAIK UNTUK DUNIA DAN AKHIRAT KITA

29 Julai 2018

Rasulullah menjelaskan dalam banyak hadits tentang rumah-rumah tertentu yang tidak akan dimasuki Malaikat Rahmat.

Bagaimanakah rumah-rumah yang tidak akan dimasuki malaikat rahmat?

Di antaranya adalah hadis-hadis berikut ini:

Aku (Abu Thalhah) mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat (rahmat) tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada anjing dan (atau) gambar patung, (HR. Bukhari).

Dari Abu Thalhah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya malaikat (rahmat) tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar,”(HR. Muslim).

Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Malaikat (rahmat) tidak masuk rumah yang padanya terdapat gambar dan anjing serta orang yang junub,” (HR. An Nasa’i, dishahihkan Al Albani).

Dari Ali bin Abu Thalib dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar,” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani).

Berdasarkan hadis-hadis tersebut, ada sejumlah rumah yang tidak dimasuki oleh malaikat yaitu:

Rumah yang di dalamnya ada gambar/lukisan makhluk bernyawa
Rumah yang di dalamnya ada anjing.
Rumah yang penghuninya junub alias biasa tidak mandi/bersuci dari junub.
Rumah yang di dalamnya ada patung.

Selain 4 rumah tersebut, dalam buku Rumah yang Tidak Dimasuki oleh Malaikat, Abu Hudzaifah Ibrahim bin Muhammad menambahkan rumah-rumah lainnya yang tidak dimasuki oleh Malaikat Rahmat yaitu:

Rumah orang yang memutuskan silaturahim
Rumah orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya
Rumah orang yang memakan harta anak yatim
Rumah orang yang memakan riba
Rumah yang di dalamnya tidak disebutkan Asma Allah
Rumah yang tidak ada shalawat di dalamnya dan lebih mementingkan hawa nafsu
Rumah yang di dalamnya banyak caci maki dan laknat
Rumah yang di dalamnya banyak alunan lagu selain dzikir
Rumah yang di dalamnya ada lonceng
Rumah yang digunakan minum khamr
Rumah yang ditempati perjudian dan sajian berhala
Rumah yang di dalamnya ada syirik dan mantra-mantra
Rumah yang di dalamnya ada bau tidak sedap atau penghuni laki-lakinya melumuri tubuh dengan kunyit
Rumah yang penghuninya hidup boros
Rumah yang penghuninya terus menerus melakukan kedurhakaan
Rumah yang digunakan untuk kekejian, atau dosa besar
Wallahu a’lam bish shawab. [Tarbiyah/ Ipos]

02 Julai 2018

Jom Sokong KMMB

ustazcyber [2 dari kiri ]menghadiri mesyuarat perwakilan KMMB di Regency Hotel Kuala Lumpur.

Jom sokong Koperasi Muslimn Malaysia Berhad dengan menjadi ahli dan memilih pelbagai produk yang kami sediakan..sila ke
untuk melihat pelbagai produk dan aktiviti yang KMMB adakan

;;