11 Februari 2015

Eksekusi mati yang dilakukan Mujahidin Iraq-Suriah terhadap pilot jet tempur asal Jordan, Mu’adz Al-Kasesbeh dengan cara dibakar hidup-hidup langsung mendapat kecaman dari para pemimpin Barat, seperti Presiden Amerika Syarikat (AS) Barack Obama dan lain-lainnya.
Tak hanya para pemimpin Barat,  sebahagian tokoh Islam dan pemimpin negara yang berpenduduk Muslim seperti Lebanon juga latah mengecam. Sebagian pemimpin negara yang berpenduduk Muslim dan para tokoh Islam beranggapan bahwa eksekusi dengan cara dibakar tidak sesuai Islam.
Terkait hal itu, tokoh dan dai Mesir, Syaikh Wagdi Ghoneim, ikut memberikan tanggapan atas eksekusi mati yang dilakukan Mujahidin terhadap pilot Jordan yang telah membombardir wilayah Raqqah dan membumihanguskan banyak bangunan dan membunuh ratusan umat Islam itu. Namun, tanggapan Syaikh Ghoneim bukan masalah fiqih hukum membakar manusia, tapi lebih kepada standar ganda dunia dalam menghadapi masalah serupa...
Dalam sebuah rekaman video yang diunggah dalam Youtube pada Rabu (4/2/2015), Syaikh Ghoneim mengatakan, “Saat ini ahlul batil sepakat mengecam tindakan mujahidin yang mengeksekusi dengan sangat kejam. Mereka sepakat bahwa membakar orang yang masih hidup adalah perbuatan yang sangat jahat dan brutal”.
Namun, Syaikh Ghoneim menyayangkan dan mengecam sebagian tokoh Islam dan para pemimpin negara yang diam seribu bahasa tatkala Jenderal “Bengis” Al-Sisi membakar hidup-hidup para demonstran dan warga Mesir yang menuntut keadilan kepada militer yang telah mengkudeta pemerintahan Presiden Mohammad Mursi.
“Kenapa kalian hanya diam ketika Abdul Fattah Al-Sisi membakari rakyat Mesir hidup-hidup. Bukan hanya satu orang seperti yang dilakukan mujahidin kemarin. Al-Sisi membakari para demonstran hidup-hidup, misalnya di Bundaran Rabiah. Banyak jenazah yang sudah menjadi arang dengan posisi tubuh seperti melindungi diri dari kobaran api. Ada dokumentasinya. Jelas dia mati karena dibakar hidup-hidup. Di Rabiah juga, banyak korban luka yang sedang dirawat di rumah sakit darurat, dan masih mempunyai harapan hidup, dibakari semua oleh Al-Sisi. Belum lagi di Bundaran Nahdha, di markas Paspampres, dan masjid-masjid di Kairo,” ungkapnya.
“Kalau kalian mengecam orang yang membakar satu orang hidup-hidup, kenapa kalian diam saja saat Al-Sisi membakari ribuan orang? Apakah di mata kalian nyawa manusia itu bertingkat-tingkat kelasnya? Ada yang perlu dilindungi dan ada yang tidak bernilai sama sekali?,” tanya Syaikh Ghoneim.
Standar ganda ahlul bathil ini memang menggelikan sekaligus memuakkan. Semoga pemimpin kaum Muslim Indonesia tidak ikut-ikutan menjadi badut yang menari dengan gendang yang dimainkan Barat. (rz/EM)

0 Comments:

Post a Comment