25 April 2016

 Mohammad Fauzil Adhim

TADAHKANLAH  tanganmu dan berdoalah dengan doa sepenuh harapan kepada Allah Yang Maha Menciptakan. Mohonlah kepada-Nya perlindungan dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh. Inilah dua pemimpin yang amat buruk apabila ia menggenggam kekuasaan. Ia dapat menjadi sebab kemadharatan dan kerusakan. Mintalah dengan suara lirih seraya merendahkan diri di hadapan-Nya:

اللهم إني أعوذبك من إمارةِ الصبيان والسفهاء

“Ya Allah, sungguh kami berlindung kepada-Mu dari pemimpin yang kekanak-kanakan dan dari pemimpin yang bodoh.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Inilah doa yang kita dapati tuntunannya dalam Adabul Mufrad, yakni salah kumpulan hadis riwayat Imam Bukhari di luar kumpulan hadis shahihnya yang masyhur: Al-Jami’ Ash-Shahih atau popular dengan sebutan Shahih Bukhari. Di satu sisi ia adalah do’a, di sisi lain ada pelajaran besar yang patut kita renungkan dan kerana itu kita perlu berlindung darinya. Pelajaran apakah itu? Bahawa yang menjadi pemimpin bagi suatu kelompok, wilayah atau bangsa tidaklah pasti orang yang berkemampuan dan memiliki kedewasaan berfikir yang sangat matang.

Sangat mungkin seseorang menjadi pemimpin bagi suatu kaum atau wilayah, padahal ia kekanak-kanakan sifatnya, tidak pula matang fikiran maupun pribadinya, meskipun usianya sudah cukup tua. Sebagaimana sangat mungkin pula seseorang yang tidak memiliki kapasiti sebagai pemimpin, bodoh pula, menjadi pemimpin suatu masyarakat. Ia tidak mampu mengambil kebijakan sendiri secara matang dan membawa maslahat, ceroboh dalam bertindak, tetapi mengelak dari tanggung-jawab atas berbagai keputusannya yang salah. Ini terjadi ketika sifat kekanak-kanakan dan kebodohan berkumpul menjadi satu pada diri seorang pemimpin. Kerana itu kita memohon dijauhkan dari yang pemimpin yang seperti itu....lagi


Tetapi tak setiap kecerobohan yang menyengsarakan lahir dari kebodohan. Terkadang ia lahir dari kezaliman pemimpin yang tak mencintai rakyatnya. Ia berhasrat besar menjadi pemimpin justru karena keinginan kuatnya berbuat zalim secara lebih luas. Dan sesungguhnya pemimpin zalim yang berpengetahuan luas jauh lebih berbahaya dibandingkan pemimpin bodoh lagi kekanak-kanakan. Lebih-lebih jika ia dikelilingi teman dekat yang buruk serta teman-teman yang merusak. Pemimpin yang baik dan jujur pun dapat tergelincir dalam kejahatan serta kesewenang-wenangan apabila dikelilingi oleh teman yang merusak. Tampak bijak, padahal sangat rusak. Kian parah lagi jika orang-orang yang buruk itu mengelilingi menemani pemimpin yang bodoh lagi kekanak-kanakan.

Sungguh sangat besar keburukan pemimpin yang zalim dan berakhlak buruk, terlebih jika ia pandai memoles dirinya sehingga tampak baik. Banyak fitnah yang dapat terjadi, banyak kerusakan yang dapat ditimbulkan dari berkuasanya pemimpin zalim. Karena itulah, kita perlu senantiasa memohon dalam berbagai kesempatan hidup kita ini, bukan hanya ketika sedang dibayang-bayangi kemungkinan hadirnya pemimpin yang zalim. Kita berdo’a dengan sungguh-sungguh kepada Allah ‘Azza wa Jalla:

اللَّهُمَّ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

“Ya Allah, jangan Engkau serahkan kepemimpinan wilayah kami kepada orang yang tidak mengasihi kami.” (HR. Tirmidzi).

Inilah do’a yang perlu kita mohonkan kepada Allah Ta’ala. Do’a ini sebenarnya merupakan penutup dari selarik do’a yang panjang. Ada permohonan kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar dijauhkan dari pemimpin yang zalim. Pada saat yang sama, sepatutnya kita menelisik diri sendiri apakah ada kezaliman dalam diri kita ataukah tidak. Kita juga perlu berbenah memperbaiki diri dan orang-orang terdekat dengan kita agar mereka menjauhi perbuatan zalim. Sebab, jika kita mencermati Al-Qur’an dan hadis, maka kita dapati betapa pemimpin yang zalim itu hadir sebagai azab bagi kaum yang banyak berbuat zalim. Amru bil ma’ruf dan nahy munkar nyaris mati, meskipun pengajian masih semarak.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang zalim menjadi penguasa bagi sebagian orang zalim lainnya disebabkan dosa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 129).

Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari Al-Qurthubi, seorang mufassir sekaligus ahli hadis asal Cordoba, Spanyol menerangkan bahwa ayat tersebut merupakan ancaman bagi orang-orang zalim. Apa ancamannya? Selama mereka tidak menghentikan kezalimannya, maka Allah akan tunjuk orang zalim lainnya yang akan menindas mereka.

Ada kaum yang berbuat zalim, membiarkan kezaliman, menganggap perbuatan zalim sebagai hak atau hal yang biasa, lalu Allah Ta’ala biarkan musibah menimpa mereka berupa berkuasanya orang yang lebih zalim. Begitu banyak yang berbuat zalim, tetapi akibatnya turut menimpa yang tidak melakukan kezaliman. Bagi mereka yang terkena kezaliman inilah, Allah Ta’ala bukakan pintu-pintu do’a yang lebih mustajabah.

Apa saja kezaliman yang merata itu? Banyak bentuknya. Curang dalam menakar, mengurangi timbangan, menipu dalam jual beli, mengambil hak fakir miskin serta mustahik lain dari harta zakat, serta beragam-ragam kezaliman lain yang kadang memperoleh pembenaran dengan istilah yang bagus. Dan kezaliman terbesar ialah ketika seorang pemimpin menyesatkan orang-orang yang dipimpinnya demi melanggengkan kekuasaan. Diciptakanlah kesesatan oleh dirinya sendiri atau dengan bantuan orang lain.

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ

“Sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad dan Darimi).

Inilah hal yang meresahkan, terlebih ketika agama tampak semakin asing, meskipun pengajian kelihatan semarak. Inilah hal yang merisaukan, terlebih ketika kemungkaran dianggap sebagai hak azasi dan bahkan kemuliaan. Amat dekat perbuatan-perbuatan zalim itu dengan kehidupan sehari-hari, sehingga hadirnya pemimpin yang zalim bukanlah perkara mustahil.

Selebihnya, ada do’a yang dapat kita mohonkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla terhadap para pemimpin kita, suka atau tidak kepadanya. Jika ia seorang yang buruk, semoga ada do’a tulus yang Allah Ta’ala kabulkan sehingga ia berubah menjadi baik. Jika ia baik, semoga ia tidak dikelilingi oleh teman yang buruk maupun teman yang merusak.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

“Ya Allah, jadikanlah pemimpin kami orang yang baik. Berikanlah taufik kepada mereka untuk melaksanakan perkara terbaik bagi diri mereka, bagi Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, bantulah mereka menunaikan tugasnya, sebagaimana yang Engkau perintahkan, wahai Rabb Semesta Alam. Ya Allah, jauhkanlah mereka dari teman dekat yang jelek dan teman yang merusak. Juga dekatkanlah orang-orang yang baik dan pemberi nasihat yang baik kepada mereka, wahai Rabb Semesta Alam. Ya Allah, jadikanlah pemimpin kaum muslimin sebagai orang yang baik, dimana pun mereka berada.”

Semoga catatan sederhan ini bermanfaat dan barakah
hidcom

0 Comments:

Post a Comment