28 Jun 2018

Presiden Recep Tayyip Erdogan semakin mengukuhkan cengkramannya sebagai pemimpin di Turki setelah memenangkan pemilihan umum akhir minggu lepas.

Erdogan dan koalisi Aliansi Rakyat berhasil memperolah 53 persen suara, mengalahkan enam pesaingnya dalam pemilu.

Kemenangan ini memungkinkan Erdogan, yang telah lebih dari 15 tahun berkuasa, untuk memperpanjang masa jabatannya hingga 2028 mendatang.

Selain itu, masa jabatan diperoleh berikut kewenangan baru yang dicanangkan lewat perubahan konstitusi 2017 lalu. Didukung referendum, reformasi disahkan parlemen sekitar April 2017....


Periode pemerintahan baru diperlukan sebagai persyaratan implementasi perubahan tersebut. Karena alasan itulah Erdogan memutuskan menggelar pemilu sela.

Di bawah aturan baru ini kewenangan parlemen berkurang, sementara peranan perdana menteri dihapuskan. Dengan begitu, Erdogan bertindak sebagai ketua negara sekaligus ketua pemerintahan dan pemimpin parti berkuasa dalam waktu bersamaan.

Selain itu, undang-undang baru juga memberikan keleluasaan bagi Erdogan untuk mengeluarkan dekrit. Dia juga diberi kewenangan menunjuk sendiri menteri kabinetnya dan sebagian besar anggota badan peradilan tertinggi negara tanpa konfirmasi parlemen.

Konstitusi baru juga memberi keleluasaan Erdogan untuk mengusulkan sendiri anggaran negara serta mengontrol aktiviti militer mahupun polis.

Sejak pertama diusulkan awal 2017 lalu, perubahan konstitusi ini telah menimbulkan gejolak dalam politik Turki.

Sejumlah kelompok oposisi menilai langkah ini menjadikan presiden berkuasa penuh tanpa ada mekanisme pengecekan yang boleh menjamin pemerintah tetap transparan dan akuntabel. Sebahagian pihak menganggap reformasi konstitusi memperbesar celah rezim otoriter berkembang dalam pemerintahan.Muharrem Ince, pemimpin parti oposisi Parti Aliansi Nasional, menyebut perubahan konstitusi itu sebagai ancaman terhadap demokrasi Turki.

“Satu orang menjadi ketua badan legislatif, eksekutif, sekaligus peradilan. Ini adalah kekhawatiran akan ancaman bagi kelangsungan hidup negara,” kata pesaing utama Erdogan dalam pemilu kepada wartawan seperti dikutip CNN.

“Turki telah meninggalkan nilai-nilai demokrasi dan hubungannya dengan sistem parlementer yang dimilikinya. Kita sekarang berada dalam kekuasaan satu orang–tidak ada mekanisme mencegah aturan kesewenang-wenangan. Kami sangat khawatir tentang situasi ini.” (CNN/Ram/EM)

0 Comments:

Post a Comment