20 November 2015

Inilah Cara Mudah Menjadi Kaya

Hidayatullah.com
ISTILAH   “tanggal muda” dan “tanggal tua” kerap menjadi momen penting bagi sebahagian keluarga. Utamanya bagi isteri-isteri yang bertugas mengatur kewangan rumah tangga.

Biasanya, usai menerima pemberian dari suami, seketika terbayang berbagai kebutuhan yang sudah ngantri untuk segera dipenuhi. Ibarat pepatah, “Besar Pasak daripada Tiang”.

Belum apa-apa, seorang isteri sudah merasa pusing dengan tumpukan catatan kebutuhan yang harus dibeli. Jika demikian, yang terlintas adalah angan-angan nikmatnya menjadi “orang kaya”. Kala semua keperluan boleh dibeli, semua yang dimau boleh diraih, dan seterusnya.

Sayangnya, sedikit yang menyadari jika menjadi kaya adalah hal mudah yang boleh dilakukan siapa saja. Lalu mengapa harus berandai-andai jika menjadi kaya itu mudah digapai? Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) berfirman:

وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS: Ibrahim [14]: 34).

Menjadi kaya hanya membutuhkan sedikit waktu untuk melapangkan hati dan mengisinya dengan kesyukuran. Menjadi kaya tak memerlukan banyak waktu dan energi untuk menghitung kalkulasi antara debit dan kredit, aset dan investasi, serta laba dan rugi. Bagi orang beriman, setetes nikmat dari Allah adalah kekayaan yang tak terhingga nilainya.....lagi


Adalah manusiawi jika berbagai keperluan seolah saling berlomba mendesak untuk dipenuhi dalam keluarga. Terlebih dengan harga-harga kebutuhan dasar yang kian meroket ke langit. Tapi alangkah celaka hidup ini jika hal itu hanya lahir dari keengganan hati untuk bersyukur. Ia disebut alamat sengsara karena sejatinya hati telah didominasi oleh nafsu serakah.

Akibatnya mudah ditebak, istri lalu mempengaruhi sang suami untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Mulai dari bujukan halus hingga kepada tuntutan mendesak sang suami agar memperoleh harta dengan cara apapun. Aduhai, wahai para istri, manakah yang sanggup engkau tahan? Menahan diri dari rasa lapar atau menahan diri dari panasnya api neraka?

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw) bersada: “…dan aku melihat neraka, maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa demikian? Nabi menjawab: Karena kekufuran mereka. Mereka bertanya lagi: Apakah mereka kufur kepada Allah? Nabi menjawab: Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang lalu dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’. (Riwayat al-Bukhari).

Demikian Allah mengganjar seorang istri yang tak mampu bersyukur. Seorang istri yang tidak mau berterimakasih dan menghargai jerih payah suaminya tak lain adalah istri yang tak mensyukuri karunia Allah atas dirinya. Sikap kufur (tak bersyukur) senantiasa sejalan dengan kesombongan. Sedang sikap sombong hanya berujung kepada terputusnya rahmat Allah kepada orang tersebut.

Di saat yang sama, bersyukur kepada Allah menjadi sebab bertambahnya kualitas dan kuantitas keberkahan pada apa yang dimiliki oleh seseorang. Ia tak sebatas pada harta benda, juga pada jasmani, ruhani, ilmu, kesehatan, keselamatan, dan beragam nikmat lainnya.

Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS: Ibrahim [14]: 7).

Terakhir, masihkah seorang Muslim merasa kurang atas berbagai karunia pemberian Allah? Bagaimana mungkin orang itu takut kepada kefakiran sedang dirinya adalah hamba dari Zat Yang Maha Kaya?

Kini bukan saatnya menghitung seberapa banyak harta yang dimiliki. Tapi, berapa banyak waktu yang telah digunakan untuk bersyukur dan bersungkur atas segala limpahan nikmat-Nya.
*/Mustavidah, Alumni STIS Putri, Balikpapan

0 Comments:

Post a Comment