18 Mei 2016

Hidup di akhir zaman seperti ini, mencari sosok ulama rabbani bukanlah perkara yang mudah. Nasib mereka berkisar antara dibunuh, diusir, dipenjara, diperangi atau diboikot. Keadaan ini memberi pengaruh yang cukup besar bagi umat ini. Di tengah minimnya pengetahuan tentang agama, umat harus menghadapi berbagai macam syubhat yang dihembuskan oleh ulama su’ lantaran hidup berdampingan dengan penguasa.

Di  antara ulama tersebut, mungkin ada yang tidak sadar dengan pemikirannya yang menyesatkan. Tapi tidak sedikit juga di antara mereka yang sengaja mendekati pintu penguasa demi mendapatkan kedudukan, ingin disediakan fasiliti atau mencari restu untuk muncul di media massa, baik cetak, televisen maupun radio supaya mereka boleh menjadi rujukan bagi orang banyak. Dengan begitu, mereka boleh leluasa memaksakan opini yang mereka buat.

“Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing, dan Rabbmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Al-Isra’: 84).

Kepercayaan penguasa kepada ulama yang menyesatkan semacam ini menjadi semakin kuat. Dibuatkanlah mimbar-mimbar untuk mereka, setiap karangannya disebarkan, berbagai macam media juga difasilitikan. Sehingga kebatilan mereka menggema di seluruh penjuru dunia. Namun, sejatinya, itu semua adalah seperti buih lautan, banyak namun jauh dari berkah.

”Adapun buih maka akan hilang tak tersisa, sedangkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia akan tetap mantap di bumi.” (Ar-Ra’du: 17)

Mereka Terkenal di balik Makar Musuh....lagi

16 Mei 2016

Sebuah penelitan terbaru di Amerika Sysrikat menungkapkan bahawa kandungan asid lemak atau dikenal dengan “omega-3″ pada ikan dapat membatasi perilaku agresif dan kekerasan yang dilakukan anak-anak terhadap orang-orang di sekitar.

“Omega-3 pada ikan memiliki efek langsung pada fungsi vital otak anak sehingga dapat mencegah mereka berperilaku agresif terhadap lingkunagn sekitar,” tulis kumpulan peneliti dari University of Pennsylvania Amerika dalam jurnal internasional “Psikologi dan psikiatri ilmu untuk anak-anak” pada Sabtu (14/05) malam.

Para peneliti melakukan studi terhadap 290 anak berusia antara 11 dan 12 tahun dengan latar belakang memiliki sejarah kekerasan dan perilaku anti-sosial. Para anak-anak ini kemudian dibagi menjadi 2 kelompok dimana salah satu kelompok selalu diberi makanan dengan asupan omega-3 tinggi dan kelompok lainnya tidak.

;;