11 April 2016

 Ada satu konskuensi atau efek tak terduga yang belum pernah dibayangkan sebelumnya akibat perang di Yaman, bahawa saat ini al-Qaidah mampu menyelenggarakan roda pemerintahan sebuah model-miniatur negara, dengan mendapatkan gelontoran dana berlimpah dari penguasaan terhadap bank sentral di tingkat lokal dan juga dari pungutan pajak pelabuhan setempat.

Sempat hampir terpinggirkan menyusul euphoria kemunculan kelompok ISIS di Suriah dan juga tekanan akibat kampanye militer negara-negara koalisi di dalam negeri Yaman, kelompok jihadis AQAP cabang al-Qaidah kini justru mampu secara terbuka menjalankan roda pemerintahan miniatur negara mereka sendiri dengan modal US$ 100 juta (sekitar IDR 1,3 T) yang berhasil mereka peroleh setelah menguasai bank sentral dan juga pendapatkan dari hasil pengelolaan pelabuhan terbesar ketiga di Yaman.

Jika kelompok ISIS beribukota di Raqqa-Suriah, maka ibukota “negara” al-Qaidah ada di Mukalla – Yaman, sebuah kota pelabuhan di bagian selatan Yaman dengan populasi penduduk sekitar 500.000 jiwa. Menariknya, di Mukalla para pejuang al-Qaidah menghapus pajak bagi para penduduk setempat. Mereka juga mengoperasikan kapal berkecepatan tinggi yang dilengkapi dengan senjata roket peluncur granat untuk menarik uang dari kapal-kapal yang melintas, membuat video propaganda mengenahi pembangunan infrastruktur jalan dan suplai obat-obatan & kebutuhan medis untuk berbagai rumah sakit.

“Imperium Ekonomi”...KIBLAT.NET –


Banyak diplomat dan para pejabat aparat keamanan Yaman menggambarkan fenomena AQAP cabang al-Qaidah ini sebagai “imperium ekonomi”, demikian juga dengan para ketua suku dan masyarakat lokal di Mukalla. Kemunculan AQAP merupakan sesuatu di luar dugaan dan terlihat begitu mencolok sebagai konskuensi dari intervensi militer pimpinan Arab Saudi di Yaman. Operasi militer negara-negara Arab yang didukung oleh AS itu, betul-betul membantu AQAP (Al Qaeda in the Arabian Peninsula ) berkembang menjadi lebih kuat dan lebih kaya dari yang pernah ada selama ini sejak kemunculan mereka pertama kali hampir 20 tahun yang lalu.

Para pejabat pemerintah Yaman dan pebisnis lokal memperkirakan, di samping memperoleh dana segar dari penguasaan deposit bank, AQAP juga berhasil memperoleh UD$ 1,4 juta (IDR 18,2 M) dari perusahaan minyak nasional, termasuk pendapatan mencapai US$ 2 juta (IDR 26 M) per hari dari hasil pajak barang dan minyak yang datang ke pelabuhan tersebut.

Berintegrasi dengan Masyarakat dan Wilayahnya

Mujahidin AQAP menyatakan bahwa mereka memiliki 1.000 orang pejuang di Mukalla saja, menguasai garis pantai sepanjang 600 km (373 mil), serta membaur & bisa diterima oleh masyarakat Yaman di selatan yang selama ini merasa terpinggirkan oleh para elit negara yang korup di bagian utara selama bertahun-tahun.

Dengan menerapkan taktik yang sama yang digunakan ISIS untuk menguasai wilayah mereka di Suriah & Iraq, AQAP telah berhasil memperluas wilayah kekuasaannya. Yang ditakuti oleh Barat, bahwa kelompok jihadis yang berada di balik serangan akurat yang mematikan terhadap Charlie Hebdo pada tahun 2015 itu, berulangkali berusaha menjatuhkan pesawat komersial Amerika, dan pelan namun pasti mereka akan menularkan ideologi Islamis-Jihadis kepada penduduk setempat.

“Saya memilih al-Qaidah tetap di sini, jadi Al-Mukalla sebaiknya tidak perlu dibebaskan (diserang),” kata seorang warga berusia 47 tahun. “Situasinya stabil, lebih stabil dari wilayah manapun yang sudah “merdeka” di Yaman. Pilihan selain al-Qaidah akan jauh lebih parah,” imbuhnya.

Arab Saudi Fetakompli

Sementara Arab Saudi saat ini disibukkan dengan upaya melepaskan diri dari belitan konflik di Yaman setahun pasca negara kerajaan tersebut melibatkan diri secara langsung dengan melakukan invasi ke tengah perang sipil di negara tetangganya itu. Pada mulanya, tujuan Riyadh adalah untuk melawan pengaruh serta campur tangan musuh bebuyutan mereka, Iran, yang menggoyang sejumlah ibukota negara Arab lainnya. Untuk itu, Arab Saudi fokus dengan penyerangan terhadap target Syiah Hautsi yang sebelumnya sempat merebut sebagian wilayah Yaman di bagian utara dan yang bersekutu dengan Iran.

Tetapi meskipun sudah menjatuhkan ribuan bom melalui serangan udara, Arab Saudi dan sekutu mereka negara-negara Teluk lainnya gagal secara maksimal menekan Hautsi di ibukota Sanaa. Diperkirakan 6.000 orang tewas di mana separuh jumlahnya merupakan warga sipil. Gencatan senjata sementara diberlakukan mulai tanggal 10 April, antara pemerintah yang diakui dunia internasional dukungan Arab Saudi dengan kelompok Hautsi .

Dalam sebuah pernyataannya baru-baru ini, melalui kedutaan Arab Saudi di Washington, beberapa pejabat negara kerajaan itu mengatakan bahwa kampanye militer mereka telah menyasar persembunyian dan tempat-tempat yang aman bagi teroris di Yaman.

Lebih Kuat dan Lebih Berbahaya

Meskipun demikian, sumber daya dan kekuatan AQAP terus berkembang. Seorang pejabat Amerika yang menangani kontra-terorisme mengatakan,  AQAP masih merupakan cabang/afiliasi al-Qaidah yang paling berbahaya. Amerika telah meluncurkan serangan mematikan terhadap kelompok jihadis tersebut pada tanggal 22 Maret yang lalu, menewaskan sekitar 50 pejuang jihadis Yaman  di sebuah kamp militer di luar kota Mukalla.

“Keahlian kelompok itu dalam membuat bom serta ambisi tradisional mereka untuk melancarkan serangan dengan taktik-taktik terbaru dan lebih kompleks semakin mempertegas ancaman tersebut,” kata pejabat AS tersebut.

Seorang pejabat senior pemerintah Yaman mengatakan, perang melawan Syiah Hautsi telah menyediakan situasi & kondisi yang cocok bagi ekspansi al-Qaidah.” Mundurnya unit-unit militer pemerintah dari basis-basis mereka di selatan, membuka peluang bagi al-Qaidah untuk mendapatkan berbagai jenis senjata canggih terkini dalam jumlah yang sangat besar, termasuk rudal panggul atau yang bisa dioperasikan oleh personal dan kendaraan-kendaraan militer bersenjata.

Demikian juga, di awal invasi pasukan koalisi dalam rangka memerangi Hautsi ternyata membawa efek yang tak terduga, yaitu “memudahkan elemen-elemen al-Qaidah untuk terus berekspansi memperluas pengaruh mereka di lebih dari dua wilayah,” imbuhnya.  “Inilah mengapa al-Qaidah hari ini menjadi lebih kuat dan lebih berbahaya, dan sekarang kami bekerja bersama pasukan koalisi untuk menekan elemen-elemen kelompok itu.. dan upaya ini akan terus berlanjut hingga mereka bisa dihancurkan.”

Invasi Koalisi Arab Saudi Ciptakan Ruang Kosong

Tidak lama seminggu setelah Arab Saudi melancarkan operasi Decisive Storm melawan Hautsi  pada bulan Maret 2015 lalu, pasukan militer Yaman dilaporkan tidak lagi terlihat di jalan-jalan kota Mukalla, dan mereka bergerak pergi ke arah barat menuju daerah pertempuran.

Akhirnya, kota ditinggalkan begitu saja tanpa ada sistem pertahanan apapun, sehingga memudahkan puluhan pejuang AQAP mengambil alih gedung pemerintah serta membebaskan 150 rekan mereka dari penjara pusat.  Para tawanan yang berhasil dibebaskan itu termasuk Syeikh Khaled Batarfi, seorang pemimpin senior al-Qaidah. Sejumlah gambar/foto yang diposting secara online memperlihatkan Batarfi sedang duduk santai di dalam istana presiden. Batarfi terlihat ceria dan dalam situasi yang aman terkendali sementara ia sambil menelepon.

Para pemimpin suku di propinsi tetangga menyampaikan kepada Reuter, bahwa dalam situasi vakum tersebut, markas militer diduduki oleh para pejuang, dan tidak lama setelah itu wilayah Yaman bagian selatan kemudian dibanjiri dengan berbagai jenis senjata canggih terkini. Bahan pembuat bom berdaya ledak sangat tinggi (high explosive) semacam C4, termasuk rudal anti-pesawat semuanya ada dan tinggal pilih.

Dua orang pejabat senior keamanan Yaman mengatakan, persis seperti kelompok ISIS ketika berhasil merebut bank sentral di Mosul di bagian utara Iraq, AQAP juga berhasil mengambil alih sebuah bank sentral cabang lokal setempat di Mukalla, dengan keuntungan bersih diperkirakan mencapai US$ 100 juta (IDR 1,3 T). “Jumlah sebesar itu merepresentasikan perolehan finansial terbesar hari ini, yang cukup untuk membiayai operasional gerakan dalam level mereka selama ini, paling tidak untuk jangka  selama sepuluh tahun,” kata pejabat itu.

Dokumen Ekspor dan Langkah Politik Jihadis

Ada indikasi AQAP tidak hanya butuh kaya saja, tetapi juga menginginkan pengakuan resmi sebagai sebuah “negara”. Dalam hal ini, mereka gagal memperoleh ijin dari pemerintah Yaman untuk melakukan ekspor minyak mentah pada bulan Oktober serta untuk berbagi keuntungan. Demikian keterangan menurut versi seorang pemimpin suku dan dua pejabat senior pemerintah.

Pemerintah Yaman menolak, karena khawatir bahwa kesepakatan itu bisa dianggap sebagai pengakuan secara de-facto terhadap kelompok yang telah di-blacklist secara internasional. “Al-Qaidah mengirim seorang mediator kepada pemerintah Yaman supaya mereka mau mendengar dan menyetujui kesepakatan tersebut,” kata ketua suku di Yaman bagian selatan kepada Reuter.

“Tawarannya adalah, mereka membutuhkan dokumen-dokumen resmi dari pemerintah untuk bisa menjual dan mengekspor minyak mentah secara legal, untuk itu mereka bersedia hanya mengambil bagian 25 persen keuntungan, sementara 75 persennya untuk pemerintah.” Namun tetap, pemerintah “resmi” Yaman menolak tawaran tersebut, demikian menurut keterangan dua orang ketua suku dan seorang mantan menteri transportasi bernama Badr Basalamah.

“Ya, hal itu betul-betul terjadi,” kata Basalamah saat berbicara via telepon dari ibukota Arab Saudi, Riyadh. “Pemerintah sama sekali menolak berurusan atau membuat kesepakatan tersebut, karena hal itu berarti memberikan otorisasi dan legitimasi kepada Al-Qaidah”.
Wilayah Strategis di Garis Pantai

Di pelabuhan Mukalla, jaringan penyelundupan BBM yang terus berkembang setiap hari turut memperkaya AQAP.

Sumber-sumber kesukuan, sejumlah warga, dan diplomat menyampaikan, bahwa para militan meraih kemajuan dengan mengontrol pelabuhan di Mukalla dan Ash-Shihr ketika pertama kali mereka menyerbu kota tersebut pada bulan April tahun lalu. Militan jihadis mulai memungut pajak dan tarif bea cukai terhadap kapal-kapal dan para pebisnis.

“Saat ini, kelompok jihadis itu tengah mengalami satu periode di mana mereka memiliki kekayaan dan kemewahan dalam jumlah sangat besar yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata seorang warga Mukalla kepada Reuter. Pejabat resmi di kementerian transportasi Yaman memperkirakan pemasukan AQAP setiap harinya bisa mencapai US$ 2 juta per hari. Beberapa pebisnis lokal malah menyebut angka hingga US$ 5 juta per hari dari bea cukai dan penyelundupan BBM, itu menurut Basalamah mantan menteri transportasi.

Penyuplai Utama BBM

“Anda akan melihat ada ratusan truk yang menyelundupkan minyak dari satu tempat ke tempat yang lain di mana mereka menjual minyak tersebut,” kata Basalamah. Abdallah al-Nasi, gubernur propinsi tetangga Shabwa di mana AQAP juga mengontrol sejumlah wilayah di sana mengatakan bahwa secara de facto AQAP telah menjadi penyuplai utama BBM. “Mereka menjual minyak ke siapa saja yang mau membelinya,” kata al-Nasi via HP. “Banyak SPBU yang dikelola pemerintah membeli minyak dari mereka, lalu menjualnya ke masyarakat,” imbuhnya.

Suku-suku yang bekerja dengan al-Qaidah sekarang mengontrol banyak fasilitas & infrastruktur kilang minyak di Yaman. Enam tanki minyak berwarna putih di pesisir selatan antara Mukalla dan Ash-Shihr terhubung melalui jaringan pipa ke ladang minyak Masila di mana diperkirakan menyimpan lebih dari 80 persen dari seluruh cadangan minyak Yaman.

Setelah pasukan militer pemerintah mundur dari wilayah itu tahun kemarin, milisi-milisi kesukuan bersenjata yang pro al-Qaidah mengambil alih. Hal itu mendorong perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di sana, seperti: PetroMasila milik negara, Nexen Energy asal Kanada, dan Total (Perancis), segera menghentikan kegiatan produksi dan ekspor. Seorang pejabat PetroMasila mengatakan bahwa sejumlah kecil minyak masih di-ekstraksi untuk memenuhi kebutuhan generator listrik di tingkat propinsi. Perusahaan Total mengatakan belum mulai lagi beroperasi. Sementara Nexen tidak memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Arabian Robin Hood

Apa yang terjadi merupakan sebuah perubahan dramatis yang sangat menguntungkan bagi kelompok jihadis yang didirikan pada akhir tahun 1990-an dan kemudian merger atau menyatakan penggabungan kelompok mereka dengan al-Qaidah cabang Arab Saudi pada tahun 2009.

Sebelumnya, setelah berhasil melancarkan kampanye serangan “bunuh diri” dan serangan-serangan lainnya untuk memerangi pemerintah Yaman, dan juga pasca kegagalan dua buah rencana pengeboman pesawat komersial Amerika, AQAP terpaksa mundur akibat serangan dari suku-suku di Yaman, tentara pemerintah, termasuk serangan drone Amerika yang tak pernah sepi.

Namun kini, kelompok jihadis itu telah memulai sebuah kampanye untuk memperolah aliran finansial skala besar dari perusahaan-perusahaan BUMN, termasuk perusahaan minyak nasional dan perusahaan seluler. AQAP lalu menggunakan uang itu untuk menolong/membantu masyarakat yang berada di bawah kekuasaannya.  Elisabeth Kendall, seorang akademisi Yaman di Universitas Oxford membuat istilah untuk menyebut aksi itu sebagai strategi Robin Hood.

Pada bulan Januari, sebuah kopian dokumen tuntutan yang dirilis AQAP telah beredar luas di media lokal. Isinya, AQAP menuntut uang sebesar US$ 4.7 juta yang diambil dari rekening bank perusahaan-perusahaan minyak milik negara. “Semoga Allah SWT membalas kebaikan semua pihak yang berkhidmat untuk negara dan orang-orang mukmin,” kata tulisan tersebut.

“Orang-orang miskin selama ini telah membayar sedekah kepada orang-orang kaya, sementara orang-orang yang kaya tidak mau membayar, dan mereka itulah para tirani dan penindas yang memperoleh uang dengan cara semacam itu.”

Penghapusan Pajak

Seorang pejabat tinggi keamanan pemerintah mengatakan, perusahaan minyak telah membayar penuh sejumlah US$ 4,7 juta (IDR 61,1 M). Sebuah sumber di bank mengatakan mereka hanya membayar US$ 1,4 juta (IDR 18,2 M). Sementara perwakilan resmi perusahaan minyak menolak berkomentar.

Para pejabat dari tiga perusahaan seluler terbesar di Yaman, seperti: MTN, Sabafone, dan Y Telecom, mengatakan AQAP juga menuntut mereka masing-masing membayar US$ 4,7 juta. Namun ketiga perusahaan tersebut mengaku menolak membayar.

Tahun lalu, AQAP menghapus pajak penghasilan bagi warga negara yang tinggal di wilayah kekuasaannya karena menganggap hal itu tidak sesuai dengan ketentuan Islam. Sebuah video yang diposting di YouTube pada bulan November, Kepala Mahkamah Syariah al-Qaidah di propinsi Hadramaut mengumumkan al-Qaidah akan membayar kembali kepada para pegawai negeri sebagai ganti atas pajak penghasilan yang selama ini mereka bayar. Dalam tayangan video, terlihat seorang birokrat al-Qaidah sedang menghitung uang di antara tumpukan gepok mata uang Yaman untuk upah/gaji pekerja.

“Orang-orang miskin selama ini telah membayar sedekah kepada orang-orang kaya, sementara orang-orang yang kaya tidak membayar, dan itulah para tirani dan penindas yang memperoleh uang dengan cara semacam itu,” kata seorang pejuang AQAP bernama Ali bin Talib al-Kathiri dalam sebuah video lainnya. “Karena para penindas itu tidak menerapkan hukum Allah, maka mereka memakan harta manusia dengan cara yang batil,” imbuhnya.

Namun kemudian al-Kathiri terbunuh pada bulan Januari dalam sebuah baku tembak dengan suku-suku di selatan. Tetapi menurut Kendall, seorang akademisi Oxford, bahwa strategi populis AQAP sudah terbayar.

Strategi Re-Branding

AQAP secara berkala memposting gambar dokumentasi & foto-foto para pejuang mereka sedang memperbaiki jembatan-jembatan yang rusak, merenovasi jalan-jalan dengan paving block di Hadramaut dan kota-kota lainnya yang berada di bawah kontrol mereka. Mereka mengatakan dana pembangunan tersebut berasal dari kelompok-kelompok Islam seperti Ansharus Syariah, dan Abnaul Hadramout (versi Inggris: Sons of Haramout). Nama-nama tersebut dipakai AQAP sebagai strategi re–branding untuk meyakinkan bahwa mereka asli Yaman.

Dalam sebuah video yang diposting pada tanggal 28 Februari, terlihat para jihadis AQAP terlibat dalam program baksos dengan memberikan bantuan suplai berupa obat-obatan dan peralatan medis di sebuah rumah sakit setempat. Kotak-kotak obat dalam jumlah besar berisi suplai medis tersebut masih tersegel rapi dengan logo perusahaan farmasi Barat.

“Ini ada obat-obatan dari saudara kalian, Ansharus Syariah, untuk rumah sakit umum yang sempat nyaris tutup …karena masalah dana,” kata seorang pejuang yang wajahnya diblur. Terlihat juga dalam tayangan video seorang pejabat rumah sakit mengatakan,bahwa mereka  telah menerima bantuan uang dari al-Qaidah untuk membayar gaji pegawai-pegawainya.

Dukungan Publik

Oleh musuh-musuhnya terutama Barat, AQAP dituding telah mengeksploitasi rasa ketidakadilan warga dengan menyusupkan isu SARA untuk mencitrakan proyek pendirian negara versi mereka sebagai sebuah gerakan pembebasan. Namun hal itu dibantah oleh salah satu pemimpin senior AQAP. “Banyak sekali wilayah yang jatuh ke tangan kami setelah Hautsi pergi karena kami merupakan entitas yang dipercaya oleh masyarakat,” kata pemimpin AQAP Batarfi.

Di lima propinsi di pesisir selatan yang membentang dari ibukota-sementara pemerintah di Aden hingga Mukalla, sebuah pola umum telah menjadi fenomena yang biasa dalam beberapa bulan terakhir. Dimulai dengan penyerbuan pasukan al-Qaidah untuk membebaskan sebuah kota, memasang bendera-bendera hitam & putih mereka, kemudian mengontrol kota-kota tersebut dengan status sebagai pemimpin/penguasa lokal yang harus diterima.

Sebagian masyarakat mengaku sudah lelah untuk terus hidup dengan berpindah-pindah, dan mereka lebih memilih hidup di bawah kekuasaan al-Qaidah.  Ini tercermin dari ungkapan salah seorang Syeikh (warga senior berusia lanjut) di Yaman, “Dengan al-Qaidah, jika kalian melawan, kalian tidak akan pernah tahu kapan mereka datang untuk membunuh kalian.”

AQAP juga telah mengambil pelajaran untuk tidak berbuat semena-mena, seperti ISIS, yang harus berjuang keras untuk mendapatkan basis yang kuat di tengah warga yang terusir akibat kebrutalan mereka. Sementara penerapan hukuman mati oleh AQAP terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai dukun pelaku sihir, dan juga rajam terhadap seorang laki-laki dan perempuan yang berzina, para warga dan juga media online kelompok jihadis tersebut menyatakannya sebagai kasus yang  jarang terjadi.

Dan bahkan ketika AQAP harus mempublikasi pelaksanaan hukuman, video-video dan foto-fotonya tidak ditampilkan secara vulgar ala ISIS. Sejumlah aktifis mengatakan, AQAP tidak melakukan eksekusi masal terhadap puluhan perwira militer dan sejumlah figur  yang dianggap sebagai musuh, namun mereka menjadikan orang-orang itu sebagai tahanan rumah.

Seorang warga Mukalla lainnya mengatakan bahwa hidupnya telah berubah semenjak AQAP menguasai kota itu. “Kami bisa hidup secara normal, mereka berjalan-jalan normal seperti biasa di tengah masyarakat,” katanya via telepon.

Metamorfosis Ancaman Barat

Seorang diplomat di tingkat regional yang mengikuti perkembangan Yaman berpendapat bahwa jika al-Qaidah terus berhasil mengembangkan diri mereka sebagai sebuah organisasi politik dan ekonomi, mereka akan menjadi sebuah ancaman serius karena kemampuan mereka bergerak secara fleksibel, hampir seperti cabang al-Qaidah al-Syabaab di Somalia.

“Kita barangkali akan menghadapi al-Qaidah dalam bentuk yang lebih rumit,” kata diplomat tersebut menjelaskan. “Bukan sekedar organisasi teroris, tetapi juga merupakan sebuah entitas gerakan yang menguasai suatu wilayah di mana masyarakat senang tinggal di wilayah itu.”

Sumber: Reuters
Penulis: Yasin Muslim

0 Comments:

Post a Comment