26 Disember 2015

Baca semuanya di..KIBLAT.NET

.... Mengapa setiap kekerasan dalam bentuk aksi terorisme selalunya dituduhkan kepada kalangan umat Islam. Seolah-olah setiap teroris itu adalah seorang Muslim. Bahkan di beberapa belahan dunia Islam, ketika kaum Muslimin berjuang membela diri dari tindakan zalim tirani kafir pun dituduh sebagai teroris.

Pelan-pelan opini tersebut berhasil membentuk persepsi dan pemikiran masyarakat umum. Lalu sebagian orang mulai betanya-tanya, jika Islam itu adalah agama perdamaian lantas mengapa banyak teroris munculnya dari agama Islam?

Menjawab pertanyaan ini, Syaikh Shalah Shawi, memberi jawaban yang cukup.....
gamblang. Menurutnya, untuk menjawab pertanyaan tersebut langkah pertama yang harus diluruskan terlebih dahulu adalah pemahaman masyarakat tentang definisi teroris itu sendiri. Karena sampai sekarang istilah teroris memang belum ada definisi baku yang disepakati bersama.

“Perkara ini harus dijelaskan dengan menguraikan makna istilah yang ada dan menerangkan apa maksud dari terorisme itu sendiri,” ungkap alumni program doktoral Univeristi Al-Azhar Kairo ini.

Menurut Doktor yang berkonsentrasi di bidang Syari’ah dan Qonun ini, aksi terorisme yang diharamkan oleh Islam dan semua agama Samawi adalah tindakan sewenang-wenang dan melampaui batas. Tolok ukur dalam melakukannya tidak lain adalah keinginan untuk menumpahkan darah, menakut-nakuti para pejalan, dan merampas harta. Tindakan seperti inilah yang dikecam. Sedangkan melawan orang yang menyerang serta membela diri, kehormatan, dan tanah menurut aturan syariat merupakan bagian dari jihad yang diperbolehkan dalam syariat Islam dan undang-undang positif.

Allah SWT berfirman:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)

Kemudian, dai yang berasal dari Mesir ini melanjutkan, “Permasalahannya, hal ini telah menjadi bias di mata kita. Penjajahan zionis Israel terhadap Palestin dan pengusiran jutaan penduduknya dari negeri itu dianggap sebagai tindakan yang legal, bahkan mendapat legalisasi dari dunia internasional. Sebaliknya, aksi perlawanan yang dilancarkan oleh rakyat Palestin untuk mengembalikan hak-hak dan menolak kezaliman dan penindasan justru mendapat kutukan dan kecaman dari seluruh masyarakat internasional.”

Kemudian di akhir penjelasan, dengan kalimat retorik Dr Shalah  Shawi menegaskan, “Jika kesalahan sudah sedemikian ini, apakah masyarakat masih mungkin menggunakan akalnya dengan bijak dan memberikan keputusan yang adil di peradilan?”

Disadur dari buku “Mereka Bertanya, Islam Menjawab” karya Dr Shalah Shawi, Penerbit Aqwam

0 Comments:

Post a Comment