23 Julai 2017

Ketika seseorang masuk masjid, namun ternyata saf sudah terisi penuh dan tidak menemukan tempat, apakah ia solat di belakang saf sendirian, ataukah menarik seseorang untuk berdiri bersamanya, ataukah menunggu orang lain datang?

Ulama berbeza pendapat dalam hal ini. Berikut kami sampaikan perbezaan pandangan ulama, selanjutnya kami sebutkan mana pendapat terbaik.

Pendapat Pertama, solat sendirian di belakang saf terhitung satu saf dan solatnya sah. Inilah pendapat jumhur, seperti dituturkan Ibnu Rusyd dalam Bidâyatul Mujtahid. Di antaranya Malik, Syafi’i, dan Abu Hanifah. (Bidâyatul Mujtahid; I/187)

Di antara dalil mereka ialah hadits Abu Bakrah, disebutkan bahawa ia rukuk di belakang saf, lalu ia melangkah menuju saf. (HR. Bukhari) Al-Baghawi menjelaskan, “Ada beberapa permasalahan fiqh yang terkandung dalam hadis ini, di antaranya orang yang solat sendirian di belakang saf mengikuti solat imam, solatnya sah, kerana Abu Bakrah rukuk di belakang saf, dan melakukan sebagian solat di belakang saf, namun Nabi tidak memerintahkan untuk mengulang solat. Beliau hanya memberitahu yang lebih utama untuk dilakukan pada kesempatan-kesempatan berikutnya, ‘Jangan kau ulangi lagi.’ Larangan ini bermaksud memberitahu, bukan larangan mengharamkan. Andai bermakna larangan, tentu beliau perintahkan Abu Bakrah untuk mengulang solat kembali’,” (Syarhus Sunah, Baghawi; III/338).

Pendapat Kedua, solat sendirian di belakang saf batal. ....
Ini pendapat Imam Ahmad, salah satu riwayat dari Imam Malik, seperti disebutkan dalam Al-Ifshâh, Ibnu Hubairah.392Pendapat ini dianut sejumlah fuqaha dan ahli hadits. (Al-Ifshâh; I/54)

Para pengusung pendapat ini bersandar pada hadis Wabishah bin Ma’bad, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat seseorang salat di belakang saf sendirian, lalu beliau menyuruhnya untuk mengulang salat kembali.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadis ini diperkuat hadis Ali bin Syaiban, ia mengatakan, “Kami bepergian, kemudian kami menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Kami berbaiat kepada beliau dan kami kemudian solat di belakang beliau. Seusai solat, beliau melihat seseorang solat di belakang saf seorang diri. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di dekat orang itu hingga ia usai shalat, lalu beliau bersabda:

اسْتَقْبِلْ صَلَاتَكَ لَا صَلَاةَ لِلَّذِي خَلْفَ الصَّفِّ

‘Perbaiki solatmu, karena tidak ada solat bagi yang solat di belakang saf’.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Abdullah bin Ahmad setelah menukil hadis Wabishah dalam Al-Musnad mengatakan, “Ayahku menganut hadis ini.” (Al-Musnad; IV/228)

Pendapat Ketiga, merinci, yaitu jika ia menemukan tempat di saf, tapi tetap solat sendirian, solatnya tidak sah, namun jika setelah berusaha tetap tidak menemukan tempat di saf, ia boleh berdiri sendirian di belakang.

Pendapat ini dianut Hasan Al-Bashri, seperti disebutkan dalam Al-Mushannafbkarya Ibnu Abi Syaibah dan Al-Buwaithi, seperti disebutkan Ays-Syaukani dalam Nailul Awthârdan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughnî.

Pendapat ini juga dianut dan diperkuat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, seperti disebutkan dalam Al-Fatâwâ, Al-Qawâ’id An-Naurâniyyahdan Al-Masâ`il Al-Mardiniyyah. Demikian halnya dengan Ibnul Qayyim. Pendapat ini juga dipilih Syaikh Abdurrahman As-Sa’di. Semoga Allah merahmati mereka semua. (Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah; II/193, Nailul Awthâr; III/229, Al-Mughni; III/56, Majmû’ Fatâwâ Ibnu Taimiyah; 21/397, A’lâmul Muwaqqi’în; II/21-22)

Inilah pendapat terbaik, insya Allah, karena sejumlah alasan berikut: Ulama sepakat, kewajiban-kewajiban dan rukun-rukun solat gugur ketika tidak mampu dikerjakan. Ketika tidak mampu, kewajiban tidak berlaku, dan tidak ada yang namanya haram ketika berada dalam situasi darurat. Ini merupakan salah satu kaidah syariat terbesar.

Berdiri adalah rukun dalam solat fardhu. Saat seseorang tidak mampu berdiri, ia boleh solat dengan duduk. Seperti itu juga dengan rukuk, sujud, dan lainnya. Solat bersama jamaah dalam saf, bukan merupakan bahagian dari rukun ataupun kewajiban solat. Seperti diketahui, tidak biasa bergabung dalam saf merupakan uzur, dan seperti disebutkan dalam kaidah paten bersumber nash-nash syariat, hukum boleh berubah ketika ada uzur menimpa seseorang. Orang yang tidak tahu arah kiblat, boleh solat ke arah mana saja, tanpa harus mengulangi lagi solat ketika menemukan sesuatu untuk menutupi badan, atau mengetahui arah kiblat dengan jelas setelah solat dikerjakan. Dan begitu seterusnya.

Dalil-dalil umum syariat menguatkan pendapat ini, seperti firman Allah Ta’ala, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (At-Taghâbun: 16)

Pendapat ini mengompromikan dalil-dalil terkait. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Karena tidak ada solat bagi orang yang solat di belakang saf” diartikan ketika seseorang lalai untuk menunaikan kewajiban bergabung dalam saf dan menutup celah saf yang ada. Sementara jika seseorang tidak menemukan celah, hadis ini tidak diberlakukan baginya, berdasarkan dua alasan yang telah kami sebut sebelumnya, di samping karena ia tidak lalai, sehingga solatnya tetap sah, insya Allah. Wallâhu a’lam bis shawab!

Fakhruddin: (Kitab Al-Jâmi’ Li Ahkâmish Shalâh Wa Shifatu Shalâtin Nabiy Shalallâhu ‘Alaihi Wa Sallam, karya Abu Abdirrahman Adil bin Sa’ad)kiblat.net

0 Comments:

Post a Comment