04 April 2016

Hillary Clinton di Balik Kekacauan Libya

Sebagaimana yang dimandatkan oleh undang-undang keamanan federal PATRIOT Act., setiap tahun diselenggarakannya pemilihan umum di Amerika, mantan Dato Bandar New York Rudy Giuliani harus tampil di televisen nasional dan memberikan sambutan mengenahi peristiwa 9/11. Setiap orang Amerika tahu dan selalu menantikan momen itu. Tetapi para pemirsa TV di seluruh pelosok Amerika dibuat bingung dan bertanya-tanya menyusul pernyataan Giuliani yang dianggap keluar konteks saat tampil di Fox News baru-baru ini.

Tudingan Giuliani

Para politisi menjelaskan, ketika berbicara kepada Bill O’Reilly di siaran Fox News, mantan Dato Bandar New York itu mengatakan bahawa Hillary Clinton “membantu menciptakan ISIS” melalui
keterlibatannya bersama Presiden Barack Obama saat membuat kebijakan menarik pasukan dari Iraq.

Banyak pihak termasuk orang orang Amerika yang terkejut bahawa Rudy membuat tudingan serius semacam itu di saat orang-orang berharap dan menantikan pidatonya mengenahi insiden 9/11sehingga mampu menjelaskan lebih jauh tentang serangan tersebut. Tetapi nampaknya ada sebuah kebenaran yang terpendam begitu mendalam di antara kata-kata pidatonya yang cukup tajam itu.

Giuliani ingin kita semua percaya bahawa dunia telah menjadi tempat yang lebih berbahaya karena Hillary Clinton adalah seorang hipokrit yang pura-pura tidak suka mengebom negara-negara dengan penduduk berkulit coklat (Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Barat, Asia Selatan, Asia Tenggara).  Ya, dunia memang telah berubah menjadi tempat yang lebih berbahaya dari sebelumnya, tetapi untuk suatu alasan yang pasti, yaitu karena kegemaran Clinton terhadap intervensionisme telah berkontribusi mendestabilisasi Timur Tengah dan Afrika Utara, lalu menciptakan kondisi yang ideal bagi kelompok-kelompok “teroris” termasuk ISIS untuk semakin eksis dan berkembang. Dalam hal ini, dia (Clinton) memang “membantu menciptakan ISIS”....lagi KIBLAT.NET


Hillary Clinton, Pendukung Utama Invasi AS ke Iraq 2003

Sebagai seorang yang mendukung invasi Amerika ke Iraq, yang kemudian terjadi pada tahun 2003 – Senator Clinton bersikeras bahwa Saddam Hussein memberikan tempat yang aman bagi teroris. Di samping kemudian tudingan itu terbukti omong kosong, ada sebuah ironi bahwa invasi militer Amerika telah mengubah Iraq menjadi sebuah inkubator besar para teroris, lebih besar daripada “yang diberikan” oleh Saddam Hussein. Penasehat tertinggi militer AS, Jenderal David Petraeus secara jujur mengatakan bahwa, “Tidak bisa dipungkiri, ISIS tidak akan pernah ada jika seandaianya kita (AS) tidak menginvasi Iraq”. Demikian juga dengan pernyataannya yang lain, “Kita harus mengakui banyaknya masalah di Timur Tengah itu akibat perbuatan kita sendiri”.

Invasionisme Hillary Clinton Ke Libya

Tetapi jika kita mau membantah, bahwa Hillary Clinton telah terlibat dalam menumbuhkan dan menciptakan ISIS atau kelompok-kelompok teroris yang lain – dan memang masalah inilah yang sedang kita perdebatkan – sebaiknya kita memfokuskan perhatian pada upaya advokasi Hillary Clinton yang dilakukan secara terus menerus untuk menjadikan Libya menjadi negara yang jatuh dilanda kekerasan. Sayangnya tidak banyak orang yang menganggap bahwa Clinton layak bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi di negara Libya dengan tanpa memberi alasan apapun. Mereka itu sangat memalukan.

Termakan Rumor tentang Viagra

Sebagai seorang ksatria perang salib yang konon menjadi pembela semua perempuan – terutama bagi para perempuan yang tinggal di negara-negara di mana Clinton mati-matian ingin mengebomnya – lalu ia beralasan bahwa AS punya tanggung jawab moral untuk mengintervensi Libya. Hillary Clinton menyatakan sangat prihatin dengan pasukan Muammar Gaddafi yang menggunakan perkosaan sebagai senjata. Ternyata kemudian diketahui bahwa Hillary Clinton secara latah dipengaruhi oleh rumor yang disiarkan dari stasiun Al-Jazeera yang mengklaim bahwa Gaddafi membagi-bagikan Viagra gratis kepada para tentaranya sehingga mereka bisa memperkosa kapan saja mereka mau.

Setelah Libya berhasil dihancurkan akibat  “zona larangan terbang” oleh NATO, Amnesty International mempublikasikan sebuah laporan yang secara telak membantah alasan-alasan keinginan Hillary untuk perang.

Seperti di Iraq, Alasan Invasi ke Libya Tidak Terbukti

Bukan sekedar kami tidak menemukan para korban perkosaan, tetapi kami bahkan tidak menjumpai orang-orang  yang pernah bertemu dengan para korban perkosaan itu. Terkait dengan sejumlah kardus kemasan pil Viagra yang “akan dibagikan Gaddafi” tersebut, ternyata masih utuh tergeletak di dekat tank-tank militer yang telah hancur dan terbakar.

Kotak kemasan tempat pristine-Viagra yang ditemukan dekat dengan sejumlah tank yang sudah terbakar itu bukanlah satu-satunya benda yang ditanam di Libya. Menurut laporan, Amnesty Int’l gagal menemukan bukti-bukti adanya pelanggaran hak asasi manusia yang dijadikan justifikasi Washington untuk melakukan intervensi.  Dan di banyak kasus, laporan Amnesty tersebut  telah mendiskreditkan atau meragukan para politisi di Washington. Juga ditemukan sejumlah indikasi bahwa dalam beberapa peristiwa pemberontakan yang terjadi di Benghazi nampaknya  hal itu merupakan klaim yang diketahui tidak benar atau merupakan bukti yang direkayasa.

Libya adalah Negara Maju dalam Pembangunan Manusia

Hal positif yang sudah ada dalam perang ilegal Barat/NATO di Libya itu bahwa sebelum Hillary Clinton mulai menyebarkan isu pemerkosaan, Libya sendiri merupakan sebuah negara yang maju dalam hal pembangunan sumber daya manusia, di mana menurut data PBB, pada tahun 2010 Libya menempati ranking ke-53 dari 163 negara dalam hal Indeks Pembangunan Manusia. Dengan angka harapan hidup 74,5 tahun, tingkat melek huruf orang dewasa 88,4 persen, dan rasio partisipasi bruto 94,1 persen, menjadikan Libya termasuk negara dengan tingkat pembangunan/pengembangunan sumber daya manusia yang tinggi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Menjadi Lahan Subur Para Jihadis

Sebelumnya terjadi kekacauan seperti yang berlangsung saat ini, Libya merupakan negara yang menikmati standar hidup yang lebih tinggi daripada dua pertiga penduduk dunia lainnya. Namun sekarang, negara itu telah berubah menjadi daerah kantong yang aman bagi kelompok-kelompok jihadis dan pejuang Islam. Di saat ISIS mengalami kemunduran di Suriah dan Iraq, justru di Libya terlihat menjadi lahan yang subur bagi para jihadis.

Menurut The Atlantic, para pejabat intelijen AS memperkirakan bahwa jumlah jihadis di Libya telah membengkak  menjadi 6.500 pejuang, hal itu berarti meningkat lebih dari dua kali lipatnya  sejak Libya jatuh. Di samping kelompok-kelompok jihadis yang telah eksis sebelumnya, ISIS pertama kali mendeklarasikan keinginan mereka untuk hadir di Libya pada tahun 2014, dan sejak saat itu mereka mulai melancarkan beberapa kali serangan. Saat ini – menurut klaim intelijen Amerika – kelompok ISIS mengontrol garis pantai Libya sepanjang 150 mil.

Hillary Clinton dan Jurnalisme Kuning

Inilah yang disesalkan banyak pihak di Barat, bahwa Hillary Clinton telah mengubah negara Libya yang stabil dan maju di bidang pembangunan sumber daya manusia menjadi surga bagi para jihadis dengan cara yang mungkin membuat William Randolph Hearst (1863-1951) muak. Hearst adalah seorang tokoh klasik Amerika sekaligus raja media pada saat itu – kini Hearst Cororation – yang terkenal atas cerita-cerita sensasional, namun sering tidak akurat dan tidak sesuai dengan fakta.

Dalam satu kesempatan, demi mendukung negaranya berperang melawan Spanyol, hobi para “jurnalis kuning” Amerika saat itu adalah membuat atau mengarang cerita rekaan, seperti dalam kisah film kategoti PG-13 mengenahi perilaku tentara Spanyol yang digambarkan suka memcumbui gadis-gadis Kuba. Parodinya adalah, seandainya Hearst telah melaporkan bahwa para serdadu Spanyol sedang berpesta Viagra di ibukota Havana, maka serdadu-serdadu Amerika tentu akan bisa terus bergerak maju hingga mencapai kota Madrid.

Lupakan (insiden) Benghazi 2012 yang menewaskan top-diplomat Amerika dan sejumlah agen CIA di Libya, karena Menteri Luar Negeri saat itu, Hillary Clinton harus bertanggung jawab atas kejahatan yang jauh lebih besar.

Sumber: Huffington Post/Penulis: Yasin Muslim

0 Comments:

Post a Comment