15 Jun 2019

KIBLAT.NET– Jawatan sebagai hakim (qadhi) termasuk jawatan mulia dalam sejarah Islam. Kerana tugas hakim adalah memutuskan hukuman sesuai dengan landasan Al-Quran dan As-Sunnah. Dahulu para khalifah di masa-masa awal sangat memperhatikan hal ini dengan memilih seorang hakim yang paling soleh, paling berilmu dan paling bertakwa, kerana melihat pentingnya posisi tersebut dan bahaya yang mungkin terjadi ketika jawatan tersebut dipegang orang yang tidak tepat.

Dahulu, orang yang dipilih menjadi hakim merasa takut dan lari dari amanah besar ini kerana melihat sensitiviti dan dengan standart zalim dan adil dan hak-hak manusia menjadi tanggung jawab seorang hakim. Namun berjalannya waktu, ramai manusia memperdagangkan jawatan ini. Mereka jauh dari hukum Allah, sembarangan dalam memilih hakim. Hakim terpilih juga memanfaatkannya untuk meraih kedudukan dan akses-akses material dan maknawi yang besar.

Mereka lupa atau dilupakan dengan hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

القُضَاةُ ثَلاَثَةٌ: قَاضِيَانِ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ فِي الجَنَّةِ، رَجُلٌ قَضَى بِغَيْرِ الحَقِّ فَعَلِمَ ذَاكَ فَذَاكَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ لاَ يَعْلَمُ فَأَهْلَكَ حُقُوقَ النَّاسِ فَهُوَ فِي النَّارِ، وَقَاضٍ قَضَى بِالحَقِّ فَذَلِكَ فِي الجَنَّةِ

“Hakim itu ada tiga: dua di neraka dan satu di syurga. Seorang hakim yang memutuskan hukum tidak berdasarkan kebenaran padahal ia mengetahuinya, maka di neraka. Seorang hakim yang memutuskan hukum tanpa ilmu sehingga hilanglah hak-hak manusia, maka ia di neraka. Dan seorang hakim yang memutuskan berdasarkan kebenaran, maka ia di syurga.” (HR. Tirmidzi no. 1322)..

09 Jun 2019

Dari Jabir bin Abdullah ra,Rasulullah SAW bersabda," Jangan kalian mendoakan(celaka) untuk diri-diri kalian,anak-anak kalian,dan harta-harta kalian.Dikhuatiri ketika itu bertepatan dengan waktu Allah mengkabulkan doa kalian.(Riwayat Muslim)

;;