20 September 2017

Fatwa-fatwa pelik Ulama Kerajaan Mesir

Kaherah – Universiti Al-Azahar Mesir, Ahad lalu, memberhentikan dua profesor fiqih perbandingan setelah mengeluarkan fatwa pelek di program TV. Fatwa itu mereka keluarkan berurutan sehingga menimbulkan kecurigaan terdapat unsur kesengajaan yang bertujuan memperburukkan citra Islam.

Pusat Pengajian Islam tertua di dunia itu tengah menyelidiki profesor fiqih perbandingan, Shabri Abdul Rauf, setelah mengeluarkan fatwa “seorang suami boleh menyetubuhi jasad isterinya yang meninggal sebagai perpisahan terakhir”.
Pernyataan itu kemudian juga mendorong Dewan Tinggi Peraturan Media pada Isnin (18/09) mengeluarkan putusan melarang mengundang Abdul Rauf dalam proram tv ataupun radio.

Al-Azhar juga tengah menyelidiki profesor fiqih perbandingan Sa’ad Shalih yang juga mengeluarkan pernyataan pelik sehari sebelumnya (Sabtu). Dalam sebuah program TV, Shalih mengatakan bahwa “sebagian ahli fiqih membolehkan menyetubuhi haiwan”.

Perlu diketahui, dua fatwa ini muncul setelah tujuh fatwa lainnya yang dikeluarkan oleh da’i-da’i Mesir dalam sejumlah acara TV milik orang-orang yang dikenal pro rejim tentera Al-Sisi. Berikut lima fatwa nyeleneh itu:

Rabu (13/09): Da’i salafi Miftah Fadl yang lebih dikenal Abu Yahya mengatakan bahawa sebagian ulama membolehkan menikahi anak-anak yang belum baligh. Dalam program TV di Channel Al-Hadts News, ia mengatakan bahawa tidak ada batasan minimal umur wanita boleh dinikahi. Bahkan, katanya, jika anak itu baru berumur satu hari boleh dinikahi.

Khamis (14/09): Anggota Dewan Tinggi Islam Khalid Al-Jundi mengatakan dalam program “La’allahum Yafqahun” di TV MDC bahawa mencaci Israel tidak boleh. Kerana maknanya, katanya, itu hamba Allah dalam bahasa Ibrani. Itu adalah nama lain nabi Ya’kub.

Jumat (15/09): Di program “As-Shadiqaani” di TV Al-Muhawwar, Pensyarah Universiti Al-Azhar Madhaz Syahin, ketika berbicara tentang pembantaian Muslim Rohingya, ia mengatakan bahawa para Budhis ekstremis Myanmar sangat benci pembantaian. Muslim Rohingya, katanya, lebih dulu memprovokasi pengikut Budha dengan menyembelih haiwan qurban.

Sabtu (16/09): Sekretariat Darul Ifta Mesir Muhammad Abdul Samik membolehkan wanita Muslimah yang tinggal di negara non Muslim membuka jilbab jika bertentangan dengan adat setempat.

Di hari Sabtu juga, Darul Ifta Mesir mengeluarkan fatwa bahawa salam bendera hukumnya wajib kerana ekpresi cinta tanah air. Fatwa itu keluar setelah Kementerian Pendidikan Mesir mengharuskan anak-anak didik mengucapkan salam bendera di hari pertama sekolah.

Fatwa-fatwa ini pun membuat sejumlah pengamat curiga ada unsur kesengajaan. Seperti diketahui, saat ini rejim Mesir mengawasi seluruh organisasi Islam, baik ulama maupun orang awam. Universiti Al-Azhar pun kini di bawah kendali rejim.

Sumber: Arabi21.com/.kiblat

0 Comments:

Post a Comment