27 Julai 2017

Mujahidin yang Berjalan di Atas Air

Sa’ad pernah berkhutbah di hadapan kaum Muslimin di tepi sungai Dajlah. Di antara isi khutbahnya adalah, “…Musuh-musuh kalian telah melindungi diri mereka dengan sungai ini. Dengan sungai ini kalian tidak boleh mencapai mereka, sedangkan mereka boleh mencapai kalian jika mereka menghendaki. Menurut hematku, kalian harus memerangi para musuh. Ketahuilah bahawa aku telah bertekad untuk menyeberangi sungai ini agar boleh menemui mereka.”

Para pasukan menjawab, “Semoga Allah meneguhkan kami dan Anda di atas petunjuk-Nya, kerjakanlah.”

Kemudian Sa’ad mengajak orang-orang untuk menyeberang. Ia berkata, “Siapa yang berani menyeberang pertama kali untuk melindungi celah di tepi sungai agar orang-orang boleh menyeberang dengan aman?”.....


Ashim bin Amru pun maju, sementara orang-orang berdiri di tepi sungai.

Ashim berkata, “Siapa yang mahu maju bersamaku untuk mendahului orang-orang masuk ke dalam sungai ini?”

Majulah bersamanya enam puluh orang pemberani— mereka adalah orang-orang non Arab yang berbaris satu persatu. Ketika yang lain enggan turun ke sungai, seorang tentara tiba-tiba maju dan membaca ayat:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (Ali Imrân: 145).

Setelah itu ia menerjunkan kudanya ke sungai dan orang-orang mengikutinya. Sementara itu, 60 orang pemberani yang lebih dahulu menyeberang terpecah menjadi dua kelompok.

Tatkala penduduk Persi melihat pasukan kaum Muslimin, mereka berkeliling di tepi sungai sambil berteriak, “Orang-orang gila, orang-orang gila. Demi Allah, kalian tidak memerangi manusia, tetapi memerangi jin.”

Kemudian mereka mengirim pasukan berkuda ke sungai untuk menghadang pasukan Islam. Ashim memerintahkan pasukannya untuk melemparkan tombak ke arah mata kuda.

Tombak-tombak itu pun mencukil mata kuda-kuda Persi. Merasa tertekan, pasukan Persi pun mengundurkan diri dari hadapan kaum Muslimin dan keluarlah para sahabat Ashim dari air. Sementara itu, sisa sahabat ‘Ashim yang berjumlah 600 masih berada di sungai Dajlah. Mereka mencebur ke dalam air ke arah tepi sungai yang lain.

Setelah itu, Ashim bersama para sahabatnya menyerang pasukan Persi dan berhasil mengusir pasukan yang ada di tepi sungai. Pasukan itu merupakan batalion yang mengerikan sebenarnya. Mereka adalah batalion pembawa petaka di bawah pimpinan Al-Qo’qo’ bin Amru.

Ketika pintu telah terbuka, Sa’ad dan pasukan kaum Muslimin turun ke air. “Katakanlah, ‘Kami meminta tolong kepada Allah dan bertawakal kepada mereka. Hasbunallâhu wa ni’mal wakîl, walâhaula walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil ‘azhîm (cukuplah bagi kami Allah dan Dia adalah sebaikbaik penolong. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)’,” pinta Sa’ad kepada pasukannya.

Lalu Sa’ad memasuki sungai Dajlah dengan kudanya dan pasukannya mengikuti dari belakang. Mereka berjalan di sungai tersebut, seakan-akan mereka berjalan di atas permukaan tanah. Mereka pun memenuhi tempat di antara dua tepi sungai. Sungai itu seakan tak berair kerana tertutup pasukan kaum Muslimin. Mereka berbicara di atas permukaan air sebagaimana bicara di atas tanah. Mereka telah mendapatkan ketenangan dan keamanan, serta percaya kepada perintah, janji, pertolongan, dan bantuan Allah.

( Ajaib wa Tharaif Ibrat-Tarikh karya Hasan Ramadhan)kiblat.net

0 Comments:

Post a Comment