09 Mac 2016

Parti AKP yang Semakin Tak Demokratis ?

Secara mengejutkan, Parti AKP yang berkuasa di Turki akhir minggu ini menutup akhbar terbesar di negara itu. Pengadilan Turki menunjuk sejumlah orang sebagai badan pengawas untuk mengelola Surat khabar Zaman dan edisi bahasa Inggrisnya, Today Zaman.

Zaman, dikenal sebagai media cetak harian yang sangat keras menentang pemerintahan Parti AKP dan Erdogan. Akhbar ini dimiliki Fethullah Gulen, tokoh oposisi yang berbasis di Amerika.

Pada Isnin, (07/03), AKP melanjutkan kempen kerasnya terhadap media oposisi dengan menutup Cihan News. Sebelumnya, stasen televisen IMC TV yang pro-Kurdi dan Bengu TV, media sayap kanan milik perusahaan satelit Turksat juga ditutup.Pemred Zaman edisi berbahasa Jerman,...

Suleyman Beg, tengah memegang edisi terakhir akhbar itu.
Dalam tiga tahun belakangan ini, Parti AKP dan Erdogan memang gencar mendapat serangan propaganda media-media liberal. Bagaimana tidak, kemenangan pemilihan raya uum parti berasas Islam di Turki ini seolah menjadi role-model di seluruh dunia, bahawa demokrasi masih menyisakan tempat bagi orang Islam. Maklum saja, sejarah kelam memenangkan pemilu tapi tak berujung diperolehnya kekuasaan sudah pernah dikecap oleh FIS di Aljazair, Hamas di Palestin dan Ikhwanul Muslimin di Mesir...LAGI


Turki pun berbagi kesamaan dengan publik Indonesia, yang sangat mengandalkan informasi dari media (berbagi kesamaan soal selera sinetron juga . Akibatnya, kampanye-kampanye negatif yang disebar oleh musuh-musuh politiknya perlahan mulai diterima oleh publik Turki sebagai sebuah realitas. Misalnya, beberapa waktu lalu, muncul rekaman suara yang dituduh sebagai Erdogan dan putranya, Bilal Erdogan, jelang pemilu 2014.

Erdogan pun mengambil langkah tegas, Harian Cumhuriyet yang oplahnya berkisar 60.000 menjadi media yang pertama ditutup. Alasannya, Cumhuriyet merilis berita fitnah terkait adanya truk sarat senjata yang dikirimkan pemerintah Turki kepada kombatan di Suriah.

Tapi AKP dan Erdogan tak mau bertingkah sembrono. Mereka juga berhitung resiko bahwa langkah pemblokiran media pasti akan menuai keras dunia Barat. Oleh sebab itu, tindakan represifnya dimulai dengan sebuah narasi yang didukung oleh investigasi pemerintah bahwa ada upaya kudeta tangan asing terhadap kedaulatan bangsa Turki. (Baca juga: Turki Mulai Selidiki Spionase Terhadap Rapat Rahasia)

Sebelum koran Zaman diambil alih, pihak kepolisian Turki telah menahan empat pengusaha Turki sebagai bagian dari penyelidikan “negara paralel”. Haci Boydak dan adiknya, Memduh Boydak, dituduh sebagai anggota dan memberikan dukungan keuangan kepada “negara paralel”, sementara dua eksekutif lainnya – Murat Boydak dan Erol Boydak – dituduh menyebarkan propaganda untuk organisasi tersebut di media sosial.

“Negara paralel” yang juga dikenal dengan inisial Feto/PDY, adalah kelompok oposisi Erdogan yang terdiri dari birokrat Turki dan pejabat senior yang bergerak secara klandestin. Mereka ditanam dalam lembaga-lembaga negara, termasuk lembaga peradilan dan kepolisian Turki.

AKP tak lagi demokratis
Selain menuai kecaman Barat, konsekuensi yang bakal dihadapi Turki pasca pemblokiran media adalah tudingan yang dilontarkan lawan politiknya bahwa “Partai AKP tak lagi demokratis”. Dalam konsep demokrasi, media/pers adalah pilar keempat demokrasi sebagai alat kontrol kekuasaan.

Ketika Erdogan dan AKP membungkam outlet media oposisi, dalam sekejap mereka akan dituduh sebagai pengkhianat dalam penerapan konsep demokratis. Kasus ini akan semakin menguatkan pandangan Fethullah Gulen yang didukung Amerika bahwa Erdogan semakin membawa Turki ke arah Islamisasi dan otoritarianisme.

Di sisi lain, Erdogan juga menyadarkan kepada dunia bahwa konsep demokrasi adalah konsep yang hipokrit. ‘Vox populi vox dei’ adalah slogan omong kosong. Buktinya, tak ada satu pun partai Islam pemenang pemilu di dunia yang diberikan keleluasaan untuk mengatur negaranya sendiri tanpa intervensi Amerika.

Maka dari itu, Erdogan pun semakin meninggalkan gaya berpikir (bukannya sistem) demokrasi dan melangkah ke arah yang lebih maju. Meskipun pada akhirnya ia mesti rela bakal disebut rezim otoriter.

4gw ilus

Babak akhir perang informasi
Penutupan sejumlah media yang dilakukan Erdogan dan Partai AKP pada akhirnya menyeret kita kepada satu kesimpulan; bahwa kita sudah mulai masuk pada satu era yang disebut ‘Perang Generasi Keempat’ (4GW). Sebuah masa dimana kekuatan yang mendominasi tak lagi kekuatan fisik dan alat tempur yang modern, tetapi informasi. (Baca juga: Perang Generasi Keempat)

Erdogan paham betul, serangan propaganda yang digencarkan koran Zaman dan media sejenisnya jika dibiarkan akan merontokkan kekuasaannya. Sebab, di era ‘Perang Generasi Keempat’ dimensi moral dianggap lebih penting daripada tekhnologi, fokusnya pun berubah dari pengembangan tekhnologi menuju ide.

Konsep terpenting dalam Perang Generasi Keempat (4GW), ialah bukan berusaha mengalahkan pasukan militer musuh tapi menyerang kemauan politik musuh, mendorong pembangkangan sipil dengan jaringan ikatan budaya sosial dan ekonomi, serta kampanye disinformasi dan aktivitas politik yang inovatif.

Tapi pertanyaannya sampai mana perang informasi -yang medan tempurnya beralih dari satu narasi ke narasi berikutnya- akan berakhir?? Erdogan menjawabnya dengan satu tindakan inisiatif; dengan kekuatan fisik.

Polisi Turki pada Jumat(04/03) lalu menggerebek kantor harian Zaman dengan menggunakan gas air mata dan watercannon untuk membubarkan para pendukung Gulen. Pada akhirnya, alat negara yang dipakai Erdogan memasuki gedung untuk memaksakan perintah pengadilan menempatkan bisnis media di bawah pengelolaan pemerintah.

Erdogan tak sepenuhnya salah. Di masa Nabi SAW dan para sahabat, perang informasi hanyalah langkah awal revolusi fisik. Fathu Makkah adalah puncaknya. Tapi tantangan terbesar perang informasi kala itu, mungkin berada di fase kemunculan nabi palsu. (Baca juga: Kebijakan Strategis Abu Bakar Ash-Shiddiq (2): Memerangi Orang-orang Murtad)

Ayat-ayat Al-Quran yang diimani sebagai narasi kebenaran dilawan dengan ayat-ayat palsu dan dibawa oleh nabi palsu yang memiliki kekuatan sihir. Pasca Nabi wafat, tak urung ribuan orang terpengaruh oleh munculnya nabi-nabi palsu di Jazirah Arab.

Abu Bakar sebagai khalifah pertama pun mengambil tindakan keras dengan mengangkat panji perang. Sebelumnya, muncul sosok sahabat bernama Ar-Rajal bin Unfuwah. Ia meminta izin kepada Abu Bakar agar bisa melawan narasi yang dibawa oleh Musailamah Al-Kazzab, sang nabi palsu dengan jalan diplomasi dan ajakan dakwah. Belakangan, bin Unfuwah malah tersihir dan masuk dalam barisan pendukung sang nabi palsu. (Baca juga: Kolom Abu Rusydan: Inhiraful Ushur)

Hari ini, perang informasi adalah medan pertempuran yang tak terhindarkan. Bahkan, terhadap Erdogan yang berkuasa. Namun, perang narasi lewat kata-kata pun pasti ada batasnya. Hal ini, persis seperti ungkapan Usamah bin Laden pada Amerika, “Jika memungkinkan untuk menyampaikan pesan kami melalui kata-kata, kami tak akan mengirimkan ini melalui pesawat.”http://www.kiblat.net


0 Comments:

Post a Comment