10 Mac 2017

KIBLAT  Sebuah penelitian menunjukkan bahawa Iran melakukan penjajahan di 14 negara majoriti Muslim di Timur Tengah. Menurut dua lembaga yang melakukan penelitian itu, Iran memainkan peran destruktif terhadap negara-negara tersebut, dengan melibatkan pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC).

Dua lembaga Penyelidik yang dimaksud adalah European Iraqi Freedom Association (EIFA) pimpinan Struan Stevenson dan International Committee in Search for Justice (ISJ). Keduanya sama-sama berpengkalan di Brussels dan lembaga non-pemerintah yang memiliki hubungan kuat dengan anggota parlimen Kesatuan Eropah, tokoh-tokoh Eropah dan internasional.

“(Iran) ikut campur dalam urusan negara-negara regional lainnya secara kelembagaan, dan petinggi IRGC telah terlibat secara langsung,” kata laporan itu, sembari menyebut keterlibatan militer dan aparatur negara Iran dalam operasi destabilisasi di Timur Tengah.

Laporan, yang disiar awal minggu ini, juga menyebut IRGC telah melakukan sebuah “pendudukan tersembunyi” di empat negara, yakni Iraq, Syria, Yaman dan Lebanon.


“Di keempat (negara itu), IRGC memiliki kehadiran militer yang cukup besar langsung,” tambah laporan, seraya mengungkapkan bahwa jumlah pasukan Iran di Suriah sendiri pada musim panas 2016 adalah mendekati 70.000 personel. Jumlah ini termasuk milisi Syiah yang direkrut, dilatih, didanai dan dikendalikan oleh IRGC, yang berasal dari Iraq, Afghanistan dan lainnya.

Laporan itu juga menunjukkan lokasi-lokasi dari 14 kamp pelatihan IRGC di Iran, tempat para rekrutan diklasifikasikan sesuai dengan negara asalnya untuk menerima tugas-tugas selanjutnya, apakah berada di garis depan pertempuran atau diproyeksikan dalam kegiatan teroris internasional.

“Setiap bulan, ratusan pasukan dari Iraq, Suriah, Yaman, Afghanistan dan Libanon -negara di mana rezim (Iran) terlibat dalam pertempuran garis depan- menerima pelatihan militer dan selanjutnya dikirim untuk mengobarkan terorisme dan perang,” jelas laporan itu, seperti dikutip dari Middle East Monitor, Rabu (08/02).

Menurut para peneliti yang menyusun laporan ini, salah satu negara yang terkena dampak terburuk akibat intervensi Iran adalah Iraq. Duta Iran untuk Irak, Brigadir Jenderal Iraj Masjedi, baru saja diangkat dan ditunjuk untuk menjadi kepala perwakilan IRGC di Iraq pada Januari 2017.

Laporan itu kemudian memberikan kesimpulan dan rekomendasi, yaitu penunjukan IRGC sebagai organisasi teroris di AS, Eropa dan Timur Tengah, dengan membatasi operasinya dan mengusirnya dari Timur Tengah, khususnya di Iraq dan Suriah.

Lembaga penelitian itu juga merekomendasikan untuk memberi sanksi terhadao semua sumber keuangan dan perusahaan yang berafiliasi dengan IRGC. Serta menghimbau kepada pihak internasional untuk membubarkan kelompok-kelompok paramiliter dan jaringan teroris yang berafiliasi dengan Pasukan Garda Revolusi Iran tersebut.

Reporter: Ibas Fuadi
Sumber: Middle East Monitor

0 Comments:

Post a Comment