10 Mei 2019

Penulis: Zamroni 
 Islam sangat memperhatikan urusan kepemimpinan. Realiti membuktikan, baik buruknya suatu masyarakat ditentukan oleh para pemimpinnya. Jika pemimpinnya baik maka masyarakat pun akan baik, bila pemimpinnya rosak maka masyarakat pun akan rosak. Kerana itulah, seorang pemimpin selayaknya memiliki kesanggupan dan memenuhi syarat-syarat yang diperlukan untuk memimpin.

Namun sangat disayangkan, umat Islam harus mengalami nasib buruk kerana kedudukan yang sangat strategik itu dipegang oleh mereka yang tidak memiliki kemampuan. Umat Islam dipimpin oleh mereka yang tidak mempunyai persiapan dan perbekalan, pendidikan akhlak dan agama sebagaimana Khulafaur Rasyidin. Kurangnya kecakapan dalam memimpin membuat mereka lemah dalam memperjuangkan kepentingan Islam. Minimanya kemampuan ijtihad membuat mereka kesulitan menanggulangi masalah-masalah duniawi dan ukhrawi umat.

Mewaspadai Pemimpin Lemah dan Bodoh

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kekhawatiran hal itu, beliau bersabda :

أَخَافُ عَلَيْكُمْ سِتًّا: إِمَارَةَ السُّفَهَاءِ…

“Aku mengkhawatirkan enam perkara atas kalian yaitu : kepemimpinan orang-orang yang tidak mampu…” (HR. Ahmad no. 23970)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan tentang makna as-Sufaha ini :

والسفهاء: جمع سفيه.. والسفيه: هو الجاهل الضعيف الرّأي القليل المعرفة بمواضع المصالح والمضار

“Sufaha’ adalah bentuk jama’ dari safih, sedangkan safih artinya: Orang yang jahil (bodoh), yang dha’if (lemah) akalnya, yang sedikit sekali pengetahuannya tentang mana yang maslahat dan mana yang mudharat.” (Umdatut Tafsir, 1/86)

Di dalam hadist di atas, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam khawatir terhadap enam perkara yang akan terjadi pada umatnya. Beliau menyebutkan pertama kali kekhawatirannya terhadap kepemimpinan orang-orang yang kapabel, bisa jadi perkara itulah yang paling besar dan paling berbahaya.

Dalam redaksi yang lain, beliau menjelaskan siapa pemimpin as-Sufaha itu.

أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ. قَالَ: َمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ :أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِى لاَ يَقْتَدُونَ بِهَدْيِى وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى…

“Semoga Allah melindungi kamu dari imarah as-sufaha`.” Kaab bertanya, “Apa itu imarah as-sufaha`, wahai  Rasulullah?” Beliau bersabda, “Mereka adalah para pemimpin sesudahku, yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunnahku…” (HR Ahmad no. 14441)

Dampak Berkuasanya Pemimpin yang Tidak Mampu

Kepemimpinan as-Sufaha itu kemudian menyebar ke seantero masyarakat Islam. Sejak saat itulah terjadi pemisahan agama dari kehidupan politik. Mereka tidak cukup ilmu pengetahuan sehingga mereka menyerahkan urusan agama pada pribadi masing-masing dan para tokoh keagamaan. Dalam menjalankan politik, mereka bertindak semaunya. Bila ada kepentingan, barulah mereka meminta bantuan kepada tokoh agama yang telah mereka pilih sebagai penasehat. Akhirnya, para tokoh agama tersebut digunakan untuk melindungi kepentingan mereka, jika perlu diperas tenaga dan pikirannya.

Sikap yang semacam itu membuat politik menjadi bebas sebebas-bebasnya dan lepas dari kontrol agama. Kekuasaan yang berada di tangan mereka berubah menjadi seperti kekaisaran yang sewenang-wenang atau kerajaan yang kejam. Kekuasaan menjadi pusat kepentingan, tidak lagi sebagai pusat menuntut keadilan.

Para ulama dan tokoh agama berbeda-beda dalam menyikapi pemimpin semacam ini. Ada yang menentang pemerintahan dan beroposisi. Ada yang bersikap netral lalu mengasingkan diri dan sibuk dengan urusan pribadi sembari menutup mata rapat-rapat terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya. Ada pula yang berputus asa dari kemungkinan adanya perbaikan. Ada yang mengkritik sekedarnya hanya untuk melegakan perasaan padahal ia tidak memahami duduk perkaranya. Ada pula yang bekerja sama dengan pemerintahan demi kepentingannya sendiri dan kelompoknya.

Akibat dari semua itu, kejahiliyahan dapat kembali bernafas di negeri-negeri Islam. Mendorong semua orang untuk berperilaku hidup mewah dan serba enak, tenggelam dalam kesenangan syahwat dan kemaksiatan. Kaum muslimin tidak dapat menunaikan tugas risalah Islam, tidak mampu mengingatkan manusia kepada Allah, tidak mampu menganjurkan ketakwaan dan memberikan teladan yang baik.

Apa yang diperbuat oleh pemimpin-pemimpin itu semata-mata hanya mencerminkan pribadi dan politik mereka sendiri. Mereka sama sekali tidak mencerminkan Islam dalam hal-hal politik sesuai syariat. Oleh karena itu, tidak aneh jika dakwah Islam hilang pengaruh dan kekuatannya di hati orang-orang non muslim. Keindahan Islam tertutup oleh tingkah laku dan polah umat Islam sendiri.

Sangat luas dampak keburukan yang terjadi akibat berkuasanya para pemimpin yang tidak mampu. Maka, selayaknya pemimpin adalah produk pendidikan yang panjang, sebagaimana nasehat Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu :

تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا

“Perdalamlah ilmu sebelum memimpin.” (HR. Bukhari no. 73).

Karena seorang pemimpin harus mampu menggali solusi dari berbagai persoalan yang ada. Hal itu tidak didapatkan secara instan, perlu waktu dan kesabaran. Wallahu ‘alam bish showab.

(kiblat.net)

0 Comments:

Post a Comment