08 Julai 2014

Alhamdulillah, ummat Islam sudah memiliki seorang pemimpin yang sah, seorang Amirul Mu’minin, seorang Khalifah, yakni Syekh Abu Bakar Al-Baghdady Hafizahullah. Ummat Islam saat ini telah memiliki Khilafah Islam (setelah 90 tahun kosong), pasca dideklarasikan pada tanggal 1 Ramadhan 1435 Hijriyyah atau bertepatan dengan tanggal 29 Juni 2014.
Ingatlah, ummat Islam tidak membutuhkan seorang Presiden, tapi membutuhkan seorang Khalifah. Presiden adalah ketua negara dari sebuah sistem kafir dan batil, yakni demokrasi. Sementara itu, Khalifah adalah ketua negara tuntunan syariat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dimana Khalifah akan memimpin umat Islam di seluruh dunia di bawah sistem Khilafah Ala Minhajin Nubuwah.
Alhamdulillah, kini ummat Islam sudah memiliki Khalifah dan sistem pemerintahan Islam yang khusus dan special, yakni sistem Khilafah Islam yang baru saja dideklarasikan oleh Syekh Abu Bakar Al-Baghdady Hafizahullah yang luas kekuasaannya membentang dari Diyala di Iraq sampai ke Syam. Jadi, untuk apa lagi kita kotori jari kita yang harusnya bersyahadat kepada Allah SWT., lalu kita benamkan ke kubangan syirik demokrasi yang akan mengeluarkan kita dari agama ini. Na’udzu billahi min dzalik....lagi

Dahulu, Asy-Syahid Sayyid Quthb pernah berkata, “Jari telunjuk yang setiap hari memberi kesaksian tauhid kepada Allah saat shalat menolak menulis satu kata pengakuan untuk penguasa tiran. Jika saya dipenjara karena kebenaran, saya rela dengan hukum kebenaran. Jika saya dipenjara dengan kebatilan, pantang bagi saya minta belas kasih kepada kebatilan.”
Kini, ribuan bahkan jutaan jari-jari kaum Muslimin yang seharusnya dipakai untuk kesaksian tauhid kepada Allah, berlumuran dengan noda tinta syirik demokrasi. Bahkan, mereka memulai ritual syirik berjama’ah tersebut dengan bersumpah atas nama Allah untuk taat dengan ideologi kufur made in manusia dan undang-undang ilyasiq modern. Na’udzu billahi min dzalik!
Asy-Syahid Syekh Abdullah Azzam pernah berkata, “Peradaban Islam diukir oleh dua hal, hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada.” Jadi, bukannya noda biru tinta KPU. Hitam tinta para ulama dan merah darah syuhada inilah yang bersinergi mengguncang dunia, memecah simpul-simpul kedzaliman yang mengikat kejayaan Islam sekian lama. Sayangnya, mereka yang terpedaya di zaman fitnah kini menganggap noda tinta biru KPU bisa mengubah segalanya, termasuk menerapkan syariat Islam secara sempurna di negeri ini. Sungguh jauh panggang dari api!
Rasulullah SAW., dahulu pernah ditawarkan jalan tengah oleh para pemuka Musyrikin agar Beliau SAW., mengusap kaki berhala dan sebagai balasannya kaum Musyrikin akan berbondong-bondong masuk Islam. Tapi secara tegas Rasulullah SAW., menolak kesempatan besar tersebut yang mencampur-adukkan antara al-haq dan al-batil. Dan Allah SWT., pun menurunkan Surat Al-Isra ayat 73 s/d 75.
Nabi SAW., kita tercinta juga secara tegas menolak untuk ikut duduk dan bergabung di Darun Nadwah, termasuk menolak kesepakatan untuk saling bergantian dalam beribadah sehingga akhirnya turun Surat Al-Kafiruun. Untuk mu agama mu, dan untuk ku agama ku. Ya, ambil dan ibadahi-lah demokrasi untuk mu, karena demokrasi memang sebuah agama untuk mu. Sementara aku menolak demokrasi dengan seluruh turunan dan perangkatnya, karena agama ku adalah Islam, satu-satunya dienul haq, agama yang diridhoi Allah SWT.
Maka bertaqwalah wahai kaum Muslimin…! Jangan kalian biarkan jari-jari kalian terkotori oleh noda tinta biru KPU. Bukankah nanti ketika sholat, semata ibadah itu hanya untuk Allah SWT., saja dan tidak ingin menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Ketika sujud, ruku, dan bersyahadat, mengacungkan jari telunjuk, untuk bersaksi, tidak ada ilah (sesembahan) selain Allah. Maka, hendak disembunyikan di mana jari kelingking yang telah ternoda tinta biru KPU?
Bukankah Asy-Syahid Sayyid Quthb dengan lantang dan penuh keyakinan mempersembahkan keteguhan jari telunjuknya di hadapan penguasa tiran untuk tidak tunduk kepada thoghut Mesir ketika itu dan hanya tunduk kepada Allah SWT. Lalu, dimana ketundukan kepada Allah SWT., di saat mereka yang telah faham dan yakin sepenuhnya bahwa jari kelingking mereka semua akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT., kelak karena telah ternoda oleh tinta biru KPU?
Bukankah keta’atan itu merupakan ibadah. Dan ibadah itu hanya boleh diberikan kepada Allah SWT. Dan bila keta’atan itu diberikan kepada manusia dalam bentuk keta’atan kepada hukum buatan manusia yang bertentangan dengan hukum Allah, maka itulah penyembahan manusia kepada manusia lainnya. Dan bukankah jari kelingking mereka yang telah ternoda oleh tinta biru KPU adalah bukti dan akan menjadi saksi kelak bahwa jari itu telah memuluskan jalan kepada manusia lainnya, para caleg, untuk menjadi tuhan-tuhan baru yang akan membuat hukum dan perundang-undangan yang bukan berasal dari Allah SWT. Na’udzu billahi min dzalik!
Maka ingatlah dan camkanlah, bahwa peradaban Islam itu hanya akan diukir oleh dua hal, yakni hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada, dan bukan noda tinta biru KPU.
Dan kini, hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada telah digantikan oleh Allah SWT dengan tegaknya Khilafah Islamiyah yang diberkahi, di awal bulan Ramadhan 1435 yang suci, dengan dibai’atnya Syekh Abu Bakar Al-Baghdady Hafizahullah sebagai Amirul Mu’mini, Khalifah bagi seluruh umat Islam. Maka bersyukurlah wahai umat Islam, karena sudah ada Khalifah dan jari kita tak perlu kita kotori. Allahu Akbar!
Wallahu’alam bis showab!

0 Comments:

Post a Comment