22 Julai 2014

Al-mustaqbal.net Ketika Kekhilafahan Ibrahim dideklarasikan, muncul berbagai penentangan dari berbagai pihak. Baik mereka yang mengaku sebagai pejuang demokrasi maupun mereka yang mengaku sebagai pejuang khilafah.
Wahai orang-orang yang mempunyai akal, ketahuilah ketika ada sebuah wilayah di Irak dan Syam yang begitu luas, penduduknya menginginkan kemerdekaan hakiki, penduduknya menginginkan seorang pemimpin yang adil atas mereka, mereka telah berjuang untuk itu berpuluh-puluh tahun yang lalu, mengorbankan darah dan nyawa anak cucu mereka, dan ketika mereka telah mendapatkan itu semua, mereka menginginkan membentuk sebuah negara.
Lalu salahkah mereka jika mereka menolak membentuk negara dengan sistem demokrasi? Salahkan mereka jika mereka menolak membentuk negara dengan sistem kerajaan, parlementer, atau komunisme? Jawablah wahai hamba Allah! Dan mulutmu akan menjadi saksi mu kelak atas jawaban ini! Salahkah jika mereka menolak membentuk negara dengan sistem seperti diatas, dan memilih membentuk negara dengan sistem yang islami!?
Dan sungguh, hanya khilafah lah satu-satunya sistem yang islami. Maka mereka sepakat membentuk kekhilafahan. Dan sungguh kalian telah didahului mereka dalam hal ini. Apakah kalian tidak ridho dan ikhlas terhadap pilihan mereka itu? Apakah kalian tidak ridho dan ikhlas jika mereka menolak sistem kufur dan lebih memilih sistem yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah?....lagi

Sungguh yang ridho terhadap pilihan mereka pun, masih berusaha mencari-cari celah agar menyatakan bahwa kekhilafahan yang mereka dirikan tidaklah sesuai syariat! Wallahi, apakah kalian telah melakukan investigasi yang adil sehingga berani menyatakan demikian? Maka berikanlah bukti atas ucapan tersebut! Karena ucapan itu keluar di ujung barat, sedangkan yang dikritik berada di ujung timur, yang tak pernah sedikitpun engkau jejakkan kakimu disana.
Ataukah menurutmu terlalu banyak kecacatan pada Kekhilafahan Ibrahim sehingga engkau menolak mengakuinya? Jika itu memang benar-benar ada, maka jawablah wahai para pejuang syariat!
Bukankah kita tetap mengakui Yazid bin Mu’awiyah sebagai Amirul Mu’miniin yang sah pada masanya, sekalipun dia mengirim pasukan yang membunuh cucu Rasulullah saw?
Bukankah kita tetap mengakui kekuasaan khalifah Abdul Malik bin Marwan yang mengutus Al-Hajjaj bin Yusuf untuk mengepung Hijaz. Membantai dan menistakan kehormatan penduduknya, termasuk membunuh sahabat Nabi yang mulia Abdullah bin Zubayr?
Tidak ingatkah kita bahwa khalifah pertama dari bani Abasiyah adalah Abul Abbas As-Saffah yang membantai keluarga bani Umayyah karena dendam? Bukankah kita tetap mengakui kekhilafahan Bani Abasiyah dari awal berdirinya hingga keruntuhannya, sekalipun kekuasaannnya didirikan dengan cara membantai ribuan kaum muslimin?
Dan kekurangan-kekurangan lain penguasa yang terjadi dimasa kekhalifahan Islam itu. Tapi kita semua sepakat bahwa mereka itu penguasa yang sah secara syar’i. Yang wajib dita’ati sesuai porsinya dalam syari’at. Yang wajib dibela dan dipertahankan sesuai porsinya dalam syari’at.
Lalu apa yang menghalangi kalian wahai pejuang syariat, untuk mengakui sah nya kekuasaan “Daulah” (Jika memang “Daulah” benar-benar menerapkan syari’at Islam diwilayah yang ditaklukannya) Yang mana, mungkin kesalahan-kesalahan yang dilakukannya tidak seberapa dibandingkan catatan sejarah yang ada.
Dan ketahuilah, Sesungguhnya Negara yang didirikan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak mengandung semua aspek yang biasa menjadi ciri/syarat utama negara masa kini, baik aspek politiknya, birokrasinya, atau perekonomiannya. Negara yang dicita-citakan dalam Islam adalah negara yang menegakkan Agama terlebih dahulu sebelum pertimbangan lainnya, dan yang paling pokok adalah penegakan hukum Syariat yang menitik beratkan pada kandungan hukum dan tujuan-tujuannya.
Kekhilafahan yang diperintahkan oleh Syara‘ adalah negara yang terfokus kepada akidah Tauhid dan lahir darinya, yang menjalankan hukum sesuai perintah Syar‘i dalam menentukan sikap politik hubungan luar negeri, serta memutuskan hukum sesuai tuntutan Syar‘i dalam mengatur dan menjalankan politik dalam Negeri.
Kekhilafahan Ibrahim ini tidak menerima warisan apapun dari rezim sebelumnya. Ia adalah “Bangunan Islami” yang bangkit di tengah kehidupan jahiliyah, fase-fase pertamanya mirip dengan fase berdirinya Daulah Islam pertama yang didirikan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dari rahim kehidupan Jahiliyah. Rezim lama penguasa Irak adalah rezim Ba‘ath yang kafir, lalu datanglah Invasi tentara Salib dibantu para pengkhianat bayaran dengan tujuan menyebarkan “kekufuran internasional” di wilayah itu dan menancapkan simbol-simbol budaya jahiliyah modern yang disebut dengan Demokrasi.
Artinya, Kekhilafahan ini membangun bangunannya sejak dari pondasi, sehingga membuat biaya yang harus dikeluarkan di semua sektor, baik administrasi, militer, ekonomi dan sosial meningkat. Atau bisa disederhanakan bahwa, mujahidin memulai kekhilafahan ini dari nol.
Maksud saya di sini, Kekhilafahan Ibrahim ini tidak seperti negara modern pada umumnya yang langsung bisa menikmati stabilitas keamanan, ekonomi, politik dan sosial dengan sempurna –dan ini adalah kondisi yang harus dijalani di fase pertama–, ini melihat berbagai gangguan yang telah kami sebutkan, yang membuat banyak orang enggan untuk turut memberikan andil di jalan ini.
Namun demikian, masih ada satu rambu petunjuk penting yang masih menyisakan kesempatan bagi Mujahidin untuk membangun landasan utama bagi Khilafah yang mereka cita-citakan sesuai kemampuan minimal dan mengikuti kekuatan yang memungkinkan. Rambu petunjuk itu adalah mempraktekkan kaidah: “Apa yang tak bisa digapai seluruhnya, tak mesti ditinggalkan seluruhnya.
Seputar Ahlul Halli Wal’ Aqdi
Adapun yang menjadi perdebatan mengenai siapa yang berhak menjadi Ahlul Halli Wal’Aqdi untuk menunjuk seorang Khilafah, maka mujahidin ISIS mencukupkan diri dengan pendapat Ibnu Kholdun, An-Nawawi, dan Ibnu Taimiyah –rohimahumulloh. Yang mana Ahlul Halli Wal’Aqdi tidak harus dari seluruh elemen kaum muslimin, dan hanya dibai’at oleh mayoritas anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi di daerah tersebut, yang dengan keberadaan mereka maka persenjataan, kekuatan dan loyalitas terhadap pemimpin ada.
Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata: “Abu Bakar menjadi Imam karena bai’at dari mayoritas shahabat yang merupakan pemegang kekuatan dan persenjataan. Sehingga ketidak ikut sertaan Sa‘ad bin Ubaidah rodliyallohu ‘anhu tidak begitu berpengaruh, sebab itu tidak mengurangi tujuan dari sebuah kepemimpinan. Karena tujuan kepemimpinan adalah adanya kekuatan dan kekuasaan yang dengan keduanya maslahat-maslahat kepemimpinan tercapai. Ini sudah tercapai dengan adanya persetujuan dari mayoritas sahabat. Maka, siapa yang mengatakan Abu Bakar menjadi imam hanya berdasarkan persetujuan satu orang, dua orang atau empat orang saja, padahal mereka bukan pemilik kekuatan dan persenjataan, maka ia telah keliru. Sebaliknya, orang yang berasumsi bahwa ketidak ikut sertaan satu, dua atau empat orang bisa mempengaruhinya, maka ia juga telah keliru.” (Lihat Minhajus Sunnah: I/ 141)
Ibnu Hazm rohimahulloh berkata: “Adapun pendapat yang mengatakan bahwa kepemimpinan tidak sah kecuali berdasarkan pengangkatan dari orang-orang terbaik Umat Islam yang berada di berbagai penjuru negeri, maka ini adalah pendapat batil. Sebab ini pembebanan sesuatu yang tidak bisa dipikul, di luar kemampuan dan merupakan kesusahan besar. Padahal Alloh Ta‘ala tidak membebani suatu jiwa melainkan sesuai kemampuannya. Alloh Ta‘ala berfirman: “Dan Alloh tidak menjadikan kesulitan dalam agama bagi kalian…” (QS.Al-Hajj: 78)
Tidak ada kesusahan yang melebihi daripada mencari tahu kesepakatan (ijmak) tokoh-tokoh di negara Mulitan, Manshuroh, negara Mahroh sampai ke ‘Aden, terus hingga ke ujung negeri Mushomadah sampai ke Thonjah, ke Asybunah, kepulauan-kepulauan Laut hingga daerah tepi pantai Syam, ke Armenia, Jabal Fath hingga ke Asmaar, Farghonah, Asrusynah, hingga ujung Khurosan sampai Jurjan, ke Kabul hingga ke Maulitan, dan di antara daerah-daerah ini masih ada banyak kota dan desa. Mau tidak mau ini menyebabkan urusan kaum Muslimin terbengkalai sebelum seratus tokoh dari Negeri-negeri ini tadi sempat berkumpul. Dengan demikian, pendapat rusak ini adalah batil. Meskipun kalau itu memungkinkan tentu tidak wajib, sebab itu pernyataan tanpa bukti.” (Al-Fishol Fi `l-Milal wa `n-Nihal : III/ 84)
Ingatlah perbuatan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya yang mulia ketika menegakkan Khilafah Islam yang pertama di Madinah yang sebelumnya hanya sepetak tanah yang kecil di muka bumi. Khilafah itu terbentuk hanya dengan adanya keunggulan lahiriyah dan adanya sejumlah orang, adanya kaum Anshor dan pengikut yang dengan keberadaan mereka terbentuklah kekuatan, kemenangan dan kekuasaan yang nyaris sempurna di area tanah tersebut.
Maka, kalau kita kaji fase yang mengiringi berdirinya Daulah Nubuwwah, akan terlihat jelas bahwa Daulah itu dibangun atas jerih payah sekelompok kaum Anshor dan para pengikut Nabi yang mereka berhasil meraih Syaukah di dalam negerinya sendiri setelah mereka melengkapi diri dengan senjata dan kekuatan.
Ibnul Qoyyim berkata di dalam Zadul Ma‘ad:
“Dari Jabir: Bahwasanya selama 10 tahun di Mekkah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mendatangi orang-orang di rumah-rumah mereka, di Mawasim, di Majanah, di ‘Ukadz, beliau mengatakan: “Siapa yang mau memberiku tempat perlindungan? Siapa yang mau membelaku sehingga aku bisa menyampaikan risalah Robbku, kemudian dia mendapat Surga?”
Maka beliau tidak mendapat satu orang pun yang mau membela dan memberinya tempat perlindungan. Sampai-sampai ada orang yang pergi dari Mudhor atau Yaman ke tempat familinya, lalu kaumnya mengatakan kepadanya: “Hati-hatilah dengan seorang pemuda Quraisy, jangan sampai ia menyesatkanmu.”
Sementara Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam terus berkeliling kepada tokoh-tokoh mereka untuk mendakwahi mereka kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, tetapi mereka justeru menuding beliau dengan jari-jari mereka. Sampai akhirnya Alloh mengirim kami dari kota Yatsrib, ketika ada seorang lelaki dari kami yang mendatangi beliau dan beriman kepadanya, beliau membacakan Al-Quran kepadanya, setelah itu ia kembali kepada keluarganya dan mereka masuk Islam lantaran keislamannya, sampai tidak tersisa satu rumah kaum Anshor pun kecuali di dalamnya terdapat sekelompok kaum Muslimin yang menampakkan keislamannya terang-terangan.
Kemudian Alloh mengirim kami, kami berunding dan berkumpul, kami mengatakan:
“Sampai kapan Rosululloh dalam kondisi terusir di gunung-gunung Mekkah dan ketakutan.” Akhirnya kami mendatangi beliau di Musim Haji, lalu beliau menjanjikan pertemuan dengan kami untuk berbai’at di Aqobah. Maka ketika itu, paman beliau, Abbas, berkata: “Wahai keponakanku, aku tidak mengenal siapa orang-orang yang datang kepadamu ini. Sungguh aku (paling tahu) tentang penduduk Yatsrib.”
Kemudian kami berkumpul di sekeliling beliau satu orang dan dua orang. Ketika Abbas melihat wajah-wajah kami, ia berkata: “Mereka adalah kaum yang tidak kita kenal, mereka orang-orang baru.”
Maka kami katakan: “Wahai Rosululloh, atas apa kami berbai’at kepadamu?”
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaknya kalian berbai’at kepadaku untuk mendengar dan taat dalam kondisi bersemangat atau malas, dan berinfak baik dalam kondisi sulit atau mudah, dan beramar makruf nahi mungkar, dan hendaknya kalian berkata-kata karena Alloh; tidak takut celaan orang yang mencela, dan hendaknya kalian menolongku ketika aku datang kepada kalian, dan kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian, isteri-isteri dan anak-anak kalian. Setelah itu kalian akan mendapatkan surga.”
Maka kami pun berbai’at kepada beliau, As‘ad bin Zaroroh mengambil tangan beliau, dia adalah orang termuda dari ke-70 orang ini. Setelah itu ia berkata: “Tunggu sebentar, wahai penduduk Yatsrib. Sungguh kita tidak menempuh beratnya perjalanan kecuali karena kita tahu bahwa beliau benar-benar utusan Alloh. Dan pengusiran beliau pada hari ini (oleh kaumnya) berarti kita memisahkan diri dari seluruh bangsa Arab, orang-orang terbaik kita akan terbunuh, dan kita akan dikalungi pedang. Maka, hendaknya kalian bersabar menanggungnya lalu ambillah pahala kalian di sisi Alloh, atau jika kalian menyembunyikan rasa takut di dalam hati kalian, biarkanlah ia, sesungguhnya itu lebih memaafkan kalian di sisi Alloh.”
Mereka berkata: “Wahai As‘ad, bentangkanlah tanganmu. Demi Alloh, kami tidak akan meninggalkan bai’at ini dan tidak meminta dibatalkan.” Maka kami berdiri menghampirinya satu demi satu, lalu beliau mengambil sumpah dan syarat dari kami dengan jaminan Surga.”
Dari perkataan Jabir ini terlihat jelas bahwa orang-orang Yatsrib yang menolong (memberikan thulabun nusrah) kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan berbai’at kepada beliau untuk menegakkan Islam dan membela dakwahnya tidak lebih dari 70 orang saja. Dan beliau mencukupkan diri dengan 70 orang saja, bukan 70 bataltion atau 70 kabilah. Dengan hanya 70 orang ini tercapai kriteria kemenangan dan kekuatan, sebab kelompok ini bersenjata dan memberikan sumpah untuk berperang melindungi Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dari serangan musuh-musuh Dakwah Islam.
Akhirnya, kekuasaan berhasil diraih Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam di Madinah karena ada kekuatan dari sekelompok penduduk Yatsrib ini. Padahal kalau diamati, mayoritas mereka bukan termasuk pemuka-pemuka terkenal, seperti dituturkan Abbas sebagai orang yang faham tentang penduduk Yatsrib dan tokoh-tokohnya: “Wahai keponakanku, aku tidak mengenal siapa orang-orang yang datang kepadamu ini. Sungguh aku adalah orang yang (paling) mengenali penduduk Yatsrib.” Dan ketika Abbas melihat wajah-wajahnya, ia berkata: “Mereka adalah kaum yang tidak kita kenal, mereka orang-orang baru.”
Maka, kekuatan,kemenangan dan siapa Ahlul Aqli Wal Aqd tidak disyaratkan harus berada di tangan orang-orang tertentu atau tokoh-tokoh yang populer. Sebab kelompok yang menegakkan Daulah Islam pertama mayoritas adalah orang-orang baru yang tidak populer, sebagaimana dikatakan Abbas kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Adapun Daulah Islam, Ahlul Aqli Wal Aqd-nya merupakan para pemuka kabilah, alil ulama, dan berbagai faksi jihad yang memegang senjata. Mereka semua tergabung dalam Majelis Syuro Mujahidin, yang kini berubah nama menjadi Majelis Syuro Daulah.
Seputar Metode Pengangkatan Imam/Khalifah
Dan ketahuilah bahwa, para Ahli Ilmu sepakat bahwa Imamah (kepemimpinan) dapat diangkat berdasarkan tiga cara (silahkan cek kitab Al-Ahkam As-Sulthoniyah tulisan Al-Mawardi dan Ghiyatsul Umam tulisan Al-Juwaini), yaitu:
Pertama: Melalui bai’at dari sekelompok kaum Muslimin yang diangkat sebagai Ahlul Halli wal ‘Aqdi terhadap orang yang mereka pilih, yang menurut mereka orang itu memiliki kriteria-kriteria kelayakan standart yang diperlukan seorang pemimpin (Imam).
Kedua: Imam menunjuk (memberi wasiat) salah seorang dari kaum Muslimin sepeninggalnya, atau Ahlul Halli wal ‘Aqdi menunjuk beberapa orang yang salah satunya akan dipilih sebagai Imam.
Ketiga: Melalu kudeta dan pemberontakan bersenjata di zaman terjadinya fitnah dan kosongnya suatu zaman dari seorang Imam sedangkan Ahlul Halli wal ‘Aqdi lamban untuk mengangkatnya. Maka di saat seperti ini, kaum Muslimin yang berhasil mengambil alih kekuasaan dengan pedangnya, lalu menyeru untuk berbai’at, menampakkan kekuatan dan pengikut, ia menjadi Amirul Mukminin secara sah menurut syariat, ia wajib ditaati dan dibai’at dan tidak boleh ada yang menentangnya.
Kesepakatan Ahli Ilmu mengenai disyariatkannya tiga metode di sini, maksud saya adalah bentuk dan kriteria yang diterima secara syar‘i menurut mereka. Dan orang yang menelaah buku-buku mereka akan menemukan penjelasan mereka lebih banyak membahas dua metode pertama (pembai’atan Ahlul Halli wal ‘Aqdi dan penunjukkan oleh Imam sebelumnya).
Adapun metode ketiga, sebenarnya bukan metode utama mengangkat seorang pemimpin dan pembentukan Khilafah, tetapi itu disesuaikan dengan kebutuhan dan faktor-faktor yang dipicu berbagai peristiwa dan kasus, sehingga metode ini –melakukan kudeta— dalam kondisi tersebut menjadi kewajiban syar‘i yang mesti dijalankan, bahkan dalam banyak kondisi hukumnya fardhu ain. Suasana dan kondisi pada saat-saat akan dimulainya penegakan Khilafah Ibrahim Ibnu Awwad semakin memperjelas pemahaman ini secara nyata.
Kami melihat mayoritas Ulama mensahkan penggunaan metode ketiga dalam kondisi-kondisi darurat dan kritis, demi menjaga kemaslahatan agama yang tidak mungkin akan tegak selain dengan dukungan persenjataan yang membelanya, meskipun itu berasal dari satu orang yang memberontak dengan kekuatan. Sebab kalau itu tidak dilakukan akan terjadi situasi anarkis dan kekacauan disebabkan oleh banyaknya pendapat, serta benturan berbagai keinginan dan kepentingan. Akibatnya penegakkan Khilafah menjadi ‘lebih jauh daripada menjangkau bintang di langit’ dan lebih sulit daripada masuknya seekor unta ke lubang jarum.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
 “Seseorang yang berhasil mengambil alih kekuasaan dengan senjata sehingga ia menjadi seorang khalifah dan digelari Amirul Mukminin, maka tidak dihalalkan bagi siapapun yang mengaku beriman kepada Alloh dan Hari Kemudian berada di suatu malam dalam keadaan tidak menganggapnya sebagai Imam.” Yang dikatakan Imam Ahmad ini, Ibnu Bathol menukil adanya Ijmak yang menyatakan hal yang sama (Lihat: Fathul Bari : I/ 17)
Al-Qurthubi berkata di dalam Tafsir-nya (I/ 302):
Jika ada orang yang pantas memegang kepemimpinan melakukan pemberontakan dan berhasil mengambilnya secara paksa dan kudeta, maka ada yang mengatakan ini adalah metode keempat. Sahl bin Abdulloh At-Tusturi pernah ditanya: ‘Apa kewajiban kita terhadap orang yang melakukan kudeta kepada negeri kita hingga ia menjadi seorang Imam?’
Ia menjawab: ‘Engkau patuhi dia, tunaikan hak yang ia minta kepadamu, jangan mengingkari tindakannya dan jangan lari darinya. Dan jika ia mempercayakan sebuah rahasia dari urusan agama kepadamu, jangan engkau sebar luaskan.’ Ibnu Khuwaiz Mindad berkata: ‘Jika kepemimpinan direbut seseorang yang layak untuk memikulnya, tanpa adanya musyawarah dan pemilihan, lalu orang-orang membai’atnya, maka bai’at itu sah. Wallohu A‘lam.’
Satu hal penting yang mesti diperhatikan di sini, bahwa nash-nash yang kami sebutkan dari para Ulama tentang sahnya bai’at orang yang berkuasa atas suatu negeri dengan kudeta, itu menggambarkan situasi umum yang biasanya terjadi di masa peralihan kekuasaan dari satu khalifah ke khalifah berikutnya, juga ketika terjadi persengkataan kelompok-kelompok Islam dalam merebut kekuasaan yang tidak satu pandangan mengenai Imam yang layak diangkat. Maka, jika dalam situasi seperti ini ada orang yang menang dan memerintahkan Umat Islam mentaati dan membai’at dirinya yang telah menang dengan kekuatan, ia wajib diikuti demi menghentikan pertikaian dan fitnah.
Secara umum, dua metode pertama merupakan cara pengangkatan pemimpin yang paling tepat menurut Syar‘i, jika kondisi saat itu ada Ahlul Halli wal ‘Aqdi dan mereka bisa memilih; atau sebelumnya ada Imam yang menunjuk orang lain.  Namun di sana ada kondisi lain yang berbeda dengan sebelumnya, yang terlihat di saat-saat terjadinya musibah dan krisis dahsyat, ketika Umat Islam tidak memiliki kekuasaan dan berjalan tanpa pemimpin dan pembimbing. Biasanya ini terjadi ketika negeri-negeri Islam dikuasai musuh.
Dalam kondisi seperti ini, syarat dan kriteria yang wajib dipenuhi dalam dua metode pertama tidak mungkin dipenuhi, mengingat tidak adanya Imam sama sekali dan situasi tidak memungkinkan untuk menunjuk Ahlul Halli wal ‘Aqdi sesuai syarat-syaratnya. Atau kalaulah ada, mereka lambat memberikan solusi dan mengambil inisiatif, atau mereka lemah dan tercerai berai.
Dalam situasi keterasingan seperti sekarang, menempuh dua metode pertama sebagai solusi untuk menegakkan sebuah Negara tidak memungkinkan. Sehingga mau tidak mau harus melangkah di atas jalan yang bisa mengobati situasi ini dan memenuhi hak-haknya, menyesuaikan realita Umat Islam yang kehilangan khilafah dan kekuasaan, ditambah tidak mampunya Ahlul Halli wal ‘Aqdi melaksanakan pekerjaan penuh berkah ini, dan imam yang melaksanakan tugas penunjukkan kepemimpinan kepada seseorang setelahnya juga tidak ada sama sekali.
Oleh karena itu, kondisi waqi‘ di negeri-negeri kaum Muslimin saat ini secara umum tidak tepat jika diterapkan dua metode pertama. Sebab tidak diketahui adanya perkumpulan dan pelantikan Ahlul Halli wal ‘Aqdi selain berkumpulnya beberapa gelintir orang-orang terbaik kaum Muslimin ditambah dengan tidak adanya Pimpinan (Imam) Umum.
Dalam kondisi seperti ini, harus ada ‘solusi darurat’ yaitu mengangkat mereka yang berhasil menang dan mengambil tampuk kekuasaan dengan kekuatan, demi menjaga mashalahat-maslahat penting yang tidak bisa ditunda serta untuk menolak berbagai kejahatan dan kerusakan yang pasti akan timbul.
Barangkali, penjelasan tergamblang mengenai pemikiran ini adalah ungkapan indah yang ditulis Imam Juwaini dalam kitab Ghiyatsul Umam, ketika beliau mengkritisi situasi darurat di zaman tidak adanya Imam dan kewajiban mengangkatnya serta membentuk Daulah secepat mungkin, beliau berkata (I/ 231):
 “Jika di suatu zaman tidak ada orang yang memiliki sifat-sifat orang-orang terpilih, lalu orang itu menyerukan untuk mengikutinya secara total, jika ia merebut kepemimpinan dengan kekuatan, maka ia adalah Imam yang sah, dia dihukumi sebagai orang yang mengangkat dan diangkat. Dalilnya, bahwa kebutuhan akan seorang Imam sangat jelas, ementara yang cocok menjadi imam hanya satu orang setelah dalam jangka waktu yang lama terjadi kekosongan Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Maka, tidak ada alasan untuk mengkosongkan suatu zaman dari seorang pemimpin yang bertugas melindungi wilayah Islam dan perbatasannya. Ini adalah hal yang pasti, pengetahuannya tidak samar oleh orang yang memahami kaidah kepemimpinan.
Seputar Syarat-Syarat Sebuah Khilafah
Dan, sungguh syarat sebuah khilafah yang ditetapkan jumhur ulama hanyalah empat kriteria! Yakni :
Pertama, Adanya kekuasaan wilayah yang hanya bersandar kepada kekuatan kaum Muslimin, bukan kepada negara Kafir, atau di bawah cengkraman kaum Kafir.
Kedua, keamanan kaum Muslim di wilayah itu di tangan Islam, bukan keamanan Kufur, dimana perlindungan terhadap ancaman dari dalam maupun luar, merupakan perlindungan yang bersumber dari kekuatan kaum Muslim sebagai kekuatan Islam murni.
Ketiga, menerapkan hukum Islam secara total dan menyeluruh
Keempat, Khalifah yang dibai’at harus memenuhi syarat pengangkatan Khilafah (Muslim, laki-laki, baligh, berakal, merdeka, adil dan mampu), sekalipun belum memenuhi syarat keutamaan (yakni berasal dari suku Quraisy). Sebab, yang menjadi patokan adalah syarat in’iqad (pengangkatan).
Maka janganlah engkau menambah-nambahkan syarat yang lain yang justru akan mempersulit dirimu dalam penegakkanya, layaknya kaum nabi musa saat mempermasalahkan ‘Syarat-syarat Sapi yang pantas untuk disembelih (Sapi Betina)’.
Dan harus diingat, bahwa Pemerintahan Islam Madinah ketika di awal, itu belumlah sempurna, sebab Madinah masih berupa wilayah luas yang menjadi basis kelompok-kelompok yahudi yang juga memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang tidak bisa diremehkan di dunia Arab. Ditambah adanya musuh-musuh yang selalu mengincar dakwah Islam dan para pengikutnya, baik dari dalam maupun luar Madinah. Namun kita tetap mengakui sahnya kekhilafahan tersebut bukan?
Kemudian pemerintahan itu berangsur-angsur sempurna dan meluas setelah disyariatkannya jihad yang memberi dorongan kekuatan dan kekuasaan signifikan bagi Negara Muslim baru ini untuk mengkokohkan pilar dan pondasinya.
Dan ketahuilah juga bahwa tidak ada nash Syar‘i, baik dari Al-Quran maupun As-Sunnah, yang meletakkan batasan luas tertentu bagi suatu negeri yang hendak ditegakkan Khilafah Islam di atasnya. Tidak ada kriteria selain yang kami sebutkan yang kesemuanya bergantung kepada tamkin dan unggulnya kekuatan Syariat secara nyata.
Siapa yang membuat batasan tertentu, membatasi jumlah dan luas wilayah, atau kriteria tambahan selain dari yang kami sebutkan tadi, berarti ia telah berbuat bid‘ah dalam agama Alloh tanpa landasan. Sebab yang dijadikan landasan dalam hal itu adalah nash, sementara sejauh pengetahuan kami nash yang menyatakan pembatasan itu tidak ada.
Kami sudah mengutarkan disetiap kesempatan bahwa Kekhilafahan Ibrahim telah memenuhi keempat syarat tersebut dan metode penegakan khilafah yang dilakukan telah benar sesuai syar’i.
Kami sudah memberitakan bagaimana Kekhilafahan Ibrahim melaksanakan keempat syarat tersebut, kalian dapat mencari nya di website-website yang memuat berita-berita resmi dari kami. Sungguh itu adalah hal yang paling syar’i yang engkau bisa lakukan, jika belum mampu hadir untuk melakukan investigasi di negeri Ibrahim Ibnu Awwad ini!
(Disusun oleh : Akhuna Abu Isrofiel / Al-Mustaqbal Magazine)

0 Comments:

Post a Comment