30 Mei 2018

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (HR. Bukhari-Muslim)

Bagi orang yang berpuasa, berbuka adalah nikmat yang luar biasa. Tidak hanya menanti hidangan yang siap disantap, tapi juga ada waktu mustajab di mana setiap doa akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala saat berbuka puasa. Kerana itu, syariat pun mengatur bagaimana seharusnya kita berbuka puasa dengan benar. Namun, sebahagian masyarakat kita banyak yang tidak tahu atau lupa sehingga jatuh ke dalam beberapa kesalahan, di antaranya:

1-Mengakhirkan waktu berbuka
Mengakhirkan waktu berbuka tidak dianjurkan dalam Islam karena bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW. Dalam riwayat yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari-Muslim).

2-Berbuka setelah azan berkumandang...

Sebahagian orang berbuka setelah mendegarkan waktu azan. Alasannya sebagai bentuk kehati-hatian. Tindakan ini termasuk dalam sikap memberatkan diri dan berlawanan dengan tuntunan syariat. Dalam sebuah riwayat, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ، فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air,” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, hadits hasan)

3-Sibuk berbuka sehingga lupa menjawab suara azan.
Di antara bentuk kesalahan saat berbuka puasa adalah sibuk dengan bercakap atau asyik dengan menu hidangan sehingga lupa menjawab suara azan. Padahal ketika ada seruan azan kita disunnahkan menjawab seruan tersebut sesuai dengan lafaz azan yang diucapkan muazin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ

“Jika kalian mendengar seruan adzan, maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin.” (HR. Bukhari-Muslim)

4-Tidak memperbanyak doa menjelang iftor
Memperbanyak doa menjelang iftor adalah salah satu anjuran Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, di saat itu Allah Ta’ala sedang mengabulkan segala permintaan hamba-Nya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada tiga doa yang tidak tertolak: doa pemimpin yang adil, doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, doa orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752)

Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (HR. Ibnu Majah no. 1753)

5-Berlebih-lebihan saat berbuka
Sikap berlebih-lebihan jelas dilarang dalam Islam. Dalam bentuk apa pun itu. Apalagi dalam urusan makan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang keras terhadap sikap mubazir. Kerana itu, beliau memberi gambaran yang jelas tentang proporsi makan yang tidak berlebihan, yaitu; sepertiganya berisi makanan, sepertiganya berisi air, dan sepertiganya lagi berisi udara.

Dalam ayat 31 surat Al-‘Araf, Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan makan dan minumlah kamu, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Demikian beberapa bentuk kesalahan sebagian umat islam saat berbuka puasa. Semoga dengan memahami keterangan di atas kita mampu menghindari diri dari setiap amalan yang mengurangi pahala ibadah puasa.

Fakhruddin/ islamwe.net/kiblat.net

0 Comments:

Post a Comment