13 Januari 2016

KIBLAT.NET – Sebagai umat Islam, kita diperintahkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kita dilarang memaksa orang lain untuk masuk dalam agama kita. Larangan ini disebutkan langsung di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)….” (Al-Baqarah: 256)

Namun di sisi lain, Islam juga menetapkan bahwa siapa saja yang murtad, keluar dari agama Islam maka dia harus dibunuh. Ketetapan ini kemudian mengundang pertanyaan sebagian orang yang bingung. Menurutnya, jika Islam bukan agama pemaksa, lantas mengapa umat Islam diperintahkan untuk membunuh setiap orang yang murtad? Mengapa umat Islam dipaksaa untuk tidak meninggalkan ajarannya? Di manakah letak kebebasan beragama dalam Islam?...


Menjawab kebingungan tersebut, Syaikh Abdul Majid Subh, salah satu da’i lulusan Al-Azhar Mesir, mencoba memberi jawaban yang cukup logis dan layak untuk dijadikan bahan referensi untuk menjawab pertanyaan serupa.

Beliau menjelaskan, “Tidak ada keraguan bahwa setiap umat berhak menegakkan hukum yang menjamin perlindungan identitasnya. Begitu pula umat Islam, mereka harus melindungi identitas, dakwah, dan masyarakatnya dari bahaya eksternal maupun internal dengan sarana dan hukuman yang semestinya. Tidak ada seorang pun yang menyangkal hal ini.”

Di dalam Islam, kata Syaikh Abdul Majid, hukuman terhadap kemurtadan dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang disebut di atas, yaitu melindungi identitas kaum Muslimin.

Meninggalkan Islam dan iman menuju kekafiran seperti halnya penyakit yang menjangkiti pikiran, menutup hati, dan akibatnya mengakhiri kehidupan seseorang.

Sekarang, mari kita renungkan apa yang ditinggalkan orang murtad! Apakah dia meninggalkan Islam, agama universal, toleransi, persaudaraan antar sesama manusia, keadilan, kebaikan bahkan terhadap non-Muslim, kebebasan, atau apa?

Bagaimanapun, orang murtad meninggalkan Islam karena dua sebab, pertama: karena mereka salah mengerti tentang Islam. Kedua: kerena ingin memperturutkan hawa nafsu. Penyebab yang pertama bisa diobati dengan ilmu, sedangkan sebab yang kedua harus ditangani dengan hukuman berat.

Islam adalah sebuah agama dan pengetahuan. Agama datang melalui wahyu Ilahi, sedangkan pengetahuan harus sejalan dengan realitas dan didasarkan pada bukti yang jelas.

Oleh sebab itu, orang murtad yang meninggalkan Islam sebenarnya tidak mempunyai petunjuk yang jelas. Ia lebih mengikuti kebodohan, keraguan, taklid buta, dan kecurigaan.

Lebih dari itu, kebebasan berpendapat tidak mengizinkan kemurtadan. Sebab, kemurtadan lebih didasarkan pada gejolak hati dan hawa nafsu daripada “pendapat” dan “nalar”.

Perlu diingat bahwa, negara berperan untuk menyanggah dan menyingkirkan segala keraguan jika orang yang murtad jujur dalam mencari kebenaran. Ada baiknya mengutip dialog antara Khalifah Al-Ma’mun dan seorang murtad berikut ini:

Al-Makmun: Bagiku, aku lebih suka menyelamatkan nyawamu daripada memenggal kepalamu dan membuktikan bahwa kamu tidak bersalah daripada menguatkan kesalahanmu. Nah, mengapa kamu meninggalkan Islam? Beri tahu kami agar kami bisa mengobati penyakitmu. Jika pengobatan kami cocok untukmu, pakailah, tapi jika kamu merasa tidak ada gunanya, kamu tidak akan dipersalahkan.

Si Murtad: Perbedaan di antara kalian yang menyebabkan aku keluar dari Islam.

Al-Ma’mun: Ada dua kategori perbedaan di antara kami. Pertama, perbedaan dalam berbagai masalah cabang (furu’) syariah yang dianggap sebagai rahmat dan kemudahan bagi umat. Kedua, perbedaan dalam menafsirkan wahyu walaupun kami bersepakat menyangkut aslinya. Dalam konteks ini, perlu diingat bahwa sekiranya Allah menghendaki, Dia akan menjadikan wahyunya tidak membutuhkan penafsiran. Akan tetapi, agama selalu membutuhkan usaha dan pencarian yang menghendaki kerja keras dan perlombaan.

Menyadari kebenaran tersebut, si murtad pun sadar, lalu ia menyatakan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang tidak punya sekutu dan putra, bahwa Isa adalah hamba-Nya, bahwa Muhammad adalah benar, dan paduka adalah Amirul Mukminin sejati.”

Al-Makmun pun memerintahkan para pembantunya, “Jagalah kehormatannya dan jangan tunjukkan sikap baik kepadanya hari ini. Nanti musuh-musuhnya akan mengatakan bahwa ia memeluk Islam agar mendapatkan kerelaan kaum Muslimin. Sesudah itu, jangan lupa mendukung, membantu, dan menggembirakan hatinya.”

Jika kita renungkan dialog di atas, kita akan menyaksikan puncak kebebasan, demokrasi, dan toleransi. Menurut Ibrahim An-Nakha’i, orang murtad tidak boleh dibunuh melainkan diperintahkan untuk bertobat. Menurut sebuah riwayat dari Umar bin Khattab, orang yang murtad harus diperintahkan untuk bertobat dan dipenjara.

Oleh sebab itu, dapat kita simpulkan bahwa masalah hukuman yang ditetapkan untuk kemurtadan bergantung pada kepentingan publik suatu umat. Sehingga tidak mengapa mengabaikan hukuman mati terhadap seseorang yang murtad sejauh kejahatannya tidak membahayakan umat, berbeda dengan sekelompok orang yang murtad, mereka tetap harus diperangi karena pasti membahayakan umat. Wallahu a’lam bish shawab!

Disadur dari “Anda Bertanya Islam Menjawab”, Karya Syaikh Abudl Majid Subh, Penerbit Aqwam.

0 Comments:

Post a Comment