20 Februari 2016

Fakta..Syiah Itu Musyrik

Nahimunkar.com
Syiah itu Musyrik. Itu telah dijelaskan dalam hadis Nabi SAW. Dan kini terungkap, dalam diskusi di Gedung PP Muhammadiyah Jakarta (16/02 2016).

Amin Djamaluddin dari LPPI mengutip pernyataan di dalam buku ‘Kecuali Ali’, yang ditebitkan Islamic Cultural Centre (ICC), Pejaten, Jakarta disebutkan bahawa Tuhan (orang-orang) Syiah itu adalah Ali. Dalam sebuah riwayat yang ditafsirkan oleh Imam Syiah, “Bahawa segala sesuatu akan musnah kecuali wajah Allah, yang dimaksud wajah Allah di situ ialah Ali alaihi salam,” tutur peneliti aliran sesat ini.

Jurus taqiyah dari pentolan syiah ternyata tetap tidak mampu menutupinya, walau sampai diajukan argumen, namun justru menambah terperosoknya pihak syiah.

Di antara agumen yang dikemukakan pentolan syiah: “Adapun, di Syiah tidak ada satu kitab syiah pun yang sahih sehingga seluruhnya boleh dipersoalkan dan diperdebatkan,” kata Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab.

Kalau tidak ada satu kitab syiah pun yang sahih, seharusnya cukup memegangi yang shahih, bahkan dari Nabi saw lagi. Ini di antaranya:

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ عَلِيٍّ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ، قَالَتْ: نَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَ: «هَذَا فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ قَوْمًا يَعْلَمُونَ الْإِسْلَامَ، ثُمَّ يَرْفُضُونَهُ، لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ مَنْ لَقِيَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ»مسند أبي يعلى الموصلي (12 / 116): 6749 –  [حكم حسين سليم أسد] : إسناده صحيح

Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- melihat kepada Ali -Radiallahuanhu- lalu berkata: “Ini (maksudnya adalah Ali) ada di syurga, dan diantara syiahnya ada satu kaum yang mengerti Islam kemudian menolaknya, mereka memiliki tanda disebut rafidhah, barang siapa bertemu mereka maka bunuhlah (di riwayat lain perangilah) sesungguhnya mereka itu musyrik.” مسند أبي يعلى الموصلي

Husain Salim Asad menghukuminya: sanadnya shahih.

Dengan terungkap musyrikya syiah ini, maka menambah jelas terbuktinya hadits Nabi saw tersebut, dan Umat Islam semakin faham, bahawa syiah itu justru merusak aqidah Islam.

Inilah beritanya, dan di bahagian bawah ada bukti-bukti lain tentang musyriknya syiah.....


***

Diskusi Jurnal Maarif, Ketua Dewan Syuro ABI: Ali Itu Manifestasi Tuhan di Muka Bumi

KIBLAT.NET, Jakarta – Maarif Institute pada Rabu (17/02) menggelar diskusi sekaligus peluncuran Jurnal Maarif, bertajuk ‘Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik’. Acara digelar di Aula KH Ahmad Dahlan PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat.

Hadir sebagai narasumber diskusi adalah Prof Yunahar Ilyas, (Ketua PP Muhammadiyah), Dicky Sofyan (ICRS UGM), Hikmawan Saefullah (Hubungan Internasional Unpad), Umar Shahab (Ketua Dewan Syuro ABI) dan Ahmad Imam Mujadid (Pimred Jurnal Maarif).

Diskusi berjalan menarik saat memasuki sesi tanya jawab. Di tengah para peserta diskusi, hadir pula Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) M. Amin Djamaluddin.

Amin mengajukan sejumlah kejanggalan yang ia pelajari dari kitab-kitab induk Syiah. Pada kesempatan itu ia membawa setumpuk buku-buku Syiah yang beredar di Indonesia, di antaranya adalah buku ‘Fiqh Ja’fari’, ‘Kecuali Ali’ dan ‘Mafatihul Jinan’.

Kitab Fiqh Jafari yang diberi pengantar oleh Umar Shahab.

Menurut penjelasan Amin, dalam kitab ‘Fiqh Ja’fari’ tersebut disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan boleh keluar rumah dengan telanjang. Karena perbedaan aurat antara ajaran Islam (Sunni) dengan Syiah berbeda batasannya.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Dr. Umar Shahab mengatakan, dirinya tidak banyak tahu dengan buku-buku yang dibawa Amin Djamaluddin tersebut. “Akan tetapi terkait yang dipertanyakan tadi, fiqh Sunni dan Syiah ada perbedaan-perbedaan,” kata Umar.

Sembari menjelaskan posisinya dalam buku Fiqh Ja’fari sebagai pemberi pengantar bukan sebagai penerjemah, Umar pun menanggapi pertanyaan Amin.

“Dalam fiqh tentu Sunni dan Syiah banyak sekali perbedaan-perbedaan. Di antaranya terkait perihal shalat, dalam shalat memiliki syarat yakni menutup aurat. Akan tetapi batasan pakaian menutup aurat menurut Sunni yakni menutup bagian pusar hingga lutut. Adapun di Syiah pakaian itu hanya sekedar menutup dua kemaluan,” beber Dosen STFI Sadra Jakarta ini.

Dalam situasi tertentu, Umar melanjutkan, jika terpaksa tidak ada pakaian, tidak ada penutup lainnya maka orang tetap harus shalat walaupun dalam keadaan telanjang. Sehingga riwayat yang disebutkan di dalam kitab Fiqh Ja’fari tadi merupakan landasan bahwa shalat boleh dalam keadaan telanjang jika terpaksa.

Amin pun melanjutkan pertanyaannya sambil mengutip pernyataan di dalam buku ‘Kecuali Ali’, yang ditebitkan Islamic Cultural Centre (ICC), Pejaten, Jakarta disebutkan bahwa Tuhan (orang-orang) Syiah itu adalah Ali. Dalam sebuah riwayat yang ditafsirkan oleh Imam Syiah, “Bahwa segala sesuatu akan musnah kecuali wajah Allah, yang dimaksud wajah Allah di situ ialah Ali alaihi salam,” tutur peneliti aliran sesat ini.

Direktur LPPI saat bertanya kepad Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab.

Seolah berbalas pantun, Umar Shahab pun memberikan jawaban perihal ayat yang menyebutkan bahwa “Kullu Syayin Haalikun Illa Wajhullah” yang berarti bahwa segala sesuatu akan binasa kecuali ‘wajhullah’. Umar Shahab sama sekali tak membantah penjelasan tersebut.

“Dalam perihal ini sebetulnya ayat itu merupakan pendekatan irfani, sehingga perlu dipahami bahwa di Syiah itu ada kajian filsafat dan kajian Irfani bukan sekedar tasawuf. Dalam tasawuf itu ada yang namanya tasawuf Sunni dan tassawuf falsafi, adapun Syiah yakni tasawuf falsafi yang bukan hanya sekedar praktek-praktek namun lebih kepada pemahaman-pemahaman terhadap keberadaan Tuhan dan sebagainya,” klaim Umar.

Menurutnya, dalam riwayat tersebut, jika dilihat dari segi riwayat  tidak ada jaminan pasti keshahihannya. Karena Syiah tidak seperti Sunni yang memahami bahwa misalnya riwayat kitab Shahih Bukhari. Adapun, di Syiah tidak ada satu kitab syiah pun yang sahih sehingga seluruhnya bisa dipersoalkan dan diperdebatkan.

Terkait riwayat ini Umar Shahab menilai, riwayat tersebut memiliki dua kemungkinan meskipun benar adanya. Pertama, kemungkinan tertolak karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Al-Quran. Syiah memiliki prinsip sebagaimana yang disebutkan di dalam Kitab Al-Kaafi, “Jika kalian mendengar hadits dari kami ‘ma khalafa kitaballah wa sunnati rasulih fadribuhu alal jidar’ (yang menyimpang dari Al-Quran dan As-Sunnah maka lemparkan saja ke tembok). Artinya bagi orang Syiah ini tidak mesti harus diterima tetapi ada namanya pendekatan irfani yang merupakan pendekatan transedental yang tidak hanya terpaku kepada hal-hal yang lahiri tapi mencoba melihat ada apa di balik semuanya,” kata dia.

Jadi, sambung Umar, jika ‘wajhullah’ itu dimaknai Ali itu juga merupakan pendekatan irfani. “Karena Ali merupakan manifestasi dari Tuhan di muka bumi. Bukan berarti bahwa Ali lebih mulia dari sosok Nabi, akan tetapi Ali ini merupakan sosok yang sangat mulia dan sempurna di kalangan Syiah,” bebernya.

Umar pun mengakui, jangankan irfan, ilmu falsafat dan mantiq saja dianggap sesuatu yang tabu di kalangan Ahlussunnah. Apalagi kemudian yang masuk kepada hal-hal yang transedental. Akan tetapi, Umar berkilah riwayat-riwayat yang tercantum ‘illa wajhullah’ ditakwil menjadi ‘illa Ali’ ini termasuk riwayat Ghulat (ekstrem).

“Memang di riwayat-riwayat itu banyak terdapat ghulatnya dan ini jelas tertolak,” pungkas alumni Qum ini.

Reporter: Hafiz Salman dan Syafii Iskandar
Editor: Fajar Shadiq/kiblat.net

***

Susah Jadi Syiah, Umar Shahab: Saran Saya Lebih Baik Gak Usah Masuk Syiah

Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab.

KIBLAT.NET, Jakarta – Dalam lanjutan sesi tanya jawab antara panelis dan peserta diskusi bertajuk ‘Syiah, Sektarianisme dan Geopolitik’, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Muhammad Amin Jamaluddin mendebat Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab.

Amin Jamaludin menukil sebuah buku terbitan kaum syiah berjudul ‘Mafatihul Jinan’ yang ia bacakan sendiri di hadapan peserta diskusi di Aula KH Ahmad Dahlan, Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta Pusat, tadi malam (16/02). (Baca juga: Diskusi Jurnal Maarif, Ketua Dewan Syuro ABI: Ali Itu Manifestasi Tuhan di Muka Bumi)

“Shalat Rasul dua rakaat dan di setiap rakaat bacalah surah Al-Fatihah satu kali dan ‘Inna Anzalnahu’ dalam surah Al-Qadr lima belas kali. Bacalah juga surah Al-Qadr tersebut ketika rukuk, bangun dari rukuk, sujud pertama, bangun dari sujud pertama, baca juga di sujud kedua, dan bangun dari sujud kedua yang dari masing-masing tersebut dibaca lima belas kali. Sehingga dalam satu rakaat sebanyak 90 kali membaca surah Al-Qadr dan jika dua rakaatnya membaca 180 kali membacanya,” ujar Amin saat membacakan isi buku tersebut.

“Dalam buku ini semua imam syiah itu membuat tata cara shalat sendiri-sendiri,” lanjutnya.

Amin juga mengutarakan buku syiah yang berjudul ‘Mafatihul Jinan’ (Kunci-Kunci Surga) ini seolah ingin menyampaikan kalau mengikuti buku ini maka sudah memiliki kunci surga. Padahal isi-isinya sangat menyimpang dengan ajaran Islam.

Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Syuro ABI Umar Shahab mengatakan kitab ‘Mafatihul Jinan’ merupakan kumpulan buku tentang doa-doa yang diriwayatkan oleh imam-imam syiah.

“Catatannya ini buku doa bukan buku fiqh. Doa hanyalah sekedar doa yang riwayatnya bisa lemah bisa tidak,” bantahnya.

Terkait riwayat shalat-shalat itu, Umar menegaskan, bukan berarti bahwa imam-imam syiah membuat shalat masing-masing.

“Jujur sebenarnya jikalau mau jadi orang syiah benar itu susah. Kaki pegal karena banyak sunah-sunah rawatibnya. Rawatib di kalangan Syiah itu 51 rakaat jadi 34 rakaat sehari-hari. Belum lagi yang 100 rakaat. Kalau mau jujur susah jadi syiah itu, saran saya lebih baik gak usah masuk Syiah lah. Memang jadi Syiah juga ada enaknya,” tuturnya.

Umar melanjutkan penjelasannya soal hadits yang dipajami oleh sekte syiah itu tidak terbatas pada perbuatan, perkataan dan ketetapan (takrir) Rasulullah SAW. Hadits Syiah itu yakni “Qaulul ma’sum wa fi’luhu wa takriruhu” jadi lebih melebar bukan hanya kepada Rasulullah SAW melainkan kepada 14 imam yang dianggap suci oleh kaum Syiah.

Dosen STFI Sadra ini juga secara terus terang membuka diri bahwa konsepsi ketuhanan antara Syiah dan Islam (Sunni) memang beda. Umar menuding konsep ketuhanan Ahlusunnah cenderung pada konsep mujassimah (cenderung memfisikkan).

“Sedangkan konsepsi Tuhan Syiah, ‘la haraka‘ (tidak berbentuk) jadi memang beda konsepsi Syiah dengan Sunni. Kalau Syiah memahami Tuhan dengan hal-hal yang berhubungan kepada keyakinan, lebih condong kepada argumen yang rasional ketimbang argumen tekstual. Adapun Sunni sebaliknya lebih meyakini beragumen dengan tekstual ketimbang argumen rasional,” sebutnya.

Amin yang telah lama berkiprah sebagai peneliti aliran sesat ini menjelaskan, landasan dasar antara Islam (Sunni) dengan Syiah memang sangat jauh berbeda sehingga hal ini menyebabkan persatuan antara Islam dan Syiah adalah hal yang mustahil.

Ia bercerita pernah dipanggil oleh Kemenko Polhukam dan anggota DPR untuk menjelaskan perbedaan hadits-hadits umat Islam Ahlusunnah yang bersumber hanya dari Nabi Muhammad SAW, sedangkan di Syiah semua perkataan imam-imam mereka itu adalah hadits.

“Jadi menurut saya tidak mungkin antara Syiah dan Sunni akan bisa bersatu, sebab tuhannya saja berbeda,” ungkapnya.

Reporter: Hafidz Salman dan Syafii Iskandar
Editor: Fajar Shadiq/kiblat.net

***

Syiah Mengusung Kemusyrikan
نور الدين الجزائري المالكي

http://www.alrad.net/hiwar/imam/3.htm

Ayat yang maknanya diselewengkan syiah itu bunyinya sebagai berikut:

{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [الأعراف: 180]

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [Al A’raf180]

Dalam kitab syiah:

عن أبي عبد الله (ع) في قول الله عز وجل: “ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها” قال: نحن والله الأسماء الحسنى التي لا يقبل الله من العباد عملا إلا بمعرفتنا.  (كتاب الكافي الجزء 1 صفحة 143 باب النوادر)

Dalam hal firman Alah ‘Azza wa Jalla: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu Abu  Abdillah as berkata: Kami (imam-imam syiah) wallahi adalah nama-nama indah Allah yang Allah tidak menerima amal hamba-hamba kecuali berdasarkan pengetahuan kami. (Kitab Al-Kafi juz 1 hlmn 143).

Dalam rujukan Sunni dapat dibaca: Ibnu Juraij menuturkan dari Mujahid tentang firmanNya: dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya; ia mengatakan, mereka menjadikan nama Laata dari lafal “Allah”, dan Uzza dari lafal al-‘Aziz. (Tafsir At-Thabari 13/283).

Ternyata syiah justru asmaaul husna seluruhnya yang hanya milik Allah Ta’ala itu diambil alih dimaksudkan maknanya adalah imam-imam syiah, bahkan dengan sumpah, dan diri para imam itu jadi syarat direrimanya amal para hamba.

Tapi di kitab syiah:

نحن والله الأسماء الحسنى التي لا يقبل الله من العباد عملا إلا بمعرفتنا.  (كتاب الكافي الجزء 1 صفحة 143 باب النوادر)

Kami (imam-imam syiah) wallahi adalah nama-nama indah Allah yang Allah tidak menerima amal hamba-hamba kecuali berdasarkan pengetahuan kami. (Kitab Al-Kafi juz 1 hlmn 143).

Dengan demikian, orang musyrikin jahiliyah menyelewengkan Asmaaul Husna dengan menyematkan untuk nama berhala dengan diubah sedikit ucapannya, sedang syiah langsung mengambil keseluruhan Asmaaul Husna diklaim maknanya adalah imam-imam syiah. Padahal nama-nama indah itu hanya milik Allah, menunjukkan sifat kesempurnaanNya, indah tanpa cela tanpa kekurangan. Sehingga ketika berdo’a agar disebutkan. Misalnya

فيقول الداعي مثلا اللهم اغفر لي وارحمني، إنك أنت الغفور الرحيم، وتب عَلَيَّ يا تواب، وارزقني يا رزاق، والطف بي يا لطيف ونحو ذلك. تفسير السعدي = تيسير الكريم الرحمن (ص: 310)

Orang yang berdoa berkata, misalnya: Ya Allah ampunilah aku dan sayangilah aku, sesungguhnya Engka Maha Pengampun dan Maha Penyayang, dan terimalah taubatku wahai Yang Maha menerima taubat, dan berilah aku rizqi wahai Dzat Yang Maha Memberi rizqi, dan lemah lembutilah aku wahai Dzat yang Maha Lemah Lembut. (Tafsir As-Sa’di, penjelasan ayat 180 Suart Al-A’raf).

Asmaaul Husna milik Allah diambil imam-imam syiah, lalu Allah disifati Bada’
Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40).

Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).

Dzat yang Maha menerima taubat, Maha Memberi rizqi dan sebagainya itu apakah maknanya imam-imam syiah? Ketika asmaaul husna yang hanya milik Allah Ta’ala itu diklaim maknanya adalah imam-imam syiah, dan itu tertulis jelas di kitab-kitab induk syiah, maka menambah bukti bahwa benarlah sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits, orang syiah itu musyrik
 حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِي الْجَحَّافِ دَاوُدَ بْنِ أَبِي عَوْفٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو الْهَاشِمِيِّ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ عَلِيٍّ، عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ مُحَمَّدٍ، قَالَتْ: نَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى عَلِيٍّ فَقَالَ: «هَذَا فِي الْجَنَّةِ، وَإِنَّ مِنْ شِيعَتِهِ قَوْمًا يَعْلَمُونَ الْإِسْلَامَ، ثُمَّ يَرْفُضُونَهُ، لَهُمْ نَبَزٌ يُسَمَّوْنَ الرَّافِضَةَ مَنْ لَقِيَهُمْ فَلْيَقْتُلْهُمْ فَإِنَّهُمْ مُشْرِكُونَ»مسند أبي يعلى الموصلي (12 / 116): 6749 –  [حكم حسين سليم أسد] : إسناده صحيح

Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- melihat kepada Ali -Radiallahuanhu- lalu berkata: “Ini (maksudnya adalah Ali) ada di surga, dan diantara syiahnya ada satu kaum yang mengerti Islam kemudian menolaknya, mereka memiliki tanda disebut rafidhah, barang siapa bertemu mereka maka bunuhlah (di riwayat lain perangilah) sesungguhnya mereka itu musyrik.” مسند أبي يعلى الموصلي

Husain Salim Asad menghukuminya: sanadnya shahih.

Abu Ya’la, Bazzar, Thabrani meriwayatkan sabda Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-:

كُنْتُ عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وعندَه عليٌّ فقال النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يا عليُّ سيكونُ في أمَّتي قومٌ ينتَحِلونَ حبَّ أهلِ البيتِ لهم نَبْزٌ يُسمَّونَ الرَّافضةَ قاتِلُوهم فإنَّهم مشرِكونَ

الراوي: عبدالله بن عباس المحدث: الهيثمي – المصدر: مجمع الزوائد – الصفحة أو الرقم:10/25
خلاصة حكم المحدث: إسناده حسن‏‏ (Dorar.net/hadith)

Aku (Abdullah bin Abbas) dulu di sisi Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dan di sisinya ada Ali, maka beliau berkata: “Wahai Ali akan ada dalam umatku kaum yang madzhabnya adalah “cinta ahlul bait” mereka memiliki tanda (gelar) mereka disebut Rafidhah, perangilah mereka karena mereka musyrik.” (al-Haitsami berkata: Thabrani berkata: dan sanadnya hasan. Al-Sunnah karya ibnu Abi Ashim dicetak bersama Zhilal al-Jannah, takhrij Syaikh al-Albani, 2/476)

Abdullah bin Imam Ahmad berkata: saya Tanya ayah saya: siapakah Rafidhah?: beliau berkata: yaitu orang-orang yang mencela atau mencaci Abu Bakar dan Umar.” (al-Sunnah, Abdullah bin Ahmad, 1273)

Ini bukti kemusyrikan syiah pula
Syiah: Wajah Allah=Ali

وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧ [سورة الـرحـمـن,٢٧]

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan[Ar Rahman27]
وَجۡهُ رَبِّكَ diartikan قال الصادق نحن وجه الله, para imam syiah itu wajah Allah. (بحار الأنوار للمجلسي (1111 هـ) الجزء39 صفحة88 في الشواذ

وَلِلَّهِ ٱلۡمَشۡرِقُ وَٱلۡمَغۡرِبُۚ فَأَيۡنَمَا تُوَلُّواْ فَثَمَّ وَجۡهُ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ وَٰسِعٌ عَلِيمٞ ١١٥ [سورة البقرة,١١٥]

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui
[Al Baqarah115] وَجۡهُ ٱللَّهِۚ diartikan Ali.

أبو المضا عن الرضا ع قال في قوله : ” أينما تولوا فثم وجه الله” قال : علي .

بحار الأنوار للمجلسي (1111 هـ) الجزء39 صفحة88 في الشواذ

kata ar-Ridha as mengenai firmanNya: maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah., itu adalah Ali. (Biharul Anwar oleh Al-Majlisi, (w1111H) juz 39 halaman 88)

Makalah selengkapnya yang telah dibaca oleh Hartono Ahmad Jaiz dalam tabligh akbar tentang bahaya syiah di Bekasi beberapa waktu lalu (yang culikannya tentang kemusyrikan syiah ikutip ini) dapat dibaca seutuhnya di sini: https://www.nahimunkar.com/syiah-total-berbahaya/

(nahimunkar.com)

0 Comments:

Post a Comment